
"Ayok sayang.. Kita lanjut kan yang tadi tertunda," Exel memulai aksi nya kembali.
"Haah, tapi sayang..." Bibir Arini terkunci karena Exel. Tangannya sudah diletakkan ditempat favorit. Setelah itu hanya suara erangan yang keluar dari bibir manisnya.
Di luar sudah semakin gelap, suara jangkrik mulai terdengar. Anggap saja sebagai musik pengantar malam yang indah bagi pengantin baru.
Di lain tempat, Malam semakin larut hanya akan menambah hingar bingar dunia hiburan. Dentuman musik terdengar sungguh mengasyikkan membuat si pendengar tidak bisa menahan diri untuk ikut berjoget.
"Tum tum.. Tum.."
Di sebuah meja sedang duduk seorang laki-laki dan perempuan sedang bermesraan. Tak satupun orang yang peduli dengan hal tersebut, semua orang sibuk dengan dirinya sendiri.
"Hai Dif!" Rara menepuk pundak Difo agar mengetahui kedatangannya, kalau di panggil nggakkan kedengeran. Benar aja Difo langsung menoleh.
"Rara!" Difo langsung antusias dengan kedatangannya dan langsung memeluk Rara.
Cewek yang tadi bersama dengannya memperlihatkan rasa tidak suka dengan kedatang Rara, terlihat Difo membisikkan sesuatu ditelinganya, dan cewek itu langsung mengerti dan pergi ke tempat lain.
"Ayo duduk," Rara menurut. Difo langsung memanggil waiters untuk memesan minuman Rara.
"Gimana apa sesuatu yang penting itu?" tanpa bertele-tele Difo langsung bertanya.
"Seperti yang gue bilang di telpon tadi, gue lagi ada perlu penting sama loe. Gue mau loe ngelakuin sesuatu buat cewek ini, sambil mengeluarkan foto dari tasnya. Soal bayaran loe tenang aja."
"Apa yang harus gue lakuin sama perempuan ini?" Difo tersenyum senang dengan bayaran yang akan di tawarkan Rara pada nya.
Tidak ada yang tau apa yang mereka bicarakan dan rencanakan, keduanya sedang serius berbicara.
***
__ADS_1
Arini meluruskan badannya yang terasa pegal karena kelakuan Exel semalam. Disamping suaminya sedang tertidur pulas, dia sangat senang ternyata kejadian kemarin itu bukanlah sebuah mimpi.
Walaupun biasanya dia selalu bringas kalau bercinta, tapi tadi malam Exel sangat lembut memperlakukannya. Mengecup pipi suaminya sekilas, Arini berjalan menuju kamar mandi ingin membersihkan tubuhnya, dalam pantulan kaca terlihat dengan jelas tubuhnya yang polos terdapat banyak sekali kissmark apa lagi di bagian leher. Gimana mau keluar kalau kayak gini?" Arini mengeluh karena kelakuan Exel.
Setalah mandi, Arini sibuk membongkar baju yang di belikan Exel didalam lemari. Berharap menemukan sesuatu yang bisa menyembunyikan lehernya. Ternyata ada sebuah syal, Arini sangat senang dengan kesiapan suaminya. Menemukan dres panjang yang senada dengan syalnya sangat pas di cuaca Bogor yang sangat dingin, apalagi diluar sedang hujan.
Di luar Reno yang sedang menyiapkan sarapan untuk bos dan nona barunya. Sudah hampir dingin sarapannya tapi pengantin baru belum keluar juga, Reno cukup kesal tapi mana berani mengutarakannya. "Memangnya tadi malam itu berapa ronde? Sampai sekarang belum keluar juga, apa mereka nggak lapar yah," melirik jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Berguman pelan.
"Aku lapar.. Apa aku boleh makan duluan?"
Reno gelagapan mendengar suara sang nona, dan dengan cepat menjawab "iya nona tentu saja." Rambutnya nona masih basah, Reno masih terpaku tanpa sengaja menatap sang nona cukup lama. Siapa suruh nonanya begitu menawan setelah malam pertama mereka. "Silahkan duduk nona! Mumpung masih hangat makannya.."
Arini duduk dan mulai menyuapi makanan kemulutnya.
"Kenapa bos gak ikutan makan nona?" Reno mulai cemas takut kalau Exel sakit karena telat makan. Padahal besokkan udah mau balik ke Jakarta, banyak sekali kerjaan yang tertunda karena pernikahan diam-diam mereka.
"Masih tidur, mungkin masih lelah.. Arini malu sendiri mengucapkannya, aku jalan-jalan sebentar yah di taman.."
Arini berjalan didampingi oleh seorang pengawal sambil memandangi bunga-bunga yang bermekaran indah ditaman depan vila, senyuman indah tersungging di bibirnya.
Pengawal tersebut memperhatikan Arini dengan seksama, setiap gerak gerik Arini selalu di awasi." Nona sebaiknya anda tidak terlalu jauh dari Vila, saya takut nanti tuan bangun dan bingung mencari keberadaan anda. Apalagi daerah sini memang sangat indah karena alamnya tapi karena itu juga banyak hewan liar seperti ular yang bersembunyi dibalik semak-semak."
"Iya kamu benar, terima kasih telah memperingatkanku. "Mereka memang sudah cukup jauh berjalan dari vila, Arini berbalik dan tiba-tiba tanpa sengaja kakinya menginjak seekor ular kecil berwarna hitam dan hampir menggigit kakinya.
"Aaaaahhh.." Arini berteriak kencang, dengan sigap pengawal tadi meraih kepala ular dan mencekiknya hingga mati kemudian melemparkannya ke luar halaman Vila. Rasa takut menjalari tubuhnya, kalau sampai tadi dia digigit gimana dengan janinnya, Arini gemetar.
"Anda tidak apa-apa? Apa ada yang terluka?"
"Saya tidak apa-apa, Arini berdiri sambil mengatur napasnya. Kalau bukan karena kau aku pasti telah digigit oleh ular tadi, terima kasih kerana telah menyelamatkan nyawaku dan anakku. Siapa tadi namamu? Sepertinya dia masih sangat muda."
__ADS_1
"Saya Riko nona, ini sudah bagian dari tugas saya melindungi anda."
Iya, tapi lain kali aku berharap kau tidak membunuhnya, ular tadi hanyalah hewan liar yang bersembunyi disini, aku yang salah karena tidak sengaja menginjaknya. Kalau tidak terancam dia tidak akan berusaha menggigitku, ingatlah lain kali jangan melakukan hal itu lagi."
"Baik nona, saya mengerti." Ternyata nonanya sangat baik, padahal jelas-jelas ular tadi membahayakan nyawanya.
"Aku ingin kembali ke vila."
"Lewat sini nona," Riko mempersilahkan Arini mendahului nya.
Tadi nona mengatakan "anakku", apa dia sedang hamil". Kalau iya kerjaanku akan sangat mudah untuk kedepannya, Riko bergumam.
"Kemana aja!" Exel sangat khawatir, barusan bangun dari tidurnya tapi tidak melihat Arini disampingnya. Khawatir menghinggapi hatinya, takut sang istri akan kabur lagi.
"Tadi cuma main ditaman sayang.. Kemarin kan belum sempat melihat pemandangan sekitar sini."
Gimana tanggapan nya kalau dia tau nona hampir di gigit ular tadi. Habislah aku.. Riko waspada dengan kemarahan tuannya.
"Kemari lah.. Exel meraih pinggang Arini dan memeluknya dengan erat, jangan menghilang lagi oke!" Berbisik ditelinganya.
"Iya sayang, cuma keluar sebentar kok." Arini memutuskan tidak akan memberi tahu Exel kejadian tadi, dia takut Riko akan di pecat karenanya.
Bibirnya menelusuri leher Arini, menggigitnya sedikit.
"Jangan sayang, di sini banyak orang." Arini Berbisik ingin mencegah kelakuan Exel, tapi semua orang bisa mendengar perkataannya. Mereka langsung berbalik saat sang tuan mulai mencium nona mereka.
"Ini hukuman untukmu karena pergi tanpa permisi dariku, jangan lakukan itu lagi?"
Arini mengangguk sambil menggigit bibirnya, mukanya memerah karena menahan malu.
__ADS_1
***
Bersambung