Affair With My Boss

Affair With My Boss
Perasaan Exel


__ADS_3

"Exel.. Ada apa sih sayang di kantor? Katanya lagi heboh yah karena kamu!


" Heboh gimana ma? Gak ada tuh, 'biasa aja.'


"Mama..!!! Mas Exel selingkuh.. Uwuu Uwuu.. Kanaya langsung nyambar."


"Jadi kabar yang beredar itu benaran! Mama hera langsung emosi. Kamu kok tega banget sih nak! Kamu kan baru nikah.. Kasian istri kamu.. Papa kamu aja gak pernah menghianati mama. Kamu belajar dari mana!! Ini yang kamu dapatkan belajar diluar negeri!


" Bukan mah.." Ini bukan karena mas Exel nya lama diluar. Tapi ini pengaruh dari perempuan itu ma.. Dia yang terus-terusan godain mas Exel. Mama jangan marah yah.. Mama harus sabar, jaga kesehatan mama."


"Kanaya", Mama beruntung banget dapat menantu kayak kamu nak, maafin mama yah, karena gak bisa mendidik Exel jadi suami yang baik.. Mama hera memeluk Kanaya penuh haru."


" Exel..!! Papa nya langsung manggil dengan suaranya yang keras, papa gak nyangka kayak gini, baru juga jadi Presdir, tapi udah bikin heboh."


" Apa sih maksud papa? Aku gak ngerti, mama lagi, apa ini semua! Exel bukan gak tau salahnya dimana, tapi dia udah berusaha menyembunyikan hubungannya dengan Arini, atau jangan-jangan.. Otaknya mikir salahnya dimana. Waktu gue narik dia ke mobil."


" Memangnya kamu gak liat itu ada fotonya..


Exel mengambil foto yang berserakan di atas meja, itu foto dirinya dan Arini. Ternyata benar waktu dia menarik Arini masuk ke mobil dan.. Membawa Arini masuk ke Apartemen nya. Sampai ke foto Arini jalan sendiri keluar dari Apartemen.. Pasti foto yang ni pagi tadi. Dia pergi kemana?


"Gimana masih mau ngeles.."


"Papa nyuruh orang buat ngikutin aku?


" Kalau iya kenapa..! Kamu udah bikin malu papa, sama pak Martin. Padahal bukan papanya, tapi orang suruhan Kanaya yang disuruh kirimin foto ini kerumah pagi-pagi sekali."


" Ma.. Pa.. Maaf kalau aku menyela, bukannya sejak awal aku udah bilang kalau aku gak" menginginkan pernikahan ini, aku udah menyukai perempuan lain.. Tapi papa sama mama gak mau dengerin aku. Dan jabatan ini pah! Apa aku yang minta? Sejak awal aku gak ada niat mau ambil alih Perusahaan papa. Aku udah nyaman sama kerjaan aku di Inggris. Semuanya atas permintaan papa dan mama."

__ADS_1


" Dan perempuan yang ada di foto itu, aku mau jujur.. "Dia adalah Arini", seseorang yang dari SMA aku sukai, dan yang buat aku semangat sekolah dan cepat nyelesain kuliah di Inggris. Aku gak pernah menyukai Kanaya aku lebih nganggap dia kayak adik. Aku terima permintaan mama dan papa karena gak mau jadi anak yang durhaka aku mau jadi anak yang berbakti. Tapi apa perasaan itu bisa ditukar dengan uang, apa perasaan itu bisa dibeli dengan hubungan bisnis!! Perasaan itu gak liat tempat pah.. Dia akan ada saat menemukan orang yang tepat."


" Tangis Kanaya pecah, karena pengakuan Exel.. Mas Exel tega banget sama naya mah. Uwuu Uwuu.. Tapi gak digubris mama Hera."


" Mama Hera nyamperin Exel, maafin mama nak.. Kamu gak bahagia karena paksaan mama. Tapi ini janji yang udah kita buat dari dulu sayang.. Mama pikir cinta itu akan tumbuh juga nantinya. Seperti mama sama papa yang juga dijodohin.. Sampai sekarang pun masih awet sayang.. Tolonglah ngerti dan belajarlah untuk mencintai istrimu.."


" Kanaya adalah gadis yang baik, dan gak pernah dekat dengan laki-laki lain selama ini karena dia hanya nungguin kamu nak. Dia sangat mencintaimu.. Kamu sangat beruntung nak."


" Mama harap kamu bisa belajar mencintai istrimu mulai sekarang. Mama gak mau punya anak yang gak setia. Sekarang udah terlambat untuk menyesalinya. Dia tetaplah istrimu. Mama harap kamu lupain perempuan itu, jangan berhubungan lagi dengannya. Kalau kamu gak ingin melihat mama gak bahagia. Lakukan ini demi mama. Nasihat mama hera panjang lebar sambil menangis."


" Exel paling gak bisa melihat mamanya menangis.."


" Tuh mama kamu nangis.. Kamu tega, papa nyambar."


" Gimana dengan Arini, gimana kalau dia hamil anak aku. Kepalanya benar-benar sakit mikirin masalah ini.."


" Papa benar-benar keterlaluan, ngancam aku kayak gitu. Dia paling tau kelemahanku."


" Exel mengusap kepalanya.. Oke oke aku janji. Gak kan ada hubungan lagi dengannya. Dengan terpaksa Exel berjanji demi kebahagian wanita yang melahirkan dan membesarkannya ini. Exel melangkahkan kakinya keluar rumah.."


" Mau kemana kamu! Suara papanya terdengar masih ragu.."


" Mau nenangin diri dulu. Tolong jangan ganggu aku.."


" Kanaya tersenyum kecut, yang penting sekarang kamu gak ada hubungan apa-apa lagi dengan perempuan murahan itu. Aku akan mengambil hati mu yang dia curi dariku. Mas Exel itu milikku, Kanaya memantapkan hatinya."


" Sekarang kamu bisa tenang sayang.. Gak usah mikirin masalah ini lagi yah, Exel gak kan berani macam-macam lagi mulai sekarang.. Mama Hera meyakinkan menantu kesayangan nya ini."

__ADS_1


" Makasi mah, Kanaya memeluk mertuanya dengan sepenuh hati."


" Exel memarkirkan mobilnya di tepi pantai.." Arini! Maafin aku sekali lagi, begitu" banyak kesalahan yang telah kubuat.. Kali ini aku benar-benar pergi, jaga dirimu. Kali ini Exel bertekad gak kan menghubungi Arini lagi, jangan sampai mendengar suaranya aku berubah pikiran lagi."


" Rasanya dia ingin menangis, tapi dia bukan tipe pria yang cengeng. Air matanya tetap tertahan didalam. "Perasaannya memang tidak penting buat orangtua nya". Okeh! Lebih baik mulai hari ini aku akan tumbuh menjadi orang yang tidak punya perasaan. Exel membalikkan badannya penuh amarah dihatinya."


" Arini telah sampai dikampung halamannya.." Dia menghirup udaranya banyak-banyak. Senang rasanya menghirup udara yang segar. Sebenarnya selama ini dia sering pulang, tapi itu hanya sebentar, berbeda dengan sekarang mungkin dia akan tinggal disini selamanya. Apa dia akan betah! Mungkin gak, kalau seandainya tinggal di lingkungan orangtuanya. " Jadi Arini memutuskan nanti mencari rumah dekat dengan tempatnya bekerja. Apalagi jarak dari rumahnya kekantor memakan waktu dua jam perjalanan."


"Ibu senang sekali akhirnya kamu bisa pulang nak. Dan mau kerja disini, ibu bisa ketemu kamu setiap saat. Ibunya menuturkan perasaannya, bapak dan ibunya memang biasa berbahasa Indonesia sama Arini dan adik-adiknya.. Katanya biar gak kaku ngomongnya kalau nanti tinggal dikota."


" Iyah teh aku senang loh akhirnya teteh bisa tinggal disini, aku kan bisa curhat ke teteh setiap hari, ucap adiknya yang paling kecil."


" Cetaak.. Aaauuch. Sakit atu teh, sambil menggosok-gosok keningnya yang disentil Arini."


" Kamu ini mau curhat apa! Masih sekolah udah mikir pacaran! No no no.. Arini menggoyang-goyangkan tangannya didepan muka adiknya. Kamu gak boleh pacaran titik, teteh gak ngijinin. Fokus aja tuh sama sekolah biar pintar. Liat tu lulu nilainya bagus terus, walopun rada-rada ngeselin juga sih."


"Haah" kakak! Aku kasih tau ibu sama bapak nih, kalau kakak suka telat bangun buat ngantor. Trus udah pandai pacaran sekarang."


" Hahaa.. itu udah dikasih tau juga kan. Tapi kamu tau dari mana kakak punya pacar? Gak tuh gak punya. Lulu emang lebih suka manggil Arini dengan panggilan kakak dari dulu katanya kurang gaul manggil-manggil teteh.. Ketauan banget dari Bandung katanya. Lagian apa salahnya kan ketahuan orang Bandung. "Apalagi cewek Bandung mah meni cakep-cakep pisan euy.."


"Kakak kan sering pulang malam semenjak jadi manajer.. Trus ampe gak pulang lagi."


"Itu tu lembur.. Bukan pacaran, ya kan teh! Kalau gak pulang pasti keluar kota, bapak jelasin ke lulu."


"Kakak sih ngomongnya emang gitu sama lulu. Tapi kata tetangga, kakak sering diantar pulang sama cowok yang kasep pisan pak.. Trus mobilnya meni mewah banget.. Lulu gak salah kan kak!"


"Arini melotot kearah lulu, ini anak benar-benar gak bisa jaga omongan didepan bapak sama ibu. Gak kok pak, itu cuma teman sekantor. Karena Arin pulangnya agak kemaleman jadi dianterin pulang.. Takut kenapa-napa di jalan. Mending pulang sama orang yang dikenal. Trus kalau Arin gak pulang, memang ada perjalanan dinas pak. Arin juga udah kasih kabar ke lulu kok. Arini manyun ke arah lulu, peringatan gak dikasih uang jajan. Lulu langsung tutup mulut. Arini emang pintar boong sekarang.."

__ADS_1


" Ibu dan bapaknya manggut-manggut.. Mereka memang paling sayang, dan paling percaya sama Arini. Apalagi Arini lah yang membiayai segala keperluan rumah dan adik-adiknya. Gak ngijinin bapak sama ibu kerja yang berat-berat." Dia memang anak yang berbakti pada orangtua."


__ADS_2