
"Mr. Exel. Paradita group sangat hebat, memiliki sekretaris secantik ini." Sambil menatap Rara dari atas hingga bawah, yang di tatap tersenyum dengan manis. "Saya semakin ingin berlama-lama berada di sini," ucap David mengerling nakal ke Rara.
"Kalau anda sangat menyukai negara kami, tentu anda boleh tinggal di sini selama yang anda inginkan."
"Tentu mr. Exel, tapi tentu saja saya ingin di temani oleh seorang teman wanita yang cantik. Bolehkah sekretaris anda yang menawan itu, menemani saya selama berada di sini?" David kembali tersenyum nakal ke arah Rara.
Rara membalas dengan senyuman yang sopan. "Dasar pria mesum," pikirnya.
"Tentu, anda boleh meminta persetujuan darinya. Saya hanya atasan, kalau soal urusan pribadi dia berhak menentukan pilihannya." kata Exel acuh.
"Dia benar-benar gak peduli sama aku, bisa-bisanya dia mau ngasih aku sama pria hidung belang itu." gumam Rara kesal.
"Halo nona yang cantik! David berjalan ke arah Rara. Atasanmu telah mengizinkan, bolehkah saya meminta anda menemani selama berada di Indonesia? Sambil memegangi tangannya.
Rara melepaskan tangan pria mesum itu dengan sopan. "Thank you mr. David, saya merasa sangat tersanjung. Tapi, saya tidak pantas menemani bos besar seperti anda. Saya hanyalah wanita biasa," kata Rara sambil menatap ke arah Exel berusaha meminta bantuannya, pria itu sama sekali tidak berminat menatapnya. Pandangannya di alihkan ke arah Reno, dan mengkodenya dengan mata.
Raut muka tidak senang menghias wajah David. "Apakah anda tau nona! Saya tidak menyukai yang namanya penolakan," bisik David di telinga Rara.
"Mr. David, saya sudah memiliki seorang anak. Mungkin anda tidak akan menyukai wanita yang pernah melahirkan anak sebelumnya." Masih berusaha bersikap sopan.
"Mr. David, anda tidak perlu khawatir, di sini memiliki banyak wanita cantik. Saya bisa mencarikan anda beberapa gadis yang paling menawan di sini." Reno berusaha membujuk.
"Thank you asisten Reno. Tapi, saya menyukai ms. Rara sejak awal." Tangannya menarik Rara ke pelukannya, masih tidak mau menyerah.
"Aaahh," Rara mulai panik. Skenario seperti ini tidak pernah terbayang di benaknya, jangan sampai Exel semakin ilfeel melihatnya. Dia berada di sini untuk mendapatkan cintanya kembali, bukan untuk menggaet pria gembul seperti orang ini.
__ADS_1
"Hahaha..." Exel tertawa lantang, bisa kita berhenti membahas perempuan, mr. David. mari kita lanjutkan pembahasan soal bisnis," Exel mengalihkan pembicaraan karena mulai merasa bosan.
"Sory mr. Exel, ini hanyalah sebuah hoby yang belum bisa saya hilangkan. Sangat wajar, pengusaha besar seperti kita memiliki wanita di mana-mana." David merasa Exel hanya pura-pura tidak tertarik dengan wanita.
"Heh, mungkin itu hanya berlaku untuk anda. Tapi, saya bukan tipe seperti itu. Saya hanya akan setia terhadap istri tercinta," Exel berkata tegas. Raut muka David semakin berubah, tapi setelah itu dia kembali bisa menguasai dirinya.
"Ooh tentu, anda benar sekali. Mari kita mulai, rancangan bisnis kita buat ke depannya." David mengalah sedikit, karena nantinya perempuan itu tetap akan menjadi miliknya. Dia telah menyiapkan obat khusus yang akan dia berikan pada wanita sok jual mahal itu.
Beberapa orang waiters di panggil untuk melayani tamu vip. Rara meminta ijin keluar sebentar, dan segera mengikuti salah seorang waiters yang melayani mereka. Dia membisikkan sesuatu ke telinganya, kemudian memberikan benda kecil ke tangannya dan menunjuk ke arah Exel. Waiters itu mengangguk-angguk.
Dengan senyuman licik, Rara menyeringai senang melihat Exel meminum habis air di gelas yang di sediakan Rara khusus untuknya. "Akhirnya malam ini kita akan menghabiskan malam bersama sayang," gumamnya.
Matanya tiba-tiba mengantuk, tangannya meraih dasi dan melonggarkan ikatannya. Matanya sudah tidak bisa di kondisikan, akhirnya kesadarannya menghilang dan tertidur di sofa.
Mr. David tidak peduli dengan keadaan bos Paradita group itu, dia sedang menikmati kebersamaannya dengan beberapa gadis cantik yang di carikan asisten Reno untuknya, sambil menunggu obat yang dia berikan ke pada sekretaris itu segera bekerja. Entah kenapa, obat yang sangat kuat malah tidak bekerja pada wanita itu.
Sementara Rara, memilih untuk pergi dari sana. Menghindar sebentar dari pria itu, karena sudah tidak ada yang bisa melindunginya. Dia memilih memantau dari kejauhan, tidak lama berselang pria mesum itu pergi juga, mungkin ke hotel untuk bercinta. Rara mengangkat bahunya sama sekali tidak peduli.
Exel hanya sendirian sekarang, Rara mendekatinya yang sedang bersandar di kursi. "Presdir?" panggilnya. "Anda baik-baik saja?" Saya bisa membantu anda ke kamar sekarang." Exel menurut saat Rara mengajaknya berbaring di sebuah tempat tidur, kesadaran Exel benar-benar menghilang sepenuhnya.
Rara membuka pakaian yang di kenakan Exel, dan juga pakaiannya sendiri, sehingga dia sama sekali polos sekarang. Rara mendekati Exel yang tertidur dengan tubuh polosnya, dan meminta waiters tadi untuk memotret mereka. Beberapa foto yang sangat intim di ambil, orang yang melihat akan sangat mudah untuk salah paham.
Arini sangat gelisah di rumah. Matanya tidak bisa tidur, dari tadi ke pikiran mas Exel terus. Arini meraih ponsel dan menelepon setelah sekian lama menimbang, karena takut akan mengganggu. Setelah di telpon ternyata nomor nya tidak aktif, perasaannya semakin cemas.
Rara sudah mengambil beberapa foto dirinya dan Exel dengan posisi tanpa pakaian dan sedang tertidur. "Kata Difo, obatnya hanya bertahan selama 3 jam. Untuk menghindari kecurigaan Exel, Rara memutuskan untuk meminum obat tidurnya juga, jaga-jaga siapa tau Exel mengambil sampel darahnya. Exel orangnya sangat teliti, dia harus berhati-hati agar rencana yang telah dia susun secara matang, tidak akan kacau.
__ADS_1
Beberapa jam setelahnya, Reno terbangun dengan perasaan heran. "Apa yang terjadi?" pikirnya. Kepalanya masih pusing, "di mana Exel?" Reno mencari dengan cemas. Mencari di semua tempat dan bertanya kepada waiters yang melayani mereka tadi.
"Tadi saya lihat, perempuan yang tadi bersama bapak, di bawa oleh Presdir ke kamar yang itu." Waiter tersebut menunjuk ke arah sebuah kamar di dekat mereka. Dia menyeringai puas, karena telah mendapatkan bayaran yang se timpal.
Reno berlari ke kamar tersebut, dan menemukan kamarnya tidak di kunci. Di sana Reno menemukan bosnya sekaligus temannya itu sedang bersama sekretaris yang baru itu. Reno kembali menutup pintu dan hendak pergi.
Reno tidak habis pikir, "kenapa semua ini bisa terjadi! Bosnya tidak akan berbuat hal seperti ini," dia tau Exel sangat mencintai Arini. Reno kembali berbalik dan mendekati dua orang yang sedang tertidur dan hanya menutupi tubuhnya dengan sehelai selimut, dengan ragu Reno mambangunkan Exel yang tertidur pulas.
Xel! Xel! Bangun! Reno mengguncang tubuh Exel beberapa kali dan akhirnya dia pun terbangun.
Exel malas membuka matanya yang berat, di depan Reno yang sedang menatapnya dengan tatapan khawatir. "Bukannya tadi dia sedang mengadakan pertemuan dengan klien! Kenapa sekarang malah ketiduran." Dia tidak pernah mabuk sebelumnya, hanya minum alkohol yang sedikit, dia tidak mungkin mabuk. Merasa heran, dan berusaha untuk bangun. Badannya berat, seperti ada yang menghimpitnya, saat menoleh ke samping. Di sana sudah berbaring Rara yang tidak mengenakan pakaian dan dirinya juga dalam keadaan yang sama.
Exel langsung mendorong tubuh Rara, tidak peduli tenaganya cukup kuat, yang penting perempuan itu segera beranjak darinya.
"Aaaahh!!" Dengan mata ngantuk Rara berteriak kesakitan, karena dia tiba-tiba terjatuh dari tempat tidur. "Siapa yang sangat berani," pikirnya. Dengan wajah marah Rara bangkit dan ingin memaki orang yang telah berani mendorongnya. Tapi makiannya tidak pernah keluar, karena di sana sudah ada Reno. Dan Exel telah mengenakan pakaiannya kembali.
Rara menutupi tubuh telanjangnya dengan selimut dan berpura-pura tidak mengetahui apa yang terjadi.
"A-apa yang terjadi!" ucapnya pura-pura panik. "Kenapa aku bisa seperti ini! Pak tolong jawab, hiks hiks. Saya memang sudah memiliki anak, tapi saya bukan perempuan murahan pak. Apa yang telah bapak lakuin sama saya! Hiks hik...," Rara tidak berhenti menangis.
Reno menatap dengan penuh ke curigaan. Sementara Exel tidak memperdulikan wanita itu, dia merasa tidak melakukan apapun tadi malam." Ini pasti hanya jebakan, pikirnya. "Kau wanita bodoh! Bukannya kau pernah menikah. Kenapa kau tidak tau bedanya orang yang telah melakukan hubungan intim dan bukan. Aku bukan orang yang mudah di tipu, dengan jebakan murahan seperti ini. Kalau ku tau, kau sendiri menjebakku, kau tidak akan pernah melihat matahari terbit lagi. Camkan itu baik-baik!" ucap Exel marah.
Rara menggigil mendengar ancaman Exel padanya. Untung dia sudah mengantisipasi keadaan yang bisa menguntungkan dirinya. Obat itu telah diletakkannya di saku celana asisten bos Thailand, Rara tersenyum dalam hati.
"Panggil manager diskotik! dan juga semua karyawannya!" teriak Exel marah.
__ADS_1
***
Met bobok cantik 🤗🤗😍