
Exel hanya ingin memastikan wanita yang ada didepannya bener-bener Arini atau bukan, atau hanya halusinasinya aja, karena beberapa hari ini dia selalu kepikiran wanita itu. Exel menyentuh pipi Arini.
Sontak Arini langsung mundur.. Dan membuang mukanya kearah lain agar semburat merah dipipinya tidak keliatan. Arini memberanikan diri untuk berbicara. "Tante hera menyuruh saya buat langsung kesini," tanpa melihat kearah Exel.
"Ooh.." sahut Exel, dan berjalan mundur kembali kekolam. "Jadi kau orangnya.." Utusan dari kantor buat jadi asistenku?" Katanya ketus.
"Iyah," jawabnya singkat. Arini bingung, karena Exel keliatan ketus padanya. Apalagi salahnya sekarang, bukannya seharusnya dia yang marah.
"Kenapa mau? Apa kau gak sakit hati dengan pernikahan ku?" tanyanya mencibir, "gimana uang yang aku kasih, cukup?"
Perkataan Exel sangat menyinggung perasaannya. "Pertama-tama saya mau jadi asisten bapak, karena disuruh pimpinan, gimana bisa saya menolak beliau. Seharusnya saya memang sakit hati, tapi saya hanya seorang bawahan yang harus selalu siap disuruh-suruh sama atasan. Dan masalah uang itu, saya akan balikin sama bapak. Saya gak bisa terima, saya masih bisa mencari uang sendiri," tegasnya.
"Heh," desisnya mencibir. "Nggak usah munafik sayang.." katanya sambil masuk kedalam kolam dan menyadarkan tangannya dipinggir kolam. Aku masih bisa ngasih kamu lebih, itu bukan seberapa, ambil aja buat beli gorengan." ujarnya sinis.
"Sekalian aja pak sama pabriknya!" gumam Arini dalam hati. "Nggak pak, terima kasih. Buat bapak aja, saya gak butuh gorengan sebanyak itu ujarnya kesal. Lebih baik bapak kasih saya Rekening bapak, saya akan balikin lagi uang itu."
Exel kembali berenang, tanpa mengacuhkannya sama sekali. Udah 15 menit berlalu, karena kakinya pegal, dia pun duduk dikursi pinggir kolam, sambil melihat bosnya yang sexy berenang. Walaupun dia jahat, tapi gak bisa dipungkiri ketampanan pria yang lagi berenang itu. Kapan lagi coba dapat kesempatan kayak gini, Mely pasti senang banget bisa liat ini. Dia pun berinisiatif buat mengambil foto. Arini malah cekikikan sendiri sambil melihat hasil jepretannya.
Tanpa disadari, Exel sudah berdiri disampingnya, sambil melihat apa yang ditertawakannya.
"Udah puas! Masih mau ambil foto? Mau dipajang di kamarmu?" Katanya menyeringai puas.
Arini malah menatapnya dengan tatapan jijik. "Narsis banget," gumamnya.
"Apa!!" Katanya penasaran.
Nggak ada, nggak ada apa-apa.
Cuma mau foto aja, lumayan buat usir tikus dirumah batinnya.
"Ambil kan handuk!" perintahnya.
__ADS_1
Arini pun mengambilkan handuk untuk Exel.
"Bawain jus nya kesini," perintahnya lagi.
Dengan hati-hati dia membawakan jus yang diminta Exel.
"Pakekan handuk..! Katanya lagi sambil meminum jusnya. Exel memberikan handuk yang dipegangnya tadi sama Arini.
Gak mau, katanya. Dengan geleng-geleng kepala.
"Berani? Ingat kan kau itu hanya bawahan.. Lupa aku ini atasanmu?" katanya marah.
"Iyaaah.. Saya tau. Tapi..." Lama Arini hanya terdiam karena gak berani melanjutkan ucapannya.
"Pakekan!!" pintanya lagi. Kalau kau bisa melayaniku dengan baik, aku janji bakalan setuju dengan permintaan mama tadi."
Kalau gak mengingat mukanya tante Hera yang memelas meminta bantuan padanya, Arini gak bakalan mau nurut semua kemauan Exel. Arini mengumpat-ngumpat dalam hatinya. Dengan tampang cemberut dan mata tertutup dia memakaikan handuk dipinggang bosnya yang mesum ituh.
Exel menyeringai senang, melihat tingkah Arini yang sedang marah. "Imut banget," Wangi rambutnya memabukkan baginya. Semua yang ada pada Arini dia suka, Keluguannya, masih sama saat SMA dulu. tapi ternyata sesuatu yang terlihat gak seperti kenyataannya. Pikirannya membuatnya kembali kesal, Exel menyentak tangannya dengan kasar.
Tanpa menghiraukan teriakannya, Exel ngeloyor pergi sambil memakai jubah mandinya.
"Kenapa gak dari tadi aja pake itu, tangan gue kan gak bakalan sakit kayak gini," umpatnya sambil meringis kesakitan, untung gak kedengeran Exel.
"Bawakan handphone," perintahnya ketus.
"Ni orang udah kayak bunglon, berubah-ubah terus.."
Langkah Exel sangat lebar, Arini mengikutinya sambil berlari-lari kecil, para pelayan yang melihatpun senyum-senyum dan mencibir melihat tingkahnya. Tapi setelah Exel melihat mereka dengan sudut matanya, semuanya langsung kaku ditempat.
Kayaknya dia majikan galak, keliatan banget semua pada takut. Gimana gak kan, ntar salah dikit aja bisa-bisa dipecat, dasar gak punya hati. Dia berjalan sambil mikir yang buruk-buruk tentang Exel. Tanpa sadar kakinya mengikuti pria itu ampe kamarnya. Dan pintunya tertutup dan terkunci sendiri. Dia pun membalikkan badannya kearah pintu, dan berusaha membukanya karena canggung berada dikamar bosnya, tapi entah kenapa buka pintu aja dia gak bisa. "Kenapa dirumah ini serba sulit," pikir nya bingung.
__ADS_1
"Gak bakalan bisa dibuka," ujar Exel. "Hanya aku yang bisa buka, nggak lihat itu, disamping ada kodenya hanya aku yang tau."
"Pintu kamar aja musti pakai kode-kodean segala", gumamnya kesal.
"Sini bantuin, ambilin baju dilemari'." perintah Exel.
Karena gak tau harus ngapain, Arini terpaksa nurut, dia pun berjalan masuk kedalam menuju lemari, dan dia baru nyadar kamar itu besarnya melebihi rumah kontrakannya. Dia pun membuka lemari pakaiannya dengan hati-hati, takut merusak lemarinya yang berkilau.
"Bajunya yang mana?" tanya nya bingung.
"Pilihkan, yang mana menurutmu bagus."
Karena disuruh milih, Arini sibuk nyari-nyari baju karena bingung," gak tau harus pilih yang mana" karena seumur-umur baru kali ini ambilin baju laki-laki, selain dari ayahnya.
Tiba-tiba ada aura panas di belakangnya.
"Kenapa lama.." kata Exel pas di samping telinganya. Tangannya menjangkau baju, sehingga dadanya yang telanjang merapat di punggung Arini. Dia memilih baju kasual lengan panjang dan celana jeans, yang dilemparkannya keatas ranjang.
Jantung Arini berdebar kencang, tanpa bisa dikendalikan otaknya. Tubuhnya kaku, karena jarak mereka sangat dekat. Dia nggak berani membalikkan badannya, napasnya terasa sesak.
"Kenapa?" tanyanya dengan sengaja mendekatkan bibirnya ke telinga Arini.
"Itu adalah area sensitif miliknya, tubuhnya seakan-akan merinding karenanya. Exel memegang kedua lengannya, dan mengelusnya perlahan. "Apa yang anda lakukan? Lepasin saya.. Ini sangat tidak pantas."
"Dari segi mana nggak pantasnya? Kita dulu pernah berpacaran, malah pernah melakukan hal yang lebih dari pada sekarang.."
"Bapak akan menikah, jadi saya mohon jaga kesetiaan bapak hanya untuk pasangan seorang." kata Arini memelas.
"Hahahaha..." Exel malah tertawa lantang, kalimat itu sama sekali gak cocok keluar dari mulutmu Arini.. Kamu itu hanyalah perempuan bayaran, lagi pula aku bukan yang pertama kan? Aku akan membayarmu lebih besar dari mereka..
Exel benar-benar bajingan.. Arini menatap tajam pada pria itu. Hanya itu yang bisa dilakukannya karena Exel terlalu berkuasa untuk di lawan. Setiap kali ingin melakukan perlawanan, Arini selalu mengingat setiap ancaman Exel padanya.
__ADS_1
****
Hai 👋 tinggalkan tanda cintamu buat penulis, dengan like, comen dan vote. agar lebih semangat lagi😍 makasi🤗