Affair With My Boss

Affair With My Boss
Membujuk istri ngambek


__ADS_3

Exel memperhatikan setiap detil tubuh Arini, takut kalau ada yang terluka. Sedikit saja dilihat goresan di tubuh istrinya, mereka semua tidak akan muncul lagi kepermukaan. "Sayang..., Apa ada yang terluka? Dimana yang sakit?" Exel panik, dia sangat khawatir dengan kondisi Arini yang sedang mengandung.


"Aku tidak apa-apa." jawab Arini dengan wajah pucat dan badan gemetar.


"Sekarang gak usah cemas! Ada aku di sini." Exel berusaha membuat tenang Arini dengan mengusap punggungnya.


"Aku mau pulang." Bisakah mengantarku? Arini bertanya karena ragu dengan jawaban suaminya.


Sejenak Exel agak ragu, tapi sesaat kemudian dia mengangguk pasti. "Arini jauh lebih penting dari Kanaya, masa bodoh dengan kemarahan mama nantinya." Exel berpikir dalam hati kemudian memerintahkan salah satu pengawalnya mengantar mama dan Kanaya pulang.


"Sini kugendong!" Kamu pasti gak kuat untuk berjalan, badanmu aja masih gemetar."


"Tidak, tidak usah. Aku punya kaki, aku bisa berjalan sendiri." ucap Arini tegas, dan mulai berjalan mendahului Exel.


Exel mengalah. "Baiklah," kebetulan jarak mobil dari mereka sangat dekat.


Riko muncul dengan mobilnya, sangat terlambat. Dengan ekspresi kebingungan dia datang menghampiri, "maaf tuan saya terlambat."


Tendangan melayang kearah kaki Riko dua kali. "Sekali lagi kau buat begini hilang kedua kaki mu!" Amarah Exel meledak melihat kedatangan Riko.


"Iya tuan maaf." Riko bersujud memohon ampun kepada Exel. Tapi, dia jauh lebih takut pada asistennya Exel, Reno. Mata Reno mendelik ke arahnya, walaupun dia hanya diam, itu semua cukup untuk membuat badan Riko bergetar ketakutan. Setahu Riko, Reno adalah kaki tangan Exel yang sangat kejam. Dia tidak akan segan-segan mematahkan kaki atau tangan sekalipun, tapi untuk saat ini dia masih punya hati nurani untuk tidak membunuh seseorang. Akan tetapi mengurung mereka di suatu tempat, dalam batas waktu yang tidak bisa di pastikan.


"Kau tau apa yang terjadi! Kalau kau sampai meninggalkan nona sendirian lagi! Kau tau akibatnya." Reno berkata tegas dengan mata mendelik tajam.


"Iya bos, sama minta maaf. Saya tidak tau apa yang terjadi barusan." Riko menunduk ketakutan.


"Kau cari tau letak kesalahanmu dimana! Kejadian ini adalah untuk terakhir kalinya." ucapan Reno tajam.


"Iya tuan maaf," Riko bersujud dan berulang kali memohon ampun.


Arini sudah sejak tadi meninggalkan Riko dan Reno sendiri. Exel sengaja menarik tangan istrinya agar tidak melihat sisi buruk dalam kehidupannya.

__ADS_1


Arini menatap tajam mata suaminya. "Kapan kembali?" Arini bertanya dengan datar.


"Baru sampai sayang..., Maaf nggak ngasih kabar. aku sengaja melakukannya agar bisa memberimu kejutan." Exel bisa merasakan perubahan sikap istrinya.


"Oohh....," sesingkat itu perkataan Arini, menandakan dia tidak senang dengan sikap suaminya.


Exel juga memilih untuk diam, untuk saat ini Arini mungkin masih shock, tidak ada gunanya menjelaskan kedatangannya yang tanpa pemberitahuan sekarang. Di perjalanan tidak ada satupun yang bersuara.


Sesampainya dirumah. Arini lebih duluan turun dari mobil, ia berjalan cepat menuju kamarnya. Exel menyusul dari belakang dengan terburu-buru. Sayang.. tunggu!" Exel prustasi dengan sikap Arini yang nggak peduli padanya.


Dengan sigap Exel menahan pintu kamar yang hendak di tutup. Arini mundur dan duduk di tempat tidur, sambil terisak-isak saking sedihnya.


"Sayang..., aku lapar." ucap Exel pelan.


Arini tidak habis pikir, dalam kondisi seperti ini, dia masih sempat untuk lapar. Kesedihannya menghilang, di gantikan dengan kemarahan.


"Kalau lapar makan aja sana! Seharusnya mas itu ke dapur, bukannya ke kamar." Ucapan Arini berapi-api.


Exel tersenyum nakal. "Sayang..., tolong bedakan, yang mana lapar makan dan lapar yang lain."


"Baiklah, jangan marah-marah terus. Nanti suasana makin panas." Exel sengaja menggoda istrinya, tapi tetap aja wanita ini gak tau apa-apa, polos sekali.


Arini bangkit dari duduknya. "Kalau gak mau keluar, biar aku yang keluar. Di sini udah gak nyaman." ujar Arini berjalan melewati Exel.


Tangan Exel menarik pinggang Arini ke pelukannya. Exel sangat nakal, langsung mengangkat gaun selutut yang di kenakan Arini melewati kepala dengan mudah. Yang tersisa hanyalah pakaian dalam yang tipis, tidak bisa menutupi sesuatu yang indah di dalamnya.


"Apa yang kamu lakuin! Arini berteriak dan meronta minta di lepaskan. Lepaskan, aku ambilkan makan sekarang juga." Arini hanya ingin melarikan diri dari suaminya sejenak.


Makananku sudah ada di depan mataku, jangan coba-coba untuk kabur. Kau tau sudah berapa lama aku menahan keinginanku? Setiap hari, selama aku berada di luar negeri." Exel mempererat pelukannya.


"Tapi, mas...,"

__ADS_1


Ucapannya terhenti, karena Exel telah membungkam mulutnya dengan bibirnya sendiri. Mengecap kemanisan di dalamnya. Tiada lagi kemarahan, yang ada hanyalah panas membara kala bibir Exel menyentuh bibirnya, tubuhnya. Setiap sentuhan tangan Exel terasa panas. Arini merasakan kekarnya otot di bahu Exel kala bibir Exel mengecup dadanya, jantung Exel yang berdegup kencang kala tangannya mempermainkan bulu halus di dada pria itu.


"Oh!" teriaknya lagi dan lagi, menyambut gairah Exel dengan gairahnya sendiri, hingga tiada lagi kata-kata dan pikiran yang mampu mengalahkan kuatnya pesona yang semakin membumbung, kecuali kebersamaan tanpa batas, pikiran bahkan waktu..


Reno dan Riko sedang bermain catur di depan, memastikan tidak ada yang mengganggu tuan mereka mengerjai istrinya.


"Mas..., kamu belum jelasin apa-apa sama aku, sambil tangannya bermain di dada bidang suaminya. Aku minta penjelasannya sekarang...," Arini merengek manja.


"Jangan seperti itu sayang.. Apa kamu masih kuat melayaniku?" godanya lagi.


"Tapi aku kan gak berniat seperti itu..."


Exel mengalah, dia hampir lupa kalau istrinya sedang hamil. Kalau tidak, mungkin dia tidak akan membiarkan Arini bergerak dari tempat tidur.


"Oke, Aku jelasin. Kenapa aku bisa mengantar Kanaya kerumah sakit, Exel menuturkan cerita yang sebenarnya." Tadinya mau langsung pulang setelah turun dari pesawat. Tapi, mama menelepon dan mengatakan Kanaya sakit karena hamil."


Mendengar itu, Arini membuang mukanya kesal.


"Sayang..., jangan salah paham dulu. Kanaya memang hamil, tapi bukan anakku," ucapan Exel membuat Arini tertegun.


"A-apa maksud mas? Apa benar dia memiliki kekasih di luar sana?" Arini bertanya penuh keraguan.


Exel mengangguk, pandangannya menatap lurus ke depan. "Tidak akan lama lagi, aku akan menceraikannya. Tunggu sampai Reno mempunyai bukti perselingkuhan mereka."


Melihat tatapan marah Exel, membuatnya gentar untuk bertanya kembali.


"Sayang..., sekarang aku benar-benar lapar." ucap Exel tersenyum lembut ke arahnya, cepat sekali raut wajahnya berubah, pikir Arini.


"Aku ambilin sebentar yah mas. Arini hendak pergi tapi di tahan Exel.


"Jangan, biarkan bibi yang membawanya ke sini."

__ADS_1


Arini mengalah, dan kembali masuk ke dalam pelukan suaminya setelah memberitahu bibi melalui telpon.


Bersambung


__ADS_2