
Sesampainya dirumah, Exel langsung masuk menuju kamarnya tanpa melihat kesana kemari. "Lagi malas mau ketemu siapapun."
"Exel..!!" Panggil papa melihat anaknya yang masuk tanpa salam dan tidak memperhatikan sekitarnya, padahal dirumah lagi ada tamu.
"Iya, kenapa Pa?" Sambil melihat kearah suara papanya berasal, senyumnya langsung lenyap.
"Sini dulu Xel.. Ada Kanaya ini udah dari tadi nungguin kamu." Kanaya tersenyum dengan manis melihat laki-laki yang sangat dicintainya ada dihadapannya.
"Kak Exel..!" Kanaya langsung memeluk Exel, "aku kangen..," yang dipeluk hanya diam nggak berkutik. "Kakak nggak kangen yah sama aku..?" Dengan gayanya yang manja.
"Hmm.. Iyah," sahut Exel datar, "kamu kapan balik?"
"Kemaren kak, kakak susah banget dihubungi? Gak pernah diangkat kalau aku nelpon..." rengeknya.
"Tunangan kamu itu super sibuk sayang.. Maklumlah, kan baru aja gantiin posisi papa, bentar lagi Naya juga bakalan liat anak tante ini setiap hari," ucap tante Hera sambil berjalan mendekati mereka.
"Beneran ya Tan.. Naya udah terlalu lama nungguin kak Exel, takutnya kelamaan entar kak Exel malah tergoda cewek lain." Kanaya cemberut membayangkannya.
"Emang udah tergoda kali," gumam Exel dalam hati. Mama kenapa nggak pernah, bicarain hal ini dulu sama aku? Kenapa musti selalu ambil keputusan sendiri.. Aku kan belum tentu suka dengan pilihan mama." nada Exel mulai tinggi.
"Exel aayang.. Bukan maksud mama nggak diskusikan hal ini dulu sama kamu. Tapi kalian itu tunangannya udah terlalu lama, apalagi sekarang Kanaya udah tamat kuliahnya. Mama juga tau, kalau kamu itu menyukai Kanaya, kalian kan selalu bersama waktu kecil dulu.." Semua teman mama udah nimang cucu, Makanya kalian harus segera menikah" pinta mama Hera.
"Tapi kan mam.., sebaiknya Kanaya itu kerja dulu meniti karir, percuma kuliah jauh-jauh keluar negeri masak cuma mau jadi ibu rumah tangga. Apalagi sekarang aku lagi sibuk-sibuknya," jelas Exel masam.
"Gak perlu cemas, ntar papa sama Reno yang urusin kerjaan kamu buat sementara. Papa setuju sama mama kamu, dalam dua minggu ini kamu harus nikah sama Kanaya gak ada tapi-tapian. Papa, mama dan orangtuanya Kanaya udah sepakat, agar pernikahan kalian dipercepat."
Exel menyumpah dalam hati, "gimana cara gue batalin pernikahan ini," pikirnya. Otaknya benar-benar mumet, tidak tau harus berbuat apa.
"Kaaak..!! Aku senang banget karena bentar lagi mau jadi istri kakak," tangannya bergelayut manja dilengan exel. Aku juga gak mau kerja kok kak, aku mau jadi nyonya Exel aja, ngurusin keluarga kecil kita nantinya."
__ADS_1
"Aku gak peduli kak kamu setuju atau tidak yang penting kamu harus jadi milikku" batin Kanaya sambil menatap kekasih hatinya yang berusaha menahan amarahnya. Kanaya tau kalau Exel tidak pernah mencintainya, makanya Kanaya menggunakan orang tua mereka untuk mengikatnya.
"Terserah mama dan papa aja, aku mau masuk dulu mau istirahat," katanya sambil melepaskan tangan Kanaya dari lengannya dengan tampang kusut. Exel hanya bisa pasrah dengan keputusan orangtuanya.
"Tapi kak!! Naya masih mau ngobrol-ngobrol sama kakak!" teriaknya, usaha Kanaya sama sekali nggak dihiraukan oleh Exel.
Dikamar Exel menghempaskan tubuhnya dikasur. Tangannya memijit jidatnya, "aaaggghhh..!!!! Brengseeeek!!!!" Maki Exel dikamarnya yang kedap suara. "Aku belum mau nikah, aku masih ingin bermain dengan perempuan itu, Arini..." desisnya.
Empat hari berlalu, semenjak dia bertemu Arini untuk terakhir kalinya. Exel sama sekali tidak pernah menghubunginya, entah gimana kabarnya, dan apa yang di pikirkan wanita itu tentangnya.
Di kantor Pak Hermawan yang menggantikan Exel dalam beberapa hari ini. Arini menghela d hi berat dengan muka malas dan pikiran berkecamuk. Kalau ada Exel hari-harinya malah ngeselin, tapi gak ada Exel dia kesepian dan gak semangat kerja. Tapi setelah kejadian itu, Exel bener-bener mengiriminya uang seperti yang dijanjikannya.
Exel mentransfer uang 500 juta untuknya, tentu dia sangat kaget. Apalagi dia belum pernah memiliki uang sebanyak ini sebelumnya, memang ini sangat menggoda, tapi dia tidak mau menerima uang itu, karena dia bukan perempuan bayaran.
Makanya beberapa hari ini Arini selalu nungguin Exel masuk kerja, dan ingin menghubunginya buat balikin uang yang bikin matanya ijo. Tapi Exel gak nongol-nongol, dan dia mana berani menatap, atau bertanya sama asistennya itu, kan malu.. Arini nggak punya alasan yang tepat untuk itu.
"Triiiing!!" Telpon dimeja kerjanya berdering, Arini langsung mengangkatnya. "Di sini Arini."
"Baik mbak Lina,saya segera kesana." Arini bergegas menemui pak Hermawan.
Sesampainya diruangan Presdir, Arini langsung masuk, sebelum terlebih dahulu mengetuk pintu. Ini nggak seperti perasaan Arini kalau ada Exel yang ada didalam, kalau Exel akan membuat Arini berdebar-debar, kalau Pak Hermawan Arini malah bisa bersikap santai walaupun beliau adalah pemilik perusahaan. Karyawan lain malah pada takut, tapi Arini malah takut sama Exel yang dipuja-puja seseantero perusahaan.
"Apa benar dia takut?" pikirnya galau.
"Duduk.. Pak hermawan mempersilahkan Arini untuk duduk.
'Saya suka cara kerja kamu. Rapi, dan juga cekatan," Pak Hermawan memuji Arini.
"Terima kasih pak!"
__ADS_1
"Dalam dua minggu ini, kamu tidak usah masuk kantor dulu.."
Arini hanya tercengang mendengar perkataan bosnya itu, dan tidak berani membantah. Perasaan gue nggak enak, "Apa gue mau dipecat, setelah dipuji-puji kayak gini," pikirnya kalut.
"Dalam dua minggu ini, presdir akan menikah." Pak Hermawan mengucapkannya dengan santai, tentu dia tidak tau orang di depannya ini memiliki hubungan dengan anaknya.
Mata Arini melotot dan kerongkongannya terasa tercekat, karena perkataannya barusan.
"Saya minta kamu yang mengurusi pernikahan Exel," jelas Pak Hermawan.
"A-apaa! Apa maksud bapak?" tanya Arini tergagap, saya kan bukan WO pak? Saya takut nanti melakukan kesalahan.."
"Saya tau, nanti kamu bekerja sama dengan WO nya ngurusin pernikahan, Exel orangnya sangat cuek, jadi dia tidak akan mau tau dengan urusan itu. Menurut saya kerjamu cukup bagus, dan kamu juga sudah bekerja dengan Exel selama satu bulan. Saya rasa kamu juga sudah mulai tau dengan kesukaannya Exel, mamanya ingin semuanya yang terbaik untuk anak kesayangannya itu."
"Jadi mulai besok kamu bisa datang kerumah, lakukan yang terbaik, jangan bikin saya kecewa." titahnya.
"Ba baik pak.. Saya akan bekerja keras."
Pak Hermawan mempersilahkan Arini untuk pergi dari ruangannya.
"Kalau begitu saya permisi pak," sambil menundukkan kepalanya dengan sopan. Beliau hanya mengibaskan tangannya.
Arini berjalan gontai keluar dari ruangan presdir, jangan tanya suasana hatinya saat ini, matanya terasa panas ingin menangis.
"Apa hakmu untuk sedih Arini? Kamu bukan siapa-siapa baginya, kamu hanya wanita penghibur baginya." Arini tertunduk sedih.
Mbak Lina bingung melihat Arini keluar dari ruangan Presdir dengan raut muka yang kelihatan sedih. "Kenapa lagi pikirnya.." Apa dia dipecat!" Padahal menurut Lina, Arini itu spesial di mata pak Exel. Dia nggak mungkin salah tanggap, mereka selalu berlama-lama dalam ruangan. Betah banget kan, kenapa coba! Bikin curiga gak sih," sambil mikir dengan kening mengkerut sambil putar otak kebingungan. Entahlah, itu urusan mereka. " Semoga saja mbak Arini nggak di pecat, kasian juga karena dia baru naik jabatan."
***
__ADS_1
Berikan tanda sayangmu untuk penulis 😍 😍 😍 biar lebih semangat lagi😘dengan like👍vote & komen 🤗