
"Exel selalu mendampingi Arini, memegangi tangannya dan membelai rambutnya..
Cepetan bangun! Badan berisi kayak gini kok gampang banget pingsannya.. Makan apaan kok cepat banget berubah, dulu pinggang segini, Exel menjengkal tangannya kepinggang Arini, sekarang malah begini. Exel ngoceh sendiri. "
Kamu tuh bahagia yah gak ada aku! Kata orang-orang kan suka gitu, kalau kita bahagia badan jadi berisi katanya. Kalau punya tekanan perasaan badan jadi kurus..
Bos.. Dari tadi belum makan apa-apa, mendingan kalau kita cari makan dulu. Kan ada Dodi yang jagain.
Loe aja yang beli, bungkus!
Tapi bos.. Mana enak makan dirumah sakit, bukannya bos suka mual kalau makan diantara bau obat..
Benar juga sih, tapi mau gimana lagi. Arini lagi sakit dia gak bisa ninggalin Arini barang sedetikpun.. Loe aja yang beli, kali ni pasti bisa dimakan.
Akhirnya Reno menuruti keinginan Exel.
"Dodi berpura-pura sibuk dan sesekali memperhatikan Exel yang sangat perhatian sama Arini, sebenarnya situasi macam apa ini, pikirnya. Waktu itu pak Raihan salah satu pemegang saham di Paradita Group juga bersikap beda sama Arini, sekarang malah Presdir malah lebih parah lagi Terang-terangan kayak gini kalau memang ada sesuatu dengan Arini. Dodi tambah bingung dan tidak berani bertanya. Sebenarnya apa scandal yang telah kau dibuat di kantor pusat rin..? Sampai harus pindah kesini.. "
Semua kelihatan ganjal bagiku.. Dodi akhirnya berpikir, kalau bukan karena bantuan Arini mungkin dia sudah dipecat karena keteledorannya. Sebenarnya memang semua ini adalah ulahnya Dodi, tapi siapa juga yang mau mengakuinya. Sekarang dia benar-benar menyesal telah melakukan perbuatan tercela seperti itu, hal ini bukan tanpa sebab.
Waktu itu Dodi ingin meminjam uang di kantor untuk biaya operasi adiknya tapi ditolak. Karena kasih sayang seorang kakak, akhirnya dia nekat dan mengambil kesempatan yang ada.
Mungkin aku bisa bersikap jujur didepan presdir, aku rasa dia juga bukan orang yang kejam. Tapi kayaknya bukan sekarang, dia sedang cemas..
Tiba-tiba ponselnya Exel kembali berdering.. Ini udah kesekian kalinya dari Kanaya tapi gak diangkat juga. Lagi malas, palingan minta pulang ditemenin ke pesta para selebriti. Exel gak pernah mau untuk ikut keacara nya Kanaya.
Sekarang giliran papa nya yang menelepon, kenapa si semua orang sibuk menghubunginya! Exel heran sendiri, biasanya papa gak suka ikut-ikutan berulah kayak mama. Mending diangkat aja gumamnya.
Halo pa!
Exel kemana aja! Kenapa ditelpon dari tadi gak diangkat-angkat!
Lagi sibuk pa.. Memangnya ada hal mendesak apa? Urusan kantor? CEO kan ada pah..
Bukan urusan kantor, itu mama kamu tiba-tiba jatuh sakit lagi.. Kamunya gak pernah mau dengerin omongannya mama, jantungnya kumat lagi tuh.. Kamu mau tetap bertahan menemani gadis itu, atau pulang nemui mama kamu yang sedang sakit parah!
__ADS_1
Apa! Mama sakit jantung! Anak mana yang gak cemas mamanya mengidap sakit parah seperti itu. Oke pa, aku pulang sekarang juga. Di waktu yang sama Reno datang membawakan makanan.
Ada apa bos! Merasa heran melihat bos nya yang sedang panik.
Kita pulang sekarang.. Mama sakit.
Baik bos. Reno langsung sigap dan meninggalkan makanan yang dibeli tadi sama Dodi. Kalau mbak Arin bangun, kasih makan, Dodi mengangguk.
Arin.. Maaf sekali lagi, aku gak bisa nemenin kamu disini.. Mama aku sakit. Exel mengecup kening Arini dengan berat hati meninggalkannya sekali lagi. Exel menarik napasnya berat.
"Jaga Arini dengan nyawamu. Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, kau dan keluarga mu yang akan tamat."
Baik pak! Saya akan merawat Arini dengan sepenuh hati. Dengan cemas Dodi menunduk hormat pada Presdir.
Arini kamu itu harus segera bangun.. Kalau terjadi apa-apa sama kamu, aku bisa dipenggal hidup-hidup..
Tak berapa lama berselang setelah kepergian Exel, Arini pun bangun.. Dia meraba keningnya, Perasaan hangat masih terasa di keningnya. Melihat sekeliling hanya ada pak Dodi, padahal tadi Arini merasa itu adalah Exel. Sudahlah pikirnya..
Flashback off..
Selamat pagi!! Gimana udah segar badannya?
Udah dok! Saya mau pulang.
Baik. Memang sudah bisa pulang sekarang, tapi masih harus tetap menjaga kesehatan demi kondisi ibu dan janin..
Apa!! Arini dan Dodi menjawab kompak.
Maksud saya mbak lagi hamil, sudah 9 minggu. Dengan ringan Dokter memberitahu. Sus! Berikan vitaminnya agar ibu dan janin sehat selalu. Kalau gitu saya permisi, Dokter berlalu dan berpapasan dengan Raihan didepan.
Raihan menahan Dokter, maaf dok! Apa yang Dokter maksudkan tadi! Raihan berharap yang disampaikan Dokter tadi adalah sesuatu yang salah di dengar.
Maksud anda yang mana?
Maksud saya, Apa benar pasien yang didalam itu sedang hamil!
__ADS_1
"Iya. Tidak salah lagi, dia sedang hamil."
Dok.. Cepat! Ada pasien kecelakaan!! Perawat berseru memanggil Dokter dan meninggalkan Raihan sendirian didepan pintu.
Anak siapa itu? Apa anaknya Exel.. Apa benar mereka sudah sejauh itu. Aku gak nyangka, ternyata Arini gak sepolos yang aku pikirkan.
Raihan nyelonong masuk, Dodi jelaskan semuanya. Apa benar Arini hamil? Anak siapa itu?
Mana saya tau pak! Dodi menjawab bingung, karena kedatangan Raihan yang mendadak, sebenarnya dia sudah tau kalau Raihan mau kesini, tapi gak tau juga bakal secepat ini.
Trus lagian kenapa bertanya padaku! Heran aku, gak mungkin kan pak Raihan curiga aku yang menghamili Arini. Ketemu aja baru.
Arin.. Apa semua itu benar? Anak siapa itu? Tolong jawab! Raihan bertanya dengan nada yang cukup keras. Tapi melihat keadaan Arini yang sekarang dia jadi gak tega, pastinya dia akan lebih stres dariku, pikirnya.
"Akhirnya Raihan mengulang pertanyaannya dengan nada yang berusaha di lembutkan, mengingat kondisi Arini saat ini yang sedang lemah. Yang ditanya sedang tertunduk sedih.. Dengan wajah yang penuh air mata, bahunya naik turun karena menangis.
Arin.. Raihan mendekat dan mengguncang bahunya, Arini sama sekali tidak menggubris. Sadarlah.. Kalau memang ada janin dirahim mu. Kau harus kuat, kau tidak boleh lemah sebagai seorang ibu. Ingatlah dia tak berdosa, bukannya kau penyuka anak kecil? Dia pasti lucu sekali.. Raihan tiba-tiba melunak, padahal tadi dia sangat marah. Tapi setelah dipikir-dipikir apa haknya untuk marah, dia bukan siapa-siapanya Arini.
Kau tidak sendirian Arini.. Ada aku di sini yang akan selalu siap membantumu.
Iya ada aku juga rin.. Kamu tenang aja, kami semua akan menjadi sandaran mu nanti. Dodi ikutan nimbrung berusaha menenangkan Arini.
Arini masih sesenggukan.. Nggak-nggak aku gak bisa mempertahankan anak ini, dia tidak memiliki ayah..!! Gimana hidupnya nanti, pasti hanya akan menjadi hinaan orang-orang Wuwu uwu uwu..
Tapi rin.. Kau gak bisa berkata seperti itu. Apa salah anak itu! Dia juga ingin melihat dunia.. Dia pasti mendapatkan kekuatan dari ibunya yang kuat, dan tidak akan ada yang akan menghinanya. Aku akan melindungi kalian..
"Menikahlah denganku.." Raihan gak sempat berpikir dan langsung berkata seperti itu. "Kasian Arini."
Nggak kak, aku gak mau dikasihani Uwu uwu wuu.. Masih terus menangis. Tolong tinggalkan aku sendiri.. Aku mau sendiri dulu, Arini berkata lemah disela isak tangisnya.
Arin jangan keras kepala!! Raihan berteriak karena marah dengan sikap Arini.
Pak! Jangan memaksanya sekarang.. Kondisinya sedang labil. Kasih dia waktu, nanti kalau sudah tenang, bicarakan kembali dengannya, Dodi memberi nasihat yang cukup bijak.
***
__ADS_1
Hai selamat malam.. Jangan lupa like, komen dan vote nya yah🤗🤗