Affair With My Boss

Affair With My Boss
Lain di mulut lain di hati.


__ADS_3

Arini mandi dengan tergesa-gesa. Takut ntar Exel keblablasan dan malah masuk ke kamar mandi. "Ini semua karena pintu sialan itu, masak kamar mandinya gak ada kuncinya ini disengaja atau apa coba, sebel. Jadi gak bisa menikmati mandi, padahal dia ingin sekali mandi berendam di bathtup lumayan kan di kontrakan yang beginian gak ada tapi apa boleh buat."


" Cepetan! Aku juga mau mandi, teriak Exel diluar."


" Yaa ampuuun ni orang baru juga mandi, udah di panggil-panggil. Iyaa bentar! "Arini terburu-buru menyelesaikan mandinya.


" Aku masuk nih.. Katanya lagi."


"Arini segera mengenakan kimono. Aku gak bisa keluar dengan kondisi seperti ini yang ada ntar niat buruknya kumat lagi. Pak! Tolong ambilkan bajunya! Tapi gak ada sahutan, Arini menjulurkan tangannya keluar kamar mandi, mana pak!


"Nih.. Lain kali jangan panggil pak lagi. Exel menyerahkan bajunya ketangan Arini."


"Syukurlah Amaan sambil ngelus-ngelus dada," tapi rasa legahnya hanya sementara, raut mukanya langsung berubah kusut lagi melihat isi kantong yang diserahkan Exel padanya. "Ini apa!" Arini melihat satu persatu isinya, celana dalam g-string, bra transparan, dan gaun yang terbuka dimana-mana. Arini kembali meletakkan semuanya di kantong, "sial! Ini mah jebakan.." Mana bajunya tadi udah basah. Dengan terpaksa Arini mengenakan pakaian pemberian Exel.


Exel tersenyum penuh kemenangan diluar, "gimana bajunya cocok gak! Dia tau Arini pasti bete dikasih baju kayak gitu, dia kan gak suka memakai baju yang terbuka.


" Tenang aja sayang cuma aku kok yang liat, gak kan ku biarkan orang lain melihatmu seperti itu. Berguman dalam hati. "


"Cocok apaan! Dasar pria mesum." Arini sibuk menggerutu di dalam. Arini memakai bajunya didalam dan tetap mengenakan kimononya diluar dan berjalan keluar.


"Exel hanya terpana, kenapa bajunya gak di pake?"


"Gak ah, bajunya kekurangan bahan gitu dikasih ke aku."


"Tapi aku kan udah beliin.. Hargai dong pemberian orang."


Arini mengeleng-gelengkan kepalanya.


"Sini! Biar aku yang pake kan."


"Tolong kak! Jaga sikapnya, kalau kakak berani macam-macam aku akan pergi sekarang juga."


"Aku bukan pria yang mudah untuk diancam. Kamu tau itu kan!" Sambil Exel berjalan kearah Arini.


Arini mundur, di pelototin seperti itu siapa yang gak gentar. Tapi Exel semakin mendekatinya, stop! Kak.. Tolong, aku gak maen-maen dengan ancaman ku."


" Aku juga gak maen-maen dengan perkataanku."

__ADS_1


Arini terpojok di pinggiran kasur nafasnya naik turun. Exel tinggal selangkah darinya.


" Apa yang di cemaskan! Aku kan cuma pengen gantiin baju mu."


"Gak perlu aku udah pake kok." Dari pada Exel mengobrak abrik kimononya lebih baik dibuka aja. Percuma juga ngebantah gak guna. Arini membuka kimono yang dia pakai, dan hanya mengenakan baju yang menonjolkan lekukan tubuhnya dan sangat terbuka. Dengan gugup Arini menutupi tubuhnya, karena malu.


"Aku udah pernah liat semuanya jadi buat apa malu! Arini menggigit bibirnya, jangan di gigit nanti terluka." Exel mengusap bibirnya.


Sulit sekali rasanya untuk bernafas. Sepertinya dia telah lupa, gimana cara bernafas karena pria ini.


"Bajunya sangat pas ditubuhmu. Aku gak salah pilih kan?"


"Aku gak bisa keluar kalau kayak gini.."


"Siapa juga yang mau keluar dengan penampilan mu seperti ini, aku masih ada baju yang lain untukmu. Exel benar-benar nakal.."


"Kenapa gak bilang dari tadi.. Aku kan gak perlu pake baju kayak gini, gak nyaman tau." Kewaspadaannya menurun dan dengan hanya memakai pakaian yang terbuka dihadapan seorang pria seperti Exel, wajahnya berubah gelap.


Arini sangat menyesal telah membangunkan sisi harimau ganas dari diri Exel.


"Exel membenamkan wajahnya dileher Arini, kali ini jangan menolak. Aku janji akan tanggung jawab desisnya. Gimana kalau kita menikah?"


"Kamu harus bisa.."


"Aku gak bisa menjadi duri dalam rumah tangga orang lain, mungkin ada baiknya kita gak saling bertemu, kita jalani hidup kita masing-masing. Kakak tau kan kalau Arin berasal dari keluarga yang kurang mampu! Jadi Arin mohon, biarkan Arin hidup dan bekerja dengan tenang."


" Aku akan memenuhi segala kebutuhan mu dan keluarga. Kamu gak perlu kerja."


" Gak bisa!! Aku gak mau.. Aku hanya pengen menjalani kehidupan yang normal seperti orang lain. Menikahi pria yang baik, yang hanya memiliki ku seorang suatu saat nanti."


" Kamu tau kan! Aku menikah bukan karena cinta, itu pernikahan terpaksa. Sampai saat ini aku belum pernah menyentuhnya."


Arini merunduk, ternyata Exel memang sangat menyukainya, padahal istrinya sangat cantik." Tapi kalian tetap menikah kan! "


"Yah, itu persis seperti pernikahan bisnis.."


"Belajarlah untuk mencintainya, hubungan kita tidak akan pernah berhasil. Seminggu lagi aku mau ke Bandung, aku akan memulai kehidupan yang baru disana."

__ADS_1


"Bandung itu dekat, aku akan sering berkunjung. Nanti disana aku beliin rumah yang bagus, untukmu dan keluargamu. Dan dalam seminggu ini tinggallah disini, jauh lebih aman dari rumahmu."


"Gak perlu, rumah kami masih layak kok. Arini mencoba menolak Exel dengan halus. "Aku gak mau ngerepotin, nanti aku akan pulang, aku gak bisa tinggal berduaan dengan kakak di sini. Kita bukan pasangan suami istri."


"Makanya kita menikah, kalau perlu besok, lebih cepat lebih baik."


"Maaf kak gak bisa!! Arini berusaha menjauhkan tubuhnya dari Exel. Sebenarnya aku udah terima lamaran dari Kak Rai. Jadi mulai sekarang lepasin aku dan kita gak pernah ada hubungan lagi. "


Arini sengaja mengkambing hitam kan Raihan, agar Exel mau menyerah padanya. Raihan kan sahabatnya dari dulu."


"Aku gak kan pernah melepaskan mu. Baik menikah ataupun tanpa menikah sekalipun denganmu, kamu gak kan bisa pergi dariku. Kamu itu milikku, bahkan Raihan sekalipun gak kan bisa menghalangiku. Exel mencium bibirnya dengan paksa."


"Jangan kak, kali ini jangaan.. "Arini memukul dengan tangan mungilnya.


Exel melepaskan pagutannya pada bibir Arini. "Mungkin, ada baiknya kamu hamil. Gak kan ada lagi pria lain yang berani mendekati mu, termasuk Raihan."


Tubuh Arini merinding dan gemetar, aku belum siap melakukannya lagi. Waktu itu aja sakitnya minta ampun, dan kak Exek gak peduli padaku. Gimana kalau aku hamil.. Gimana nasibku dan anakku nanti. Arini gak bisa membayangkannya.


" Jangan kak! Ingat dosa!!"


"Makanya, jadilah istri sirih ku."


Arini benar-benar bingung musti nyari alasan apalagi buat meyakinkan Exel. "Maaf kak, tapi aku gak mau menyakiti hati perempuan lain. "


"Baiklah, "Kalau gitu jangan salahkan kalau aku memaksa.


Exel mendorong Arini ke atas ranjang. Menciumnya seperti harimau kelaparan.


"Haaah, Jangan kak! Aku mohon, hiks hiks.." Arini terisak, gak kuat menghadapi tekanan yang diberikan Exel padanya. Ciumannya bergerilya tubuh Arini.


Arini merasa lemah, dan bergetar setiap disentuh Exel. "Ja-jangaaan.. Aahh.."


Hanya suara ambigu yang keluar dari mulutnya. Kali ini exel memperlakukannya dengan sangat baik dan lembut.


***


Salam sayang dari author.. Kasih komennya yah, biar aku tau dimana yang salah..

__ADS_1


Jangan lupa like, komen dan votenya yah.. 🤗🤗


__ADS_2