Affair With My Boss

Affair With My Boss
Patah hati


__ADS_3

ini adalah pagi yang cerah, tapi tidak secerah perasaan Exel. Sampai hari ini belum ada kabar dimana keberadaan Arini sekarang. Tadi malam, dia udah nelpon mertuanya. Siapa tau istrinya pulang ke rumah orang tuanya. "Halo bu! Gimana kabarnya?" tanya Exel berbasa-basi.


"Kami semua sehat, Alhamdulillah... Nak Exel apa kabar?"


"Baik juga buk," gimana dengan bisnis baru bapak, lancarkan?"


"Berkat bantuan nak Exel, semuanya berjalan sangat baik. Udah lama ibu tidak mendengar kabar Arini, gimana kehamilannya sekarang?"


Dari sini Exel tau, kalau mertuanya tidak tau apa-apa. "Alhamdulillah... Sehat juga bu, mungkin karena kesibukannya belakangan ini, jadi dia belum sempat menghubungi bapak dan ibu." Exel berusaha menyembunyikan kejadian yang sebenarnya, agar mereka tidak khawatir.


"Syukurlah... Ibu sangat senang. Kalau gitu sampai kan saja salam ibu sama Arini ya nak.. Ibu tau, dia pasti nggak ada di rumah."


"Iya Bu, nanti aku sampaikan." Exel mematikan panggilan telepon dengan tidak sabar. Perasaannya makin nggak karuan, "apa yang sebenarnya terjadi."


"Bos! Lihat ini..." Reno menyodorkan ponselnya, dan Exel memperhatikan berita yang diperlihatkan Reno padanya.


"Ini bukannya mobil Arini!" Exel memperhatikan dengan seksama, ternyata memang benar, dia tau persis mobil itu dia sendiri yang membelikannya.


Berita tersebut menjelaskan, telah terjadi kecelakaan. Tapi korban tidak ditemukan, kemungkinan korban hanyut di sungai yang ada dekat lokasi kejadian kecelakaan..


Exel menjatuhkan ponselnya Reno, dan jatuh terduduk di lantai ruangannya. "Dimana dia!! Jawab!!!" suara Exel menggelegar penuh kemarahan dan kesedihan yang mendalam.


Reno berlutut dilantai didepan Exel. "Pihak kepolisian tidak menemukan dimana nona berada, kemungkinan besar nona masih hidup. karena tidak ditemukan tanda-tanda bekas kecelakaan yang parah, dan juga hanya sedikit darah yang ada, pas di kemudinya." Reno menjelaskan dengan tenang, dia sangat siap menerima resiko dari kemarahan Exel. Kami akan terus mencari, di sepanjang hilir sungai. Kami tidak akan melewatkan apapun, "semoga saja Arini masih hidup." Reno berdoa dalam hati.

__ADS_1


"Aku ikut mencarinya," Exel bangkit dari duduknya dan berjalan mendahului Reno. Pencaharian dilakukan dari petugas keselamatan dan juga orang-orang bawahan Exel. Satu minggu berlalu, satu bulan berlalu. Hingga akhirnya, petugas keselamatan menghentikan pencaharian. Exel beserta bawahannya masih terus mencari seperti orang gila. Sedangkan perusahaan saat ini di kelola oleh Raihan dan juga om Heru, hanya orang-orang itu yang bisa di percaya Exel sekarang, disaat keadaannya terpuruk seperti ini.


Akhirnya 5 bulan telah berlalu, kondisi Exel mulai stabil. Dia memiliki keluarga yang peduli padanya, mamanya juga ikutan sedih melihat anak kesayangannya di Landa duka yang mendalam. Walaupun awalnya di tidak menyukai Arini, tapi dia juga merasa kasihan dengan nasib anak itu.


"Sabar yah nak," ucap mamanya.


Mertuanya juga berusaha membujuknya, "sudahlah nak Exel, lanjutkan hidupmu.. Mungkin ini sudah jalannya dari yang Mahakuasa, ibu dan bapak tidak akan menyalahkan nak Exel atas meninggalnya putri kami. Lebih baik kita berdoa agar dia bisa tenang di sana," ibu Arini berusaha menenangkan menantunya yang udah seperti orang gila, keadaannya sama sekali nggak terurus, rambutnya acak-acakan, dekil, mungkin karena jarang mandi. Walaupun mereka sangat sedih atas menghilangnya Arini, entah sekarang masih hidup atau nggak. Tapi melihat menantunya sekarang, dia jadi merasa tidak tega.


Di sisi lain, tentu ada yang berbahagia atas meninggalnya Arini. Kanaya sekarang telah melahirkan anak pertamanya, karirnya sebagai modelpun sudah lama kandas, karena kehamilannya. Dan laki-laki yang menghamilinya telah lama menghilang, entah kemana dia, Kanaya nggak pernah bisa menghubunginya.


"Mas... Berhentilah larut dalam kesedihan, yang pergi nggak akan pernah kembali lagi, sementara aku dan anak kita masih ada mas. Bukalah matamu, dan berikan juga kasih sayangmu sama anak kita... " Kanaya membujuk Exel.


Dengan mata nanar, Exel menatap Kanaya. "Itu bukan anakku, untuk apa aku peduli, tapi kalau kau mau aku bisa membiayai segala kebutuhannya."


Exel menatap tajam Kanaya. "Bagaimana mungkin kau bisa hamil, sementara kita tidak pernah ngelakuin apapun."


"Mungkin kamu nggak ingat mas.. Tapi waktu itu kamu sedang mabuk, dan kita ngelakuin hal itu." Kanaya mulai menangis, "kenapa mas bisa Setega itu dan nggak mau mengakui darah dagingnya sendiri.. Hiks hiks.."


Exel menghela napas malas, sudah muak dengan segala kebohongan Kanaya. "Baiklah, ambil map biru yang ada di ruang kerjaku," titah Exel kepada bawahannya. Kemudian Exel menyerahkan hasil DNA kepada orangtuanya, yang dia ambil setelah Kanaya melahirkan anaknya. Dia sudah menduga, hal seperti ini akan terjadi.


"Ini benar Nay! Ini sama sekali nggak cocok dengan DNA Exel... Gimana mungkin kamu bisa menghianati suamimu seperti ini, kamu itu perempuan terpandang! Mama benar-benar tidak menyangka, kamu sangat memalukan, murahan!" teriak mama penuh kebencian dan juga jijik.


"Apa keputusanmu!" kata papanya tenang.

__ADS_1


"Aku bakalan bercerai pah! Sudah lama ingin menceraikannya, karena tau hal ini sejak awal. Tapi mengingat dia sedang hamil, makanya aku masih berusaha menahan."


"Baiklah, keputusan ada padamu. Nanti papa akan ngobrol dengan pak Martin perihal ini."


"Mah.." Kanaya berlutut di kaki mama Exel. "Naya nggak ada maksud buat bohongi mama.. itu semua terjadi, karena Naya stres. Mas Exel nggak pernah menganggap Naya sebagai istrinya..." Huu uwuwuu.." ucapnya menangis tersedu-sedu.


"Tapi semua itu, tidak bisa di jadikan alasan atas perbuatan mu itu! Sudahlah, mama menyesal telah menjadikan mu sebagai menantu." Tante Hera langsung pergi.


"Maah....! Jangan pergi mah, jangan tinggalin Naya.. Hiks hiks.


Exel tidak punya waktu merasa kasihan dengan Kanaya, sementara dia sendiri adalah orang yang paling menyedihkan di muka bumi ini.


"Dimana kamu sayang... Kembalilah, aku janji akan menjadi suami yang baik, aku akan menuruti segala keinginanmu.."


Exel menyeka pipinya, dia heran kenapa air matanya nggak kering-kering, padahal udah berapa liter yang dia habiskan untuk menangis diam-diam. Mungkin benar yang dikatakan seluruh keluargaku, aku harus bangkit. Kasihan mama dan papa yang khawatir melihat kondisiku sekarang.


"Aku nggak kan menghinati cinta kita... Selamanya, kamu dan anak kita akan selalu ada di hati ini."


"Halo Rai! Siapin semua bahan, besok aku kembali ke kantor."


Raihan sangat senang, akhirnya Exel bisa kembali lagi. "Siap Presdir, semua orang telah menunggu kehadiranmu. Ternyata pekerjaan mu sangat sulit, otakku jadi keriting dan kalau masih lama lagi, kepalaku bisa botak. Untunglah ada asisten Reno, kalau nggak mana bisa aku ngerjain semuanya sendiri." kata Raihan penuh keluhan.


Baiklah, aku tutup telponnya." ucap Exel mematikan panggilan. Sampai saat ini Exel masih kecewa dengan Reno, karena dia Arini jadi menghilang. Kalau saja saat itu, Exel tidak mengindahkan ucapannya, mungkin Arini masih ada di sini sekarang. "Haaaah," ucapnya menghela napas, "aku nggak bisa menyalahkan Reno terus-terusan, aku harus memaafkannya. Apalagi Reno adalah sahabatku, sekaligus orang kepercayaanku." Exel telah bertekad dalam hatinya.

__ADS_1


Met siang semuanya, please like, komen, rate, follow dan vote. semuanya gratis kok 😁 gak ada ruginya, anggap aja sedekah 😁


__ADS_2