Affair With My Boss

Affair With My Boss
Tanggung jawab


__ADS_3

"Sesampainya di lokasi..


Exel dan tim harus berjalan ke tempat terjadinya banjir bandang, tidak memungkinkan untuk memakai mobil, hal itu dikarenakan kondisi jalanan yang rusak akibat banjir."


"Arini terbangun karena mobil bergoyang-goyang akibat jalanan berlobang. Tangannya meraba sesuatu, seperti dada tapi keras..tangannya masih sibuk meraba-raba, matanya belum bisa dibuka, terlalu ngantuk. Karena tadi malam gak bisa tidur keingat Presdir bedebah itu, semakin dilupain tapi semakin keingat."


Udah puas merabanya!


Arini langsung terlonjak, mendengar suara Presdir bedebah itu. Kenapa saya memeluk bapak?


Kenapa tanya? Kau sendiri yang memaksa memeluk ku. Tadinya aku sudah berusaha mencegahmu, tapi kau terus-terusan mencengkram kemejaku


"Saya...gak sengaja pak! Maaf. Arini melepaskan baju Exel dari tangannya, dan merapikan kemeja yang kusut."


"Menyingkirlah.." Atau masih ingin dicium?


Haah.. Jangan coba-coba, Arini memilih keluar dari mobil. Didalam terasa sesak..


Kami disambut oleh kepala penanganan proyek Bendungan. Mari pak ikut saya..


"Pak Reno dan Pak Dodi sudah menghilang tidak kelihatan batang hidungnya, kok cepat banget mereka pergi. Trus kenapa Presdir masih didalam mobil bersama dengannya, sedangkan asistennya sudah pergi dari tadi. Arini bingung sendiri."


Ayo jalan! Jangan melamun terus.. Exel menarik tangan Arini.


Saya bisa jalan sendiri! Exel tidak mengindahkan teriakannya. Arini berusaha mengimbangi langkah kaki Exel yang besar.


Lepas..!! Arini menarik tangannya. Dari sini saya akan jalan sendiri, saya tidak perlu bantuan bapak.


Oke! Jangan menyesal..

__ADS_1


"Jalanannya rusak parah, Arini sangat kesulitan berjalan, Exel dan kepala proyek sudah cukup jauh didepan. Arini menarik napas sejenak dan menatap kedepan, sepertinya masih sangat jauh. Ini sih bukannya berjalan tapi melompat ke batu yang satu dan batu yang lain, begitu seterusnya, napasnya jadi ngos-ngosan.


Exel berhenti sejenak dan melihat betapa kesulitannya Arini. Gimana mau dibantu? Kondisimu cukup kasian sekarang. Sepatu, dan celananya kotor semua.. Padahal Arini gak bawa baju ganti tadi.


Nggak perlu! Saya bisa sendiri.. "Pertahankan harga dirimu Arini, jangan sampai goyah." Akhirnya setelah sekian lama berjalan sampai juga. Tapi bukan perasaan legah yang dia dapatkan, tapi perasaan sedih. Rumah warga semuanya hancur, dinding Bendungan yang jebol menyisakan puing-puingnya yang besar sehingga menghantam rumah warga. Tidak jauh dari sana tempat pengungsian dibangun. Rumah semi permanen hanyut bersama derasnya air. Tapi keajaiban masih terjadi, karena tidak memakan korban jiwa.


Arini berjalan mengikuti Exel disampingnya, Presdir itu kelihatan tenang, gak ada raut tegang sama sekali. Tapi itu adalah ekspresi kasihan yang tersirat diwajahnya. Tidak jauh dari tempat kami, pak Reno dan pak Dodi sedang berdiskusi dengan para wartawan.


"Sedangkan Exel sedang sibuk berdiskusi dengan kepala proyek, agar Bendungan bisa dibangun lagi tentunya sesuai standar agar tidak ada hal seperti ini lagi untuk kedepannya."


Arini berinisiatif untuk membantu warga yang kesulitan mencari barang-barang berharga milik mereka.


Biar saya bantu bu! Arini membantu ibu tua yang tengah kesulitan mengangkat TV. Dan membantunya mengangkut barang ke rumahnya yang telah rusak.


Arini semakin sibuk membantu warga yang lain, membantu apa yang bisa dia kerjakan.. Rasa lelah dan teriknya sinar matahari dilawan.


Aduuuh.. Makasi atu neng, meni cakep pisan, baik lagi. Semoga eneng segera berjodoh dengan orang yang neng cintai..


Amiiin.. Arini mengaminkan, Senang sekali rasanya didoain orang-orang sini.


Arini..! Apa kamu tidak lelah? Saya lihat dari tadi kamu bantuin ibu-ibu disini. Kalau capek istirahat saja dulu, biar saya yang menggantikan tugasmu. Dodi menawarkan diri..


Tidak pak saya tidak apa-apa.. Saya akan tetap membantu disini. Arini keukeh..


.


Nanti lanjut lagi! Sekarang makan dulu, suara Exel terdengar memerintah. Kita makan ditenda pengungsian, bersama para warga.


Arini menurut kali ini, karena dia memang lapar. Tadi cuma makan roti, sekarang perutnya lapar lagi, entah kenapa nafsu makannya jadi lebih besar akhir-akhir ini. Badannya makin berisi aja.. Lama kelamaan bajunya gak kan muat.

__ADS_1


Akhirnya sampai juga ditenda, tendanya cukup bagus, dan layak untuk ditempati. Ada kamar mandi dan dapur darurat juga. Arini duduk dekat ibu-ibu yang tadi sempat dia bantu, hidangannya cukup menggugah selera.


Setelah semuanya selesai makan, Exel mulai bicara. Selamat siang semuanya!!


"Pada kesempatan hari ini, saya bersama dengan tim datang untuk menyelesaikan kekacauan yang telah terjadi. Sebelumnya saya sebagai pimpinan Perusahaan beserta pihak terkait, memohon maaf dengan sangat karena telah melakukan kesalahan dalam pembangunannya. Untuk itu Perusahaan akan mengganti kerugian bapak-bapak dan ibu-ibu, kami akan membangun rumah penduduk yang telah rusak dan akan membangun rumah yang baik dan juga lebih bagus dari sebelumnya.. Exel menunduk hormat.


Kepala Desa Menanggapi. Terima kasih kepada bapak pimpinan karena telah peduli terhadap kami dan langsung datang kelokasi kejadian seperti ini. Kami semua sangat senang, dengan perhatian bapak dan rombongan. Kami menyambut niat baik bapak, dengan tangan terbuka. Kami sangat berharap pembangunannya akan segera dilakukan. Mengingat kondisi warga yang rentan akan sakit dicuaca seperti ini. Itu saja yang ingin kami sampaikan, selamat siang..


"Setelah makan dan bermusyawarah, Exel dan tim memilih untuk beristirahat, karena semua sudah kelelahan membantu warga." Sebenarnya Exel bisa saja menyuruh orang untuk mebereskan semuanya, tapi alangkah lebih baik memberi kesan yang baik sama mereka. Ini semua ide Reno agar media tidak membuat berita yang buruk tentang Perusahaan.


Tapi bagi Exel ini bukan sekadar mencari simpati, lebih kepada rasa kasihan dan tanggung jawab terhadap warga yang tertimpa musibah.


"Ternyata dia baik juga gak seburuk yang aku pikirkan. Arini bergumam."


Arini memperhatikan Exel yang sedang sibuk, tanpa sengaja mata mereka bertemu, Arini buru-buru mengalihkan pandangannya.


Udah dari tadi Dodi ingin sekali berbicara dengan Arini tapi gak pernah ada kesempatan. Presdir dari tadi mepetin Arini terus-terusan, aku jadi curiga padahal dia kan sudah punya istri. Gimana kalau Arini diancam Presdir untuk melayaninya.. Jangan sampai Arini berkorban demi dirinya dan keluarganya. Aku gak kan bisa memanfaatkan diriku sendiri kalau sampai itu yang terjadi.


Arini!!


Iya pak! Ada apa! Arini menjawab tanpa menoleh lagi ribet, karena dia sudah tau kalau itu suaranya pak Dodi.


Biar saya saja yang menyelesaikan pekerjaan kamu, mendingan kamu itu istirahat saja, nggak baik perempuan melakukan pekerjaan yang berat, sambil mengambil alih barang ditangan Arini.


Kalau dia mau kenapa kau yang sibuk melarang.. Lakukan saja tugasmu! Karena kau akan membutuhkan energi yang banyak untuk kedepannya. Nanti sore kami akan balik ke kota, sedangkan denganmu silahkan bereskan kekacauan yang telah dibuat. Exel berlalu meninggalkan Dodi bersama Arini.


***


Hai tinggalkan jejakmu dengan like, komen dan vote, agar author semakin semangat. Maaf buat para reader yang telah setia membaca, kemaren gak ada UP karena benar-benar sibuk.🙏🙏🙏

__ADS_1


__ADS_2