Affair With My Boss

Affair With My Boss
Kedatangan bigbos ke 2


__ADS_3

"Kaaaak! Pingsan atau tidur sih! gak bangun-bangun dari tadi, udah jam 8 loh kak," teriak Lulu kesal.


Di kamar yang diteriakin pun akhirnya bangun. Suara kicauan burung terdengar merdu ditelinganya, cahaya matahari mengintip seolah-olah malu untuk masuk ke kamarnya." Wuuuaaaaaahhh...," Menguap besar. Sayup-sayup Arini bisa mendengar suara adiknya yang teriak-teriak di luar.


Dengan langkah gontai Arini berjalan dan menarik gagang pintu kamarnya. Didepan pintu lulu sudah berdiri dengan tampang cemberut dan bersiap-siap mau nyemprot Arini dengan omelannya.


"Ada apa Dek? Gumam Arini dengan suara beratnya karena masih ngantuk.


" Ada apa kata kakak! Dari tadi di panggil-panggil tapi gak dijawab-jawab, emangnya kakak gak kerja atau kakak mau di pecat. Baru aja mau naik jabatan eeh malah telat," sahut lulu dengan omelan mautnya.


"Arini malah bengong melihat adiknya yang marah-marah gak jelas. Lulu memiliki bentuk wajah yang mungil dan lembut, gak bakalan ada yang menyangka kalau Lulu itu orangnya cerewet. Jadi menurut Arini suaranya yang melengking itu gak cocok sama sekali sama Lulu, Arini hanya bisa mengerutkan dahinya dengan ekspresi terheran-heran.


Lulu menggoyang-goyangkan tangannya di depan muka Arini yang kelihatan belum sadar sepenuhnya. "Coba deh kakak lihat jam!" kata Lulu sewot.


Mata Arini melotot melihat jam menunjukkan pukul 08.15 menit, sambil ngucek-ngucek mata tidak percaya.


"Hhhaaaaaahh! Telaaaaat," teriaknya.


Padahal hari ini adalah hari penyambutan Bigbos kedua dan serah terima jabatan sebagai Presiden Direktur yang baru, Arini rasanya ingin menangis tanpa air mata.


Arini langsung bergegas untuk mandi. Setelah sekian menit berlalu akhirnya siap juga mandi dan dandan ala kadar dengan secepat kilat tentunya.


"Arini keluar kamar dengan panik dan melihat muka Lulu yang kesal, tapi Arini cuek bebek dan buru-buru berangkat." Kakak berangkat duluan yaaah! Lain kali kalo kakak telat digedor-gedor aja terus pintunya sampai benar-benar bangun. Jangan kayak tadi, jadi telat kan kakak," ujar Arini sewot.


Ocehan kakaknya membuat mata Lulu melotot saking kesalnya karena disalahin, padahal udah di bangunin dari jam 06.30. Pengen ngebalas omongan kakaknya tapi Arini udah jauh dari hadapannya. Lulu hanya bisa ngelus dada dan geleng-geleng kepala melihat tingkah kakaknya yang pintar tapi rada-rada bego. "Gimana coba jadi bingung," pikir lulu.

__ADS_1


Sesampainya dikantor, seluruh karyawan berjejer rapi menyambut kedatangan calon Presdir yang baru. Arini ngendap-ngendap masuk dari pintu samping berharap yang di tunggu belum hadir, dan berharap pak Heru sang bos tidak melihatnya. Bisa berabe urusan kalau sampai kelihatan, bisa-bisa gagal di promosiin entar.


Seluruh karyawan sudah berkumpul di loby perusahaan, baik dari level yang tinggi sampai level paling rendah seperti dirinya. Arini pun menyelinap masuk pelan-pelan di antara para karyawan dari arah belakang menuju tempat Mely.


"Permisi! Permisi!" ocehnya.


Orang-orang pun memandang sinis kearahnya, karena menyelinap gak jelas.


Dewi fortuna masih berpihak padanya karena bigbos kedua belum datang. "Haah Legah," pikirnya.


"Kemana aja loe? Acara sepenting ini bisa-bisanya telat," ujar Mely.


"Susah tidur gue tadi malam. Makanya telat bangun," ucap Arini bisik-bisik agar suaranya gak kedengeran sama orang lain.


Setelah sekian menit berlalu. Akhirnya yang ditunggu pun tiba, suasana hening seketika. Pandangan matanya tertuju kearah seorang pria yang tingginya sekitar 190 an, berkulit


Arini tidak terlalu penasaran dengan bos barunya itu, yang penting nanti orangnya ramah dan baik. Secara dia akan sering berhubungan dengan Presdir, karena posisi barunya nanti sebagai manager keuangan.


"Pembawa acara memecah keheningan dengan memberi sambutan kepada pak Hermawan selaku Presdir untuk menyampaikan pidatonya."


Pak Hermawan memberikan pidato singkat dan memperkenalkan anaknya. "Yang disamping saya ini adalah anak saya yang ke dua, Exel Paradita Hermawan. Sementara, yang pertama memilih untuk menetap diluar negeri. Dan yang ketiga sedang menempuh pendidikan di Universitas yang ada di Jakarta.


Sekarang adalah waktunya untuk memperkenalkan Exel kepada seluruh karyawan dan jajaran Direksi, karena hanya Exel yang pantas menjadi penggantinya sebagai pemimpin perusahaan.


Sebelumnya pak Hermawan sangat tertutup masalah keluarganya, dia berpikir itu semua demi keamanan anak-anak dan istrinya. Dalam dunia bisnis persaingan bisa menghalalkan segala cara.

__ADS_1


Itulah sebabnya, Arini tidak pernah tahu kalau Exel adalah anak seorang konglomerat.


"Mulai hari ini, Exel yang akan menggantikan saya sebagai Presiden Direktur di perusahaan. Dan hal ini telah disetujui oleh rapat Direksi beberapa bulan yang lalu."


Seluruh karyawan bertepuk tangan dengan suka cita dan yang perempuan histeris menyambut bos baru yang tampan.


Pak Hermawan meminta Exel untuk memperkenalkan dirinya.


"Halo semua! Selamat pagi!"


"Selama ini saya bekerja diluar negeri, setelah menyelesaikan pendidikan Magister Manajemen Keuangan. Selama ini saya bekerja atas kemauan saya sendiri, semata-mata untuk mencari pengalaman dan menambah pengetahuan. Pak hermawan meminta saya kembali untuk bekerja di Perusahaan. Beliau ingin pensiun dari dunia bisnis dan ingin menghabiskan waktu bersama keluarga."


"Untuk itu mulai hari ini, saya akan mengambil tanggung jawab sebagai Presiden Direktur dan akan bekerja dengan sungguh-sungguh. Mohon kerjasamanya." ucap Exel tegas sambil membungkukkan sedikit kepalanya sebagai rasa hormat.


Suara riuh terdengar, karena terkesan dengan pemimpin yang baru.


Arini tidak bisa fokus mendengarkan suaranya menyampaikan pidato. Matanya tidak pernah berhenti untuk terus menatap wajah itu, wajah yang sangat dirindukannya selama ini.


Dadanya berdebar-debar, Arini tidak bisa mendengar suara apapun selain detak Jantungnya. Pandangannya tidak pernah lepas dari Exel, tubuhnya sangat tinggi dan berotot, wajahnya semakin tampan dengan hidung yang mancung dan mata yang indah namun tajam, tapi tetap terkesan ramah. Bibir tipis namun sexy, yang menampilkan senyuman yang menawan. Menawan Arini dan menawan hati semua gadis yang melihat.


Mely sangat antusias dengan opa tampannya, dia langsung jatuh cinta melihat wajahnya, postur tubuhnya, "OMG," desisnya. "Saranghae oppa," ucap Mely dengan nada yang cukup keras. Orang-orang yang mendengar malah senyum-senyum sendiri melihat tingkahnya, dan ada juga yang sewot tentunya. Mely memang tidak tahu malu.


Arini sama sekali tidak memperhatikan tingkah temannya yang konyol karena sibuk dengan pikirannya sendiri. Pikirannya kembali kebeberapa tahun yang lalu.


Halo semua..!!

__ADS_1


Aku penulis baru..


jadi mohon maaf kalau kurang berkenan, Tinggalkan like, vote dan komentar yang positif yah terima kasih 🤗🤗


__ADS_2