
Keesokan harinya..
Arini merasa seluruh tubuhnya terasa sakit. Yang dibawah gak terlalu perih lagi kayak pertama dulu.. Disebelah nya Exel udah gak ada. Kemana dia?
Arini melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, berniat membersihkan dirinya dari dosa yang ia perbuat tadi malam. Air matanya menetes diantara air yang mengalir di wajahnya. Apa kali ini dia kembali meninggalkanku.. Arini mengusap wajahnya.
Kalau gitu lebih baik aku pergi.
"Arini mebereskan semua barang-barangnya, dan pergi dari Apartemen milik Exel."
Akhirnya Arini sampai dirumah kontrakannya, hari ini dia berniat untuk pulang ke Bandung. Untuk apa lagi tinggal disini. Dengan terburu-buru Arini mengemasi semua barangnya, mungkin gak kan sempat pamit sama pak RT dan warga sini, Arini takut Exel keburu datang ke sini mencarinya.
"Yang ditakutkan Arini mungkin terjadi, karena tiba-tiba ada orang yang mengetuk pintu rumahnya. Orang itu mengetuk dengan tidak sabar, apa jangan-jangan Exel.. Dengan ragu Arini membukakan pintu. Dan betapa kagetnya Arini yang dididepan bukanlah Exel melainkan Mely sahabat nya.
Mel..!!
Arini.. Maafin gue, uwu uwuuu... Mely menghamburkan diri kepelukan Arini, dan menangis sejadi-jadinya.. Ma-maafin gue rin.. Uuuwwuuu..
Udah-udah tenang yah, Arini berusaha menenangkan Mely dengan mengusap-usap kepalanya. Dan menutup pintu rumahnya, takut ada yang liat dan mereka bisa salah paham nanti.
Duduk dulu yah Mel.. Aku ambilin minum bentar. Arini menyerahkan minuman ke tangan Mely, dan membantunya ngelap air mata di pipinya. Seperti nya setelah minum Mely kelihatan agak tenang. Arini cukup penasaran apa yang membuatnya jadi seperti ini..
Arin..! Semuanya karena kesalahan gue, maafin gue. Gara-gara gue karir loe hancur dan menjadi bahan cemoohan orang sekantor.. Dengan sesenggukan Mely menjelaskan semua kejadian yang membuatnya malah membocorkan rahasia Arini dan Exel sama Kanaya.
Semuanya karena gue Rin, Kanaya itu taunya dari gue.. Karena itu dengan mudahnya dia hancurin karir loe. Sebenarnya yang membuat Mely sadar, Arini adalah tulang punggung keluarganya. Kalau Arini dipecat seluruh keluarganya akan bernasib buruk.. Hanya Arini satu-satu sahabat yang bisa dia percaya, selama ini Arini selalu menemaninya di saat duka maupun suka.
Pernah waktu itu, Mely dan orangtuanya terjadi pertengkaran kecil, karena perihal Mely pacaran sama berandalan. Orangtuanya marah besar, dan akhirnya Mely kabur dari rumah dan tinggal dikontrakan Arini selama seminggu, hanya Arini yang bisa menasehatinya dengan baik, yang akhirnya dia memutuskan hubungan dengan pria itu yang selalu memanfaatkan uangnya. Setelah seminggu kemudian Mely dan orangtuanya akhirnya berdamai semua berkat Arini, kalau tidak Mely gak kan mau mengalah karena keeogoisannya. Arini lah yang selalu ngertiin dia, Arini sangat baik dan sabar. Gimanapun orang menghinanya dia gak kan pernah membalas.
"Arini hanyalah manusia biasa, pasti ada suatu hari dia juga akan melakukan kesalahan dalam hidupnya, itu yang Mely pikirkan. Dan Arini memang melakukan kesalahan yang sangat fatal menjalin hubungan dengan suami orang. Mely berpikir ternyata Arini tipe cewek matre tanpa sekalipun mendengarkan penjelasannya."
"Kanaya" Arini bergumam dalam hati. Ternyata semua ini ulah Kanaya, pantes papanya bersikeras untuk membuang Arini dari perusahaan. Arini menarik nafas.. Mungkin dia memang pantas mendapatkannya, "aku memang salah karena masih berhubungan dengan suaminya, tapi ini semua karena Exel yang selalu memaksanya. Kenapa hanya aku yang menanggung semua beban ini" .Lama Arini tertegun mendengar penjelasan Mely..
__ADS_1
"Akhirnya Arini kembali tersenyum, walaupun senyuman yang dipaksakan. Gue maafin kok Mel.. Kita kan sahabat. Wajar loe berpikiran buruk ke gue, karena loe gak pernah tau cerita yang sebenarnya."
Iya rin.. Gue nyesel banget, karena gak pernah mau dengerin penjelasan loe. Bisa gak loe jelasin ke gue sekarang.. Biar rasa penasaran dan pikiran buruk ke loe bisa berubah.
"Arini mulai menjelaskan semuanya ke Mely, yang dimulai dari waktu SMA, janji yang diucapkan Exel, sampai mereka bertemu kembali di Perusahaan. Tanpa Arini tau kalau Perusahaan ini adalah milik Exel mantan kekasihnya. Sampai ke Exel yang selalu memaksanya, padahal dia sudah menolaknya."
"Mely akhirnya mengerti, dan sangat menyesal karena udah marah-marah gak jelas tanpa mendengar penjelasan dari sahabatnya ini. Mungkin gue cuma ngiri sama loe rin, karena bisa deket sama pak Exel. Tapi lebih baik sekarang loe lupain pak Exel, karena Kanaya gak kan tinggal diam kalau dia tau, loe masih ada hubungan sama suaminya."
"Iyah" loe benar.. Gue memang berencana seperti itu, dan gue berniat hari ni mau balik ke Bandung.
Oohhh.. Pantesan rumah loe berantakan gini, tapi kok cepat banget. Bukannya masih seminggu?
Biar gak ketemu lagi sama pak Exel.
"Yaah gak bisa sering-sering ketemu lagi kita.. Ini semua gara-gara gue, Mely kembali murung."
"Udah aah.. Gak masalah kok, mungkin ini memang udah jalan dari yang maha kuasa."
Sini! biar gue bantuin.."
Ngomong-ngomong kalau gue boleh tau nih, loe udah ngapain aja sama pak Exel? Tanya Mely sambil ngedip-ngedipkan matanya menggoda Arini.
"Haah" gak ngapa-ngapain kok mel.. Arini mukanya terasa panas karena berusaha agar terlihat natural berbohong sama Mely. Tapi bukan sahabat namanya kalau gak tau kebohongan sahabatnya.
Aahh' yang beneer..
Iya beneran.. Tau ah, terserah loe deh mau mikir apa.
Mereka kembali fokus dengan barang-barang Arini yang musti cepat diberesin.
Tapi kok gue masih penasaran yah rin.. Masak sih loe gak ngapain-ngapain sama si bos. Mana si bos ganteng gitu, rugi loe!! Hahhaa..
__ADS_1
"Arini mencubit lengan Mely karena kesal.
Ampuun Ampuun.. Iyah gue gak bahas itu lagi. Mereka tertawa bersama-sama seperti tidak ada masalah sebelumnya. "
"Arini kembali fokus dan menutup telinga dengan ocehan Mely. Tapi kalau Mely bertanya Arini menjawab dengan cepat tanpa menoleh. Ini membuat keisengan Mely kembali lagi.."
Riin..! Waktu ngelakuin pertama kali itu sakit gak!
"Yah sakitlah" .. Arini menutup mulutnya karena keceplosan, karena pertanyaan jebakan dari Mely.
"Tuh kan.. "Hahahaha" Mely tertawa, filling gue bener.. Setau gue loe itu kan masih virgin, walaupun loe udah janda tapi gak pernah ngelakuin hal itu sama mantan suami loe. Jadi yang sakit itu sama siapa yah? Mely bertanya dengan gayanya yang nakal.."
"Bukan itu maksud gue, Arini mencari-cari alasan yang tepat. Tangan gue yang sakit, tadi kejepit. Loe sih, nanyanya barengan, mana gue ngeh loe nanya yang mana.."
"Widiiihh.. Pintar banget ngeles," udah kayak bajaj loe! Kalau loe hamil, gue kan jadi punya ponaan.. Canda Mely.
"Arini langsung memucat. Raut muka yang tadinya tersenyum berubah murung seketika. Tentu Mely bisa melihat perubahan dari Arini."
"Arini bisa mengingat kata-kata Exel, yang ingin membuatnya hamil. Kebetulan waktu itu Arini sedang masa subur setelah halangan. Arini refleks meraba perutnya, gimana kalau dia benar-benar hamil.. Apa ayahnya akan mau tanggung jawab."
Kenapa? Gue siap kok dengerin semua cerita loe! Gue gak kan ngejudge loe..
"Arini menangis".. Akhirnya dia bisa menumpahkan perasaannya yang sebenarnya ke Mely. Mel! Hiikss.. Hiiks, Arini terisak dipelukan Mely. "Gue memang udah ngelakuin dosa sama dia mel. Kalau gue hamil apa yang harus gue lakuin.. Hiiks."
"Udah tenang yah.. kan ada gue yang akan selalu ada disamping loe, Mely benar-benar gak menyangka tebakannya benar. Wajar sih sebenarnya, pak Exel itu kan biasa diluar negeri, makanya biasa ngelakuin hal semacam itu. Kasiaan Arini.. Pantes waktu itu Arini selalu murung. "
"Udah.. yang jelas sekarang lebih baik menjauh dulu dari hidupnya. Kita siapin barang-barang loe dulu. Kalau loe ada masalah di Bandung entar, jangan segan-segan kasih tau gue. Gue bakalan datang jengokin loe ke Bandung.."
***
Hai salam sayang dari author.. Ditunggu like, vote dan komennya yah.. 🤗🤗
__ADS_1