Affair With My Boss

Affair With My Boss
Masa lalu kelam


__ADS_3

Flashback On


Awalnya Bimo tidak pernah mau mengakui anak yang di kandung Rara sebagai anak nya, tapi karena perut Rara yang semakin membesar, orangtua Rara akhirnya memaksa Bimo untuk tanggung jawab dengan ancaman akan di laporin ke polisi.


Pernikahan nya berlangsung sangat sederhana, hanya di hadiri kerabat terdekat. Dan hanya sekedar formalitas ijab kabul di hadapan penghulu. Setelah 5 bulan Rara melahirkan anak nya, anak yang sangat tampan memiliki paras dan rambut seperti bule.


Tapi memiliki anak dengan wajah bule bukanlah suatu kebahagiaan dan juga keuntungan buat Rara, akan tetapi malah mendapat kesialan.


Dengan wajah murka Bimo memakinya.


"Dasar perempuan murahan! Lihat wajah anak mu, apa ada yang mirip dengan ku! Dasar kau wanita penipu, kenapa harus aku yang bertanggung jawab atas perbuatan mu."


Itu gak benar, bim! Setiap anak bisa saja tidak memiliki kemiripin dengan orangtua nya, jangan menuduh aku sembarangan gitu."


"Kau pikir aku percaya dengan bualanmu itu. Pergi sana! Cari ayah dari anak mu. Kau hanya menjadi benalu dalam hidup ku, mulai hari ini kau ku ceraikan, talak 3."


Rasa sakit masih terasa sehabis melahirkan, sekarang di tambah lagi dengan perceraian yang dia dapatkan setelah persalinan.


"Kau memang gak punya hati Bimo! gimana mungkin kau bisa sekejam itu! pada anak kita!"


"Kau bilang anak kita! Kau lihat muka nya. Bagian mana yang mirip dengan ku! Dia hanya mewarisi wajah mu dan wajah ayah nya yang entah siapa!"


Rara terisak.. Hiks hiks.


"Apa sekarang kau menangis! Sementara hidup ku telah kacau karena ulah mu! Aku terpaksa menikah dan juga menceraikan Arini semua itu karena mengikuti segala keinginan mu. Aku menyesal melepas wanita sebaik Arini."


"Arini! Arini! Jangan sebut nama itu di hadapan ku lagi! Rara sangat marah, dia itu perempuan murahan."


"Kau salah besar, bukan dia tapi kau yang perempuan murahan! Wanita yang suka tidur dengan sembarangan pria."


Kau tega sekali Bimo, hiks hiks.. Ku mohon jangan cerai kan aku! Keluarga ku tidak akan sanggup menahan malu dan papa akan marah besar. "


"Itu bukan urusan ku. Mungkin ini karma untuk mu karena telah menjahati Arini sahabat mu sendiri. Sekarang rasakan sendiri!" Bimo pergi tanpa menoleh lagi, buat apa juga menatap anak yang bukan anak nya itu.


Aaaaaa... Rara menggebrak meja dan mengibaskan semua barang-barang yang ada di dekatnya, termasuk membuka selang infus nya sendiri. Rasa sakit sudah tidak terasa lagi, yang tersisa hanya rasa benci yang mendalam terhadap Arini.


"Ini semua karena kau Arini! Kalau bukan karena kau, semua gak kan jadi seperti ini!!" Rara tidak berhenti berteriak hingga para suster dan orangtuanya masuk terburu-buru.

__ADS_1


"Tenanglah nak nanti bisa pendarahan.." Mama berusaha menenang kan Rara tapi tidak berhasil. Karena terus-terusan mengamuk Rara akhirnya jatuh pingsan dan dibantu suster untuk membaringkan kembali di atas tempat tidur.


Dokter pun datang, dan memutuskan untuk memberikan obat penenang agar sang ibu bisa stabil kondisi nya. Kasian bayi nya nanti ikutan stres.


"Baik Dokter saya serahkan semua sama Dokter, lakukan yang terbaik untuk anak saya." Mama sangat khawatir dengan kondisi anak perempuan nya ini. Cucu nya sangat lucu, mama membawa cucu nya ke hadapan kakek nya siapa tahu hati nya bisa luluh dan gak marah lagi.


Seperti yang dikatakan Bimo, Rara memang menjadi bahan gunjingan orang-orang.


"Tadi nya jelek-jelekin Arini, sekarang malah dia yang begitu." Ibu-ibu lagi ngegosip.


"Anak jaman sekarang mah memang suka gitu, udah gak heran lagi. Apalagi Rara itu kan kuliah di luar negeri gak ada yang pantau di sana, makanya jadi ke bla-blasan begitu."


"Iya kasian orangtua nya, udah nyekolahin jauh-jauh tapi malah jadi nya begini. Ibu yang lain menimpali."


"Mungkin itu karma juga buat keluarga nya karena menguasai harta keluarga sendiri. Sodara ibu nya cuma di kasih sedikit, kasian sodara nya sekarang hidup nya susah."


"Iya iya.. Betul tuh bu, pasti karena sifat yang tamak makanya jadi begitu hidup nya."


Setiap hari tetangga selalu bergosip tentang Rara, keluarga mutusin untuk pindah ke daerah perkotaan karena takut perkembangan cucu nya gak baik karena omongan orang-orang.


"Hai dif, Dimana loe! Bisa gak bantuin gue buat ngelakuin sesuatu."


"Everything for you honey.. Gue di Bandung. Kalau mau kita ketemuan di club biasa."


Oke, ntar malam kita ketemuan. Rara mematikan sambungan telpon nya.


"Sampai jumpa kak Exel. Tidak usah khawatir karena sebentar lagi kakak akan menjadi milikku seutuhnya. Hahaaaa.. Rara tertawa sumbang di dalam mobilnya."


Arini merasa badan nya sudah kelelahan, mungkin karena ini efek hamil.


"Mas Aku boleh gak istirahat duluan, aku capek."


"Capek! Ini udah sore, pantas kamu nya udah kecapean. Maaf yah sayang tadi keasikan ngobrol. Ayo aku antar ke kamar kita."


"Gak perlu mas, aku bisa di antar sama yang lain kok. Di sini masih ada tamu gak enak juga di tinggal."


"Biarin lah sayang, mereka kan juga nginap di vila, biar lah mereka menikmati waktu mereka dulu dan kita juga bisa menikmati waktu kita berdua, sambil ngedip-ngedip mata. Mau ku gendong sayang?"

__ADS_1


"Iiihh ganjen banget.. Jangan malu-maluin mas."


Tanpa berpamitan Arini dan Exel menyelinap ke kamar lewat pintu samping. Takut di ejekin kalau ketahuan mau cepat-cepat masuk kamar.


Sedangkan tamu nya sedang asik menikmati makanan yang tersaji di meja, tidak mengetahui kelakuan pengantin baru.


Sesampainya di kamar Arini mutusin untuk langsung mandi, udah gerah banget.


"Ikutan ya sayang.. Aku kan juga pengen mandi."


"Kamar mandi kan banyak sayang, kamu mandi nya di tempat lain aja yah."


"Percuma dong punya istri, tapi gak mau di ajakin mandi bareng. Exel ngambek."


"Bukan gitu sayang, aku kan malu.. Arini memerah."


"Buat apa malu, udah sering liat. Sampai letak tahi lalat mu aja aku tau. Gak usah banyak alasan. Ayo cepat! Exel menarik tangan Arini dan mengajak nya mandi bareng. "


"Buka bajumu! Biar ku gosok punggung nya. "


"Gak perlu sayang, biar punggung mu aja yang ku gosok. Aku mandi nya entar aja. "


"Memang nya kenapa? Tapi katanya tadi gerah mau mandi. Sini aku bantuin buka baju nya. "


"Iyah, tapi sayang.. "


Gak ada tapi-tapian ayo sini, sambil menarik tangan Arini dan melucuti baju nya satu persatu. Tidak di ragukan lagi istri nya memang sangat cantik, mau pake baju ataupun tanpa baju sekalipun. Dengan tatapan heran Exel menatap perut istri nya.


Arini berusaha menutupi tubuhnya dengan tangan, malu juga. Walaupun mereka sudah sering melakukannya tapi sekarang situasi nya lain, bisanya kalau di kamar suasana nya remang-remang beda dengan sekarang lampu kamar mandi terang banget.


" Perasaan perut mu makin besar sayang.. Kurangi makan nya yah, nanti ada yang curiga kalau kita menikah karena kamu tu hamil."


Arini pucat seketika, dia sampai lupa ngasih tau suami keadaan nya yang sebenarnya. Kira-kira apa pendapat nya kalau dia tau aku sedang hamil.. Arini bertanya-tanya dalam hati.


****


Like, komen, vote nya yah..

__ADS_1


__ADS_2