
Suasana yang penuh keramaian telah diganti dengan suasana yang sepi, Arini hanya sendirian dirumah. Rumah yang sangat besar yang di belikan Exel untuknya. Setelah perpisahan di vila semua orang pulang ketempat masing-masing begitu pun Arini dan Exel, ternyata rumah ini baru di beli waktu mereka melangsungkan pernikahan, Reno telah mempersiapkan semuanya.
Exel kembali menjalani rutinitas sehari-hari dengan kesibukan di kantor. Ini sudah hari ke 2 dia berada diluar negeri, mungkin sekitar seminggu lagi baru balik. Baru 2 hari Arini sudah merasa kesepian, sebelumnya Exel selalu sempatin untuk makan siang dirumah, walaupun memang selalu pulang larut malam itu gak masalah baginya, tapi tetap melihatnya setiap hari itu sudah membuat hatinya senang. Di sini gak ada teman yang bisa di ajak untuk ngobrol, ngomong sama Riko suka gak nyambung apalagi sama bi Ima pelayan yang kerja dirumah. Lebih baik ajak Lulu nginap di sini pikirnya.
Arini mengambil ponselnya dan langsung menghubungi Lulu.
"Kakak!" Lulu berseru diseberang sana.
"Halo Dek kamu dimana?"
"Di kampus Kak, kenapa kakakku? Kangen yah.."
"Kamu nginap sini ya Dek, kakak nggak ada teman ini, bosan. Kak Exel keluar negeri seminggu lebih."
"Oke kak, ntar habis kuliah aku meluncur kesana yah, bentar lagi kelar kok."
"Yaudah nanti hati-hati kesininya," Arini mematikan ponselnya
"Nona sudah waktu nya makan siang," Riko memanggil Arini yang sedang sibuk menelepon adiknya.
"Baiklah," Arini berjalan kembali ke dalam rumah mewahnya. Ternyata kemewahan tidak menjamin kebahagiaan pikirnya.
Tanpa sengaja kakinya menginjak sebuah ranting yang berduri, Arini meringis. Ini kali kedua kakinya menginjak ranting berduri, memang gak heran karena banyak bougenvile di sini.
"Anda tidak apa-apa nona!" Riko bertanya khawatir. Dan membantunya melepas duri dari telapak kaki Arini.
"Tidak apa-apa ini hanya luka kecil."
"Ini bukan luka kecil nona, kemaren anda juga kena duri, sekarang juga, ini udah kedua kalinya. Saya akan memecat tukang kebun yang tidak becus itu."
"Jangan, saya tidak apa-apa, kasian kalau dipecat."
"Saya sudah tidak bisa membiarkan hal ini nona, anda menjadi tanggung jawab saya, kalau ada apa-apa, saya yang akan menjadi sasaran tuan."
"Tapi Riko..." Arini meringis melihat kakinya berdarah.
"Pak Slamet, ke sini sekarang!" Riko berteriak memanggil tukang kebun."
Tukang kebun itu tergopoh-gopoh menghampiri, "iya tuan ada apa?"
__ADS_1
"Apa saja kerjamu! Bagaimana bisa nona ke injak duri sampai dua kali. Apa anda udah nggak niat lagi untuk bekerja disini!"
"Maaf tuan, tapi saya sudah menyapu daerah ini sampai 2 kali, bagaimana bisa ada duri lagi disini!" Slamet sangat heran dengan duri yang tiba-tiba muncul di halaman ini, padahal bunga berdurinya cukup jauh dari sini. "Apa anda baik-baik saja nona? Apa anda terluka?"
"Tidak usah banyak omong, mulai hari kau dipecat."
"Pak Slamet dengan badan gemetar terduduk di tanah. Tuan jangan pecat saya, nona saya mohon maafkan saya," menghadap Arini. Dengan kaki bertumpu di tanah pak Slamet memohon belas kasih tuannya. Anak istri saya mau makan apa kalau saya di pecat.. Saya mohon nona."
"Riko jangan pecat pak slamet, saya sudah tidak apa-apa." Arini sangat kasihan melihat pak Slamet.
"Tapi nona..."
"Tidak ada tapi-tapian, saya mau masuk kerumah sekarang. Saya harap tidak ada keributan lagi karena hal ini, tuan juga tidak perlu tau ini hanya luka kecil." Arini bergegas masuk, dia merasa pengawal yang diperintahkan Exel untuk menjaganya terlalu berlebihan.
"Baik nona," Riko menatap tajam pak Slamet, yang dipandang tertunduk ketakutan.
Di lain tempat, halo Dif! Gimana orang suruhanmu?
"Semuanya oke Ra, loe tenang aja. Sekarang dia sudah mendapatkan kepercayaan penuh dari Mereka berdua."
"Oke, gue percaya sama loe." Rara mematikan ponselnya. Hari ini dia berniat menjalankan rencana keduanya, ini demi menunjang kedekatan dengan Exel.
Rencananya hari dia akan masuk dan bekerja di perusahaan Exel, kebetulan Rara punya om yang bekerja di sana. Exel tidak perlu tau sekarang, nanti dia juga bakalan tau sendiri. Aku kan bisa pura-pura tidak tahu kalau ini Perusahaannya. Kalau dia marah aku tinggal memohon dan menangis, apapun akan aku lakukan demi bisa berdekatan dengannya. Berbagai macam rencana menggoda Exel bersarang diotaknya.
Karena kuliahnya udah kelar Lulu bergegas mau kerumah kakaknya. Sampai di depan kampus malah di stop sama senior.
"Lulu! Mau pulang? Aku antar yah?"
"Makasi kak sebelumnya, tapi aku bisa pulang sendiri kok." Kakak seniornya ini memang sering ingin mengantarnya pulang, tapi Lulu selalu menolak gak ada alasan yang spesial cuma gak tertarik aja, padahal orangnya sangat tampan. Dia terkenal playboy di kampus, banyak banget yang naksir tapi Lulu sama sekali gak tertarik.
"Nolak terus, sekali-kali mau dong. Mau yah! Gimana kalau kita ke mall dulu, makan-makan, shoping abis itu baru balik kerumahmu." Bily merayu Lulu dengan dalih pergi shoping, kalau cewek lain mana ada yang nolak kalau udah di ajak shoping tapi ini kan Lulu.
"Maaf kak sekali lagi, tapi gak bisa. Aku lagi ada urusan yang mendesak jadi gak bisa nemenin kakak pergi jalan."
"Yaudah, kalau gitu aku anterin ketempat tujuan kamu itu aja." Jujur Bily sangat penasaran dengan cewek satu ini.
"Aku gak mau ngerepotin.." Lulu masih terus menolak.
"Kalau aku yang nawarin berarti gak ngerepotin itu, gimana sih. Lagian aku juga tau, kamu bukan berasal dari keluarga yang mampu, jadi nggak usah sok jual mahal segala. Ayok ikut aku sekarang, nanti aku beliin barang-barang mahal, kamu nggak kan nyesal deh. Tapi setelah itu tentu ada balasannya dong.." Bily tersenyum licik dan menarik tangan Lulu untuk mengikutinya sampai keparkiran.
__ADS_1
"Kak stop! Lepasin tanganku."
"Kalau dilepas nanti kabur lagi." Bily masih menarik paksa Lulu.
"Kalau dia gak mau jangan dipaksa!" Sebuah suara yang mengagetkan mereka berdua. Terutama Lulu yang merasa kenal dengan suara tersebut.
Kak Rai! Lulu berteriak saking senangnya melihat Raihan. Karena Bily kurang fokus alhasil Lulu bisa menarik tangannya dan berlari kearah Raihan.
"Kak.. Kok lama jemput aku!" Lulu bergelayut manja, Lulu ngedip-ngedipin mata kearah Raihan bermaksud untuk mengajak kerjasama atas kebohongannya barusan.
Raihan sangat paham dengan hal tersebut. "Maaf yah sayang telat jemputnya, kamu nggak kenapa-napa? Sambil mengusap kepala Lulu. Dia itu siapa?"
Bily gelagapan sendiri, gak tau harus ngapain. Ternyata Lulu sudah punya pacar pantesan dia nggak pernah mau di ajak jalan. Tapi masih gantengan gue kemana-mana lah, pikirnya kepedean. Bily menatap orang yang dianggapnya sebagai pacar Lulu mulai dari atas sampai ujung sepatu nya, branded semua pikirnya nyalinya menciut seketika.
"Ini kakak senior aku sayang.." Lulu ikut-ikutan manggil sayang, udah basah gini nyemplung aja sekalian pikirnya. "Tadi dia pengen nganterin aku pulang, abisnya kamu sih jemputnya kelamaan. Pura pura kesal."
"Tapi kenapa pake musti ditarik-tarik segala! Ada urusan apa dia dengannya!"
"Nggak ada sayang.., tapi dia memang maksa-maksa aku buat ikut.." Padahal tadi aku udah bilangin nggak usah.
"Ada perlu apa dengan pacarku! Jadi laki-laki jangan bisanya berbuat kasar sama perempuan!"
"Iya pak, maaf."
"Siapa yang kau panggil pak, masih muda begini di panggil pak. Lain kali jangan ganggu dia lagi, kalau sampai hal ini terjadi lagi, jangan salahin aku kalau nggak sopan."
"I-i iya pak, eh kak. Kalau gitu saya permisi."Bily buru-buru pergi dari tempatnya.
" Kakak ngapain disini? "
" Aku ada urusan, aku pergi dulu." Raihan mau berlalu dari hadapan Lulu tapi ditahan olehnya.
" Ada apa lagi?"
" Aku ikut yah kak, abis itu bisa nggak anterin aku kerumah kak Arin, aku takut jalan sendirian. Gimana kalau nanti ada orang jahat kayak tadi lagi.." Lulu memasang muka memelas.
"Iya iya. " Raihan mengiyakan, Lulupun kegirangan.
Raihan mana tahan melihatnya, dia aja cuma berusaha bersikap santai. Padahal hatinya sangat senang ketemu bocah ini.
__ADS_1
***
Maaf telat up nya🙏🙏🙏 makasi untuk yang selalu setia membaca🤗🤗🤗 semoga di berikan rezky yang berlimpah esok harinya.