
"Briana..! Kamu yakin mau balik ke Indonesia? Ini kali terakhirnya aku bertanya, siapa yang akan menemani kamu di sana nantinya? Mama sama papa dan aku, masih menetap di Amerika. Tristan masih belum rela adik perempuan satu-satunya akan meninggalkannya sendirian di sini.
"Kakakku sayang... Udah berapa kali aku bilangin, apapun itu alasannya aku akan tetap ke Indonesia. Itu kan tempat kelahiran kita kak..." Apalagi Noah pasti ingin melihat tempat kelahirannya." Ana tetap bersikeras pengen pulang, entah kenapa negara itu seperti memanggilnya untuk kembali.
Sudah 5 tahun lebih, Briana hadir di kehidupan keluarganya. Waktu itu mereka tanpa sengaja menemukan seorang wanita yang terdampar di pinggir sungai, kepalanya berdarah. Tapi untungnya, anak didalam kandungannya tidak kenapa-napa, dan dilahirkan secara cesar. Tapi sayangnya, setelah dia sadar dia sama sekali tidak mengingat siapa dirinya. Identitas apapun sama sekali tidak di temukan, waktu itu Tristan dan keluarga hendak berangkat ke Amerika, jadi nggak sempat untuk mencari keberadaan keluarganya. Mereka akhirnya memutuskan untuk membawa ibu dan anaknya pergi ke Amerika. Dan dia di kasih nama Briana, kami semua sudah menganggapnya seperti keluarga sendiri. Dan kami juga tidak pernah menceritakan soal kecelakaan yang dialaminya, lebih tepatnya kami sama sekali tidak membongkar cerita di masa lalu Ana.
"Kak... Kok malah melamun sih! Lagi mikirin apa? Kalau kakak kangen sama aku dan Noah kan bisa langsung terbang aja. Nggak perlu ribet, please ya kak ijin Ana untuk meniti karir di sana.. Ini adalah kesempatan buat Ana bisa sukses di negara sendiri.." Ana memohon dengan wajah memelas, berharap kakak tampannya ini bisa luluh.
"Mam.. Bujuk Ana supaya nggak pergi," Tristan berjalan ke arah mamanya.
"Tristan.. Mama nggak bisa melarang apa yang telah di impikan Ana selama ini, dia sudah sangat sukses di sini, tapi hatinya ada di Indonesia. Kamu harus mengerti sayang.. Mungkin sudah saatnya Ana untuk mengingat siapa dia sebenarnya dan siapa keluarganya, pasti keluarganya sangat sedih kehilangan anak perempuan mereka, kita nggak boleh egois.." ujar Mama berbisik.
"Dari awal bukannya Ana yang tidak ingin mencari keluarganya ma.. Jadi buat apa sekarang musti kembali ke Indonesia." Tristan benar-benar tidak bisa terima dengan keputusan Ana, baginya Ana bukan hanya sekedar adik perempuan, tapi dia memiliki perasaan yang dia simpan selama ini. Dia sangat menyesal kenapa waktu itu tidak menikahinya, tapi malah membiarkan orangtuanya menjadikan Ana sebagai anak angkat mereka.
"Kaaak..." Ana berjalan ke arah Tristan dan mamanya.
Panggilan Ana membuat Tristan tersentak dari lamunannya. "Okeh, kamu boleh pergi," ucapnya enggan. "Tapi dengan satu syarat."
"Apa itu?" tanya Ana berbinar.
"Telpon aku 2 kali dalam sehari, di pagi hari dan waktu malam pas mau tidur, nggak boleh lupa." titah Tristan tanpa mau dibantah.
"Udah.. Cuma itu aja kak, itu sih gampang. Aku pikir syaratnya bakalan seberat apa, hehehe.." Ana terkekeh saking senangnya.
"Aku belum selesai.. Masih ada lagi, dan kamu di larang memiliki kekasih tanpa sepengetahuan kakak."
__ADS_1
"Aku udah gede kali kak, masak mau pacaran aja nggak boleh. Malah aku berniat mau mencari calon papi buat Noah di sana hehe.. Briana nyengir isengin sang kakak.
"Dibilangin nggak boleh yah ngggak," ucap Tristan dengan suara keras.
"Sudah-sudah... Ana dengerin tu kak Tristan, jangan sampai ada yang gangguin kamu di sana, kami semua nggak bisa bantuin karena papa dan Tristan masih ada kerjaan yang belum bisa di tinggalkan."
"Iya mamaku tersayang..." ujarnya sambil memeluk sang mama, "Ana cuma bercanda ma. Ana udah segede ini belum lagi ada Noah di samping Ana, jadi nggak kan ada yang mau gangguin ibu-ibu beranak satu, hihihii.." Ana terkekeh.
"Noah..! Noah.." Ana berlari ke kamar anaknya, dan berteriak kegirangan memanggil Noah.
"Ada apa Mamy? Berisik tau, nggak lihat apa aku lagi sibuk." ucapnya ketus.
"Widiih.. Sibuk apaan, palingan juga main game? Coba liat sini," Ana beringsut di tempat tidur samping anaknya. "Tuh kan benar.. Bukannya belajar tapi malah main game," Ana menoel hidung Noah.
"Buat apa belajar, aku udah pintar. Sekali liat juga udah ingat semuanya," katanya sombong.
"Tatakrama.. Apa itu!" Noah bertanya bingung, ini pertama kalinya dia mendengar kata-kata itu.
"Itu budaya orang Indonesia, di sana itu orangnya ramah-tamah dan juga baik, nanti kamu juga bakalan tau kalau besok kita udah nyampe di sana."
"Apa! Maksud Mamy besok perginya! Sama sekali nggak diskusi sama aku.. Aku betah di sini, Mamy aja yang pergi sendiri sana!" jawabnya acuh.
Ini anak benar-benar menguji kesabaran. "Kalau nggak mau yaudah, Mamy pergi mau cari papi kamu." sahutnya acuh.
"Papi..!" Harry langsung bereaksi dan meletakkan Smartphonenya.
__ADS_1
"Iya papi.. ?" Ana menjawab dengan bangga, akhirnya ni anak akan tunduk padanya, batinnya tersenyum.
"Mamy cari sendiri, aku nggak minat. Disini ada uncle Tristan yang jauh lebih baik dari papi yang ninggalin kita itu."
"Yah beda dong.. Uncle Tristan itu bukan papi kamu, tapi pamanmu." Hal yang paling ingin Ana pindah ke Indonesia karena masalah Noah, semua orang di sini sangat memanjakannya, jadi tu anak kurang akhlak, apalagi di sini mana ada pelajaran tentang ilmu sosial dan akhlak. sebelum terlambat mending Ana pindah aja ke tempat yang memiliki budaya yang bagus.
Noah kembali mengambil Smartphonenya, dan lanjutin main game. Sama sekali nggak peduli dengan keadaan sekitar, Ana geleng-geleng kepala melihat kelakuan anaknya.
"Kemasin barang-barang kamu dulu yah, nanti Mamy bantuin. Kita berangkat besok siang."
"Hhmmm.." jawabnya cuek.
Keesokan harinya..
"Haaaah, legah rasanya bisa menghirup udara di Jakarta. Kota metropolitan yang sangat macet, Ana celingak celingukan melihat jemputan untuknya. Aku sama sekali nggak ingat dengan kota ini, padahal mama bilang aku dulunya tinggal di sini."
"Mamy.. Ayo buruan, kayaknya itu jemputan kita." ujar Noah memanggil sang Mamy yang sumringah. Apa sih istimewanya tempat ini, biasa aja," batinnya.
"Eeh iya, ayok.." Ana menggandeng tangan Noah berjalan ke arah orang yang menjemput mereka.
"Nona Briana? gumam Lewis takjub, sama sekali tidak menyangka bahwa orang yang di jemputnya sangat menawan.
"Kenapa loe! mangap gitu, entar kemasukan lalar tau rasa.." ujar Clara heran.
"Itu ada nona Briana, aslinya cantik banget.." Lewis menelan salivanya sendiri.
__ADS_1
Clara menatap kearah pandangan Lewis, wanita itu memakai rok pendek, dengan atasan ketat yang memperlihatkan lekukan tubuhnya. "Cantiknya..." ujar meleleh. Untuk ukuran orang seperti dirinya yang memiliki standar yang tinggi, Briana memang perfect.
Hai.. maafkan karena udah lama nggak update 😁😍😘