
Flashback On
Arini memasuki gerbang, bunga-bunganya tersusun rapi di pekarangan sekolah. Gedungnya bertingkat dengan menggunakan cat berwarna putih sehingga berkesan bersih. "Sekolah yang bagus," pikir nya. Ini adalah salah satu sekolah negeri favorit di Bandung.
Arini berjalan santai, sambil menikmati pemandangan yang ada disekitarnya. Suara siswa-siswi di sekolah memecahkan lamunannya, ternyata suara ribut itu berasal dari seluruh siswa baru yang akan mengikuti MOS, Arini pun berjalan mengikuti mereka.
"Semuanya berkumpul! MOS pada hari pertama, akan segera kita mulai." Perintah salah satu pengurus OSIS.
"Selamat pagi!" kata ketua OSIS yang tidak lain tidak bukan adalah Exel.
"Selama acara berlangsung kalian harus mematuhi segala peraturan yang berlaku, bersikap disiplin adalah mutlak. Kalau ada yang berani membantah akan di hukum."
"Apa semuanya mengerti!" tegasnya.
"Ngerti kak!" jawab seluruh siswa kompak. Exel kembali ke tempat pengurus OSIS berkumpul, sambil mengamati dari kejauhan.
Acara demi acara di laksanakan, hingga menjelang siang MOS di hari pertama akan segera berakhir, seluruh siswa baru sangat antusias mengikutinya termasuk Arini. Acara MOS ini akan diselenggarakan sekolah selama tiga hari berturut-turut.
Yang paling membuat semangat para siswa adalah panitia OSIS nya cantik-cantik dan ganteng-ganteng, "terutama ketua dan wakilnya," kata para gadis. Arini pun membenarkan pendapat mereka.
"Acara yang terakhir adalah bernyanyi. Seluruh peserta MOS akan menyanyikan lagu bebas."
"Peraturannya adalah, setiap peserta yang bernyanyi dengan suara yang bagus akan di beri hadiah." ucap Raihan yang menjabat sebagai wakil ketua OSIS.
"Tapi, Jika suara kalian jelek, akan di berikan hukuman. Hukumannya adalah push up atau merayu kakak kelas, sampai mereka mau menerima rayuan kalian, dengan mendapatkan tanda tangannya."
"Wuuuuuuuhh!" Semua bersorak, tidak terima dengan peraturan yang tidak adil ini.
"Tenang-tenang!" sahutnya lantang. "Barang siapa yang berani membantah, akan dikenai hukuman berlari keliling lapangan sekolah sebanyak 20 kali putaran. Suasana pun hening karena tidak ada lagi yang berani bersuara, "siapa juga yang mau lari keliling lapangan segede ini, mana lagi capek-capeknya," pikir seluruh siswa.
Akhirnya satu persatu nama di panggil dan maju kedepan, yang memiliki suara jelek langsung dihukum.
Arini pun deg deg an.
Bukan karena memiliki suara yang jelek, bukan juga karena gak bisa nyanyi. Karena kalau nyanyi di kamar mandi suaranya sangat bagus. Tapi, ini lain cerita Arini harus bernyanyi didepan umum, ini membuatnya gugup dan tiba-tiba perutnya terasa mual pengen muntah saking groginya.
__ADS_1
"Arini syafira!" Panggil Raihan.
Gilirannya pun tiba, tangannya telah basah karena keringat. Arini maju kedepan sambil berusaha untuk menenangkan diri. "Tenang Arini kamu pasti bisa," pikirnya.
Arini mengambil mikrofon yang di sodorkan Raihan, sambil mendengarkan arahan darinya. Arini mengangguk mengerti.
"Nama saya Arini syafira. Saya akan menyanyikan lagu cinta terakhir dari ST12." ucapnya lembut dengan tangan bergetar.
"Tak pernah terpikir olehku
Tak sedikit pun kubayangkan
Kau akan pergi tinggalkanku sendiri..
Begitu sulit kubayangkan
Begitu sakit kurasakan
Kau akan pergi tinggalkanku sendiri..."
Ditempat lain Exel sedang memperhatikan seorang siswi yang sedang bernyanyi." Cukup bagus, gumamnya. Tapi, sangat jelas terdengar ada getaran pada suaranya sehingga menimbulkan nada fales. "Dia pasti Sangat gugup," pikir Exel acuh tak acuh.
Arini Akhirnya di hukum, di antara siswi yang lainnya, dia cukup mencolok. Walaupun dia bukan gadis paling cantik di sekolah. Tapi, Karena gayanya yang lugu, semua pada rebutan ingin mengerjainya. Termasuk Raihan, dia cukup tertarik pada anak itu.
Semuanya disaksikan oleh Exel, dia cukup kesal melihat tingkah teman-temannya yang sangat kekanak-kanakan. Sama sekali tidak mencerminkan sikap seorang pengurus OSIS. Tingkah mereka semua, telah mencoreng nama baik OSIS yang di segani. Sebagai ketua, dia tidak bisa tinggal diam. "Ini semua karena gadis kecentilan itu, semuanya menjadi kacau," gumamnya kesal.
Tanpa pikir panjang Exel manghampiri dan menarik tangan gadis itu dengan paksa. "Kalian semua bikin malu," katanya marah. Membawa Arini menjauh dari lokasi acara tersebut, tanpa menghiraukan protes dari teman-temannya.
Raihan berusaha menahan tangan Exel, agar tidak bertindak kasar pada seorang wanita. Tapi, Exel malah menepis tangannya dan berjalan menjauh sambil terus menarik tangan gadis itu bersamanya. Murid lain tidak mengetahui kejadian barusan sama sekali, mereka sibuk menghafal lagu yang akan di nyanyikan.
Arini memberontak. "Kak, lepasin aku! Salahku apa?" ucapnya dengan nada panik.
"Kau tidak tau salahmu di mana!" Exel berkata lantang sambil terus menarik lengan gadis itu. Tanpa disadari mereka malah memasuki ruang OSIS yang sedang kosong.
"Aaauuuch! Lepas kak," rintih Arini kesakitan. Bukannya dilepas Exel malah mendorong tubuh Arini hingga pahanya terbentur ke meja.
__ADS_1
"Aaachh sakiiit!" teriaknya.
Arini menggosok-gosok pahanya, dia yakin pasti membiru karena benturan tadi. Dia ingin sekali melihat, tapi kakak seniornya itu, masih menatapnya dengan marah.
"Aku harus pergi dari sini," gumamnya.
Karena kecerobohannya, roknya malah tersangkut di paku dan sobek hingga pangkal paha. "Haaah! ooh tidak," Arini melihat kebawah dan berusaha menutupi dengan tangannya dengan raut wajah panik dan malu.
"Kau ingin menggodaku? Seperti yang kau lakuin ke teman-temanku tadi," ucap Exel marah.
Arini menggelengkan kepala. "Jelas-jelas ini tersangkut kak! Aku nggak mungkin ngelakuin hal memalukan seperti itu." ujarnya menahan amarah.
Exel berjalan menghampirinya, dia pun mundur tapi tertahan oleh meja di belakangnya. Arini semakin gugup karena jarak Exel tinggal selangkah darinya.
Exel merentangkan kedua tangannya di sisi Arini, yang membuat gadis itu tidak bisa bergerak. "Ternyata bocah ini manis juga," gumamnya.
"Kak tolong jangan seperti ini! Kalau ada yang datang, mereka bisa salah paham!" ucap Arini prustasi sambil mendorong dada Exel agar menjauh darinya.
Exel menarik tangan Arini ke belakang punggungnya, sehingga posisi mereka semakin menempel. Arini mengangkat wajahnya kaget, tidak percaya dengan apa yang di lakukan seniornya itu.
"Lepasin aku!!" teriaknya marah.
Exel bingung, kenapa dia tidak bisa membiarkan gadis itu pergi. Dia belum pernah merasakan perasaan seperti ini sebelumnya. Exel menjadi murid paling populer di sekolah, tidak sedikit yang mengidolakannya. Tapi, selama ini dia sama sekali tidak tertarik, kenapa sekarang malah berbeda pikir Exel kalut.
Lamunan Exel pecah, karena gadis itu tidak berhenti bergerak. Seharusnya dia bisa lebih lembut dan pasrah seperti gadis-gadis lainnya.
"Jangan pura-pura menolak, kau tau berapa gadis yang ingin berdekatan denganku.." Kau itu beruntung," Exel nyengir. Exel mengangkat dagunya dan mengecup bibirnya sekilas.
"Plaakk!" Tamparan keras mendarat di pipi Exel, mukanya merah padam karena amarah. Arini mengusap bibir dengan tangannya, rasanya dia ingin sekali menangis. "Tolong jaga sikap kakak! Kakak memang ketua OSIS, bukan berarti kakak bisa berbuat sesuka hati!" desisnya dengan mata yang sudah berair. Dengan muka sembab dia berlari keluar, airmata membanjiri pipinya. Arini berharap, semoga saja tidak ada yang melihat Kondisinya sekarang.
Exel tidak menyangka, tenaga gadis mungil itu kuat juga. Belum pernah ada yang berani menolaknya selama ini. "Heh, dia cukup menarik, mungkin hari-hariku di sekolah akan lebih menyenangkan nantinya." Exel nyengir kesenangan sambil meraba pipinya yang sakit.
Sesampainya di toilet. Arini menangis sejadi-jadinya, dan marah-marah sama kaca di depannya. "Benar-benar cowok kurang ajar! Seenaknya merebut first kiss aku. Hiks hiks," masih menangis dengan muka sembab, untung tidak ada orang," pikirnya. Arini masih sibuk mengerutu dan menangis. "Dasar cowok mesum..!!" teriaknya kesal.
***
__ADS_1
Hai tinggalkan jejakmu, dengan like, komen dan vote Makasi🤗