
"Gimana kabar kakak sekarang? Apa masih belum menemukan pendamping yang baru?" Kanaya memulai percakapan karena memang cukup penasaran dengan kabar mantan suaminya ini, walaupun dihatinya masih ada rasa sayang, tapi lebih ke rasa sayang sebagai saudara. Ternyata rasa sukanya terhadap Exel dari awal adalah sebuah opsesi besar karena dia tidak mampu mendapatkan hatinya. Kanaya menyesal, karena obsesinya sendiri banyak orang yang menderita termasuk dirinya.
"Kamu sendiri gimana? Sudah dapat belum?" Hahahaha.." Exel malah tertawa besar.
Rara menatap tidak suka kepada keduanya. Akhirnya rapat bersama perusahaan Citra selesai tepat waktu.
Briana sedang mengecek satu persatu desain yang telah dia buat dalam beberapa hari ini, dia cukup kesulitan, karena bentuk tubuh orang Indonesia sangat berbeda dengan postur tubuh orang barat. Dia yang biasanya membuat desain dengan postur yang tinggi plus bidang yang kokoh, sekarang musti membuatnya dalam bentuk mungil dan halus.
Walaupun orang Indonesia masih menyukai pakaian yang terbuka, hal itu tidak menyulitkan Briana yang memang notabennya memang suka merancang pakaian sexy, menurutnya itu lebih menarik dan juga menantang. Dan disini perusahaan menantangnya membuat kebaya dengan gayanya sendiri. Dia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya, karena pakaian adat bukan bidangnya.
Jadi di setiap ada kesempatan dia selalu mencari referensi model kebaya yang sesuai dengan adat Indonesia dan nantinya akan di sesuaikan dengan gaya Briana. Pekerjaan memang membuatnya selalu lupa waktu, akhirnya kantor mulai sepi karena beberapa karyawan sudah pergi, sementara butik masih ramai. Ana meregangkan tubuhnya sebentar dan bersandar di tempat duduk. Kantuk mulai menyertainya.
Beberapa saat setelahnya, tidurnya mulai terganggu. Ada sesuatu yang lembut membeli pipi Ana.
"Uuuhh.." Briana mengeluarkan suara ditengah rasa ngantuk, tapi sesuatu yang lembut itu membuatnya semakin geli dan mulai mengganggu tidurnya.
Exel menatap wanita cantik yang tengah tertidur di hadapannya, tidurnya nyenyak sekali. Sebenarnya tidak ingin membangunkan Ana, tapi rasa penasaran menggelitik tangannya untuk menyentuh wajah halus tanpa cela itu. Tangan Exel menelusuri tekstur tulang pipi Ana dan berlama-lama dibibir yang membuat Exel panas. Kemudian tangannya tanpa sadar turun kebawa dan menyentuh tulang selangka dan berakhir di atas kancing baju Briana.
Tangan Exel dengan terampil membuka satu persatu kancing yang menutupi dadanya, hal itu sama sekali tidak direpon Ana, "kalau dia sadar mungkin aku akan di gamparnya," batin Exel tersenyum.
"Uummm.." Ana mendesah saat benda itu menyentuh dadanya.
Exel bermain di belahan milik Ana, tanpa membuka penutupnya. Segala sesuatu tentang wanita ini membuatnya gila. Sangat lembut dan memanjakan mata, matanya mulai berubah gelap dengan sekali rengkuhan Ana sudah berada di pangkuan Exel.
Ana merasakan sesuatu yang hangat menutupi tubuhnya, hal itu membuatnya sangat nyaman dan mencari ketenangan disana.
__ADS_1
"Ana! Ada sesuatu yang harus aku kasih tau sebelum pulang... Tadi bos besar kesini dan nanyain kamu, sepertinya dia mau mencari masalah lagi sama ka..." Kata-katanya tidak sempat diselesaikan, Clara terpaku dengan mulut mengaga.
Kedatangan Clara yang tiba-tiba masuk dan berbicara tanpa permisi membuat Exel kesal, apalagi yang dikatakan wanita setengah itu tentang keburukan dirinya. Kemana anak buahnya kenapa mereka membiarkan orang lain masuk kesini di saat dia ingin berduaan dengan Briana.
"Ada apa!" ucap Exel pelan tapi menekankan kalau dia sedang marah.
Clara ketakutan setengah mati, ternyata si bos yang dikatainnya tengah berada diruangan ini bersama rekannya Briana. Tapi, apa yang mereka lakukan.. Mereka tidak seperti musuh bebuyutan, tapi malah mesra seperti sepasang kekasih. Clara menutup mulut dengan tangannya, "itu pak, maaf.. Sa saya.. Clara semakin tergagap melihat pakaian Ana yang terbuka.
Briana membuka mata karena mendengar suara ribut disebelahnya. Matanya terbuka dan melihat Clara menatap kearahnya dengan ketakutan. Ana cukup bingung," ada apa Clar?" Ada yang salah? Briana merubah posisi duduknya dan mendapati sesuatu yang aneh dibawah bokongnya.
Ana terlonjak kaget mendapati Exel ada dibawahnya. Lututnya membentur meja yang membuat Ana meringis kesakitan, kemudian matanya menatap dadanya yang terbuka saat melihat kakinya yang sakit.
"Aaahh!" Ana berteriak kaget dan buru-buru mengenakan kancing kemejanya. Dia baru tau apa yang membuat ekspresi Clara seperti itu, wajahnya memerah menahan malu dan juga marah.
"Saya permisi pak, maaf sudah mengganggu." Clara buru-buru pergi untuk menyelamatkan dirinya. Ana tidak berani menatap Clara saking malunya. Padahal selama ini dia selalu membicarakan keburukan bosnya itu dihadapan Clara, tapi sekarang malah berbanding terbalik, Ana menggigit bibir bawahnya.
"Apa yang ada lakuin disini!" Dimana kesopanan anda! Membuka baju orang seenaknya, ini pelecehan!"Ana berteriak saking marahnya.
"Aku bebas mau kemanapun yang aku inginkan, selagi ada di perusahaanku.." Dan kau adalah wanitaku, pelecehan apa? Bukan sekali ini aku melihat tubuhmu, aku sudah pernah melihat lebih dari ini sebelumnya, dan kita hampir bercinta." Exel menekankan kata-kata terakhirnya.
"Tidak. Itu tidak benar, kau yang selalu memaksaku. Aku tidak pernah ngelakuin hal memalukan itu dengan ikhlas. "Ana berteriak histeris. Airmatanya akan tumpah, membayangkan semua orang akan bergosip tentang dirinya yang murahan karena menggoda presdir.
"Ana.." Exel memanggil dengan lembut. "Semua orang menginginkan untuk dekat denganku..."
Tapi aku tidak. Tolong jangan ganggu hidupku lagi.."
__ADS_1
"Apa yang membuatmu sangat ketakutan tentang hubungan kita yang diketahui oleh orang lain? Seharusnya kau itu bangga, bukannya sedih."
"Bangga apanya! Semua orang akan berpikir, aku mendapatkan kesuksesan ini hanya karena menjual tubuhku kepada pimpinan perusahaan."
"Hei.. Exel meraih tangan Briana dan menarik wanita itu kedalam pelukannya. Briana menurut karena kepalanya pusing. "Jangan sedih, tidak akan ada yang bergosip tentang itu semua, aku yang akan membumkam mulut mereka.
Briana percaya itu, tapi pria ini selalu bisa meruntuhkan pertahanannya. Dia selalu luluh setiap disentuh olehnya." Aku membencimu.." bisik Briana. Isi hati memang selalu berbeda dengan mulut.
"Yah.. Bencilah aku kalau itu membuatmu senang. Apapun asal kau dan Noah bahagia, please.. Jangan sedih lagi, menikahlah denganku agar semuanya baik-baik saja. Tidak akan ada lagi yang berani mengganggumu setelah itu."
Ternyata dia ingin menikahiku hanya untuk menjaga nama baikku, dan mungkin karena Wajahku mirip dengan mendiang istrinya. "Haah, tidak perlu, Briana melepaskan pelukan Exel." Aku bisa menjaga diri sendiri dan anakku. Lagian sebentar lagi, saudaraku akan datang ke Indonesia. Jangan buang waktumu untuk orang sepertiku, kebetulan aku hanya memiliki wajah yang sama dengan almarhum istrimu."
"Aku mau pulang. Noah pasti udah nungguin.. Permisi." Briana berlalu meninggalkan Exel diruangannya.
Exel kembali ke kantor. "Gimana hasil tes DNA Noah?"
"Hasilnya besok baru keluar bos." jawab Reno.
"Huuum.." Pastikan hasil tesnya aman, karena dari awal memang ada sesuatu yang mencurigakan."
"Siap bos." Reno keluar dengan sendirinya melihat bosnya sedang berpikir.
Arini.. Aku akan membuktikan kalau kalian itu adalah orang yang sama, tapi gimana kalau bukan.. Siapkan hati ini ya tuhan..
***
__ADS_1
Hai i'm back 😁😁🤩🤩