
Mandi bareng dilakukan. Kedua nya secara bergantian menggosok punggung.
"Mas.. Aku boleh nanya gak?"
"Tanya aja sayang.. Gak usah minta ijin segala."
"Sebenarnya mas tau dari mana kalau aku dulu udah pernah menikah?"
"Masih penasaran? Yang lalu biarlah berlalu. Aku gak mempermasalahkan hal itu lagi."
"Penasaran saja, kok mas bisa tau dan malah nuduh aku cewek gak benar."
"Ini kan hari pernikahan kita, kenapa musti di bahas sekarang.. Lagian gak penting juga."
"Aku cuma pengen semua masalah nya jelas mas.. Biar ke depannya gak kepikiran lagi." Arini keukeh pengen tau.
Exel mengalah dan menceritakan kejadian yang sebenarnya. "Waktu itu aku pulang liburan semester, saking kangennya sama kamu sampai lupa nemuin orangtua sendiri. Waktu itu aku langsung ketempatmu, tapi kata tetangga kamu itu sedang melaksanakan pernikahan di gedung xx. Pas aku samperin ke situ kamunya sedang duduk manis di hadapan penghulu dengan suamimu, bayangkan gimana sakitnya aku, aku langsung pergi. "
"Coba kalau lihat sampai akhir, mas nggak kan salah paham sama aku. "Arini sedih membayangkan gimana dulu Exel sangat jahat padanya.
"Maafin aku yah sayang.. Itu semua juga karena aku mendengar cerita buruk tentang mu sebelum menikah dan setelah menjanda."
"Itu pasti Rara, dia suka sama mas dari dulu makanya dia berbuat seperti itu. Kalau mas tau dia suka dari awal, apa mas lebih memilih dia dari pada aku?"
"Gimana yah? Aku bingung sayang mau pilih yang mana, dua-duanya sama cantiknya," dengan muka pura-pura serius Exel berpikir. Arini melayangkan cubitan di pinggang nya dan menggosok punggungnya kuat-kuat saking marahnya.
"Aauuww.. Belum apa-apa udah kdrt aja," Exel pura-pura kesal."
"Biarin, biar tau rasa. Dasar playboy cap kadal, abisnya kesal." Arini malah semakin berani dan menggigit leher Exel.
"Aaahh" bukannya sakit, Exel malah kepancing gairahnya.
__ADS_1
"Mancing-mancing yah, jangan salahin aku!" Exel menarik Arini kepangkuannya.
Dengan napas yang tidak teratur Arini berusaha untuk berdiri, tapi malah di gendong Exel.
"Kita lanjutin di kamar yah sayang. Ntar masuk angin kalau main sambil basah-basahan." Exel tersenyum nakal, Arini pasrah walaupun masih kesal. Gak berani nolak takut dosa.
Exel membaringkannya dengan hati-hati, seolah-olah dia adalah benda berharga yang akan mudah pecah. Perasaan hangat menyentuh bibirnya, Arini menyukai sensasi yang ditimbulkan oleh bibir lembut suaminya.
Exel menindih tubuh mungil istrinya.. Bercinta dengan Arini tidak pernah merasa cukup.
"Tidak!! Jangan kuat-kuat sayang.. Aku hamil!" Arini berteriak cukup kencang.
"Apa!! Suara Exel tidak kalah besarnya. Kau ngomong apa barusan!
"Aa-aku hamil sayang.." Arini tertunduk merasa bersalah dan takut Exel marah karena baru sekarang hal sepenting ini di sampaikan.
"Apa! Tapiii kenapa baru sekarang kasih taunya!" Exel berteriak kesal, Antara senang dan sakit kepala. Tapi karena kabar yang mengejutkan ini dia harus bisa tahan.
Dengan napas yang tidak teratur, Exel berbaring disamping Arini. Di harus bisa tenang sekarang, jangan sampai janin yang dikandung Arini bisa keguguran karena kesalahannya.
Arini membuang muka yang masam karena perkataan suaminya barusan.
"Dia bilang ini anak siapa! Memang nya dia pikir aku seburuk itu. Berapa kali coba dia memaksaku dan dengan sengaja ingin membuatku hamil. Dan sekarang dia bertanya ini anaknya siapa!" Arini benar-benar kesal dan marah sekarang.
"Hei sayang, jangan marah.. Aku kan cuma bertanya gak ada maksud menuduh yang tidak-tidak. Aku yakin kok ini anakku jangan marah lagi yah? Sudah berapa bulan sayang?"
"Cari tau aja sendiri." Masih ngambek.
"Hmmm. Aku gak tau sayang, aku gak ngerti cara ngitungnya, gimana kalau nanti kita ke Dokter. Trus kenapa baru sekarang ngasih tau? Memangnya apa yang salah sampai gak ngasih tau aku dari awal.."
Arini makin kesal dengan pertanyaan Exel barusan. "Memangnya musti di jawab lagi! Coba berpikir untuk apa aku datang kerumah dan maksa untuk bertemu mas waktu itu! Kalau bukan karena hal yang penting aku nggakkan maksa ketemu suami orang.. Hiks hiks," Arini mulai menangis, efek hamil membuat nya sangat sensitif.
__ADS_1
Tubuh Exel terguncang mendengarnya. Waktu Arini datang kerumah aku malah acuh. Setelah itu dia pergi karena mendapat tamparan dari mama dan aku gak ngelakuin apapun. Jadi waktu itu dia sedang hamil, pantas saja dia menghilang dan tidak ingin bertemu denganku lagi.. Dan di Vila aku malah memaksa dan menculiknya dengan berbagai ancaman, Exel menarik napas, begitu banyak kesalahan yang dia lakukan.
"Sayang.. Aku memang gak pantas untuk di maafin aku memang salah. Tapi mau kah kamu memaafkanku? Demi anak kita, kasihan dia kalau tau orangtua lnya lagi berantem. Nanti aku belikan coklat yang banyak yah!" Exel berusaha membujuk sambil tersenyum memelas..
"Hiks hiks.. Masih terisak, iya aku maafin tapi janji yah beliin coklat yang banyak." Sangat sulit menahan godaan coklat.
Ternyata cuma butuh coklat, "Iya aku janji sayang, tapi makannya nanti jangan sekaligus banyak yah. Nanti..."
Arini langsung nyambar, "tapi katanya tadi mau beliin yang banyak tapi gak boleh di makan, jadi buat apa?" Makin keras tangisannya.
Belum kelar ngomong udah dipotong. Harus musti banyak bersabar menghadapi ibu hamil yang satu ini.
"Bukannya gitu sayang.. Nanti kalau makannya kebanyakan bisa sakit perut, kasian dedek nanti gak nyaman disana sambil membelai perut Arini. Perbanyak makan buah aja yah?"
"Hmmm. Yaudah kalau gitu, aku mau mangga sekarang juga." Arini merengek.
"Haah, mangga. Mau nyari dimana sayang! Kan lagi gak musim."
"Cari di pasar buah sayang pasti ada."
"Oke sayangku. Demi kamu dan anak kita apapun akan di penuhi, kalau perlu sama pohon-pohonnya sekalian aku bawa kesini. Mau apa lagi sayang? Biar sekalian di belikan." Exel sesumbar.
"Makasi sayang," sambil memeluk Exel. Arini sangat bahagia sekarang karena ada yang yang bisa di andalkan saat dia benar-benar membutuhkan seseorang untuk menjaganya.
"Sama-sama sayang.. Itu adalah kewajiban ku untuk selalu menjagamu dan calon anak kita."
Aku berjanji akan memberikan kebahagiaan dan juga status untukmu di keluargaku. Hanya kau satu-satunya, tidak akan ada wanita lain di hidupku. Exel berjanji dalam hatinya.
Exel menciumi perut Arini, senang sekali rasanya karena sebentar lagi dia akan menjadi seorang ayah dari wanita yang sangat di cintainya.
***
__ADS_1
Semoga pelakor tidak akan menggoyahkan cinta Exel dan Arini yah..
Salam sayang 😍 jangan lupa like, komen dan vote nya biar makin semangat buat up🤗