
"Mami!"
Suara Noah terdengar dari luar. Briana dan Exel otomatis menghentikan aktivitas mereka, keduanya berpandangan cukup lama karena masih kaget. Deru napas masih terdengar cukup keras dari keduanya, terutama Exel yang sedang sulit membendung keinginannya sedari tadi.
"Itu suara Noah, Briana yang duluan tersadar dan buru-buru membebaskan diri dari pelukan Exel kemudian memungut pakaian renangnya yang berserakan dilantai.
"I iya sayang, sebentar." Ana sedang kesulitan mengikat tali branya.
"Sini aku bantuin," dengan cekatan Exel membantunya walaupun dengan tangan bergetar. "Tahan Exel, ini cuma sebentar. Selama ini kamu bisa tahan, kenapa sekarang nggak." pikir Exel kalut.
Dia berpengalaman sekali soal pakaian dalam wanita, pikir Ana dalam hati. Udah berapa orang cewek yang dia bantuin buka dan pasang selama ini. Ada perasaan nggak enak dalam hatinya, mengingat Exel bersama wanita lain. Briana kemudian membuka pintu yang kebetulan tadi sempat dikunci Exel.
"Mami kok lama..." Suara Noah memelas karena masih ngantuk, sambil ngucek-ngucek matanya.
"Barusan itu.." Ana gelagapan sambil menggaruk telinganya yang nggak gatal, nggak tau harus menjawab apa.
Noah tau kalau maminya sedang berbohong suka garuk telinga. Tapi yaudalah itu sepertinya urusan orang dewasa, pikirnya. Mungkin ada baiknya mami mulai dekat sama seseorang, biar aku bisa punya papa baru. Noah senang akhirnya maminya mulai membuka hati.
"Noah kan baru tidur, jadi mami tinggal sebentar.. Tapi kok cepat banget bangunnya sayang? Anak mami mimpi buruk yah?" Briana berjongkok didepan anaknya, dia mulai bisa menguasai dirinya.
"Mami aku lapar.."
Noah lapar.. Maaf sayang mami lupa ngasih kamu makan. Yaudah sekarang kita makan yah, tadi udah dimasakin sama bibi yang tadi, makanan kesukaan Noah. Ana tersenyum dan menarik tangan Noah ke meja makan.
Exel menatap Briana dan Noah, perasaan hangat menyentuh hatinya, melihat ibu dan anak. "Dia pasti kedinginan," Exel mengambil jubah mandi untuk dikenakan oleh Briana.
"Nih dipake." Exel menyampirkan kimono tersebut di bahu Ana.
"Makasih." kebetulan Ana memang cukup kedinginan, karena kedatangan Noah yang tiba-tiba dia jadi lupa memakai bajunya.
__ADS_1
"Uncle, suka yah sama mami?" Noah yang melihat perhatian Exel sama maminya, langsung bertanya yang membuat Briana gugup.
"Noah.." Briana memerah, karena pertanyaan putranya yang polos.
"Kalau iya, boleh uncle jadi papinya Noah?" Dengan santai Exel bertanya, tentunya dia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini.
"Itu sih tergantung mami uncle... Kalau mami suka aku pastinya juga suka."
"Kalau Noah suka nggak sama uncle?"
"Suka, suka banget." jawabnya polos.
"Sini uncle peluk," Exel meraih tubuh Noah dan mendudukkan anak itu di pangkuan nya. Hatinya hangat setiap berdekatan dengan anak ini. "Kalau gitu Noah harus bantuin uncle buat dapetin hatinya mami. Oke, tos." Keduanya bertos dengan riang.
Ana tersenyum melihat tingkah keduanya, memang sangat mirip. "Kita balik sekarang yah? Mami lelah pengen istirahat dirumah, masih banyak desain yang belum kelar." Ana memohon dengan tatapan mata yang memelas.
***
Keesokan harinya.
"Ren bawa ini, Exel menyerahkan sampel rambut Noah untuk tes DNA. "Ini adalah harapan terakhir aku, semoga Noah memang darah dagingkku."
"Oke bos. Dari awal kita memang bisa langsung tes DNA Noah, tapi kenapa nggak mau? Dan kenapa sekarang malah berubah?"
Exel tidak langsung menjawab, sebenarnya dia hanya takut menemukan kalau Noah bukan anaknya. Makanya dia lebih memilih untuk menyelidiki masa lalu mereka terlebih dahulu, untuk mengulur waktu dan menyiapkan hatinya dengan kemungkinan yang terjadi. Tapi pencariannya menemukan jalan buntu. Exel menatap tajam kearah Reno, asisten sekaligus sahabatnya itu langsung mengerti.
Hal tersebut tidak lepas dari pengamatan seseorang, dan dia langsung menghubungi orang kepercayaannya untuk mengikuti Reno.
"Pak, Sekarang kita ada kunjungan ke perusahaan Citra." Rara berjalan masuk sambil memegang buku catatan ditangannya.
__ADS_1
"Uummm." Exel langsung berdiri dan berjalan mendahului Rara sekretarisnya. Dia sengaja menempatkan wanita ini disininya, karena semenjak kehadirannya Arini langsung menghilang. Tapi sampai sekarang, Exel belum melihat pergerakan apapun darinya. Dan sekarang wanita yang mirip Arini telah kembali, Exel bisa melihat keresahan dimata Rara. Untuk itu dia meminta seseorang mengikutinya.
Rara mengikuti Exel dari belakang, rasa sedih dihatinya menjalar sampai ketulang. Exel tidak pernah melihat kearahnya barang sedetikpun sebagai perempuan. "Maaf kak, tapi kali ini kamu hanya akan tetap menjadi milikku," gumamnya pelan.
Perusahaan Citra adalah milik Kanaya, yang diambil dari nama anaknya. Setelah kepergian Arini, Kanaya juga mengalami hal yang sulit. Ayah dari anak yang dia kandung, menipu dan membawa uang milik Kanaya yang akan mereka gunakan untuk hidup di luar negeri. Tapi sesampainya di Australia, Laki-laki itu kabur meninggalkan Kanaya dan membawa uang sebesar 5 Milyar. Yang tersisa ditubuhnya cuma uang sebesar 1 juta, beserta handphone dan dalam keadaan perutnya yang buncit.
Kepergian Kanaya tanpa diketahui oleh orangtuanya, waktu itu papanya sangat marah karena hamil anak orang lain, sementara Exel adalah suaminya. Keluarga mereka sangat marah dan malu karena perbuatan Kanaya. dan mengusir Kanaya dari rumah. Berbekal uang tabungannya selama ini dan janji seorang bajingan bernama Jefri, Kanaya nekat keluar negeri tanpa memberitahu keluarga, tentunya Kanaya sangat malu dan juga gengsi karena telah diusir oleh mereka.
Tepat dia sedang mengalami kesulitan karena di tinggal Jefri, sesaat setelah itu tiba-tiba perutnya mengalami kram. Sepertinya dia hendak melahirkan. Setelah satu jam menahan sakit dan berjalan terseok-seok meminta bantuan. Akhirnya Kanaya bertemu dengan seorang ibu tunawisma di jalanan. Untungnya ibu tersebut sangat baik. Kemudian membawanya kerumah sakit.
Tanpa mampu membayar biaya rumah sakit, Kanaya dibawa kabur oleh ibu tersebut dan tinggal untuk sementara dirumahnya. Kebaikan hatinya membuat Kanaya tersentuh, dan akhirnya setelah 5 bulan menjalani kehidupan yang sangat sulit. Kanaya mutusin menghubungi keluarga kembali, dan disini dia sekarang menjadi pengusaha yang cukup sukses dengan ditemani bidadari kecil disebelahnya.
"Halo kak apa kabar?" Kanaya menjabat tangan Exel yang disambut oleh Exel dengan baik.
"Baik. Kamu sepertinya juga semakin baik." ucap Exel tulus. Exel memang mutusin untuk menjalin hubungan yang baik dengan Kanaya mengingat hubungan mereka di masa lalu.
"Tentu kak, ini semua berkat bantuan kakak."
"Bantuan apa? Aku belum melakukan apapun untukmu."
"Kakak ini, jadi tunjangan cerai yang kakak kasih itu apa? Berkat uang itu aku bisa membuka usaha sendiri."
"Yaa syukurlah kalau itu memang berguna." Exel tersenyum manis dan merangkul Citra dipelukannya. "Om bawain hadiah loh buat Citra." Exel mengeluarkan hadiah yang memang sengaja dia siapkan untuk anak Kanaya.
"Makasih om, Citra sayang sama om Exel. Dia langsung memeluk tubuh Exel dengan tangan mungilnya.
Kanaya menatap Rara dengan pandangan tidak suka, wanita itu pastilah dalang dibalik semua kekacauan yang ada. Dengan acuh Kanaya menggandeng lengan Exel untuk masuk tanpa menghiraukan sekretaris licik itu.
***
__ADS_1
Akhirnya kelar juga part ini, kalau nggak digangguin sama anakku selesainya udah dari tadi siang kali🙄🤫ðŸ¤