Affair With My Boss

Affair With My Boss
Kesal


__ADS_3

Sebulan telah berlalu semenjak kedatangan Ana, orang-orang yang bekerja dengannya sangat kompeten dan juga baik. Sekarang Clara yang sangat sombong pun sudah mulai terbiasa dengan kehadiran Briana. Mereka berdua jadi mulai akrab, apalagi sikap Clara sangat manja terhadap Ana. Lewis cuma geleng-geleng kepala melihat kelakuan Clara.


"Hei Clar! Apa yang terjadi dalam beberapa hari ini? Kok kalian jadi cepat akrab gini!" Lewis meletakkan tangannya di dagu menunjukkan kebingungan.


"Mau tau aja loe!" Clara melengos dengan angkuh.


"Haaah", sudahlah.. Nggak usah dipikirin namanya juga wanita." Lewis menghela napas melihat kelakuannya.


Ana sedang menuju hotel yang telah di kirimkan alamat oleh Lewis barusan. Nggak tau kenapa klien yang satu ini mendadak ingin ketemuan, apalagi lokasinya di kamar hotel. Apa nggak bisa di restauran atau kafe gitu.. Untung aja kliennya yang disebutin Lewis barusan adalah seorang wanita. Kalau di lihat dari janjian ketemuan yang mendadak ini, Ana bisa menilai klien ini pasti sangat penting bagi perusahaan. Untuk itu Ana udah menyiapkan desain yang menarik dan beberapa gaun hasil rancangannya yang ingin dia kasih liat sama orang itu. Ukuran yang diberikan Lewis sama persis dengan ukurannya, dan dia meminta beberapa gaun yang anggun dan baju tidur sexy. Ana sudah membawa semua yang dikatakan Lewis dan memilih warna yang terang, dia yakin kliennya memiliki kulit yang bagus. Diapun tersenyum dengan kinerja ya sendiri.


Pikirannya mulai melayang ke pertemuan dengan presdir sebulan yang lalu.. Tekat yang kuat sangat kelihatan dari matanya. Tapi setelah itu Ana tidak pernah lagi bertemu dengannya, "ada apa denganku? Memangnya apa yang ku harapkan dari pria itu.. Huft." Kenapa hatinya merasa kecewa karena tidak pernah lagi melihat wajahnya yang tampan. Ana mengusap wajahnya untuk menghilangkan bayangan presdir Exel dari pikirannya.


"Nona! Kita sudah sampai..."


"Ooh, baik pak terima kasih. Bapak kembali saja ke kantor, saya bakalan lama di sini."


"Tidak masalah nona, selama apapun akan saya tunggu."


"Tidak pak, lebih baik nggak usah. Kalau bapak masih disini saya nggak bakalan konsentrasi bertemu klien, karena membayangkan bapak lama menunggu." Ana berusaha meyakinkan sang supir agar tidak bersikeras menunggunya lagi.


"Baiklah nona, tapi kalau nanti tuan Lewis marah sama saya gimana? Tadi tuan sudah berpesan agar saya menunggu nona sampai urusannya selesai, tuan takut anda tersesat."


"Hahaaa.. Bapak ini, udah segede ini masak saya nggak tau jalan pulang." Ana ngakak ngeliat kelakuan supir yang di perintah Lewis. Lagian Lewis ini ada-ada aja..

__ADS_1


"Yaudah pak, saya duluan." Ana meninggalkan sang supir yang terpaku di tempat, takut di pecat bos Lewis.. Akhirnya dia memilih kembali kekantor.


Ana langsung naik keatas menuju presidential suite. Di saat ingin mengetuk pintu, kepalanya terasa pusing.. Adegan ini serasa tidak asing, dia merasa pernah mengalaminya dulu, tapi entah kapan.. Setelah kondisinya mulai stabil kembali, Ana menekan bel kamar tersebut. Tidak selang berapa lama pintu terbuka, dan keluar seorang wanita cantik memakai pakaian resmi yang sangat sexy, seperti seorang pekerja kantoran. Ana merasa legah karena kliennya memang seorang perempuan, tadinya dia cukup janggal dengan tempat pertemuannya. Syukurlah sekarang semua akan baik-baik aja.


"Silahkan masuk!" Wanita cantik itu membukakan pintu untuknya, tapi dengan raut muka yang jutek. Nggak ada manis-manisnya, benar-benar nggak ramah ni orang pikirnya.


Ana melangkahkan kakinya kedalam, dia cukup takjub melihat kamar yang sangat indah, dengan desain klasik.


"Duduk dulu, tunggu di sini saya mau keluar.."


"Baiklah," Ana duduk tanpa basa basi dan melihat wanita itu pergi dan menutup pintu. Padahal aku baru sampai, kenapa dia malah pergi. Mending melihat seisi kamar mewah ini.


Ana berjalan mengitari kamar yang sangat luas itu, dengan berani dia memasuki kamar tidur, baunya sangat maskulin. Bukan seperti bau parfum perempuan pikirnya. Dan disini juga tidak ada peralatan make up, malah hanya ada seperti minyak rambut dan peralatan laki-laki. "Ada yang nggak beres ini," Ana memberanikan dirinya membuka lemari pakaian dan sontak kaget melihat semua pakaian yang ada adalah milik seorang pria.


"Tunggu!"


Ana tersentak dan terdiam, "aduuh gawat, bagaimana ini.." Dengan wajah yang merasa bersalah Ana membalikkan badannya dan tepat di hadapannya tersuguhkan pemandangan yang indah. Air menetes dari rambutnya yang basah, mengalir diwajahnya yang indah, dan terus mengalir di dadanya bidang. Dan turun ke pinggangnya yang ramping dan menghilang di balik handuk yang dikenakannya. Ana menelan ludahnya sendiri, jantungnya berdebar-debar.. "Tapi tunggu. Kenapa ini presdir, kenapa dia yang ada dikamar ini.."


"Kenapa bengong!" Exel berpura-pura santai dengan kehadiran Ana di kamarnya.


"Uumm.. Presdir maaf, saya salah masuk. Tadi saya cuma mau mencari kamar mandi. Karena tidak tau mau bertanya kemana saya langsung masuk ke sini. Sekali lagi saya mohon maaf." Ana membuang pandangannya berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya.


"Masuk dan duduklah nona Ana.. Apa yang kau khawatirkan?" Exel tersenyum melihat sikap canggung wanita itu.

__ADS_1


"Tidak usah.. Saya akan menunggu di luar, permisi." Ana ingin bergegas pergi dari ruangan yang membuatnya terasa sesak.


"Kenapa terburu-buru.. Kalau aku menyuruhmu masuk, berarti masuk." Exel bersikeras ingin menahan Ana dikamar dengannya.


Ana berpikir sejenak, kalau aku kabur dia pasti berpikir aku takut dengannya.. "Yaudah kalau masuk ya masuk aja, siapa takut.. Huft." desahnya dan berjalan santai masuk kamar dan dengan santai duduk di tempat tidur yang sangat besar.. Ana membelai dan menekan kasurnya yang lembut dengan tangannya. Ini sangat nyaman batinnya.. Tapi pikirannya tiba-tiba tertuju kepada wanita cantik tadi, barusan sebelum aku datang pasti ada adegan panas di kasur ini.. Pikiran itu membuatnya kembali bangkit dari duduknya.


"Oohh yah, saya membawa desain dan pakaiannya di luar. Apa anda mau melihatnya sendiri atau menunggu pacar anda datang?" Ana ingin menghilangkan rasa canggung yang di rasakannya.


"Oke. Bawa kesini semuanya.."


"Kenapa bukan anda yang keluar tuan? Saya rasa akan lebih nyaman bagi kita ngobrol diluar, takutnya pacar anda datang dan dia salah paham nantinya.."


"Kamu tenang saja, tidak ada yang perlu di khawatirkan. Walaupun aku pemilik perusahaan, tapi aku tetap konsumen yang membeli desainmu."


"Dia benar juga.."batin Ana. Sebentar, saya ambilkan dulu.. Ana bergegas mengambil semua barang bawaannya dan kembali ke kamar Exel. "Ini tuan silahkan di lihat, dan pilih mana yang anda suka.."


Exel mengambil sebuah gaun berwarna merah, gaun yang sangat indah dengan punggung yang terbuka dan dada yang rendah. "Cobakan yang ini untukku, aku mau melihat apakah ini benar-benar bagus di pakai." Dengan acuh Exel melemparkan gaun tersebut kepangkuan Ana.


"Kenapa harus aku!" Ana mulai berteriak ingin marah, nggak terima dengan sikapnya, Ana nggak habis pikir dengan laki-laki ini.


"Ini adalah rancanganmu, dan kau yang harus mencobanya terlebih dahulu. Ini nyaman atau tidak.."


"Itu bukan kewenanganku.. Kalau nggak suka jangan dibeli, kalau tidak ada lagi yang perlu dibahas saya pergi dulu." Ana berlalu dengan wajah marah, enak saja pria itu memperlakukan ya seperti ini, mentang-mentang presdir jadi dia bisa seenaknya. Kalau tau bakalan kayak gini aku nggakkan menerima sekian dari banyaknya tawaran yang datang malah memilih perusahaan pria angkuh itu.

__ADS_1


Maafkan karena sudah lama nggak update๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™ aku bakalan up kalau ada mood. Kemaren2 itu sama sekali nggak ada keinginan untuk menulis. Kalau nggak ada keinginan itu, otakku buntu nggak tau mau menulis apa. Sekali lagi maaf yah๐Ÿค—๐Ÿค—


__ADS_2