Affair With My Boss

Affair With My Boss
Kekhawatiran


__ADS_3

Bukan perkara sulit bagi Arini untuk mencari kediaman milik keluarga Hermawan. Rumah mewah nan megah terpampang jelas didepan matanya. Rumah dengan cat berwarna putih dengan pagar yang tinggi membuat kemewahannya semakin terlihat.



Ternyata Arini udah ditungguin sama siempunya rumah, karena tanpa memperkenalkan diri satpam langsung menyuruhnya masuk begitu aja, "apa gak takut aku ini orang jahat yah," batinnya heran. Tampang jahat dari mana coba, orang mukanya imut gitu.


Arini melenggang masuk kedalam seperti tamu terhormat, pas masuk kedalam dia malah semakin tercengang melihat pemandangan menakjubkan yang ada didepan matanya. Dia nggak bisa menyembunyikan kekagumannnya hingga mulutnya terbuka karena takjub.


Dia berjalan santai manyusuri halaman rumah yang sangat luas. "Haaahh orang kaya emang mengherankan, mau mutar-muter keliling halaman aja kayaknya musti pake kendaraan bikin repot, karena kalau jalan kaki lumayan pegal juga.


"Waaduuuh capek juga," Arini nyesel banget tadi menolak tawaran pak satpam, buat dianterin masuk kedalam. Pake mobil kecil yang khusus dibuat untuk keliling area rumah. Sekarang baru tau, lututnya sakit. Dengan sibuk dia ngelap keringat yang bercucuran di jidatnya, sambil menghela napas berat.


Pintu rumah yang besar itu dibuka oleh pekerja wanita yang memakai seragam, sepertinya ART disini memakai seragam lengkap, kayak di film-film. Wanita itu menyuruhnya masuk dengan sopan.


Ternyata didalam gak kalah indahnya. Arini dipersilahkan duduk diruang tamu YANG bernuansa gold.



"Udah lama!!" tanya wanita cantik separuh baya, sambil menuruni anak tangga didepan nya. Wanita itu sangat elegan dan berusia sekitar 50 an, tapi masih sangat awet terjaga.


Ooh nggak.. Saya baru sampai kok bu!" Arini berdiri, dia yakin ini pasti nyonya rumah.


"Gak usah panggil ibu, panggil tante aja. Emangnya saya setua itu?" katanya tersenyum.


"Enggak kok buk, eh tante maksud saya, tante gak tua kok, malah sangat muda diumur segitu." jelasnya panik takut menyinggung nyonya rumah.


Perkataan Arini malah ditanggapi dengan senyuman oleh mamanya Exel. "Umur kamu berapa?"


"Saya 27 tante," buat apa ya mamanya presdir nanyain umur... "

__ADS_1


"Papanya Exel udah kasih tau, apa aja yang kamu kerjain?"


"Udah tante, bapak kasih tau saya buat kerjasama dengan WO nya, ngasih tau apa-apa aja yang disukai sama pak Exel," Arini menjelaskan.


"Tapi tante juga mau, kamu bujuk Exel untuk ikut terlibat di persiapan pernikahannya, karena tante ingin pesta nya nanti sempurna." ujar tante Hera lembut.


"Sa-saya tante.." Arini gelagapan, tapi saya nggak berani bujuk Presdir tante, kenapa bukan tante saja."


"Tante udah capek bujuk dia, tapi gak mau.." wajahnya memelas.


Arini malah gak tega liat mamanya Exel seperti itu, tapi dilain sisi apa kewenangannya. Mamanya aja gak bisa bujuk, apalagi dia. Semenjak kejadian waktu itu dia menghilang begitu saja, sebenarnya dia marah, sangat marah malah, tapi apa boleh buat yang nyuruh pimpinan. Arini gak bisa berbuat apa-apa selain pasrah, "saya akan coba tante, tapi kalau pak Exel gak mau, apa tante akan marah sama saya?" tanyanya cemas.


"Tante gak bakalan marah," katanya tersenyum. "Tapi kalau kamu berhasil bujuk anak tante, komisi kamu akan lebih gede lagi nantinya."


"Tawarannya cukup menggiurkan," batin Arini. Tapi dengan temperamen Exel, Arini gak yakin, dia malah takut ketemu Exel. Membayangkannya aja membuat bulu kuduknya merinding.


"Tuan lagi berenang nyonya," jawabnya sambil menunduk.


Tante Hera mengambil telpon yang ada di atas meja, dan langsung menelepon anaknya.


Diseberang sana..


"Halo," jawab Exel


"Udahan yah sayang berenangnya," pinta mamanya memohon. "Mama bawa seseorang buat jadi asisten pernikahan kamu, jadi kesini cepetan yah.."


"Mama lanjut aja yah, aku masih lama. Mama kan tau aku gak mau terlibat urusan begituan. Jadi mama aja yang atur, aku ngikut aja," jawabnya malas.


"Tapi sayang!!" teriakan mama cukup memekakkan telinga Exel.

__ADS_1


"Mam udah yah.." Katanya sambil menutup telpon kesal.


"Tuh kan disuruh ke sini aja gak mau, gimana dong Arini.. Acaranya entar bisa-bisa gak sukses, susah banget cuma nyenengin mamanya aja gak mau." gerutunya prustasi.


Tante Hera kedengerannya sangat prustasi dengan sikap anaknya, Arini jadi kasian. "Tante biar saya bujuk, dicoba aja kan tante.. Siapa tau pak Exel nya berubah pikiran."


"Iya sebaiknya kamu coba, tapi tante jadi pesimis. Tante sama tunangannya aja yang bujuk dia keukeh gak mau, apalagi kamu yah. Tapi bapak percaya sama kamu, berarti dia yakin kamu pasti bisa meyakinkan Exel. Yaudah kamu susulin aja langsung ke kolam. Tante ada sedikit urusan diluar, gak bisa nemenin kamu. Nanti di antar sama Sita aja yah, "ucapnya tersenyum dan memegang bahu Arini dengan lembut.


Ada perasaan hangat yang mengalir di hatinya, saat tante Hera mengelus bahunya. Ternyata beliau orangnya sangat hangat beda banget sama anaknya." Batin Arini mendengus."


Sepeninggalan tante Hera, Arini langsung menuju kolam renang yang keberadaannya sangat jauh, padahal dia udah berjalan dari tadi.


"Disini nona," ucap Sita yang mengantarkannya ke depan pintu kolam renang yang tertutup. "Nona masuk saja, saya nggak berani takut dimarahin tuan, biasanya tuan paling nggak suka digangguin kalau lagi berenang. Kalau gitu saya permisi.." ucap Sita dan bergegas pergi dari sana meninggalkan Arini sendiri, dengan perasaan cemas, marah, kesal dan benci sama orang jahat yang ada didalam sana.


Tanpa perlu mengetuk pintu, Arini langsung membuka pintu yang besar itu dengan sekali tarian. Didalam matanya disuguhkan pemandangan yang indah, ada taman dengan bunga-bunga yang indah mengelilingi kolam. Kemudian matanya tertuju kepada gemericik air dari dalam kolam. Siapa lagi kalau bukan Exel, bos-bos idola kaum hawa.


Dengan pelan dia masuk kedalam dan berdiri tepat disamping kolam, sambil menunggu dia siap berenang.


Exel merasa ada seseorang yang mengawasinya dari kejauhan. Karena itu dia langsung menghentikan aktivitas berenangnya, dan berbalik. Matanya melihat sosok yang cantik, memakai rok pendek, memakai sepatu hak tinggi, yang memperlihatkan kaki jenjangnya nan indah. Dia menuntun tubuhnya keluar dari kolam dan berjalan kearah Arini.


Arini gak bisa menahan diri untuk menelan air liurnya yang hampir meleleh. "Wanita mana yang menolak melemparkan diri kepelukan tubuh seksi itu," pikirnya sambil berusaha menahan rasa gugupnya. Mataku ternoda, Arini ingin memalingkan wajahnya, tapi niatnya urung.. Merasa rugi nggak melihat pria tampan didepannya.


"Ya ampuuuun.." Ni orang urat malunya dimana coba, dia berdiri dengan seenaknya didepan Arini hanya dengan mengenakan dalaman. Jarak mereka semakin tipis karena Exel terus berjalan kearahnya.


Dia malah terpaku ditempatnya dengan wajah memerah.


***


Beri tanda cintamu😍 like, comen and vote🤗🤗😘😘

__ADS_1


__ADS_2