Affair With My Boss

Affair With My Boss
Hukuman 2


__ADS_3

"A-apa yang kau lakukan!! Tidak! Jangan!!" Napasnya ngos-ngosan seperti orang sehabis berlari.. Ana tidak mampu melawan kekuatan pria yang ada diatasnya ini, tangannya terangkat keatas kepalanya tubuh Ana ditekan dengan cukup kuat.


"Briana..." desis Exel, "benarkah itu namamu?" lidahnya bermain di leher jenjang milik Ana. Hanya suara lirih yang mampu keluar dari bibir indahnya.


Perasaan malu campur aduk dengan gairah dan kemarahan yang tertahan.. Ana menggigit bibir bawahnya saat ciuman Exel berakhir dan berlama-lama digunung kembar miliknya. Jantungnya berdebar tak karuan..


"Presdir!! Maaf, biasakah kita bicara sebentar? Ada sesuatu yang penting yang harus saya kasih tau. Rara mengetuk pintu kamar Exel walaupun memang nggak dikunci dia tau itu. Dia juga nggak ingin melihat adegan Mereka yang sedang bermesraan didepan wajahnya. Pasti terjadi sesuatu didalam, sangat sunyi.. Rasa penasaran menghilangkan kesabaran Rara dengan cepat dia membuka pintunya tanpa harus menunggu jawaban dari dalam.


"Haaah! Maaf, sa saya tidak sengaja." Rara buru-buru kembali menutup pintunya, tangannya terkenal dengan erat. Exel tidak pernah mau melakukan hal itu padanya dia sudah sangat lama menunggu. Tapi wanita yang baru muncul itu menghancurkan mimpi yang sebentar lagi akan dia capai.


"Lepas! Pacar anda ada diluar!" Briana berteriak keras agar Exel mau melepaskannya.


"Pacar? Siapa yang kau maksud? Wanita yang barusan tiba-tiba masuk itu! Hahaaa, apa kau cemburu?" Exel bersemangat dengan reaksi Briana.


"Siapa yang kau maksud! Aku! Cih! Itu nggakkan terjadi!" Ana menegaskan hal itu.


"Benarkah? Aku malah senang kalau kau cemburu.." Exel menyukai reaksi yang diberikan Briana tepat dihadapannya, wajah wanita itu bersemu merah, dan bibirnya memerah karena ciuman gilanya.

__ADS_1


"Kau..." Ucapan Ana terhenti, dalam sekejap dia larut dalam lamunannya. Pria sialan ini membuatnya bergairah, bibirnya terasa bengkak karena ciuman mereka barusan. Itu adalah sensasi yang membuat seluruh tubuhnya terasa seperti mentega hangat, lembut dan goyah.


Tubuh polosnya masih dibawah tindihan pria itu, laki-laki itu cukup lama memandanginya, hal itu membuat Ana salah tingkah. Dengan gerakan lambat Ana membuang pandangannya dan memandangi pintu yang masih sedikit terbuka karena ulah perempuan tadi.


Di luar, Rara menahan kemarahannya. Adegan barusan sangat menyakiti hatinya, "oh Exel... Mau sampai kapan kau tidak memandangku seperti ini.." airmatanya jatuh kepipinya yang halus, dengan cepat Rara menyadari kelakuan bodohnya dan buru-buru menghapus jejak airmata. Belum ada wanita yang selamat setelah berusaha mengambil Exel darinya. Benar, dan tentu kali ini juga tidak." Briana... Kasian sekali nasibmu, baru sampai disini tapi sepertinya kedatanganmu hanya untuk memberikan nyawamu yang tidak berharga itu.. Rara tertawa dalam hatinya.


Baiklah untuk hari ini, kau boleh menikmati priaku untuk terakhir kalinya. Wajahnya menyunggingkan senyum penuh kelicikan. Tanpa menunggu Exel akhirnya Rara pergi meninggalkan orang-orang yang sedang memadu kasih.


Exel bisa mendengar bunyi klik pada pintu yang tertutup.. Hatinya kembali senang karena sekretarisnya telah pergi, itu tandanya tidak ada hal yang terlalu penting untuk segera diselesaikan secepat mungkin.


Pandangannya tidak lepas dari wajah wanita yang sangat dirindukannya. Tidak ada ketakutan yang tersirat dari wajahnya, tapi ada kegelisahan dan juga kemarahan yang tertahan karena tidak mampu untuk melawan.


Dengan berat Exel menahan sesuatu yang telah panas dibawahnya dengan meninggalkan tubuh wanita itu dan segera menjauh darinya menuju kamar mandi, untuk mandi air dingin supaya bisa menjernihkan otaknya yang panas.


Briana meraih selimut dan bergegas mengambil pakaiannya. Dia melakukannya dengan terburu-buru. "Dasar maniak mesum! tidak punya etika! Penjahat kelamin!"


Exel bisa mendengar sumpah serapah yang dilontarkan wanita itu untuknya. Wajahnya menyunggingkan senyum kepuasan karena berhasil menipunya, dan melampiaskan hasrat yang selama ini dia tahan.

__ADS_1


Dengan marah Ana meninggalkan kamar presidential suite, sebelumnya telah merapikan baju dan juga rambutnya. Dia sama sekali tidak ingin kembali ke kantor, pria itu membuatnya mood baiknya menghilang dihembuskan angin. Dengan jantung masih berdebar, Ana masih menggetutu dalam hatinya.


Supir taxi bisa tau kalau ada masalah dengan penumpangnya, tapi itu bukan urusannya dan dia hanya mendengarkan wanita itu menghembuskan napas berulang kali. Sesampainya dirumah, Ana mandi untuk membersihkan tubuhnya dari bau pria itu yang menggelitik hidungnya. Aroma yang sangat maskulin dan menggoda sisi kewanitaannya. "Sadarlah Ana... Ana menepuk pipinya agar sadar dari perasaan tergodanya.


Ana menatap tubuhnya dikaca, dan menemukan banyak jejak kepemilikan di leher dan juga dadanya. Dengan sekuat tenaga dia menggosok bagian tersebut agar cepat hilang. Yang membuat kulitnya yang seputih mutiara memerah karena perlakuan kasarnya. Dia memutuskan untk berendam agar aroma yang ditinggalkan pria itu benar-benar menghilang dari tubuhnya. Hal itu cukup membuat pikirannya rileks..


Beruntung baginya Noah sedang keluar bersama pengasuhnya, dan dia bisa tenang dengan masalahnya sendiri. Tanpa harus di tanya Noah dengan pertanyaan yang penuh selidik darinya. Anak itu entah dapat dari siapa sikapnya.


Ana keluar mengenakan jubah mandinya dan langsung mengeringkan rambut. Dia meraih ponselnya dan menelepon Lewis, kemudian menjelaskan padanya kalau dia sekarang sedang dirumah dan ingin beristirahat karena bertemu klien barusan membuatnya lelah dan cukup menguras energi.


Lewis mengerti dan menyesal untuknya, dan berjanji tidak akan menyuruh Ana bertemu dengan klien seperti itu lagi. Ana tersenyum dan senang dengan perhatian yang diberikan Lewis padanya. Dia pria yang sangat baik pikirnya, tidak seperti pria maniak yang barusan dia temui. Mengingat pria itu lagi, membuat jantung ya berdebar. Perasaan hangat menjalar diseluruh tubuhnya saat membayangkan pria itu memeluknya.


Bahkan ketika dia memikirkan lidah pria itu yang terkait dengan lidahnya, seluruh tubuhnya bergetar hebat dan tanpa sadar mengambil selimut dan menenggelamkan dirinya disana.


Exel telah menyelesaikan mandinya, dan juga mendapati Briana telah meninggalkan kamarnya. Tapi aroma tubuhnya masih tertinggal dikasur, Exel membelai tempat mereka bercumbu tadi dan membaringkan tubuhnya disana dan menghirup baunya sebanyak-banyaknya. Alangkah waktu berhenti saat wanita itu ada didekatnya dan pasrah dibawah tubuhnya. Exel mendesak berat, dia merasa perjalanannya masih panjang untuk mendapat cinta dan kepercayaan dari wanita itu.


"Briana..." desisnya. Alangkah baiknya kalau kamu memang Arini, dan Noah adalah anak kita. Anak itu sangat mirip dengan ibunya, matanya dan rambutnya semua sama. Besok dia harus mencari anak itu dan menggali informasi sebanyak mungkin darinya. Exel memikirkan hadiah apa yang harus dia siapkan untuk ibu dan anak itu. Bibirnya tersenyum membayangkan ide yang bersemayan diotaknya.

__ADS_1


Hai aku kembali ๐Ÿ˜๐Ÿ˜ bukan ngilang yah. Cuma lagi ngumpulin niat untuk menulis cerita ini ๐Ÿ‘Œmakasih buat kamu pembaca setia karyaku ini๐Ÿค—๐Ÿค—


__ADS_2