Affair With My Boss

Affair With My Boss
Butik


__ADS_3

Sesampainya di butik milik salah satu desainer ternama di Jakarta.


Dengan enggan Exel turun dari mobil, karena dipaksa Kanaya. Mereka berjalan bergandengan tangan. Sementara Arini mengikuti mereka dari belakang seperti kacung.


Seluruh karyawan butik menyambut mereka dengan hormat. Begitu juga dengan desainer nya.


Kanaya yang jadi ratu nya hari ini. Menyiapkan segala keperluannya yang terlalu banyak permintaan, desainernya pun langsung turun tangan untuk mengukur Kanaya dan Exel.


"Udah tau kan kak! kalau gaun ini musti disiapin hanya dalam waktu satu minggu. Pokoknya aku mau semuanya harus perfect." pinta Kanaya tanpa ingin dibantah.


"Iya manis.. Kamu tenang aja, kamu adalah prioritas pertama bagi kami.. " Kak Igut sangat tau dengan sifat Kanaya, bukan sekali dua kali membuatkan baju untuknya. Kanaya salah satu pelanggan VIP nya di butik yang memiliki segudang permintaan, kalau dia sudah datang semua pasti kerepotan mengurusinya.


Sementara Exel kembali duduk dengan gayanya yang angkuh, disalah satu kursi yang disediakan dibutik. Mereka melayaninya bagaikan raja, menyiapkan segala keinginannya. Termasuk memberikan camilan makan siang.


Arini hanya bisa berdiri membantu mereka melayani sang nyonya bos dan pak bos. Ternyata udah siang. Dia belum makan siang. Biasanya jam segini, dia selalu makan siang di kantor bareng Mely. Tatapannya fokus ke makanan yang ada dimeja. "Grok grok.." Bunyi perutnya menandakan dia lapar, Exel menoleh kearahnya.


"Lapar...?" tanyanya.


Arini menatapnya malu, apa sejelas itu bunyi perutnya. Benar-benar memalukan pikirnya. "Tidak pak," jawabnya dengan anggun. "Grok grok.." Perutnya gak bisa ikut kompromi dengannya.


"Itu apa?" tanya Exel iseng.


"Bukan saya pak! Mungkin orang lain." Arini ngeles aja kayak bajaj.


Exel tersenyum melihat tingkahnya, "sini! Makan camilan dulu. Entar abis dari sini baru kita makan siang."


"Tidak pak, tidak usah." Arini melambaikan tangannya. Saya makannya nanti aja," jawabnya canggung.


"Kak..!! Desain yang ini gimana? Suka nggak?" Kanaya berpose memperlihatkannya pada Exel.


"Aku ikut aja. Terserah, "katanya acuh.


"Okeh, baiklah.." Kanaya jadi murung karena sikap Exel padanya, sementara sikapnya sangat manis terhadap sekretarisnya itu. Kanaya semakin membenci wanita itu.


"Saya permisi sebentar Pak, mau ke toilet.." Kata Arini.


"Yaudah sana! Sekalian, gak usah balik-balik lagi kesini." ujar Kanaya ketus.


Arini sama sekali nggak peduli dengan perkataan Kanaya. Tapi dia malah kasihan sama gadis cantik itu, karena calon suaminya nggak setia.

__ADS_1


Arini kembali setelah menyelesaikan misinya di toilet. Arini berjalan kembali ke dalam butik. Kelihatan dari kejauhan Kanaya tengah berbincang-bincang dengan seorang pria yang tingginya hampir sama dengan Exel. "Siapa yah!" pikirnya penasaran.


"Iissst.." Kanaya berdecih sebel melihat kedatangan Arini. "Kenapa loe nggak jadi pulang!" tanyanya ketus.


Orang itu pun berbalik, dan wajahnya langsung berbinar melihat Arini.


"Arini!" Seru Raihan. "Ngapain disini?"


Tanpa Arini sempat menjawab, Kanaya lebih duluan menyela. Emangnya kakak kenal sama dia?" tanya Kanaya sama Raihan penasaran.


"Maksud kamu, Arini?" Yang di iyakan kanaya.


"Ya kenal dong.. Siapa yang nggak kenal sama cewek manis yang satu ini" , Raihan mendekat dan melingkarkan tangannya di bahu Arini. Exel juga kenal, malah kenal banget. Ya kan Xel? tanyanya menggoda Exel.


Yang ditanya pun tersenyum kecut dengan gayanya yang acuh tak acuh.


"Ya jelaslah kak, karena Arini itu kan manager di perusahaan kak Exel. Jadi wajar aja mereka saling kenal."


Raihan tersenyum kecut, "bukan cuma itu Naya..., masak Exel nggak pernah cerita. Arini itu kan mantan pacarnya Exel waktu SMA."


"Apa!!" Kanaya berteriak marah.


Semua karyawan butik melirik takut ke arah Kanaya. Mereka tau persis wanita itu, salah dikit aja, Kanaya langsung mencak-mencak dan malahan ada yang sampai dipecat.


"Rai! Jaga mulut loe! Nggak usah ikut campur." Exel berkata dengan nada yang tinggi.


"Sory Xel, gue cuma mau mastiin. Berarti sekarang Arini bebas kan, bukan milik loe lagi?" tanya Raihan dan memeluk bahu Arini dengan lebih erat.


Tatapan mata Exel mengeluarkan aura kemarahan. Sama sekali dia nggak rela, wanitanya disentuh pria lain. "Terserah loe!" katanya, sambil membuang muka. Isi hati dengan ucapan sangat berbeda.


Raihan tertawa senang, tanpa memperdulikan reaksi Exel yang sedang marah.


Kanaya sangat senang dengan ucapan Exel. Makasi sayang..., katanya manja sambil merangkul Exel. Sedangkan Arini, hanya terdiam mendengar pembicaraan mereka tentang dirinya.


"Boleh gak gue pinjam Arini? Lumayan kan, bisa bantuin nyokap pilih-pilih baju."


Boleh banget kak, silahkan bawa kemana aja yang kakak suka." Kanaya buru-buru menangapi saking senangnya.


"Nggak bisa. Arini udah disuruh nyokap, buat jadi asisten gue. Jadi loe gak bisa bawa-bawa dia seenaknya."

__ADS_1


"Kita gak perlu dia kak.. Entar Naya suruh WO nya kesini buat bantuin kita."


"Kamu mau membantah calon suamimu? Belum apa-apa udah berani!" ucap Exel marah.


Kanaya sama sekali nggakak bisa terima, hanya gara-gara perempuan itu, kak Exel malah membentaknya.


Exel dan Raihan saling menatap tajam, hanya mereka yang tau apa yang mereka pikirkan.


"Udah siap kan pilih bajunya? Kalau udah ayo kita pergi! Masih banyak yang harus disiapin." Ajak Exel sambil berjalan keluar butik tanpa mengacuhkan Raihan yang terpana ditempatnya.


"Permisi pak! Saya pergi dulu." pamit Arini sama Raihan, yang diiyakan Raihan dengan senyuman pahit.


Sampai sekarang Exel selalu unggul darinya kalau soal Arini. "Lihat aja Xel, kali ini gue nggak bakalan nyerah," batinnya.


Exel dan Raihan memang bersahabat. Karena itulah dulu Raihan mengalah akan cintanya sama Arini demi Exel.


"Nanti aku telpon, oke!" teriak Raihan sama Arini.


Iya kak," Arini memberikan senyum manisnya.


Exel melajukan mobilnya menuju restoran masakan Cina.


Dengan canggungnya Arini duduk dengan mereka, apalagi melihat tatapan Kanaya yang menusuk. Makanya tadi dia gak mau turun, tapi Exel malah maksa. Kali ini tempat yang dituju adalah hotel yang akan di pakai untuk resepsi nanti. Hotel mewah tentunya, dan seluruh kamar hotel dipakai buat tamu undangan VIP."


"Kenapa yah orang kaya musti repot-repot ngurusin semua ini, mendingan diserahin aja semuanya gitu sama WO. Kelar dah tuh." Arini jadi bingung, heran juga sama tante Hera, kalau memang beliau pengen anak dan calon menantunya itu berduaan, kenapa musti Arini disuruh-suruh jadi asisten segala. Walaupun memang buat ngurusin mereka, tapi kan, dia jadi pengganggu diantara mereka. Persis kayak nyamuk.


Kanaya memang miss perfect, banyak banget permintaan. Dia seperti nyonya bos yang angkuh..


Dan pak bos Exel, adalah si cuek. Yang lagi-lagi masa bodoh dengan sekitarnya.


"Kamu kesini, Jangan bengong aja disitu! Angkat ini!" perintah Kanaya. Arini diminta untuk memindahkan meja. "Yang benar aja, itu meja pasti berat banget," pikirnya. Dengan terpaksa dia mengangkat meja itu karena berat banget, dia malah menjatuhkannya dan menyenggol tas Kanaya. Dan meja tersebut menimpa kakinya. "Aaaaauuchh.....!!" Arini meringis dan berteriak kesakitan".


"Kamu becus gak sih! Percuma dibayar mahal-mahal tapi malah ngerusakin barang orang. Liat nih! Rusak kan! Memangnya kamu bisa ganti! Tas ini malah lebih mahal dari harga diri kamu!" Makian kanaya sampai ke telinga Exel.


Pelayan hotel hanya menunduk ketakutan dan kasihan sama Arini, mereka gak berani bantuin. Takut entar disemprot nyonya galak.


***


Mulai hari ini sepenggal cinta arini ganti judul jadi affair with my boss yah, karena menurut author judulnya kurang menarik minat pembaca, makanya diganti😁😁

__ADS_1


***


Haai👋 tinggal tanda cintamu buat penulis. Like, komen dan vote. Makasi🤗🤗


__ADS_2