Affair With My Boss

Affair With My Boss
Ke Dokter kandungan


__ADS_3

Sesi makan-makan udah, curhatan juga udah. Kalau udah kakak adek yang ketemu pasti heboh. Gak terasa udah ber jam-jam mereka ngobrol dan Lulu pun keingat pria itu lagi, ingat ciuman mereka tadi. Seenaknya aja cium orang sembarangan, perasaannya sekarang antara marah dan malu-malu mau. Dulu pernah pacaran sekali waktu awal kuliah, tapi pacarnya itu orangnya sangat pemalu, jadinya gak pernah ciuman bibir, paling cium pipi aja.


Lulu menatap kembali ponselnya yang sedari tadi dia pegang." Tapi tak kunjung berbunyi padahal dia kan tau nomor ku, bergumam."


Arini yang sedang duduk sambil makan buah, bisa menatap kegelisahan dari adeknya. "Kenapa dek? Ponselnya dipelototin terus dari tadi? Nungguin telpon dari siapa?"


"Ooh ini kak, lagi nungguin telpon dari teman."


"Ooowwhhh mungkin dia lagi sibuk, tadi dia kan juga bilang lagi banyak kerjaan dikantor.." Arini iseng nguji adeknya.


"Iya sih kak, tapi kan masak sesibuk itu sampai lupa hubungi aku." Tanpa sadar Lulu keceplosan. Eh, maksudnya teman aku itu lagi sibuk sama kerja part time nya."


"Oowhh gitu.." Arini berusaha menahan dirinya agar tidak menggoda adiknya lagi. " Yaudah entar bakalan hubungi juga. Makan buah nih biar sehat, "Lulu nyomot satu potong buah mangga.


Di kantor, tanpa sengaja Raihan berpapasan dengan seseorang yang mirip sama temannya Arini waktu SMA dulu. Tapi dia masa bodoh, yang mirip didunia kan banyak pastinya.


" Nak Rai, mau kemana!"


" Eh om, mau ke pabrik. Om sendiri mau kemana?"


"Ini mau keruangan HRD, ada ponakan yang mau masuk kerja disini."


"Orangnya yang itu? Raihan menunjuk wanita di samping pak Heru, wanita yang mirip sama teman Arini."


"Oh iya yang ini orangnya, kenalin ini ponakan om yang datang dari Bandung." Raihan menyambut uluran tangannya.


"Raihan."


"Saya Rara Marisa, mungkin bapak tidak mengingat saya lagi. Saya adik kelas bapak waktu SMA dan Junior bapak waktu kuliah di Amrik."


"Oohh iya saya ingat sekarang, temannya Arini kan?"


"Iya benar pak."


Arini lagi pikirnya, kenapa semua orang hanya mengingat nama perempuan itu.


"Yaudah silahkan om, saya juga buru-buru banyak urusan yang belum di selesaikan. Mari om! Sampai jumpa Rara! Semoga betah bekerja disini Raihan melambaikan tangannya."


Rara dan pak Heru kembali berjalan menuju ruang HRD. Di perjalanan Rara berpikir keras gimana caranya agar dia bisa menjadi sekretaris nya Exel.


"Aku kan cuma punya pengalaman menjadi sekretaris om, gimana kalau yang dikasih nanti bukan bidang aku?"


"Tenang aja, pengalaman kamu setahun ini sudah cukup buat om merekomendasikan kamu menjadi sekretaris Presdir. Kebetulan Lina sekretaris nya yang sekarang menjabat, butuh seseorang untuk membantunya, karena akhir-akhir kerjaan semakin banyak."


Rara tersenyum sumringah mendengar penjelasan om nya."Makasih om atas bantuannya."


"Memang itulah tujuan ku kesini, om sangat tau apa yang aku inginkan gumam nya."

__ADS_1


"Tidak masalah nak, bekerjalah yang baik. Buat kami semua bangga padamu."


Karena gak tamat kuliah diluar negeri, akhirnya Rara mengambil kuliah dengan jurusan sekretaris. Berharap suatu hari nanti bisa menjadi sekretaris nya Exel dan hari ini keinginan nya terkabulkan.


Di lain tempat,


" Bos, besok kita balik. Mau oleh-oleh apa untuk nona?"


" Ooh iya aku sampai lupa, thanks ren udah ngingatin. Exel menepuk pundak Reno."


Sebelum berangkat kemaren, Exel sudah memesan kalung dengan liontin 4D. Arini sangat menyukai bunga makanya dia berinisitif memilih desain motif bunga. Sangat puas dengan hasilnya, Arini pasti suka gumam nya.


Keesokan harinya Exel telah mendarat dengan selamat di Bandara. Karena Arini sedang hamil, dia ingin memberi kejutan yang spesial untuknya.


Ren!


Ya bos.


Siapin dinner nanti malam.


Baik bos.


Dengan semangat Exel mengendarai mobilnya menuju kediamannya bersama Arini.


Drrrtt.. Exel meraih ponselnya.


Halo mah..!


"Tadi lagi dipesawat. Kenapa mah?"


"Istri kamu pingsan nak.."


"Pingsan kenapa ma? "


"Kata Dokter, karena hamil jadi badannya cepat lelah."


"Apa! Hamil! Exel berteriak."


"Memangnya kamu gak tau? Suami macam apa yang tidak tau istrinya sedang hamil." Mama berteriak juga.


"Mana aku tau ma, kalau dia gak pernah ngasih tau."


"Yaudah cepetan kesini sekarang juga."


"Exel mematikan telpon. Brengsek! Maki nya."


Reno yang sedang nyetir dikagetkan dengan sumpah serapah bosnya. "Kalau bos mau aku bisa bertindak sekarang, itu bukan anaknya bos."

__ADS_1


"Tunggu bentar lagi, kita cari tau itu anaknya siapa? Aku gak mau bikin mama jadi shock."


"Baik bos, tapi saran saya jangan kelamaan, takutnya nanti nona salah paham. Seharusnya nona yang diakui sebagai istri sah nya bos karena sedang hamil cucu nyonya dan tuan besar."


"Loe benar. Tapi sekarang kita kerumah mama dulu, kita lihat bagaimana reaksi Kanaya."


Kejutan untuk Arini jadi tertunda.


Sudah 2 hari Arini menunggu telpon dari suaminya. Seharusnya hari ini adalah hari kepulangannya, tapi kenapa dari kemaren belum ada kabar. Arini sangat gelisah dan khawatir, apalagi hari ini adalah jadwal cek kandungan padahal dia ingin sekali Exel menemani. Di tunggu sampai sore tak kunjung ada kabar, Arini takut mengganggu kalau menghubungi duluan. Akhirnya dia mutusin untuk pergi sendiri dengan pengawalnya.


Dirumah sakit.


Anak anda sangat sehat nona. Jaga terus kesehatan, kalau bisa besok diantar sama suami supaya dia juga tau perkembangan janinnya.


Baiklah, terima kasih Dokter. Permisi! Arini pamit. Keluar dari ruang pemeriksaan tanpa sengaja melihat Kanaya keluar dari ruangan sebelahnya, Arini bisa melihat Kanaya diantar oleh mamanya Exel, mertua mereka berdua. Arini bersembunyi agar tidak ada yang melihat kehadirannya.


"Ibu dan janin sangat lemah, jagalah Kondisinya jangan sampai sang ibu stres." Dokter memberitahu.


"Baiklah Dokter terima kasih. Exel dan Dokter berjabat tangan. "


Dari kejauhan Arini mendengar suara suaminya, dan keluar dari tempat Kanaya tadi. Arini hanya memperhatikan kepergian Exel berlalu darinya. Kapan dia pulang gumam nya! Di pintu jelas tertulis kalau itu juga Dokter kandungan.


Dadanya sesak, melihat pemandangan keluarga bahagia barusan. Sedangkan dia hanya pergi sendiri, tanpa pernah ditemani oleh suaminya. Apa Kanaya hamil! Padahal dulu dia pernah bilang kalau tidak pernah menyentuh istrinya. Apa dia hanya berbohong pergi keluar negeri, padahal dia hanya ingin pulang kerumah mereka. Berbagai pikiran buruk memenuhi otaknya. Cairan bening mengalir turun kepipinya tanpa permisi..


"Mama aku mau ke toilet sebentar."


"Biar mama antar yah, mama mertua menawarkan diri." Dia tau Exel tidak akan mau mengantarkan istrinya.


"Gak usah mah, naya bisa sendiri. "Kanaya kembali masuk kedalam dengan alasan ingin ke toilet, padahal dia hanya ingin bertemu dengan Arini yang tanpa sengaja dilihatnya barusan.


Saya permisi sebentar nona, mau ke toilet. Riko beralasan padahal dia melihat Kanaya menghampiri nona nya, dia hanya ingin melihat apa yang ingin dilakukan oleh perempuan itu.


"Hai rin! Sudah lama disini? Maaf yah, tadi mas Exel nemenin aku cek kandungan. Kamu pasti sedih karena aku dan mas Exel sekarang sangat bahagia, dengan gaya yang pura pura mengiba. Kanaya mencibir melihat Arini yang tertunduk sedih. Ooh ya kamu ngapain disini? Hamil juga? Kanaya melihat Arini juga sedang memegang hasil usg ditangannya. Suamimu mana? Apa dia gak mau bertanggung jawab karena kamu itu hanya perempuan jalang. Hahahah tertawa penuh kemenangan."


"Iya aku hamil, Arini berdiri menghadap Kanaya. Sedari tadi emosinya sudah berusaha dia tahan, tapi ucapan Kanaya membuatnya semakin muak." Iya aku sedih karena melihat suamiku sedang pergi dengan istri pertamanya."


"Hah", jadi kau hanya istri kedua? Demi harta kau rela menjadi yang kedua! Hahaha, kasian banget. Kanaya sangat bahagia melihat penderitaan Arini."


" Iya, tapi kau lebih kasihan, karena suamimu mencintai wanita lain." Ucapan Arini sangat tajam.


" Kau pikir namamu masih tertera di hati mas Exel, namamu sudah lama dihapus dari kehidupan kami yang bahagia. " Kanaya berkata dengan penuh percaya diri."


Apa aku tidak salah dengar, kau bilang bahagia.. Hahaha Arini tertawa mengejek, yang membuat muka Kanaya berubah masam. Buktinya sekarang bukti cinta kami ada dirahimku. Permisi nona Kanaya!


A-apa maksudmu! Arini tunggu! Kanaya hendak menarik tangan Arini.


Saat itu muncullah Reno yang menahan tangan Kanaya dari nona nya, padahal ini adalah kesempatan bagus baginya karena tidak perlu banyak bekerja. Membiarkan Kanaya mencelakai Arini. Tapi itu hanya akan membuat Exel tidak akan percaya lagi padanya. Uang 1 Milyar yang ditawarkan Difo akan raup ditelan angin, dia harus lebih bijak mengambil tindakan.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2