
Nanti pulang kantor aku tunggu di basement.. Exel mengirimkan pesan pada Arini, ada yang ingin aku bicarain.
Arini yang sedang istirahat dikantor, melihat ada notif menandakan ada pesan di smartphone nya. " rasa laparnya menghilang, mendengar komentar pedas tentang dirinya. akhirnya dia memutuskan untuk balik keruangannya. Teman satu-satunya yang dia miliki telah membencinya sekarang. Arini menghembuskan nafasnya, hari ini sangat berat baginya 'tanpa ada tempat untuk mengadu'. Arini membaca pesan dari Exel.. Tanpa ada keinginan untuk membalas, Arini kembali meletakkan ponsel nya diatas meja.
Kenapa gak dibalas? Kamu baik-baik aja kan? Apa kamu sakit? Maafin aku, semua ini karena aku. Exel kembali mengirimkan pesan berharap dibalas. Setelah menunggu beberapa menit, belum satupun pesannya dibalas Arini. Di telpon "tapi nomornya gak aktif". Jangan bikin aku cemas kayak gini..geramnya.
Arini melanjutkan pekerjaannya, dia hanya ingin menyelesaikan semua pekerjaannya karena besok gak kan balik lagi ke kantor ini. Arini sengaja mematikan ponselnya, karena malas buat ngomong sama siapapun. Apalagi digroup kantor isinya hinaan kalau dia seorang pelakor. Dan membuat perusahaan merugi besar. Air matanya dari tadi ingin sekali merembes untuk keluar.. Tapi harga dirinya menahan semua itu.
Berapa nomor rekening loe! Kanaya mengirimkan pesan sama Mely. Karena informasi dari Mely Kanaya jadi tau tentang hubungan suaminya dan perempuan itu.
Gak perlu mbak! Saya gak butuh itu, saya hanya ingin kebenaran ini terungkap, sahut Mely yakin. "dia sama sekali gak kekurangan uang, informasi yang diberikannya pada Kanaya, semata-mata karena kecewa dengan sikap Arini". Mely gak pernah menyangka, sahabatnya yang dia kenal sangat baik dan polos ternyata seorang perempuan gak benar dan seorang pembohong. Dia sangat membencinya. Dan merasa bersyukur tidak perlu lagi melihat dia dikantor.." Apa iya dia bersyukur atau malah akan kehilangan". Mely hanya terisak karena kehilangan seorang sahabat. "apa aku terlalu kejam, pikirnya".
"Yaudah kalau loe gak mau. Kalau ada apa-apa loe tinggal ngomong ke gue, ucap Kanaya. "Bodoh banget dia, padahal gue rela membayar dia berapapun karena berkat dia dengan mudahnya menghancurkan Arini".
"Kanaya tertawa senang, karena ide brilian mamanya dan berkat bantuan papa dan informasi dari Mely semua berjalan lancar. Sekarang tinggal mengeluarkan rayuan maut agar bisa mendapatkan hati suami, pikirnya. Sampai sekarang Exel belum menyentuhnya, emangnya gue kurang apa coba.. Sambil melihat pantulan dirinya dicermin".
Exel buru-buru melangkahkan kakinya menuju basement, Arini pasti udah keluar. "Kamu gak kan bisa menghindari aku".. Exel mengendarai mobilnya keluar kantor, Benar aja Exel bisa melihat Arini yang sedang menunggu ojol didepan. Sebelum Arini bisa naik, Exel telah menarik tangannya terlebih dahulu.. Ayok ikut!! Biar aku yang antar, perintah Exel memaksa.
Lepas.. Lepasin saya! Saya bisa pulang sendiri. Bapak gak perlu lagi ikut campur urusan saya. Sambil menarik tangannya dari genggaman tangan Exel. Tapi Exel sama sekali gak mengindahkan permintaannya.. Arini malah ditarik dan didorong masuk kemobilnya. Pak! Gimana kalau ada yang liat kita..
Memangnya kenapa! Aku bos nya disini, kalau ada yang berani bergunjing aku gak kan segan-segan memecat mereka.
Terserah! Ucap Arini pasrah, dia malas berdebat. 'Capek'. Kepala batu yang satu ini gak kan pernah mau mengalah. Kepalanya disandarkan dikursi mobil.. Sangat nyaman. Matanya terasa berat.
Cekrek.. Cekrek.. Beberapa karyawan melihat Arini ditarik masuk Presdir ke mobilnya.. Ya ampuuun! Ternyata dia simpanan Predir.. "Sambil menutup mulutnya antara percaya dan tidak, kalau itu sih aku juga mau, rengek temannya yang satu lagi ngiri". Beruntung banget dia..
"Tetap aja itu suami orang! ucap Mely sambil berlalu, yang gak sengaja mendengar pembicaraan mereka..
Bukannya dia itu sahabat loe! Kenapa sewot! Bilang aja loe ngiri.. Semua cewek dikantor ini pada naksir sama si bos. Muna aja loe kalau gak mau ngaku! Katanya meninggalkan Mely yang terpaku ditempatnya.
"Apa iya, aku ngiri sama Arini. Memang sejak awal aku sangat mengagumi Presdir, tapi juga sadar diri gak kan bisa memilikinya 'aku bukan siapa-siapa.. Tapi kenapa musti Arini, yang sejak awal sama sekali gak tertarik dengan Presdir." Ternyata dia hanya pura-pura, agar leluasa menggaet si bos". Pikiran Mely hanya berisi tentang keburukan Arini.
Mau makan? Exel bertanya namun gak ada sahutan, ternyata Arini sudah tidur. Maafin aku.. Exel membelai pipi Arini sekilas. Kamu terlalu banyak menderita..
__ADS_1
"Arini terbangun karena ada sesuatu yang lembut mengusap pipinya. Arini menoleh dan melihat Exel yang sedang menatapnya. Arini merasa malu karena ketiduran tiba-tiba seperti ini.
" Tidurlah.. Kamu pasti capek. Kita ke Apartemen aku sekarang.. "
" Tidak. Tidak perlu. Aku mau pulang pintanya, perkataan Exel membuat matanya jadi melek.
Gak usah khawatir.. Gak ada yang tau Apartemen ku yang ini.
Justru itu, semakin gak ada yang tau. Maka Arini semakin takut berduaan dengan Exel. Aku mau makan.. Lapar.
Yaudah kita makan dulu, trus ke tempat ku.
Saya gak bisa ikut bapak.. Setelah makan saya mau pulang. Seminggu lagi saya berangkat ke Bandung.
Aku takut nanti ada yang gangguin kamu, kamu kan cuma sendirian dirumah, kalau ada apa-apa gimana..!
Gak ada juga yang tau alamat saya pak. Cuma bapak sama Mely.
Tapi disurat lamaran kan ada alamatnya.. Jangan ngebantah lagi, abis makan kita langsung ke Apartemen atau mau ke tempat lain dulu?
"Yaudah.. Nurut yah, demi keamanan juga, ada bagusnya kamu pindah ke Bandung, aku jadi lebih tenang. Kanaya gak kan bisa gangguin kamu lagi.."
Apa maksudnya! Dengan istri bapak gangguin saya!!
"Exel menarik nafasnya.. Dan terdiam sejenak, karena merasa malu sama Arini. Yang membuat fitnah tentang kamu itu adalah Kanaya".
"Huummm.. Arini menundukkan wajahnya sedih, airmata yang ia tahan dari tadi akhirnya keluar tanpa permisi".
Kenapa? Please jangan nangis.. Aku janji Kanaya gak kan bisa berbuat jahat lagi sama kamu.
"Arini menggeleng-geleng kan kepalanya.. Wajar dia bersikap seperti itu, kalau saya yang ada diposisinya mungkin akan bersikap seperti itu juga.. Wanita mana yang ingin di madu." karena madu yang ini pahit bukan manis" isaknya.
"Exel tersenyum, karena disituasi seperti ini Arini masih bisa bercanda. Exel menghentikan mobilnya disebuah restoran masakan Padang. Mungkin dengan makanan pedas, kamu bisa sedikit tenang dan gak sedih lagi."
__ADS_1
Arini setuju pilihan Exel, ini adalah masakan favoritnya dari dulu. Mereka berjalan masuk kedalam, Exel memegangi tangannya seperti sepasang kekasih. Lepas pak! Nanti ada yang salah paham.. Exel tetap memegang tangannya masuk kedalam. Akhirnya dia hanya bisa nurut.
Di hidang ya uda..! Pinta Exel.
"Arini memilih ikan Bakar. Rasanya sangat enak, perut yang kosong telah diisi.. Tapi hati yang kosong malah diisi suami orang". Arini tersenyum kecut melihat pria tampan didepannya. Mereka makan dengan lahap, menghabiskan separuh hidangan yang ada".
"Perut kenyang, mata pun berat. Arini benar-benar mengantuk sekarang.. Arini ketiduran di mobil Exel yang wangi seperti orangnya.
" Exel melaju menuju Apartemennya.. Exel membawa Arini yang sedang tidur ke atas kamarnya ala bridal style. Membaringkannya dengan hati-hati di tempat tidur agar tidak membangunkannya". Exel pun berbaring disamping Arini, sambil menatap wajah wanita yang sangat dikasihinya.
"Arini membuka matanya, badannya mulai terasa segar.. Tidur yang cukup bisa membuat tubuhmu pulih dari lelah dan lebih fresh. Bola matanya diputar-putar karena gak mengenali tempat ini, dimana aku?
Di Apartemen ku.. Sahut suara serak disampingnya.
'Haaah'.. Arini berteriak sambil menutupi tubuhnya dengan selimut. Padahal dia masih berpakaian lengkap. Ke-kenapa aku disini? Seingatku tadi setelah makan.. Aku gak ingat apa-"apa lagi. Apa aku ketiduran..
Exel tersenyum melihat Arini. Gak usah khawatir, kita belum ngapa-ngapain kok!
Arini melotot.. Belum! Maksud bapak! Arini mulai cemas. Dan merapatkan kakinya.
"Hahaha".. Udah sana mandi pintanya sambil tertawa, badanmu bau menyan.
Enak aja! Wangi tau..Arini mendengus kesal. Bajunya mana!
Tuh disana, udah aku beliin.
"Niat banget sih pak. Saya mandi dulu, awas kalau ngintip, matanya kena colok ulat nanti.
" Hahaha.. Iya sana. Kata Exel melambaikan tangannya, atau mau aku mandin!
Arini langsung ngaciir.. Mereka udah seperti pasangan baru menikah.
***
__ADS_1
Hai salam sayang dari aku, bantu like, komen dan vote nya yah🤗🤗