
Arini dan Mely makan sambil ngobrol dikantin, sejenak Arini bisa melupakan kejadian tadi pagi, berkat sahabatnya Mely.
"Gimana bos baru, orangnya baik nggak? Atau malah pemarah? Kalo diliat dari deket makin cakep gak? Napas nya harum nggak?" tanya Mely bertubi-tubi.
Pertanyaan Mely membuat Arini kembali mengingat kejadian tadi pagi. Muka Arini seketika langsung berubah.
"Hei! Kenapa malah bengong? Kesambet? Dijawab dong Arin.."
"Hah, jawab apa?" tanya Arini nggak fokus.
"Emangnya dari tadi gue ngomong nggak loe dengerin?"
"Denger kok.."
"Kalo denger jawab dong.." Mely kesal.
"Yah.. Napas nya wangi," jawab Arini spontan. Di lihat dari dekat lebih cakep lagi." Kata-kata itu diucapkan Arini sambil menatap seseorang yang sedang berjalan kearahnya, orang yang sama yang sedang mereka bicarakan. Dadanya kembali berdebar-debar.
"Kenapa dengan dadaku, kok malah gak beraturan gini.. Kenapa musti masih berdebar-debar melihat orang itu." Arini kesal sama diri sendiri. Yang nggak bisa membencinya.
Exel dan Reno yang selesai meeting dengan investor segera kembali ke kantor. Tapi saat melewati kantin Exel tanpa sengaja melihat Arini yang sedang makan bersama temannya. Tanpa pikir panjang Exel malah masuk ke dalam, yang membuat suasana kantin seketika menjadi hening.
Semua karyawan wanita hanya sibuk bisik-bisik mengagumi bos baru mereka. Gak ada yang berani bersuara keras, takut presdir marah. Karena ini pertama kalinya seorang presdir makan di kantin karyawan.
Ibu kantin buru-buru meladeni presdir untuk makan. Pak Hermawan dulu tidak pernah makan dikantin, hal ini malah membuat gugup karyawan kantin.
"Tidak usah sungkan bu! saya cuma mau nasi goreng sama jus udah itu aja," sahut Exel tanpa mengalihkan tatapannya dari Arini.
"I-iya pak.." sahut ibuk kantin tergagap.
Arini tidak sanggup mengangkat wajahnya karena tidak mau bertatapan dengan Exel. Hal itu membuatnya jadi gak berselera makan.
"Kok jadi hening gini yah," kata Mely melongo. "Loe juga rin kenapa malah nunduk terus dari tadi?"
"nggak kenapa-kenapa Mel...Laper banget masalahnya," sambil pura-pura makan dengan lahap dan melirik ke arah Exel yang sekarang lagi ngobrol sama Reno. Arini bisa bernapas legah, karena Exel nggak menatapnya lagi.
Tingkah Arini tak luput dari pandangan Mely. Dia pun langsung menoleh kebelakang, dan melihat pria yang selama ini di pujanya sedang duduk santai dikursi kantin.
"Aaaaahhh.." Mulut Mely langsung membulat melihat Exel, untung dia nggak berteriak saking histerisnya dan terpaku di tempatnya.
__ADS_1
"Mel.. Sadar!" ucap Arini menyadarkan temannya. "Jangan sampai Mely mempermalukan dirinya sendiri," batin arini.
"Arin kenapa loe gak bilang dari tadi, rugi kan gue," sahut Mely yang mengganti posisi duduknya di dekat Arini agar bisa langsung menatap ke laki-laki pujaan hati.
"Ooh iya lupa," Jawab Arini tersenyum.
"Arin... Kenalin dong, loe kan udah kenal," rengek Mely.
"Nggak bisa Mel.. Gue gak enak, coba deh loe liat dia kan lagi makan. Apalagi itu presdir Mel bukan sembarangan orang. Ntar gue malah dimarahin, presdir itu orangnya galak." jawab Arini tanpa dibuat-buat.
"Tapi Rin.." Rengek Mely lagi.
"Ntar-ntar aja yah Mel tunggu momen yang tepat ," Jawab arini.
"Oke kalo gitu," pasrah. Mely mengadu-aduk makanannya karena tiba-tiba selera makannya menghilang.
Exel dan Reno meninggalkan kantin. Karena Exel sudah gerah melihat cewek-cewek di sana yang sibuk meliriknya, tapi Arini sama sekali nggak menggubrisnya.
"Sok jual mahal tu cewek, aku pasti bisa mendapatkanmu tanpa harus memaksa. Kau sendiri yang akan menyerahkan diri padaku." Exel tersenyum penuh kemenangan.
Ternyata menjadi Presiden Direktur sangat menyita waktu Exel. Banyak sekali yang harus dilakukan. Meeting hari ini udah 5 kali. Belum lagi banyak yang perlu ditanda tangani karena mau peluncuran produk baru. Exel merebahkan badannya di sandaran kursi, sambil memejamkan matanya, "sangat nyaman" pikirnya.
"Masak harus nemuin dia lagi, malas banget sumpah!" batin Arini. Karena Exel itu orang yang paling nyebelin di dunia ini. Arini mendengus dalam hati.
Kerjaan sebagai manajer keuangan membuat Arini jadi sering bertemu pimpinan, ini yang jadi di lema baginya, setiap ketemu Exel, Arini merasa kehilangan tenaga. Gak mampu melawan apa yang dilakukan Exel padanya.
"Apa aku titipin Lina aja yah sekretaris Exel, nggak mungkin itu namanya gak bertanggung jawab," batinnya sambil geleng-geleng kepala. Ujung-ujungnya harus nemuin dia juga Arini berteriak dalam hati rasa ingin menangis tanpa air mata. "Kamu harus kuat Arini, kamu udah lama menginginkan posisi ini dan gajinya sangat besar bagimu," cukup untuk kebutuhan seluruh keluarganya. Jadi aku harus bisa tahan dengan sikapnya padaku," batin Arini.
Arini pun berjalan menuju ruangannya Presdir, "Lin..! Bapak ada?"
"Ada mbak," jawab Lina ramah, "tunggu sebentar, saya tanya bapak dulu.." Langsung di balas dengan anggukan oleh Arini.
Arini gak perlu menunggu lama, dia pun di persilahkan masuk oleh Lina.
Arini memasuki ruangan presdir sambil berusaha menguatkan hatinya agar tidak goyah melihat Exel.
"Tok tok..!"
"Masuk," pinta Exel.
__ADS_1
"Permisi pak, saya mau menyerahkan laporan keuangan yang baru," kata Arini sambil menyodorkan ke arah Exel.
"Hhhmmmm.." Exel hanya berdehem pelan sambil masih terus memejamkan matanya.
"Kalau gitu saya permisi undur diri.." kata Arini berniat untuk pergi.
"Gimana menurutmu?" Tanya Exel.
Arini kembali membalikkan badannya, "menurut saya laporannya sudah tepat pak. Tinggal pemeriksaan dari bapak."
"Baiklah. Kau kembali ke sini, kita lihat kerjamu gimana.
Arini kembali mendekat, di depan meja presdir.
"Berdiri di sampingku!" titah Exel sambil melambaikan tangannya agar Arini mendekat padanya.
Dengan bimbang, Arini berjalan mendekati Exel yang masih tiduran di kursinya.
"Mana," pinta Exel sambil mengulurkan tangannya dengan malas. Exel malah tersenyum licik, tiba-tiba harinya kembali cerah karena kehadiran wanita ini.
"Ini pak," kata Arini malas. Yang tanpa diduga malah tangannya yang ditarik oleh Exel kearahnya.
Tubuhnya malah berakhir di pangkuan pria itu..
Exel langsung merengkuh tubuh Arini dan menahannya. Untuk sesaat mereka hanya saling menatap, setelah sadar Arini berusaha melepaskan diri dari Exel. Posisi mereka sangat intim, dan apalagi pria ini adalah bosnya sekarang.
Dengan sigap Arini melepaskan diri dari pelukan Exel. "Saya permisi," Arini buru-buru kabur menuju pintu dengan pipi memerah, "orang ini benar-benar nyebelin." batinnya kesal dengan reaksi tubuhnya sendiri.
"Arin tunggu.." Exel bangkit untuk mengejar Arini yang buru-buru pergi keluar.
Langkah Arini terhenti oleh tarikan Exel di tangannya, "apa lagi.. Aku mohon jangan ganggu hidupku lagi..." Arini memohon dan mendorong Exel darinya, tapi pria itu bergeming. Tangannya dengan erat merengkuh bahu Arini.
"Exel.. Arin." Panggil orang itu agak heran dengan situasi yang terjadi. "Ada apa?" tanyanya heran.
Exel lupa mengunci pintunya. "Sialan kau Raihan!"
****
__ADS_1
Berikan kesan yang baik untuk penulis.