
"Kak Rai!" Arini kaget dan langsung melepas pegangan tangan Exel.
"Ada apa Rai? Lain kali tolong ketuk pintunya," kata Exel kesal.
"Sory Xel, gue pikir loe gak sibuk. Ada yang perlu gue bicarain sama loe, masalah kerjaan."
"Yaudah yuk masuk.."
"Saya permisi Pak," Arini tersenyum ramah kearah Raihan dan bergegas pergi. Raihan menganggukkan kepalanya.
Raihan orangnya baik dan ramah, beda banget sama orang itu, huft." Arini sibuk menggerutu dalam hati.
"Gimana rancangan produk yang gue usulin kemaren Xel? Bisa diterima?"
"Gak ada yang perlu di khawatirkan, Reno sudah mengurus semuanya."
"Sory, gue khawatir aja. loe tau sendiri kan.. Ini salah satu pembuktian gue ke bokap. Bokap pengen lihat gimana hasil pencapaian gue selama kuliah di luar." Kalau memang semuanya udah clear, gue bisa tenang sekarang." Raihan merasa puas." Gue dengar resepsi loe ntar di Bali yah?"
"Nyokap si pengennya gitu. Tapi, kita liat ntar, gue malas bolak balik, kemungkinan tetap di Jakarta."
"Karyawan loe diundang gak?" Raihan berharap Arini juga ikut hadir di sana.
"Yaah di undanglah.. Masak bos yang pesta, karyawan gak di undang. Rencananya seluruh karyawan mau di liburkan pas hari itu, tumben loe nanya-nanya?"
"Siapa tau aja nama gue kelupaan? Hehehe."
"Nggak usah khawatir..." sahut Exel nyengir.
"Kalau gue boleh tau, tadi loe sama Arini ngapain?" tanya Raihan ragu.
"Kita memang teman, tapi ingat aja batasannya." Exel menegaskan, agar Raihan tidak masuk ke area pribadinya. "Kalau masih ada yang lain, loe bisa konfirmasi ke Reno." Secara tidak langsung Exel ingin mengusir Raihan dari ruangannya. Kalau soal Arini, Exel memegang agak sensitif, masalahnya dia tau kalau Raihan dulu menyukai Arini juga.
"Iyah gue tau.. Sory, karena setau gue kalian udah gak ada hubungan apa-apa lagi." Kalau gitu, permisi. Maaf sudah mengganggu waktu Presdir," Raihan membungkukkan badannya hormat.
Keesokan harinya.
Arini meregangkan badan yang baru bangun tidur." Haaah.. Segarnya," kalau cukup tidur membuat energi di tubuh kita kembali meningkat. Kemaren dia benar-benar pusing, pusing mikirin pria itu, entah kenapa gara-gara dia, semua pikirannya tersedot olehnya. Arini sampai malas untuk mengingat sekedar namanya aja, untung sekarang hari sabtu.
"Senangnya.. Gak perlu ketemu gorila selama dua hari." Dia ketawa cekikikan sendiri.
Tiba-tiba ponselnya berdering, Mely tertera di layar ponselnya.
"Halo mel..!"
"Arin hari ini loe kemana jalan yuk!" tanya mely.
"Gak ada, rencananya di rumah aja." Emangnya mau jalan kemana?"
"Biasa ke mall.. Pengen nongkrong aja di kafe."
"Yaudah jemput gue ntar lagi, mau mandi dulu."
"Okeee!" seru Mely semangat.
"Lumayanlah dari pada diam gak jelas di rumah," pikirnya.
__ADS_1
Sesampainya di Mall, Arini dan Mely memilih makan di salah satu kafe favorit mereka, tempatnya cukup sepi.
"Di sini aja yuk Mel.. Mumpung sepi, males aja di tempat yang rame," pinta Arini. Yang di iyakan langsung oleh Mely.
Arini dan Mely lagi nungguin pesanannya datang.
"Rin.. Arin!" panggil Mely menggoyang-goyangkan tangan Arini.
"Ada apa!!" tanya Arini heran.
"Ada pak Exel Rin.." jawab Mely dengan mata berbinar-binar.
"Mana?" Arini celingak celinguk mencari keberadaan orang yang di maksud. Dan akhirnya menemukan di mana posisi Exel berada."
"Sepertinya dia lagi meeting, bisa-bisanya ada kebetulan seperti ini. Sebanyak itu restoran atau kafe, kenapa dia malah milih makan disini, huft.." Arini mendesah sebal.
"Pesanan kita udah datang.." ucap Arini, yang tak di gubris Mely. "Exel terlihat berdiri dan menyalami orang itu satu persatu. Sepertinya meetingnya udah kelar Rin," seru Mely.
Dari kejauhan Exel bisa melihat Arini dengan jelas, Exel pun segera menghampirinya.
"Hai, berdua aja? tanya Exel.
"Iyaah pak!" jawab Mely kegirangan.
"Boleh gabung?" Exel langsung duduk di kursi di hadapan Arini.
"Boleh banget pak!" Mely antusias, sementara Arini hanya diam karena tatapan Exel dari tadi gak pernah lepas darinya.
"Bapak mau pesan apa?" tanya Mely.
"Saya pesan minum aja, udah makan tadi." Mely langsung memanggil pelayan.
"Abis ini kalian mau kemana?"
"Kita mau pulang pak," jawab Arini yang pengen cepat-cepat pulang karena gak tahan dekat Exel lama-lama. Ini hari minggu dan Arini pengen santai, tapi Exel malah membahas pekerjaan dengannya.
"Oke kalau gitu saya antarkan. Kalian gak bawa mobil kan?"
"Ng-nggak kok pak, tadi kita naik taksi." Mely buru-buru menanggapi agar Arini nggak keceplosan kalau dia membawa mobil, Mata Arini langsung melotot.
"Yaudah kalau gitu aku antar pulang," kata Exel, yang disambut kegirangan oleh Mely dengan senyum merekah.
Arini menyikut lengan Mely, "hei! Trus mobil loe mau di kemanain!" sambil berbisik.
"Biarin aja, ntar di jemput sama supir di rumah." balas Mely dengan bisikan juga. Arini benar-benar gak habis pikir sama sahabatnya itu.
"Kalian tinggal dimana?" Exel ingin ngantar, karena ingin tau dimana alamat Arini sebenarnya.
"Kalo saya di Jakarta Pusat pak, kalo Arini di Cakung Jakarta Timur," jelas Mely.
"Kalau gitu saya antar kamu dulu ya Mel, karena rumah kamu lebih dekat dari sini." ucap Exel.
"Uummm iya pak.." Jawab Mely kecewa, padahal masih ingin berlama-lama dengan bosnya, tapi Mely bisa apa hanya bisa pasrah.
Exel membawa mobil mewahnya menuju rumah Mely, Arini yang duduk dibelakang hanya mendengarkan mereka berdua ngobrolnya cukup asik di depan, sepertinya Mely udah mulai akrab sama pak Exel. Tadi dia buru-buru ambil posisi duduk di belakang dengan sengaja, Exel melotot padanya. Mely malah kesenangan.
__ADS_1
Akhirnya mereka sampai di rumah Mely. Rumahnya bagus, karena Mely memang dari keluarga berada.
"Mau mampir dulu pak?" Ajak Mely berharap.
Nggak usah lain kali aja, kalau ada kesempatan." jawab Exel berasa-basi tapi ditanggapi serius oleh Mely.
"Mel aku balik dulu yah!" seru Arini dari dalam mobil.
"Oke rin, hati-hati yah. Daaah.. pak Exel," seru Mely bersemangat.
Mobil Exel pun melaju dengan kencang kearah rumah Arini, dan tiba-tiba mobilnya berhenti.
"Pindah kedepan, aku bukan supir. Perjalanan masih cukup jauh dari sini," pinta Exel.
Arini pun ragu-ragu pindah kedepan, diperjalanan mereka hanya diam. Suasana hening ini membuat Arini jadi canggung, "ini semua ulah Mely, padahal tadi pengen bebas dari ni orang.." Arini kesal sendiri.
Akhirnya rumah kontrakan Arini udah keliatan, "saya berhenti disini pak, ini rumah saya." kata Arini yang melihat Exel agak ragu.
"Uuummm.." jawab Exel.
Sebelum turun, Arini mengucapkan terima kasih pada Exel. Arini turun dari mobil dan diikuti oleh Exel dari belakang.
"Kol sepi? tanyanya. Kamu tinggal sama siapa?"
"Saya tinggal sama lulu adik saya." jawab Arini datar.
"Dimana dia, kenapa keliatannya tidak ada orang?"
Lulu lagi pulang kampung, kebetulan lagi libur semester.
"Berani sendirian dirumah?" Exel sangat penasaran dengan kehidupan wanita ini.
"Saya sudah biasa.. Nggak ada masalah." Arini berjalan masuk ke rumahnya, "kalau gitu terima kasih udah anterin saya."
"Aku pengen masuk, dimana sopan santunmu! Kenapa tidak mempersilahkan tamu untuk masuk..!!"
"Saya pikir tadi bapak sedang buru-buru.." sahut Arini beralasan.
"Nggak kok, aku lagi santai. Pengen nyobain cofee buatanmu." sambil nyelonong masuk rumah Arini.
"Ni orang plin plan banget, tadi katanya sibuk. Apalagi maunya sekarang. Siapa yang gak khawatir coba, punya bos kayak gorila gini. Sebentar-bentar ngamuk, trus tiba-tiba baik, pasti ada maunya."
"Kalau gitu silahkan duduk pak..."
Exel melangkahkan kakinya masuk. "Ini rumah atau kamar mandi, kecil banget," pikirnya. Tapi rumahnya bersih dan rapi, gak terlalu banyak barang, yang punya pasti sangat simpel. Exel masuk dan menjelajahi setiap senti rumah Arini tanpa diminta.
"Bapak mau kemana? Mau ke toilet?" tanya Arini yang melihat Exel kearah belakang rumahnya.
"Nggak, cuma liat-liat aja kamu bersih apa nggak!" olehnya sombong.
Di belakang, Exel melihat pakaian yang berjejer diatas tali jemuran, yang menarik perhatiannya adalah pakaian dalam Arini. bibirnya menyunggingkan senyum penuh makna. "Sepertinya ukuranmu cukup besar!" Seleramu juga cukup bagus." kata Exel sambil menyeringai nakal kearah Arini, muka Arini bersemu merah saking malunya.
"Ni orang sukanya bikin malu, etikanya dimana sih. Nyelonong masuk rumah orang tanpa permisi, pake acara liat pakaian dalam segala.. dasar cabul." gumamnya pelan.
"Silahkan minum kopinya pak!" Arini berjalan keruang tamu, mempersilahkan Exel untuk duduk. Exel pun menuruti permintaan Arini sambil menatapnya dari belakang, "bodynya oke juga," pikir Exel.
__ADS_1
"Dulu bodynya Arini terbilang kecil dan mungil, sekarang malah padat dan berisi. Tubuhnya lumayan tinggi sekarang, dengan bokongnya yang montok, membuat Exel menelan ludahnya sendiri. "Kenapa ruangan ini tiba-tiba jadi panas," pikirnya.
****