Affair With My Boss

Affair With My Boss
Pernikahan singkat


__ADS_3

Pernikahan mereka berlangsung dengan lancar, tanpa Bimo meliriknya sama sekali. "Arini bingung, kenapa dia memaksa ingin menikah kalau dia tidak menyukaiku," pikir Arini.


Sampai sejauh ini semuanya baik-baik aja, tapi entah petir dari mana yang menyambar. Tiba-tiba Bimo menceraikannya di hadapkan semua keluarga dan undangan yang hadir.


Dengan sigap Bimo mengambil mikrofon dari MC pernikahan mereka. "Tes-tes mohon perhatiannya," ucap Bimo. Mulai hari ini Arini telah resmi menjadi istri saya dan hari ini juga saya menceraikannya dengan kata talak!" suasana yang bahagia tiba-tiba menjadi suram.


Arini terdiam mendengar penuturan Bimo, dia merasa ada yang salah dengan ucapannya barusan. Apa yang di katakannya pasti salah," gumam Arini linglung.


"Arini!"


Arini tersentak dari lamunannya. karena panggilan dari Bimo.


"Saya ceraikan kamu dengan talak tiga!" ucap Bimo lantang.


Arini hanya terpaku mendengar apa yang diucapkan Bimo barusan, rasa-rasa tidak percaya menghinggapi hatinya.


"A-Apa! Apa maksud kamu!" sahut Arini dengan tergagap.


"Kemana kupingmu! Semua orang disini juga mendengar apa yang aku katakan. Apa musti sekali lagi aku tegaskan kalau mulai hari ini kamu adalah seorang janda! Aku tidak Sudi menikah dengan perempuan matre sepertimu." tegas Bimo mencibir.


"Keluargamu yang memaksaku agar menikah denganmu! Tapi kenapa sekarang malah menceraikanku!" Arini mulai marah dengan ucapan Bimo barusan.


"Arini... Arini... Tadinya aku memang menyukaimu, tapi sekarang buat apa aku menikahi seorang gadis yang sudah tidak suci lagi," Bimo mengejek.


Semua orang pun mulai bisik-bisik mereka pikir telah paham dengan situasi yang sedang terjadi, dan mulai bergosip dan menghina keluarga Arini yang sok suci dengan cemoohan.


"Apa semua ini! Hanya ingin mempermalukan keluarga kami!" teriaknya, sementara orangtuanya hanya menundukkan kepalanya yang menangis. Arini tidak sanggup melihat orangtuanya di permalukan seperti ini.


"Kau pria bejat. Berani-beraninya kau bilang kalau aku sudah tidak suci lagi. Mana buktinya!"


"Ngaku aja, selama kau kuliah di Jakarta bukannya biaya kuliahmu di biayai oleh om-om kaya?" jawab bimo sekenanya.


"Itu tidak benar! Arini mulai menangis. Aku kuliah di Jakarta gratis karena beasiswa!" teriaknya sambil terisak.


Tapi tak satupun orang mendengarkan penjelasan Arini, mereka semua percaya kepada Bimo dan menudingnya sebagai perempuan murahan.


"Sudahlah nak ayok kita pergi, maafin ibu sama bapak yang sudah membuat kamu jadi seperti ini," ucap ibunya menahan tangisnya. Ibu menggandeng tangan Arini dan membawanya pergi dari rumah Bimo.


Setiap hari setelah kejadian itu berlangsung, Arini tidak sanggup melihat tatapan dan mulut para tetangganya, dan memutuskan untuk melanjutkan kuliahnya kembali.


Arini tidak pernah tau, rencana Rara sahabat nya.


Keren juga akting loe Bim! Kayaknya lie bisa calonkan diri jadi aktor," ucap Rara tertawa senang. Mereka berduapun tertawa penuh kemenangan.


"Bisa aja loe! Tapi gue gak abis pikir, kok loe tega banget sih sama sahabat sendiri?" Bimo cukup penasaran akan hal ini.


"Sahabat! Heh, desisnya. Sahabat macam apa yang tidak memikirkan perasaan temannya sendiri. Padahal dia tau, kalau gue suka sama kak Exel sejak awal. tapi dia malah nikung gue dari belakang. Kemana-mana mereka selalu berdua, baik di sekolah maupun diluar. Bucin banget, dan gue di cuekin abis sama Arini, tapi semenjak kak Exel kuliah di luar negeri, baru dia butuh gue."


Bimo manggut-manggut mengerti, dia memang pantas di beri pelajaran. Ingat kan janji loe! Tagihnya gak sabar. Kalau bukan karena permintaan loe, rugi gue ceraiin Arini, lumayan dapat istri cantik nan bahenol.


"Iya ingat. Resek banget loe bim! puji-puji dia depan gue." Rara kesal dengan ucapan Bimo.


"Bisa minta jatah setiap hari kan! Mumpung loe masih libur, kalau entar loe balik ke Inggris. Gue gak dapat jatah lagi dong," rayunya.


"Apaan loe, 2 kali seminggu aja. Kesepakatan kita gak ada yah setiap hari. Kalau loe gak mau gue sih gak masalah," jawabnya acuh.


*Boleh sih. Tapi, kalau loe gak mau, gue bisa aja ceritain masalah ini ke bokap loe, gimana!"

__ADS_1


Ancaman Bimo cukup membuatnya takut. Bisa-bisa bokap nya marah besar, dan ngebatalin kuliahnya di Inggris. Gak bisa ketemu kak Exel lagi kan. "Kurang ajar! berani-beraninya loe ngancam gue."


"Namanya juga usaha sayang," ucap Bimo mulai mendekati Rara.


Yaudalah yah, lagian dia juga udah sering ngelakuinnya sama pria bule di sana. Lagian Bimo gak jelek-jelek amat, lumayanlah bodynya sekarang juga udah oke. Kalau dulu gembrot, kalau Bimo masih kayak dulu Rara musti nahan mual berhubungan dengannya.


"Iyah terserah loe!" Rara melambaikan tangannya pasrah.


"Gue maunya sekarang," pinta Bimo.


"Gila, ini rumah loe! Kalau nyokap loe balik gimana!"


"Nggak, bokap masih lama baliknya, gue paling tau." Tangan Bimo mulai bermain di paha Rara yang hanya mengenakan rok pendek di atas lutut. Loe emang sexy Ra! Nggak heran dari dulu gue ketar ketir liat loe," tangannya semakin berani.


Mereka melakukannya di ruang tamu bimo. Bimo memang kuat, Rara sudah kelelahan salama 2 jam mereka bermain." Mereka berbaring dengan tubuh polos dan bersimbah keringat.


Tangan Bimo bermain di lengan Rara yang halus, efek perawatan mahal. "Besok gue mau lagi."


"Uummm". ucap Rara mengantuk di pelukan Bimo.


Itulah yang mereka lakuin setiap hari. Mereka gak pernah bosan.


***


Keadaan ekonomi ibu dan ayahnya semakin terpuruk dan nggak sanggup menyekolahkan adik-adiknya lagi. Arini memutuskan untuk mencari pekerjaan yang gajinya lebih tinggi dari sekarang.


"Arin! Kamu beneran lagi cari kerjaan?" tanya Sisi teman sekamarnya di asrama.


"Iya, emangnya ada lowongan?"


"Nih coba kamu lihat," jawab Sisi.


Seorang wanita, cantik berpenampilan menarik dan juga ramah, menjadi karyawan bagian marketing di perusahaan, Paradita Group." Baca Arini teliti, besok adalah tanggal terakhir memasukkan lamaran. Arini pun bergegas mempersiapkan lamarannya, dan tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada Sisi.


"Thanks yah si."


"Gak usah sungkan santai aja," jawab Sisi, "entar kalau udah gajian jangan lupa traktir gue."


"Pasti Si, kalau udah pasti di terima yah." jawabnya tertawa senang.


Itulah awal mulanya Arini bekerja di perusahaan Paradita Group, hingga sampai sekarang sudah tujuh tahun Arini bekerja disana, nggak heran sekarang bisa jadi seorang manager.


Flashback off**


Keesokan harinya in the office.


Ini adalah hari pertama Arini bekerja sebagai manager, hatinya di penuhi kebahagiaan tanpa memikirkan masa lalu yang menyakitkan dan kata-kata Exel yang menyakiti hatinya.


Arini menghela napas legah karena pencapaiannya, memasuki ruangannya sendiri, matanya menjelajah kesekeliling ruangan. Meja dan kursi yang tersusun rapi, disamping meja kerjanya ada juga tersedia kursi tamu. Bunga yang indah diletakkan diatas meja.


Arini menghirup bau bunga mawar yang ada di atas meja sambil tersenyum. Seketika kegiatannya itu terhenti karena bunyi telpon yang ada diruangannya.


"Halo! di sini Arini," menyapa orang yang menelepon.


"Halo mbak Arini! Saya Lina sekretaris presdir. Bapak sedang menunggu anda di ruangannya."


"Baiklah mbak Lina terima kasih," sahut Arini sambil menutup telponnya.

__ADS_1


"Masih pagi udah di panggil, ada apa yah!" pikirnya. Arini pun melangkahkan kakinya menuju ruangan presdir dengan cepat, karena takut Exel marah-marah dan merusak hari baiknya.


"Permisi mbak Lina saya Arini, apa saya boleh masuk?" Tanya Arini sopan.


"Iya mbak silahkan masuk, karena bapak sudah menunggu anda dari tadi," ucap Lina.


Dengan berbasa basi Arini mengetuk pintu ruangan presdir pelan.


"Tok tok.. Tok.."


"Ceklik." Bunyi pintu terbuka secara otomatis yang terdengar oleh Arini. Menandakan pemiliknya mengizinkannya untuk masuk.


Arini masuk dengan pelan dan berjalan menuju ruangan presdir yang besar. Ruangannya sangat elegan dan minimalis seolah-olah mencerminkan ke pribadian sang empunya. "Sepertinya ruangan ini di sediakan untuk menyambut tamu penting," pikirnya. Kemudian Arini menemukan ruangan lainnya di dalam dan melihat pintunya agak sedikit terbuka.


"Masuk!" Terdengar suara berat dari dalam ruangan.


Arini berusaha tenang dan masuk kedalam ruangan itu. Di dalam seorang pria tampan sedang duduk serius memeriksa sesuatu yang penting kelihatannya, karena melihat ekspresi dan dahinya yang di kerutkan di antara kacamatanya.


Exel mengangkat kepala dan membuka kacamata sambil melihat ke arah Arini. File yang tadinya di pegang malah dilempar begitu saja di atas meja.


Arini sontak kaget, dan melotot kearah Exel. "Ada apa dengannya!" pikir arini kalut.


"Duduk," pinta Exel.


"Sudah berapa lama anda bekerja disini?" tanya Exel formal."


"Sudah 7 tahun pak. Jawab Arini mantap."


"Memangnya anda tidak kuliah?"


"Saya bekerja sambil kuliah pak."


"Memangnya mantan suami anda tidak memberikan anda apa-apa?"


"Arini terdiam sejenak, tidak pak."


"Kenapa!" tanya Exel penasaran.


"Mana ku tau," gumamnya. "Mungkin dia tidak menyukai saya pak."


Sebenarnya apa yang ingin dia ketahui, pertanyaannya bersifat pribadi semua, Arini menarik napasnya. Ini lebih seperti Exel yang ingin tau masa lalunya. Tapi gengsi untuk bertanya.


"Apa karena kau wanita murahan?"


Arini terdiam, kenapa Exel bisa berkata seperti itu.


"Kenapa tidak menjawab! Berarti itu kebenarannya."


"Urusan pribadi tidak sepantasnya di bawa ke kantor, saya rasa itu melanggar etika perusahaan." Arini mendidih.


"Arini... Arini!" Panggil Exel yang bunyinya sangat enak di telinganya. Exel yang tadinya duduk entah kenapa tiba-tiba udah ada di samping kursi Arini.


Exel berdiri agak sedikit membungkuk ke arahnya dan memutar kursi yang di duduki Arini agar menghadap ke arahnya.


Arini nggak siap dan sama sekali gak menyangka dengan tingkah Exel. Itu membuatnya sangat gugup.


Exel menatapnya dengan tatapan sendu, kemudian malah menyunggingkan senyum manisnya, "ternyata Arini yang dulu sudah tidak ada," gumam Exel.

__ADS_1


***


Bersambung.


__ADS_2