
"Subuh-subuh Arini bersiap untuk berangkat menuju kantor.. "Kata pak Reno ngumpulnya dikantor aja biar gak ribet." Arini berjalan keluar rumah kontrakannya, hari ini penampilannya sangat simpel, pakai baju kemeja plus celana panjang dan memakai sepatu kets. Simpel, rapi dan sopan."
"Arini bisa membayangkan lokasi Bendungan tersebut pasti sangat jauh, mungkin akan menempuh jalanan yang berlobang, apalagi salah satu tujuan kesana pasti membantu warga yang tertimpa musibah, niatnya pasti untuk mendapatkan simpati. makanya harus siap tempur. Tidak lupa meminum vitamin tadi, karena hari ini pasti sangat berat.
"Jalan kaki aja kayaknya, mana ada ojek yang lewat jam segini." Waktu menunjukkan pukul 05.15. Apa gak kecepatan yah, serem juga cuma jalan sendirian..
Kamu harus berani Arini, ini demi karirmu dan karirnya pak Dodi, semua ada ditanganmu. Okeh, mari kita jalan.
Di perjalanan.. Ada beberapa kendaraan bermotor, dan petugas Orange yang memulai aktivitasnya membersihkan jalanan. Cukup terang, karena penerangan yang ada di toko-toko sekitaran jalanan. Tapi sikap waspadanya belum luntur sedikitpun. Dengan kuat dia memegangi tasnya, takut tiba-tiba ada jambret. Matanya celingak celinguk melihat sekitar, kenapa kantor rasanya jauh yah..
Tiba-tiba ada Toyota Alphard yang mepet kearahnya.. Arini menghindar semakin kepinggir jalan. Siapa sih jalanan segede gini tapi masih mepet-mepetin orang. Mentang-mentang punya mobil dan gue gak punya gitu. Arini terus ngedumel dalam hatinya.
"Bukannya terus jalan, tapi mobil itu berjalan pelan disisinya."
"Yaa tuhan.. Apa mereka penculik! Gimana kalau mereka sindikat "trafficking in women." Kenapa mereka berhenti, Ini lebih parah dari pada dipecat. Tangannya gemetar, dengan cepat Arini berusaha untuk kabur..
Tapi tangannya sudah dipegang orang itu.
Ampun.. Ampuni saya om, jangan culik saya.. Tolong lepasin saya. Arini memohon dengan sangat dengan mata yang masih terpejam.
Buka matamu..!!
Deg..!
Kenapa suara rasa-rasa kenal, Arini membuka matanya dan mendapati Exel didepan matanya. Rasanya sangat legah, ini kali pertama Arini merasa begitu senang melihat pria itu.
Penculik kepalamu!! Exel berteriak dan menarik tangannya untuk masuk ke mobil. "Gak enak dilihat orang entar malah dikira penculik beneran.."
"Reno menjalankan mobilnya dalam diam. Kalau urusan Arini, Reno gak berani ikut-ikutan, Exel sangat sensitif kalau berbuhungan dengan Arini. Gak pernah menyangka Exel akan jatuh cinta pada akhirnya, tapi sayang mereka gak berjodoh.. Reno berkonsentrasi mengendarai mobil, gak ambil pusing sama yang ribut-ribut dibelakang."
__ADS_1
Kenapa malah berpikir aku penculik..!! Memangnya ada penculik setampan ini! Exel mendelik..
"Saya kan gak tau itu bapak.. Kalau saja sejak awal bapak membuka kaca mobilnya, mungkin saya gak kan setakut ini..
Jadi kau menyalahkanku ! Lagian kenapa musti jalan kaki kekantor. Memangnya gak punya kendaraan! kan bahaya jalan sendiri kayak tadi, untung ada aku sempat kalau orang lain gimana itu..!
"Saya gak punya kendaraan."
Apa!! Memangnya uang yang aku kasih gak cukup untuk membeli semua kebutuhanmu!
"Saya gak pernah memakai uang bapak.. Saya masih punya uang sendiri. Uangnya akan saya kembalikan, saya takut suatu saat tidak bisa membalas kebaikan bapak. Arini menekankan kata-kata kebaikan dalam suaranya. "
"Kalau punya kenapa gak beli kendaraan..!
"Karena saya memang gak butuh, jarak dari kontrakan kekantor sangat dekat. Saya kan gak pernah berpikir akan keluar rumah Subuh-subuh begini.. Kalau bukan karena bapak mungkin saya masih tidur dengan nyenyak dirumah. Arini berapi-api."
Kau berani melawan atasanmu!
Mulutnya terkunci karena ciuman Exel yang tiba-tiba. Arini gak siap, tangannya mendorong Exel agar menjauh darinya.
Exel menghentikan Ciuman mereka, karena melihat Arini yang kesulitan bernapas. Jangan berani melawan lagi!
"Arini meraup udara yang banyak, karena tadi gak bisa bernapas. Tapi Exel kembali mencium bibirnya.. Didepan Reno merasa suasana yang tadinya berapi-api berubah hening. Dengan sengaja ngintip lewat kaca.
Pantesan pikirnya.. Nasib-nasib cuma jadi penonton. "
"Reno melajukan mobilnya, dan telinganya masih bisa mendengar suara Arini.
" Hentikan, lepasin aku.. Haah jangan.. "
__ADS_1
" Tentu Exel gak kan nurut, Reno tau itu. Itu adalah hal yang telah lama dinantikannya. Mobil berhenti tepat di depan kantor. Mending keluar dulu, daripada dengar yang tidak-tidak, sakit kuping aku.. Reno menggaruk-garuk telinganya yang panas karena suara intim mereka berdua. "
" Kesalahan manager keuangan itu dijadikan alasan bagi Exel untuk datang ke anak Perusahaan di Bandung. Padahal hal seperti ini adalah hal mudah bagi Reno mengurus semuanya, gak perlu Presdir turun tangan langsung. Alasan apalagi kalau bukan mau bertemu Arini, gengsi nya yang besar musti mencari alasan dulu untuk bertemu pujaan hati. Reno menarik napas, dan berjalan menuju Dodi yang telah lama menunggu. "
Dody berdiri dari duduknya dan menyapa Reno dengan hormat. Pak! Reno hanya mengganggukkan kepalanya dan duduk disebelah yang gak terlalu jauh dari Dodi.. Dodi tau kalau ternyata orang ini adalah asistennya Presdir. Ternyata yang berdiri dihadapannya waktu itu adalah Presdir..
Pantesan pak GM menggigil..
Cukup lama berselang Reno duduk, dan Dodi merasa heran dan memberanikan diri untuk bertanya. Maaf pak! Apa kita menunggu Arini?
"Bukan." Jawaban yang sangat singkat.
"Dodi kembali terdiam gak berani bertanya."
"Ayol berangkat". Reno mendapatkan pesan dari Exel. Dodi mengikuti Reno berjalan kemobilnya, masuk pak, anda duduk didepan. Dodi masuk dan melihat kebelakang, ternyata Arini telah berada didalam mobil.." Tapi situasi tadi itu apa! Dodi bingung, jangan ikut campur pikirnya."
Arini sangat marah, apa yang di lakuin Exel barusan sangat jahat. Kenapa dia selalu memaksakan kehendaknya. Tapi tetap saja membuat jantungnya berdebar-debar, ini pasti hanya karena takut pak Dodi curiga, bukan apa-apa. Arini telah berniat sebelumnya untuk menghapus nama Exel dihatinya.
"Asisten sialan itu malah sengaja untuk turun, dan berlama-lama diluar. "Mobil yang luas membuat Exel leluasa melakukan niatnya." Tapi untung otaknya masih bekerja dengan baik, dan gak sampai kesitu. Sebelum pak Dodi datang, Arini telah merapikan rambut, dan memasang kancing kemejanya. Matahari telah bersinar menyinari bumi, tapi hatinya tidak sedang dalam suasana yang baik untuk menikmati keindahan alam ciptaan tuhan.. "
" Arini bisa melihat pak Dodi meliriknya sekilas, seperti nya dia penasaran.. Semoga dia gak tau. "
"Diperjalan yang sangat jauh, tanpa sadar Arini ketiduran.. Dan Exel meletakkan kepalanya didadanya, sambil tangannya memeluk Arini..
"Karena Presdir bertanya, akhirnya Dodi melirik kebelakang bermaksud ingin bersikap sopan. Tapi apa yang dilihatnya, gak habis pikir sama pendangannya..
Kenapa Arini dipelukan Presdir? Dodi bertanya-tanya dalam hatinya.
Exel seperti bisa membaca pikiran Dodi.. Anda jangan salah paham! saya hanya ingin membantunya, kasian dia lagi ketiduran..
__ADS_1
****
Bantu like, komen dan votenya yah, agar author lebih semangat lagi.. Saranghae 😍 😍