
Exel yang sedang meeting bersama kliennya, tidak bisa fokus. "Gimana kabarnya? Semoga dia tidak berpikir yang tidak-tidak. Aku yakin kamu bisa berpikir jernih, Aku tau kamu bukan orang yang cemburuan dan sembrono dalam berpikir. Tunggu aku di rumah, sebentar lagi selesai." Exel memiliki berbagai kekhawatiran di benaknya.
"Halo Mr. Exel, kita bertemu lagi... David tersenyum masam. Tidak semudah itu mengirimku kembali ke negaraku, kalau ingin pergi aku bisa pergi sendiri, tidak perlu bantuan presdir untuk mengirimku kembali."
"Apa yang membuatmu sangat berani kembali ke sini!" Atau kau tidak pernah ingin kembali ke negaramu! Aku bisa wujudkan itu." Exel duduk dengan tenang, padahal pikirannya sedang kacau.
"Anda tenang saja, ada beberapa hal yang masih harus di bereskan, setelah itu selesai aku akan menemuimu." David bangkit dari tempat duduknya. "Dan Mr. Exel... Hati-hati! Ada ular betina di dekatmu. Hahaaa," David tertawa lantang dan beranjak pergi meninggalkan Exel yang kebingungan sendiri.
"Apa maksud si brengsek itu, ternyata aku terlalu meremehkan kekuatannya." Exel mengepalkan tangannya.
"Maaf bos... Kita akhirnya gagal mendapatkan proyek itu. Aku benar-benar nggak nyangka, Mr. David akan melakukan segala cara untuk melawan kita." Reno tidak berani mengangkat kepalanya.
"Sudahlah... Tidak selamanya sesuatu akan berjalan seperti keinginan kita, kegagalan kali ini akan membuat kita semakin kuat dan lebih teliti untuk ke depannya." Exel berjalan keluar yang diikuti Reno di belakangnya.
"Syukurlah... Aku selamat dari kemarahan si bos." Reno mengurut dadanya legah.
Di luar, Rara sedang berdiri di depan pintu. Exel berjalan cepat ke arahnya. "Mana Arini?"
"Maaf Pak..."
"Apa maksudmu! Meminta maaf!" Exel menatap tajam ke arah Rara.
"Sa saya tidak berhasil membujuknya Pak... Arini telah pergi, katanya dia butuh waktu untuk menenangkan diri dulu." Rara menunduk tidak berani menatap Exel dengan senyum tersungging di bibirnya.
"Apa katamu!!!" Exel berteriak marah dan mencengkeram ke dua lengan Rara.
Rara meringis kesakitan, "maafin saya pak.. Saya memang tidak becus, gara-gara kejadian tadi istri bapak jadi salah paham.. Saya memang pantas di hukum hiks hiks..." Ini benar-benar sakit, Exel memeganginya dengan sangat kuat.
Exel menyentak tubuh Rara, membuatnya terjatuh ke belakang. "Aauhh," pinggulnya sakit sekali, "tega banget kak Exel dorong aku." gumamnya pelan.
Tanpa memperdulikan Rara, Exel bergegas pergi. "Loe cari Arini sampai ketemu! Kalau sampai terjadi apa-apa dengannya, kau orang pertama yang harus bertanggung jawab!" Exel menuding muka Reno dengan telunjuknya.
"Baik bos, saya pergi sekarang." Reno bergegas pergi dan menggerakkan semua anak buahnya untuk mencari keberadaan istri sang bos.
__ADS_1
"Bravo!" David bertepuk tangan melihat keadaan Rara yang masih duduk di lantai. "Ternyata ular betina belum berhasil mematuk mangsanya. Ahahahaaaa..." David tertawa lantang.
"Mr. David! Aa apa yang anda lakukan disini?" Rara gelagapan melihat orang yang telah di jebaknya berada di depannya sekarang.
David mendekati Rara sambil jongkok di depannya, salah satu tangannya memegangi dagunya. "Gimana kalau presdir Exel tau kelakuan busukmu! Kira-kira apa yang akan di lakukanya! Aku curiga, Jangan-jangan istri Exel menghilang akibat perbuatanmu!"
Rara terdiam gemetaran dengan perkataan David. "Itu bukan urusanmu!" ucapnya marah.
Ms. Rara... Sangat di sayangkan kalau wajah cantik ini akan rusak, takutnya nanti wajahmu seburuk hatimu! David tersenyum sinis. "Kalau melihat kepanikannya tadi, bisa di pastikan... Kalau sampai dia tau semua ini adalah rencanamu, mungkin kau tidak akan melihat matahari lagi."
Wajahnya pias seketika, apa yang di katakan David memang benar. Dia tidak pernah menyangka, semua rencananya akan terbongkar oleh David. Rara menarik napas berusaha untuk tenang, "apa maumu!"
"Wuuu.. Itu memang pertanyaan yang ku tunggu-tunggu." ucap David senang.
Rata bangkit dengan perlahan, karena pinggulnya yang sakit. "Jangan harap kau bisa meminta bantuanku untuk menghancurkan Paradita Group. Karena suatu saat perusahaan itu dan presdir Exek akan menjadi milikku."
"Salut dengan sikap kepercayaan dirimu! Hal itu, tidak perlu bantuan mu, aku masih memiliki segudang rencana untuk menghancurkan kekasih mu itu."
"Jadi apa yang kau inginkan! Jangan bertele-tele!" Rara mulai nggak sabar.
Hari mulai gelap, tapi istri bos belum juga di temukan.
"Bos, maaf. Gimana kalau kita ngecek seluruh rumah sakit sekitar sini..."
"Apa yang kau katakan! Apa kau berharap nona mengalami kecelakaan!" Reno sangat murka dengan bawahannya ini.
"Bukan itu maksud saya bos, setahu saya nona sedang hamil besar. Bisa saja sekarang nona di rumah sakit berjuang melahirkan anaknya." orang itu menjelaskan lagi.
"Masuk akal juga," ucap Reno menepuk pundak bawahannya. "Ayo sekarang kita hubungi, dan sebagian mendatangi rumah sakit secara langsung untuk bertanya."
Setiap rumah sakit telah di datangi satu persatu, tapi hasilnya nihil. Istri bos seolah-olah hilang di telan bumi. Akhirnya mereka memutuskan melaporkan kasus orang hilang ke kantor polisi, siapa tau ada laporan dari warga tentang seorang wanita hamil.
Di tempat lain, Rara berjalan memasuki hotel tempat David menginap. Tangannya menekan bel kamar Presidential suite." dia memang sangat kaya," pikirnya galau.
__ADS_1
"Silahkan masuk..." David membuka pintu, senyuman tersungging di bibirnya.
Rara duduk di kursi yang telah di siapkan David sebelumnya, ini seperti makan malam romantis. "Apa ini?"
"Kau pasti belum makan... Makanya aku siapin makanan istimewa untuk wanita cantik seperti mu." David duduk di sebelah Rara.
"Aku tidak lapar," dan berjalan menjauh dari David, memilih duduk di sofa.
"Oke, kalau gitu, temani aku minum." ucap David menyerahkan gelas berisi wine.
Rara kesal dengan sikap David yang berlama-lama ingin memberitahu keinginannya.
"Kenapa? Belum tau apa yang aku inginkan?"
"Mana ku tau! Kau pikir aku paranormal!" Rara sangat emosi dan langsung menenggak habis minumannya.
David duduk di sebelah Rara, tangan kirinya merangkul pundak wanita itu. Rara beringsut risih.
David membelai lengan Rara yang terbuka, tidak heran aku menginginkanmu.. "Kau sangat panas" ucapnya berbisik, matanya terfokus ke dada Rara yang terbuka.
"Kenapa aku musti memakai pakaian seperti ini, dan berdandan segala untuk ketemu pria itu," Rara kesal sendiri dengan kebodohannya.
Tangan David mulai bekerja, menurunkan tali gaun yang di kenakan Rara." Kamu pasti paling tau apa yang aku inginkan." bisiknya menggoda.
"Jangan.. Tolong!" Rara ingin menolak, tapi tidak tau harus berbuat apa. David akan membocorkan rahasianya kalau keinginannya tidak terpenuhi. Tapi tetap aja hal ini nggak boleh terjadi, gue harus cara agar bisa kabur dari pria itu malam ini. Rara memutar otaknya berpikir apa yang hendak dia lakukan, sementara ponselnya telah di rebut oleh David.
David mulai nggak bisa diam, tangannya menyentuh dimana-mana, sementara Rara masih berusaha menghindar. Tapi entah kenapa kepalanya tiba-tiba terasa pusing..
Dia merasa tubuhnya melayang dan di letakkan ditempat yang sangat keras. Dan sesuatu yang aneh memasuki tubuhnya. "Aahh..! Sakit sekali... "Tolong tuan... Lembutlah sedikit." ucap Rara lemas. Tapi David tetap memperlakukannya dengan kasar.
"Mana pantas, wanita sepertimu di kasih kelembutan." David melakukannya semakin kasar, wanita ini tentu tidak virgin lagi. Tapi bergaya seolah masih suci.. David mendengus dalam hati.
Rara terbangun lemah, di samping David. Pinggulnya sakit sekali, akibat ulah pria gembul itu. Beraninya David memberinya obat perangsang, dia melakukannya hampir 3 jam, jangan-jangan dia minum obat kuat, akhirnya tadi malam Rara pingsan karena kelelahan.
__ADS_1
Met bobok cantik🤗🤗😘😘 karena kalian aku semangat menulis😁