
"Kakak! Kakak ipar selamat pagi!! Gimana malam pertamanya seru gak? Lulu nyerocos gak tau aturan. "Aauww" Lulu kesakitan karena dicubit ibunya."
"Kamu tu kayak gak pernah ibu ajarin. Mulutnya gak bisa dijaga, kakakmu pasti malu karena kelakuanmu itu."
"Iya iya bu.." Lulu meringis Karena cubitan ibunya. Kalau ada kak Rai malu-maluin ini. Jadi mikirin orang itu lagi. Kebetulan banget tu orang langsung nongol.
"Pagi semua!" Sapa Raihan dengan senyuman secerah mentari.
"Pagi.. Ayo duduk nak Rai," ibu langsung menyediakan tempat duduk untuk Raihan persis didepan Lulu di samping adeknya Shinta. Bukan suatu kesengajaan hanya kebetulan saja.
Arini heran karena keluarganya di Vila honeymoon sekarang, padahal mereka kan nginapnya di Vila yang lain." Kamu yang ngundang ya sayang?"
"Kenapa? Senang?"
"Arini mengangguk, senang sekali makasi sayang." Gak nyangka suaminya bakal ngundang keluarga untuk makan siang bareng.
"Lulu gatal pengen ledekin pengantin baru, abis nempel terus kayak perangko, meni romantis pisan euy.."
Raihan memperhatikan Lulu yang senyum-senyum sendiri melihat Arini dan Exel. Dengan sengaja Raihan menyenggol kaki Lulu dengan kakinya dari bawah, tapi gak di gubris. Kali ini lebih kuat lagi Raihan nendangnya, tapi malah bapaknya yang melotot. Raihan masih sibuk mengkode Lulu tapi bapaknya semakin melotot.
"Eheemm.."
"Bapak kenapa, keselek makanan?"
"Tidak bu, tidak ada apa-apa. Hanya saja kelihatan nya di bawah ada sesuatu yang dengan sengaja nendang kaki bapak, gak tau juga siapa," sambil berbisik. Bapak sengaja berbohong padahal tau persis orangnya, Jangan-jangan ini calon mantu pikirnya karena kelihatan sekali kalau sasarannya adalah anaknya Lulu.
Raihan merasa sangat bersalah dan juga sangat malu, karena menendang kaki yang salah, mending pura-pura makan. Sementara Lulu malah sibuk makan nghak tau menahu soal kejadian tadi.
Sehabis makan semua melanjutkan dengan ngobrol hal-hal yang ringan. Bapak sama ibu ngobrol panjang sama Arini, karena besok udah harus berpisah.
"Kamu baik-baik ya nak.. jaga kesehatanmu dan jaga kandunganmu. Nurut apa kata suami, jadilah istri yang pintar mengurus suami, agar disayang terus. Ibu dan bapak memberi wejangan untuk anak kesayangan."
"Iya ibu, ibu dan bapak juga baik-baik yah, jangan lupa jaga kesehatan dan jangan kerja yang berat-berat..."
"Jagain Shinta tu bu, udah mulai agak ganjen sekarang," Lulu nyambar.
"Yang ada loe kali yang dijagain Dek, bukannya Shinta. Liat tuh shinta gak ada tampang-tampang pembangkangnya, beda sama kamu, Arini menyentil keningnya Lulu."
"Beneran itu kak, tadi malam aja kak Lulu udah mulai mau curhat soal cowok ke aku.."
__ADS_1
"Sssttttt.." Lulu meletakkan jarinya dibibir agar Shinta bisa diam. "Nih anak ternyata nggak bisa nyimpan rahasia.. Gawaaat.."
"Tapi nggak di guris Shinta, katanya nama cowok itu Ra raaa apa gitu yah, aku lupa."
"Ya ampun shinta, untung kamu tu lupa. Kalau ingat habis aku, mau ditarok dimana muka ini." Gerutu Lulu dalam hati.
Raihan bisa mendengar nama yang diucapkan Shinta barusan kenapa agak sama dengannya, Lulu kan memang biasa memanggilnya kak Rai. Raihan jadi berharap itu adalah dia.
Mata mereka tidak sengaja bertemu sebentar, Lulu langsung membuang muka, berusaha menyembunyikan semburat merah di pipinya.
Acara makan-makan dilanjutin sama keluarga besar, kalau teman-teman Arini dan Exel mereka gak ikutan. Ini khusus keluarga dan Raihan memang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.
"Nak Raihan kerja dimana?" Ibu membuka obrolan.
"Saya bekerja ditempat Exel tante."
"Ooohhh karyawannya Exel yah?"
"Raihan itu salah satu pemegang saham di Perusahaan Bu! Bukan karyawan." Arini menjelaskan.
"Bagus itu, nanti Lulu dan shinta bisa dimasukin kerja tempatnya nak Rai yah!"
"Tentu tante boleh-boleh aja, apalagi Exel kan pemilik Perusahaannya, langsung aja minta sama Exel." Raihan memberi saran.
"Jangan Bu.. Itu nepotisme namanya, masuk kerja itu musti dengan usaha sendiri." Arini tidak setuju.
"Exel hanya tertawa kecil, gak Bu biasa aja di atas langit masih ada langit. Gak apa-apa sayang selagi aku bisa membantu apa salahnya."
"Iya ibu ini, jangan malu-maluin bapak dong.. Gini-gini bapak kan juga pemilik Perusahaan." Dengan bangga membusungkan dada.
"Perusahaan apa pak?" tanya Exel penasaran, karena Arini belum pernah cerita sebelumnya.
Perusahaan yang bergerak di bidang peternakan ayam Bu. Masak ibu gak tau setiap hari kan kita kasih makan tu ayam.."
"Ya ampuuun pak! Itu kan ternak ayam biasa. Ibu cubit pinggang bapak. Sakit atu bu.."
"Cie cie.." Lulu dan shinta ber cie ria. Melihat kelakuan ABG tua.
"Kalau bapak sama ibu mau, aku bisa buatin usaha peternakan kecil-kecilan." Exel menawarkan bantuannya.
__ADS_1
"Mas.. Gak usah, ternak ayam yang sekarang itu udah lebih dari cukup kok. "
"Gak masalah kok sayang.. Kalau demi keluarga kamu, itu bukan sesuatu yang besar hanya usaha kecil-kecilan."
"Iya nak Exel gak usah, bapak sama ibu gak mau ngerepotin.. Arin juga selalu ngirim uang setiap bulan sama bapak dan ibu itu sudah lebih dari cukup," Ibu ikutan ngangguk.
"Kalau menurut aku itu bukanlah hal besar buat Exel, akupun bisa membantu kalian kalau hanya usaha seperti itu, jangan di tolak. Mungkin ini kesempatan buat om sama tante kedepannya untuk mandiri tanpa berharap sama Arini lagi, apalagi Lulu dan Shinta masih sekolah." Raihan menyarankan.
"Iya pak, terima aja siapa tau aku bisa lanjutin usaha itu nanti setelah lulus kuliah." kata shinta mantap.
Exel menggenggam tangan istrinya.." Terima ya sayang, ini demi keluarga mu."
"Baiklah, makasi sayang membalas genggaman tangan suaminya. Ibu sama bapak boleh kok terima tawaran mas Exel." Mereka sangat antusias mendengarnya.
Exel dan Arini jalan-jalan ditaman, hanya di ikuti Reno yang selalu setia berada di sisinya.
"Sayang.."
"Uuumm.. "Bergelanyut manja dilengan Exel.
"Besok kita ke Jakarta, udah siap menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di sana?"
"Sudah, kan ada mas. Aku yakin mas bisa menjagaku.."
"Exel menyelipkan rambut Arini, yang diterpa angin hingga menutupi wajahnya. Pengawal yang kemaren suka? Kalau suka dia yang akan menjagamu saat aku tidak ada di sisimu."
"Suka, tapi sayang aku gak perlu pengawal.. Aku bisa menjaga diriku sendiri."
"Gimana kalau terjadi sesuatu sama anak kita! Pengawal itu sudah memberitahuku soal kejadian kemaren, katanya kamu hampir digigit oleh ular. Kalau aku tau masalah ini dari orang lain, kakinya akan kupatahkan.
"Iya sayang, Arini tertunduk takut dengan kemarahan Exel. Tapi sayang, dia itu kan laki-laki.. Apa tidak ada pengawal perempuan?"
"Untuk sekarang Reno belum menemukan pengawal perempuan yang kompeten, nanti kalau sudah ada orang itu akan ku pecat."
"Jangan sayang jangan gitu juga. Kan kasihan dianya kalau di pecat.." Aku mau kok dia jadi pengawalku. "
Exel tersenyum. Baiklah kalau gitu aku kan bisa tenang, sambil ngelus perut Arini. Sayang.. Berbisik sama calon bayinya, Papa mau jenguk yah sekarang.. Dan langsung menggendong Arini kembali kerumah.
"Sayang!!!" Arini berteriak kencang.
__ADS_1
***
Bersambung