Affair With My Boss

Affair With My Boss
Hilang kesadaran


__ADS_3

"Maaf pak, saya tidak sengaja. Tapi kaki saya kram, nggak bisa di gerakin. Gimana ini!" kata Rara salah tingkah.


Exel membantu Rara berdiri dengan mengangkat pinggulnya. Karena kakinya kram, alhasil Rara dengan senang hati bergelayut manja pada Exel. "Berdirilah dengan benar!" ucap Exel risih.


"Aauuchh..." Rara kembali melenguh kesakitan saat Exel melepaskan pegangannya. Tangannya kembali merangkul leher Exel sehingga posisi mereka persis seperti orang yang sedang berciuman. Dan saat itu ada seseorang yang masuk dan menyaksikan kejadian barusan dengan matanya sendiri.


"Prankk!!" Bekal yang tadi udah di siapinnya dengan penuh cinta, hancur berserakan di lantai.


Exel buru-buru melepaskan Rara, yang membuatnya hampir jatuh karena kaget. "Untung aja gak jatuh, bisa sakit beneran kakiku entar", pikirnya. Rara menoleh ke arah pandangan Exel, dan di sana sudah berdiri Arini menatap mereka dengan marah. "Ini kebetulan yang indah," gumamnya tersenyum sinis.


"Arini ini bukan seperti yang kamu duga! Aku bisa jelasin." Rara berpura-pura panik.


"Iya sayang... Kami nggak ngelakuin apa pun!" Exel berjalan mendekati Arini yang terlihat menahan air matanya. "Jangan salah paham yah!" bujuk Exel memegangi bahu istrinya.


Dengan cepat Arini menepis tangan Exel dari bahunya. "Silahkan lanjutkan, aku gak kan ganggu lagi." Sambil berlalu pergi.


"Sayang tunggu!" Exel ingin mengejar Arini tapi tertahan.


"Bos, maaf. Ada keadaan darurat, Mr. David melakukan perlawanan terhadap perusahaan, tender yang sudah kita incar beberapa bulan yang lalu, mau di rebut oleh mereka. Kita sudah mengeluarkan biaya yang sangat besar untuk proyek ini, kalau kita gagal mendapatkanya perusahaan akan rugi besar." Reno menjelaskan dengan cepat.


"Tapi Arini lebih penting dari ini!" Exel panik dan berniat kembali mengejar Arini.


"Tapi bos, hal ini nggak bisa di tunda lagi. Istrimu pasti baik-baik aja, nanti kan bisa di jelasin di rumah. Sekarang adalah waktu yang tepat untuk membuktikan diri bos di hadapan tuan besar." Reno kembali membujuk.

__ADS_1


"Yang pak Reno katakan memang benar pak... Biarkan saya yang menjelaskan hal ini sama Arini, dia kan sahabat saya. Saya yakin dia akan percaya kalau kita tidak ada apa-apa." Rara berusaha membujuk Exel.


"Baiklah, aku percayakan hal ini padamu." dengan ragu Exel pergi bersama Reno, sambil terus-terusan menelpon Arini, siapa tau dia mengangkat telpon darinya. Tapi, telpon nggak di angkat. "Ayo segera kita selesaikan ini," Exel menatap tajam ke arah Reno.


"Baik bos. Setelah ini tidak ada yang akan mengganggu anda." bujuk Reno meyakinkan.


Di lain tempat, Arini berdiri di atas balkon. Matanya melihat pemandangan di depan dengan berurai air mata. "Dia nggak mengejarku," pikirnya. "Apa mungkin sekarang dia mulai bosan denganku... Hiks hiks. Aku nggak bisa percaya semua ini, kenapa dia begitu tega menghianatiku... Hiks hiks. Apa ini adalah karma! Karena aku merebut dia dari Kanaya, pikirannya bimbang dan kacau. Kenapa harus dia! Kenapa dia selalu mengganggu hidupku? Aaaahhhhh," Arini berteriak dengan marah.


Rara berjalan pelan, dan berdiri tepat disampingnya. "Arini... Maafin aku yah," pinta Rara memelas. "Tapi kau kan tau sendiri dengan laki-laki, mereka tidak bisa di percaya. Dulu suami pertamamu juga menghinatimu... Mungkin ini semua adalah takdir. Aku nggak bermaksud merebut suamimu, tapi kak Exel selalu memanggilku ke ruangannya, aku kan cuma bawahannya.. Mana berani aku membantah dan menolak keinginannya. Lagian kau kan juga tau dari dulu, aku sangat menyukainya."


"Heh, dasar murahan!" Arinir mendengus. Dari dulu kau selalu ingin mengambil apa yang menjadi milikku! Aku nggak pernah menyangka, kau menyukai bekas pakaiku. Apa perlu, baju bekas, makanan sisa, aku serahkan padamu juga! Atau kau lebih suka memungutnya sendiri," Arini menatap sinis.


Rara merasa wajahnya panas dan tangannya gatal ingin menampar orang. "Aku harus bisa tahan, ini adalah kesempatan emas bagiku," gumamnya tersenyum.


"Kau memang tidak tahu malu!" Arini melayangkan tangannya ingin menampar wajahnya, tapi dengan segera di tahan oleh Rara.


"Pergilah sekarang! Dia juga tidak ingin menemuimu! Dia lagi sibuk, tadi dia memintaku untuk kasih tau, katanya nanti dia akan menemuimu di rumah." Rara menepuk pundak Arini. Dan satu lagi, foto yang kau lihat itu memang benar adanya, tadi malam kami menghabiskan malam yang indah berdua," Rara tertawa penuh kemenangan.


"Kau bohong!!" Arini berteriak sambil menangis, melihat Rara pergi meninggalkanya.


"Riko! Dosis obatnya sudah di tambahin dari biasanya!" tanya Rara melalui telpon.


"Sudah nona, mungkin sebentar lagi dia akan pingsan."

__ADS_1


"Oke kalau gitu, kau pergilah ke toilet..."


"Tapi, saya tidak ingin buang air kecil nona."


"Makanya dengerin orang ngomong dulu! Kau hanya perlu berpura-pura sakit perut dan pergi ke toilet, kau itu nggak sengaja ninggalin kuncinya di mobil karena buru-buru. Ngerti!"


"Saya ngerti nona."


"Kalau udah ngerti, pergi dari sana sekarang juga. Cepetan!!" Rara menahan suaranya agar tidak ada yang menguping pembicaraannya. Matanya melihat ke sana ke mari untuk memastikan nggak ada yang tau rahasianya.


Dengan cepat Riko meninggalkan mobil dalam keadaan tidak terkunci, dia berlari dan memegangi perutnya yang sama sekali nggak sakit. Dia bersembunyi di balik tembok, "buat apa juga ke toilet, aku kan bisa kehilangan momen seru ini untuk terakhir kalinya," pikirnya senang.


Arini berjalan dengan cepat menuju mobil, dia hanya ingin pergi dari sini segera. Tangannya membuka pintu dan langsung masuk ke belakang kemudi dan merebahkan tubuhnya di sandaran kursi, tanpa melihat. "Cepat jalan Riko!" Cukup lama dia memejamkan mata, untuk menenangkan diri. "Kemana dia!" di saat seperti ini dia malah menghilang. Kesabarannya benar-benar habis, setelah menunggu Riko cukup lama, dia memutuskan membawa mobilnya sendiri.


"Aaaahhhhh!!" teriaknya, kalian semua brengsek! Mas Exel, jangan harap kau bisa melihat anakmu! Kau pembohong!! Aku benci kalian... uuwu.. Uuwuuu... Hiks hiks," Arini mengemudikan mobilnya dengan kencang. Emosinya tidak terkendali, dia sama sekali tidak mengingat keselamatan janinnya lagi.


"Semua berjalan lancar nona, dia membawa mobilnya dengan sangat cepat."


"Oke, kerjamu bagus, tunggu saja bonusmu." Kemudian mematikan panggilannya, Rara menyeringai bahagia. "Mulai hari ini tidak ada lagi yang bisa menghalangiku bersama kak Exel, Kanaya itu bukan apa-apa. Penghalang yang sebenarnya udah di singkirkan."


Sementara di tempat lain, tangisan Arini semakin menjadi-jadi. Kepalanya mulai terasa pusing, matanya tidak bisa melihat dengan jelas. Arini menekan rem, tapi mobilnya sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda pengurangan kecepatan. "Sepertinya ada yang salah," otaknya tidak bisa berpikir jernih. Di sekelilingnya terlihat seperti hutan, kenapa dia bisa sampai di tempat seperti ini. Panik mulai menghinggapinya, dan tanpa sadar dia merasa sedang terbang dan berputar, entah apa yang terjadi semua sudah kelihatan gelap.


Met malam, mimpi indah yah😊🤗😘

__ADS_1


__ADS_2