Affair With My Boss

Affair With My Boss
Tidur bersama


__ADS_3

Seberkas cahaya menyinari ruangan nan indah, yang masih tertutup dengan rapat. Hal itu tidak bisa menahan bagaimana teriknya cahaya matahari menerangi setiap sudut ruangan. Cahaya tersebut seolah-olah ingin membangunkan penghuni kamar itu. Ana membuka matanya secara perlahan, dia berusaha untuk bangun tapi hal itu membuat kepalanya pusing. Matanya mengerjap dan mulai duduk berusaha menormalkan kepalanya yang masih sakit.


Dengan mata yang masih mengantuk, Ana mulai mengaktifkan mode waspada. Ia bisa merasakan sesuatu yang beda, itu dikarenakan ini bukanlah kamarnya. Matanya mengitari ruangan dan dia sadar sedang berada disuatu tempat yang tidak dikenali. Tubuhnya tiba-tiba menggigil, Ana meraih selimut yang teronggok di pinggang.


"Haaah!!" Ana terpekik sambil menutup mulut, seakan-akan tidak percaya dengan penglihatan ia sendiri. Ana menatap tubuh telanjangnya, bolak balik melihat bagian bawahnya yang terasa lengket dan agak sakit. Ana makin tersentak menatap sosok laki-laki yang ada disebelahnya, jantungnya serasa berhenti berdetak.


Siapa pria yang tidur dengannya, dia sama sekali tidak bisa mengingat apapun. Memori tadi malam seolah-olah terhapus dari ingatan Ana. Itulah sebabnya dia tidak ingin menyentuh alkohol, Ana mulai menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


Seingatnya tadi malam dia berdansa bersama Clara dan Lewis, dia ingat sikap Lewis agak berbeda, bahkan pria itu memeluk dia dari belakang. "A-apa mungkin Lewis? Tidak, tidak.. Jangan aku mohon." Ana mulai menatap pria yang ada disampingnya, semoga pria itu bukan rekan kerjanya.


Tubuh pria itu sangat bagus, kulitnya bersih dan juga berotot. Ana cukup bersyukur karena orang itu memiliki fitur yang sangat bagus, jadi aku bukan tidur dengan orang sembarangan. Tubuh bagian bawahnya memang sakit dan agak berdenyut, dia tidak pernah mengingat kapan terakhir kali dia berhubungan intim. Semenjak dia memiliki Noah, Briana sama sekali menutup hati untuk setiap pria. Entah kenapa dia sangat membenci cinta, kadang dia berpikir. Mungkin hal itu yang menyebabkannya tidak bisa mengingat masa lalu. Semua itu mungkin karena cinta.


Ana menatap buku mata panjang nan lentik pria itu dari belakang, hidung mancung dan bibir nan sexy sangat indah. "Eeh tunggu, ini bukannya wajah presdir maniak. Benar, mata itu memang miliknya." Dengan bergegas Ana turun sambil memegangi selimut agar tak terjatuh, dan menatap wajah tampan pria itu. Ada perasaan legah dihatinya, karena orang itu memang Exel. "Tapi kenapa hal ini bisa terjadi..." Ana mulai fokus dengan pikirannya.


"Sudah puas melihat?" Sebuah suara membuat Ana kaget. Mata indahnya yang terbuka sedang menatap Ana, dengan bibir yang menyunggingkan senyuman yang teramat manis mengalahkan madu. Kasian para lebah pikir Ana.


"A-apa yang kau lakukan! Kenapa kau melakukan hal kotor ini padaku?" Ana mulai tersadar dari pikirannya.

__ADS_1


"Ooh.. Aku sangat sedih, baru semalam kau telah melupakan tanda cinta kita tadi malam." Exel berpura-pura murung. Padahal kau sendiri yang merayu dan merangkak ke atas ranjangku." Mata Exel kembali berbinar mengingat peristiwa tadi malam.


"I-itu tidak mungkin.. Mana buktinya?" Dia yakin itu pasti bukan dirinya, pria itu pasti mengada-ngada. Tubuh Ana mulai bergetar menahan malu yang teramat sangat kalau memang itu yang terjadi.


"Oke, mendekatlah.." Kalau berjauhan seperti ini tidak akan bisa melihat dengan jelas." Exel berkata acuh, sambil berbaring malas di tempat tidur.


Ana berjalan mendekat dan mengambil ponselnya. Setelah beberapa lama Ana mulai mencari-cari video yang dimaksud, tapi yang ada hanyalah video dan foto dokumen. "Apa ini! Apa kau ingin menipuku!" Dia mulai geram dengan kebohongan pria itu.


Exel menarik selimut yang sedari tadi di pegang Ana untuk menutupi tubuhnya, dengan sekali tarikan dia sudah berada di atas tubuh pria itu. Mata Exel berubah gelap saat menatap dirinya, Ana mulai panik melihat arah pandangan matanya. Dia sedang menatap dadanya yang telanjang. Tubuh Ana memerah seperti tomat.


Exel mengecap rasa manis bibir istrinya, kerinduan yang selama ini dia tahan telah ditumpahkannya tadi malam. Mungkin cukup kejam, karena Arini sedang mabuk. Tapi pagi ini dia udah nggak mabuk, jangan salahkan aku tidak bisa menahan diri.


Exel mulai menekan Ana dibawah tubuhnya, sambil terus menguasai bibir wanita yang sangat dicintainya. Tangannya tidak bisa diam menjelajah dimana-mana.


Tubuh Ana terkunci, tidak bisa menolak cumbuan yang diberikan Exel padanya. Bibir dan tubuhnya menerima setiap ciuman yang diberikan Exel, suara ambigu mulai terdengar dari bibirnya. Hanya menambah kebringasan seorang pria yang kelaparan untuk waktu yang lama.


Setelah dua jam bercinta, Ana merasakan ketidaknyaman di bagian pinggulnya. Perutnya berbunyi karena memang sangat lapar. Ana sangat marah, karena Exel membuatnya klimaks berkali-kali. Dia sangat malu sekaligus marah, karena Exel melakukan itu tanpa mau berhenti. Badannya pegal semua, yang terakhir Exel membawanya ke kamar mandi, dia pikir bakalan bisa mandi dengan nyaman. Tapi pria itu kembali melancarkan aksinya.

__ADS_1


Ana mulai waspada saat dia telah selesai sarapan, tanpa malu-malu ia menyantap setiap hidangan yang ada. Dia takut pria itu akan kembali memasuki dirinya, dia belum siap. Dia sangat dominan dan Ana tidak mampu menolak setiap sentuhan yang diberikannya, tanpa sadar dia menggigit bibirnya.


"Jangan digigit.." ekspresi wajahmu seolah-olah meminta padaku.." Exel tersenyum nakal sambil makan.


Ana menatap tajam sejenak, kemudian mulai mencincang steak di piring dengan kejam. Dia sangat kesal. Dia sama sekali tidak meminta izin dariku untuk menyentuh tubuhku. Ana memerah, membayangkan dia mendesah saat Exel menciumi seluruh tubuh, dan berlama-lama di area intimnya. Rasanya dia ingin menggali lubang dan mengubur dirinya sendiri.


Exel tersenyum melihat tingkah lucu istrinya. Sudah dia putuskan untuk mengambil hatinya terlebih dahulu sebelum menceritakan semuanya. Mereka telah melakukan hubungan suami istri, Exel takut Arini akan marah dan membencinya.


Setelah mengetahui hasil DNA Noah, dia langsung menemui anaknya itu. Exel langsung memeluknya dengan penuh rasa haru, cukup lama dia hanya diam sambil memeluk Noah.


"Eheem.." Noah memberikan kode agar uncle presdir melepaskan pelukannya, karena itu cukup menyesakkan dadanya karena kesulitan bernapas.


Dengan wajah bersimbah airmata, Exel menatap wajah anaknya yang sangat tampan. Semua mirip ibunya, tidak disisakan kemiripan untuknya. Mungkin karena Arini membencinya saat dia mengandung anak kami.


Noah menatap uncle presdir yang sedang sedih. "Ada apa uncle?" Kenapa menangis? Uncle seperti anak kecil saja." gumam Noah sambil menyeka air mata di pipi Exel dengan tangan mungilnya.


Met bobok cantik🤩🤩😘😘

__ADS_1


__ADS_2