
Cukup lama Arini terdiam dengan ucapan Exel. "Seiring dengan waktu yang terus berjalan, setiap orang akan mengalami perubahan, bapak juga seperti itu."
"Tapi perubahan orang lain biasanya ke hal yang lebih baik, gimana denganmu? Apa kau sudah merasa baik?"
"Saya memang bukan orang yang sempurna. Tapi, saya tidak seburuk yang bapak pikirkan. Saya masih punya harga diri, walaupun keadaan ekonomi keluarga kami sangat tidak stabil. Tapi saya dan keluarga bukan orang yang bisa menjual harga diri demi uang. Entah bapak dapat cerita buruk tentang saya dari mana! Tidak habis pikir dengan pemikiran orang itu, saya memang seorang janda, bukan wanita murahan." Arini sudah tidak tahan dengan semua hinaan yang keluar dari mulut orang yang selama ini di rindukannya.
"Waw, bravo. Kau memang pintar berkata-kata, kalau dulu aku mungkin bisa tertipu dengan tampang lugumu itu. Tapi sekarang itu tidak berlaku lagi. Jujur saja! Tidak usah menutupi apapun, aku tau semua tentang dirimu. Keluarkan hargamu! Aku juga tidak buruk, tidak pantas kau menolak pelanggan sepertiku." mata Exel memancarkan kilauan tajam, entah itu tatapan menggoda atau kemarahan.
"Tidak perlu! Saya masih bisa membiayai hidup dengan gaji yang di berikan Perusahaan. Saya permisi pak! Karena masih banyak yang harus saya kerjakan," Arini langsung berdiri hendak pergi.
Exel cukup takjub dengan sikap Arini yang sabar. "Sikapmu semakin membuatku penasaran," batinnya.
"Tunggu! Aku tau keluargamu butuh uang, ayahmu memiliki banyak hutang di masa lalu, biarkan aku membantu."
"Itu memang benar, bapak tau dari mana? Tapi, itu semua sudah teratasi, jadi bapak tidak perlu mengkhawatirkan hal yang tidak ada hubungannya dengan bapak. Saya permisi!" Arini bergegas berjalan ke arah pintu. Dia sudah berulang kali berusaha membuka pintunya, tapi tetap tidak bisa.
"Hanya aku yang bisa membuka kuncinya!" teriak Exel dari belakang.
"Haah," Arini mendesah prustasi sambil menarik gagang pintu. Saya mohon, tolong buka pintunya? Masih banyak pekerjaan yang belum saya selesaikan."
"Siapa yang kau takutkan? Bukankah aku atasanmu?"
"Anda benar, tapi tidak sepantasnya seorang atasan bersikap tidak profesional seperti ini." Kesabaran Arini mulai habis.
"Itu terserah padaku, aku yang tentukan kapan harus barsikap sepantasnya. Mendekatlah, kodenya akan ku berikan kalau kau nurut," sambil melambaikan jarinya. "Hanya aku dan Reno yang tau kodenya."
Arini telah kehabisan tenaga menghadapi bosnya itu, dengan ragu dia berjalan mendekati Exel. "Semoga dia tidak memiliki niat yang buruk," Arini berdoa dalam hati.
"Kita bahkan belum berjabat tangan." Exel mengulurkan tangannya.
Arini menyambut uluran tangan Exel. "Nggak sopan juga kan, kalo gak di jabat. Aku kan gak seberani itu menolak permintaan presdir." batinnya.
Exel menarik tangan Arini yang membuatnya terjatuh ke dalam pangkuannya. Cukup lama mereka saling menatap satu sama lain, spontan Arini melepaskan cengkraman Exel. Tapi Exel malah mencengkeram pinggangnya.
"Lepas!" Arini mendorong dada Exel agar menjauh dan menundukkan wajahnya yang memerah.
"Buat apa malu! Kita sama-sama tau, kalau kau itu wanita berpengalaman. Aku cuma minta pelayanan spesial darimu, sebagai mantan pacar, kau harus memberikan sesuatu yang berbeda untukku dari yang lainnya." Exel menarik ujung rambut Arini, dengan tangannya. Karena sakit membuat Arini mengikuti tangan Exel, wajah mereka tinggal sejengkal.
__ADS_1
Walaupun dari tadi laki-laki ini selalu menghinanya, tapi menatap matanya seperti ini, membuat Arini meleleh di pelukannya. Matanya tidak lagi memancarkan kemarahan, tapi hanya menyisakan kelembutan. Tangannya mencengkram kemeja yang di kenakan Exel.
Saat Exel ingin meraba bibirnya, Arini malah spontan menggigit tangan Exel. Dengan pucat Arini turun dari pangkuan bosnya, dan melihat Exel memegangi tangannya yang berdarah, jelas dia sangat gugup
"Kau sangat berani! Kau harus bertanggung jawab karena telah melukaiku."
Arini semakin takut melihat ekspresinya yang sedang marah.
"Kau boleh memilih, jadi wanitaku! Atau jadi gelandangan di luar!" tegas Exel.
"Anda tidak berhak bersikap seperti itu!" Saya memiliki kontrak dengan perusahaan, jadi anda tidak bisa membatalkannya begitu saja."
"Apapun yang aku inginkan, aku pasti mendapatkannya. Termasuk kau! Pikirkanlah dengan matang, jangan terburu-buru, nasibmu ada di tanganku."
Wajah Arini pias, memang dia muak dengan sikap Exel padanya. Tapi, punya apa dia kalau seandainya di pecat, setahu Arini kalau ada yang di pecat secara tidak hormat dari sini. Maka, akan sulit sekali mencari pekerjaan di mana pun. Gimana nasib keluarganya yang bergantung padanya.
"Aku tidak akan memaksa wanita yang tidak menyukaiku. Tapi kau tau yang akan terjadi setelah itu." Exel mengerling nakal ke arah Arini.
"Apa yang harus aku lakuin.." batinnya. "Saya bukan perempuan seperti yang bapak pikirkan."
"Baiklah, terserah padamu. Aku kasih waktu sebulan, tentukan pilihanmu setelah itu."
"Masuk!"
Reno masuk dengan wajah yang heran, siapa perempuan itu? Bukan karyawan biasa, "kenapa dengan mukanya, kok tegang gitu." Tapi si bos kok malah nyantai, dan tersenyum senang.
"Keluarlah." Exel mengusir Arini dengan lambaian tangannya. Seperti mengusir seekor lalat.
"Saya permisi." Arini keluar dengan muka sendu.
"Ada apa?" Tanya Exel penasaran.
"Tadi pimpinan menghubungi, kalau Insvestor dari Jerman mau bertemu dengan Presdir. Katanya sudah janjian sebulan yang lalu."
"Sekarang dimana orangnya?"
"Ada diruangan rapat," jawab Reno singkat. "Ayok kesana jawab Exel."
__ADS_1
Exel melewati ruangan Arini, dia melirik sedikit dari sudut matanya ke ruangan yang kacanya tembus pandang. "Kemana dia! Kenapa tidak ada," batin Exel sambil terus berjalan.
Disaat dia berjalan karyawan wanita malah terpaku melihat ketampanan Exel. Apalagi saat ini Exel hanya memakai jas yang kancingnya di biarkan terbuka. Yang memperlihatkan kemeja putih yang ngepas ke badannya yang berotot.
"Yaa ampun ganteng banget. Aku mau kok jadi yang kedua sekalipun. Jangankan jadi yang kedua jadi yang ke lima sekalipun aku mau," jawab karyawan wanita lainnya.
Reno menghela napas. Emang enak punya tampang ganteng, tajir melintir lagi. Nasib-nasib punya tampang pas pasan dan uang pas pasan, "cewek jaman sekarang pada matre," gumamnya kesal. walaupun penghasilanya sangat besar, dia musti berhemat demi menghidupi keluarga.
"Kenapa? Ngomel aja dari tadi," tanya Exel.
"Gak ada bos cuma menangisi nasib yang belum dapat jodoh," jawabnya Reno asal.
"Jodoh tu dikejar bukan ditunggu," usaha dong." sahut Exel acuh tak acuh.
"Kita mana sama bos, sangat jauh berbeda. Bos itu udah kayak makanan di kerubuti lalat," sahut Reno sensi.
Exel hanya tersenyum menanggapi asisten sekaligus sahabatnya ini. padahal tampangnya gak jelek, dianya aja yang banyak pilih.
Sementara Arini kembali keruangannya, tadi nenangin diri dulu di toilet. ternyata udah waktunya istirahat siang.
"Tok tok..."
Bunyi pintu di ketuk dari luar.
"Masuk." Kata Arini, dan ternyata yang muncul adalah Mely sahabatnya.
"Halo buk manager udah makan belum?" kata Mely.
"Hai Mel, ayok masuk-masuk." kata Arini antusias.
"Wah, ternyata ruangan bu bos bagus juga," oceh Mely. "Boleh dong sekali-sekali nongkrong di sini?"
"Boleh, kalau gak takut di pecat." sahut Arini tertawa. "Tumben ke sini?"
"Mau ngajakin Bu bos makan siang," Mely dengan gayanya yang lebay."
"Kebetulan banget, gue juga udah laper. Yuk buruan, ntar sup iga nya habis." Makanan kesukaan Arini.
__ADS_1
***
Happy reading guys👍👍