AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 100


__ADS_3

Dihari yang berbahagia ini, Azkia yang menggunakan kebaya modern berwarna putih dengan hiasan Melati yang hampir memenuhi kepalanya terlihat sanggat cantik dan anggun.


Didampinggi Tracy dan Watson yang mengapitnya, Azkia berjalan menuju panggung dimana sudah ada Louis dan penghulu disana menunggunya.


Louis bahkan tak bisa berkedip melihat wajah cantik Azkia dengan balutan kebaya putih tersebut.


Hingga Azkia sudah berada disampingnya, Louis masih terdiam terpaku larut dalam pesona kecantikan Azkia.


“ Son....”


“ Jika kamu terus melamun seperti itu maka papi akan membawa Azkia kembali masuk kedalam rumah....”, ucap Watson tajam.


“ Ng-nggak bisa gitu dong pi....”, ucap Louis gelagapan..


Sang penghulu dan para tamu undangan tersenyum melihat tingkah konyol putra sulung Watson yang baru mereka lihat sekarang.


Mereka sungguh tak menyangka jika seorang Louis Watson agar bisa bersikap seabsurd itu hanya karena berdekatan dengan wanita cantik yang akan menjadi istrinya.


Kecantikan Azkia sudah tak bisa diragukan lagi. Seandainya Louis tak mengklaim lebih dulu calon istrinya itu bisa dipastikan akan banyak lelaki yang datang mendekatinya.


Untung saja putra sulung Watson tersebut memiliki gerakan cepat sehingga tak sampai keduluan yang lainnya.


Semua orang terdiam begitu acar sakral diatas panggung dilaksanakan.


Karena sudah tak memiliki orang tua dan sanak kerabat maka pernikahan Azkia diwakili oleh pihak penghulu yang akan menjadi walinya.


Baru saja kata SAH dikumandangkan membuat semua orang tersenyum bahagia tiba – tiba ada suara tembakan yang langsung membuat keadaan menjadi mencekam.


Dor dor dor.....


Dor dor dor.....


Dor dor dor.....


Rentetan tembakan yang memenuhi halaman belakang mansion yang dijadikan tempat acara membuat semua tamu undangan mulai berlarian panik.


Diatas tanah sudah banyak para pengawal yang berjatuhan terkena tembakan dari segerombolan orang yang entah datang dari mana dengan wajah ditutupi masker berwarna hitam mulia masuk ke pesta.


Melihat keadaan tak terkendali Louis pun langsung menarik tangan Azkia untuk mencari tempat persembunyian.


Namun belum juga kakinya melangkah turun, Louis harus terkena tembakan di punggung setelah dia mencoba melindungi Azkia dari peluru panas yang menuju kearahnya.


“ Kamu tidak apa....”, tanya Louis sambil menatap istrinya dengan cemas.


“ Aku tidak apa – apa....”


“ Sekarang kita mencari tempat bersembunyi dulu sambil menunggu bantuan.....”, ucap Azkia sambil memapah tubuh Louis mencari tempat perlindungan.

__ADS_1


Belum juga Azkia berhasil membawa tubuh lelaki yang beberapa detik lalu telah sah menjadi suaminya ketempat yang aman, beberapa tembakan datang dan mengenai tangan serta kepala hingga Louis pun jatuh terkapar.


“ Louis....”, jerit Azkia histeris.


Watson yang melihat putra sulungnya tumbang setelah tertembak dikepala langsung membabat habis para penyusup yang masuk kedalam wilayahnya.


Dor dor dor.....


Dor dor dor.....


Dor dor dor.....


Watson menembak siapa saja lelaki berpakaian serba hitam yang berhasil masuk kedalam indera penglihatannya secara membabi buta.


“ Louis !!!....”


“ Bangun Louis !!!.....”


“ Bangun !!!......”, teriak Azkia berderai air mata.


Kebaya putih pernikahan Azkia berubah menjadi merah oleh darah yang keluar dari kepala, punggung, serta lengan suaminya.


Azkia yang sudah tak bisa lagi merasakan denyut nadi Louis kembali berteriak histeris menolak fakta jika suami yang baru saja dia nikahi meninggal dalam dekapannya.


“ Tidak Louis, tidak.....”


“ Kamu tak boleh mati dan meninggalkan aku serta anak – anak....”, Azkia terus meracau sambil menepuk – nepuk pipi Louis dengan air mata bercucuran.


Ardan yang melihat hal tersebut tiba – tiba keluar dari tempat persembunyian, membuang tongkatnya dan langsung meloncat dihadapan Azkia hingga perutnya tertusuk pisau yang ditujukan kepada Azkia.


“ Tidak....”


“ Aku tak sengaja menusuknya....”, ucap wanita berambut pirang itu panik waktu sadar jika pisaunya salah sasaran.


Sambil menggeleng – gelengkan kepala, wanita tersebut membuang asal pisau tajam berlumuran darah yang baru saja mengoyak perut Ardan tersebut.


Faisal yang melihat hal tersebut langsung menangkap wanita yang telah menusuk perut putranya dengan cepat.


Azkia sangat terkejut mengetahui Ardan terjatuh disampingnya dengan perut mengeluarkan darah segar yang cukup banyak langsung menghampirinya setelah meletakkan tubuh Louis dengan sangat hati – hati ditanah.


“ Ardan, bertahanlah....”


“ Sebentar lagi ambulan akan datang...”, ucap Azkia ketika melihat jika sudah banyak penyusup yang mati dan tertangkap oleh anak buah Watson.


“ Maaf aku tak bisa lagi membantumu menjaga dan membesarkan anak kita....”


“ Aku titip Askara kepadamu....”

__ADS_1


“ Bilang padanya jika papanya sangat mencintainya....”, ucap Ardan lemah.


“ Tidak....”


“ Kamu tak boleh mati.....”


“ Kamu harus kuat.....”, ucap Azkia panik.


Belum juga air matanya kering oleh tangis kematian suaminya didalam dekapannya, Azkia harus disodori fakta papa kandung anaknya juga dalam kondisi sekarat dihadapannya setelah menyelamatkan nyawanya dari penusukan.


Pesta pernikahan yang seharusnya membawa kebahagian bagi Azkia saat ini diwarnai oleh kesedihan yang mendalam.


Meninggalnya Louis dan Ardan yang kritis tentunya membuat Azkia menjadi syok sehingga diapun pingsan setelah Ardan tak sadarkan diri dihadapannya.


Beruntungnya Imelda dan Asai langsung bisa diamankan oleh suster Tya dan dua orang bodyguard yang bersamanya masuk kedalam rumah karena pas acara akad berlangsung keduanya berteduh dibawah pohon yang sedikit jauh dari tempat acara berlangsung hingga keduanya tak menjadi incaran para penjahat.


Tracy bersama Sindy dan Becca menemani Louis dan Azkia serta para korban kerumah sakit sementara Watson dan Thomas putra keduanya membereskan mayat para penjahat dan langsung membawa wanita berambut pirang yang hendak menusuk Azkia serta beberapa penjahat yang masih selamat keruang bawah tanah untuk diinterogasi.


Watson sangat berang karena dia berhasil kecolongan dalam acara pernikahan putra sulungnya tersebut sehingga diapun akan membuat perhitungan kepada dalang dibalik penyerangan tersebut.


Semenatar itu, setibanya dirumah sakit Louis dinyatakan telah meninggal dunia sementara Ardan juga ikut menyusul Louis lima menit setelahnya.


Azkia yang baru saja sadar dari pingsannya menangis histeris waktu dia melihat kedua orang yang pernah mengisi hati dan hidupnya terbujur kaku diatas brangkar yang ada di UGD.


“ Kenapa....”


“ Kenapa nasibku sesial ini....”


“ Semua orang yang kucintai meninggal dunia...”


“ Meninggalkanku seorang diri didunia ini...”


“ Lalu, apa gunanya aku hidup.....”, teriak Azkia frustasi.


Melihat ada pisau diatas nakas samping ranjangnya, Azkia pun berdiri dan langsung mengarahkan pisau tersebut kepergelangan tangannya.


“ Jangan nyonya !!!....”, teriak salah seorang perawat lantang.


Sang perawat langsung menampol tangan Azkia hingga pisau yang yang akan dia gunakan untuk mengores pergelangan tangannya terpental jauh kelantai.


Azkia yang terus berteriak histeris dan berusaha untuk mengakhiri hidupnya dengan mengambil gunting yang ada didekatnya terpaksa disuntik obat penenang agar pingsan.


Tracy dan Sindy menangis melihat Azkia kembali depresi seperti ini. Keduanya tak bisa menyalahkan Azkia karena siapapun yang berada dalam posisinya pasti akan melakukan hal yang serupa.


“ Kasihan Azkia, kebahagiaan yang  hampir digenggamnya kembali lepas dan harus menghadapi kenyataan kehilangan dua orang yang sangat berarti dalam hidupnya dihadapannya....”, guman Becca iba.


Saat ini semua orang tak bisa melakukan apapun selain menyerahkan semuanya kepada Watson yang  saat ini sedang menginterogasi para penjahat.

__ADS_1


Jenasah Louis segera dibawah pulang kekediaman sementara jasad Ardan sedang diurus untuk bisa dibawa pulang ketanah air.


Semua orang tak menyangka jika pesta yang awalnya penuh kebahagiaan akan berakhir tragis seperti ini.


__ADS_2