
Setelah meeting dengan klien, Azkia bergegas kembali keruang kerjanya dengan wajah gelisah sambil terus menatap kearah layar ponselnya.
“ Kenapa mami belum menghubungiku juga....”
“ Apa mereka sudah pergi....”
“ Lalu bagaimana Asai....”
“ Dia rewel tidak ya....”, batinnya resah.
Semua pertanyaan seakan bermunculan dengan sendirinya dalam benak Azkia tanpa bisa dicegah lagi hingga membuatnya bangkit dari tempat duduknya.
Jenny sang assisten yang melihat kelakukan Azkia hanya bisa geleng – geleng kepala melihat bosnya itu mondar – mandir dalam ruangan yang pintunya tak tertutup sempurna itu sambil komat – kamit tak jelas.
Akibat terlalu fokus Jenny tak sadar jika sekarang Louis sudah ada dihadapannya sambil menyipitkan kedua matanya penasaran.
“ Azkia apa ada diruangannya....”, tanya Louis penuh selidik.
“ A-ada pak.....”, jawab Jenny gugup.
Melihat Louis masih menatapnya tajam, Jenny pun menceritakan apa yang membuatnya tidak menyadari kedatangan lelaki itu tadi.
Louis yang tahu apa yang membuat Azkia gelisah tersebut langsung masuk kedalam ruang kerja calon istrinya itu untuk menghiburnya.
Azkia yang tak menyadari kedatangan Louis masih berjalan mondar - mandir sambil sesekali melihat layar ponselnya yang masih saja hitam sambil menghembuskan nafas kasar beberapa kali.
Louis yang pada awalnya hendak membiarkan saja Azkia sampai wanita itu menyadari keberadaannya pada akhirnya merasa gemas karena Azkia tak kunjung juga mengetahui jika dia ada dalam ruangan tersebut.
Merasa tangannya ditarik seseorang, Azkia yang terkejutpun langsung berteriak hingga membuat Jenny yang berada diluar spontan masuk kedalam ruang kerja bosnya itu.
“ Ma-maaf, silahkan dilanjutkan....”, ucap Jenny panik.
Dengan cepat Jenny langsung menutup pintu sebelum Louis marah karena dia telah mengganggu moment intimnya dengan Azkia.
Sementara Azkia yang saat ini dalam posisi berada diatas badan Louis setelah terjatuh waktu lelaki itu menarik tangannya berusaha untuk melepaskan diri.
Tapi Louis tak membiarkan moment berharga tersebut lepas begitu saja. Diapun langsung menarik kepala Azia agar berbaring didadanya.
“ Rileks lah sejenak....”, bisik Louis ditelingga Azkia.
Azkia yang mencium aroma tubuh Louis langsung memejamkan mata, otot – otot syarafnya yang tadi sempat tegang sekarang berangsur – angsur mulai mengendur sehingga diapun merasa lebih tenang sekarang.
“ Apa kamu ingin pulang sekarang....”
“ Jika mau, aku akan mengantarmu....”, bisik Louis sambil mengelus kepala Azkia dengan penuh kasih sayang.
__ADS_1
“ Tidak....”
“ Biarkan dia menikmati waktu bersama anaknya....”
“ Akan terasa canggung jika ada aku disana....”, uap Azkia pelan.
Azkia kembali memejamkan mata menikmati aroma tubuh Louis yang sudah menjadi candu baginya.
Aroma yang langsung bisa menghilangkan semua penat yang ada jika menghirupnya dalam – dalam seperti ini.
Apalagi dada bidang Louis sangat pas dengan tubuhnya yang munggil sehingga daddynya Imelda itu bisa langsung membawa tubuhnya masuk kedalam pelukannya.
Setelah mendengar keputusan Azkia, Louispun langsung terdiam. Keduanya menikmati moment seperti ini dimana keduanya tak saling berbicara namun bisa saling mengerti dan memahami satu sama lain.
Kepekaan Louis yang seperti inilah yang membuat Azkia akhirnya luluh dan bersedia membuka hatinya kembali.
Ada kalanya Louis akan mengajaknya berdebat hebat bahkan tak jarang keduanya saling meninggikan suara karena kekeh akan pendapat yang mereka lontarkan.
Namun hal itu juga tak berlangsung lama, setelah keduanya menemukan kata sepakat maka keduanya akan kembali baik seperti semula.
Namun tak jarang juga Louis membiarkan Azkia terdiam seperti ini waktu lelaki itu merasa jika calon istrinya tersebut membutuhkan ruang untuk dirinya bergelut dengan pemikirannya sendiri.
Jika seperti ini, Louis akan dengan setia menemaninya seperti sekarang hanya terdiam hingga Azkia mengajaknya berbicara.
Ardan tak tahu lagi kapan dia bisa kembali kenegara ini untuk bertemu dengan anaknya dan melepaskan semua rasa rindu dalam hatinya yang sudah dia rasakan padahal belum ada sehari dia berpisah dengan anaknya.
Tawa serta celoteh ala bayi membuat air mata Ardan tak dapat dibendung lagi, diapun menanggis sambil tersenyum melihat wajah Askara yang tampak bahagia bersamanya.
“ Anakmu sudah berada ditangan orang yang tepat....”
“ Meski mereka tak memiliki hubungan darah dengan Askara tapi mereka tampak sangat menyayanginya jadi kamu tak perlu khawatir lagi....”, ucap Vera berusaha menghibur hati Ardan.
Mendengar ucapan tantenya, hati Ardan semakin terasa perih. Orang lain saja bisa memperlakukan Azkia dan anaknya dengan begitu baik.
Tapi dirinya yang merupakan papa kandungnya justru telah menyia – nyiakan kesempatan untuk merawat keduanya dimasa lalu dengan terus menyakiti mereka.
Melihat Ardan terdiam dengan kedua mata kembali berkaca – kaca, Melati yang ada disampingnya pun mengusap bahu anaknya pelan sebagai bentuk support untuknya.
“ Benar yang dikatakan oleh tantemu...”
“ Aku lihat Tracy begitu menyayangi Askara seperti cucunya sendiri...”
“ Bahkan mereka semua memberikan fasilitas lebih untuk anakmu jadi sekarang kamu fokuslah pada dirimu sendiri...”
“ Jangan larut dalam kesedihan dan fokus pada penyembuhanmu....”
__ADS_1
“ Semakin cepat kamu sembuh maka semakin cepat juga kamu untuk bertemu dengan Askara....”, ucap Melati menguatkan.
Ardan menangis terguguh dalam pelukan Melati seperti seorang anak yang habis kehilangan permen kesukaannya.
Dengan penuh kasih sayang Melati mengusap punggung Ardan hingga tangisan putranya itu reda.
“ Benar kata bunda, aku harus segera sembuh untuk bisa bermain lebih leluasa dengan Askara....”, batin Ardan penuh tekad.
Sesampainya dibandara, jet pribadi milik keluarga Bimantara sudah standby dan siap menerbangkan anggota keluarga tersebut pulang kenegaranya.
Begitu pesawat tinggal landas, Ardan kembali menitikkan air mata seiring pesawat semakin terbang tinggi dan pemandangan dijendela berupa awan putih mendominasi.
Meski saat ini kaki Ardan lumpuh, tapi dari hasil pemeriksaan yang sempat dijalaninya menyebutkan jika kelumpuhan ini tak bersifat permanen.
Itu berarti Ardan masih memiliki kesempatan untuk berjalan kembali jika dia mendapatkan pengobatan dan perawatan yang tepat.
Dan Faisal pun sudah mendapatkan dokter yang tepat untuk Ardan menjalani pengobatan setelah dia pulang nantinya berdasarkan rekam medis yang diterimanya.
Dilain tempat, Azkia yang masih setia dalam dekapan Louis mulai membuka mata waktu ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk dari Tracy membuat kedua mata Azkia langsung berbinar cerah dan hatinya merasa sangat lega.
“ Apa yang kamu khawatirkan tidak terjadi bukan....”, bisik Louis tepat ditelingga Azkia hingga membuatnya berjingkat karena terkejut.
“ Ya, mungkin aku saja yang terlalu terbawa perasaan....”, ucap Azkia sambil menghela nafas pelan.
“ Wajar jika seorang ibu sangat khawatir dengan anaknya....”
“ Seperti yang kamu lihat, Asai tampak bahagia bisa bermain dengan papanya....”, ucap Louis sambil melihat video yang dikirim maminya kepada Azkia.
Benar apa yang dikatakan oleh Louis, dalam video tersebut dapat dia lihat buah hatinya tampak sangat senang tak tak terlihat canggung sedikitpun meski keduanya belum pernah bertemu sebelumnya.
“ Memang ikatan darah lebih kental dari apapun hingga bayi yang belum pernah bertemu papanya langsung bisa lengket seperti itu hanya dalam satu kali tatap.....”, ucap Azkia sambil menghembuskan nafas secara kasar.
“ Jangan bebani kepalamu yang kecil itu dengan banyak pemikiran aneh...”
“ Seharusnya kamu bahagia Askara bisa menerima Ardan dengan baik....”, ucap Louis sambil membelai kepala Azkia dengan lembut.
“ Tapi aku masih merasa bersalah terhadap Asai karena telah sengaja memisahkannya dengan papa kandungnya....”, ucap Azkia senduh.
Louis yang mengerti akan kekhawatiran calon istrinya itu kembali mengusap kepala Azkia dengan penuh kasih sayang sambil berkata “ Aku yakin saat besar nanti Asai pasti memahami kenapa kedua orang tuanya memilih berpisah. Dan saat itu, kamu bisa menjelaskan kepadanya secara perlahan mengenai semua hal kepada Asai ketika dia sudah dewasa nantinya....”.
Mendengar ucapan bijaksan dari Louis, Azkia pun kembali mengeratkan pelukannya dan membenamkan diri didada bidang calon suaminya itu dengan perasaan bahagia.
“ Kurasa aku tak salah berusaha untuk membuka hatiku kepadamu....”, batin Azkia bermonolog.
__ADS_1