AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 67


__ADS_3

Semalaman Ardan tak dapat tidur hingga kantong matanya terlihat sangat lebar. Dengan wajah lesu diapun bergegas menuju kekantor.


Aura gelap yang keluar dari tubuhnya membuat semua orang yang berpapasan dengannya dikantor langsung menunduk dengan tubuh gemetar ketakutan.


Mereka tak tahu hal buruk apa yang sudah menimpah bosnya itu pagi ini hingga terlihat lebih menakutkan daripada biasanya.


“ Aduh….”


“ Bagaimana ini….”


“ Kenapa aura bos sangat suram pagi ini….”


“ Mana pagi ini divisiku ada meeting lagi dengannya….”, ucap Selly manager pemasaran cemas.


“ Untung saja hari ini aku tak ada agenda menghadap pak bos, jadi aman…..”, ucap Alex temannya menimpali.


Selly keluar dari lift dengan tubuh lesu sementara Alex sahabatnya tampak mengepalkan satu tangannya keatas seakan mengatakan “ Semangat sahabatku, kamu pasti bisa…..”.


Tak ingin menjadi bulan – bulanan pas meeting, Selly kembali mengecek laporan anak buahnya satu persatu serta kembali membaca materi yang akan dia presentasikan nanti.


Setelah mengecek laporan diapun segera mengkondisikan anak buahnya agar tak membuat masalah selama meeting berlangsung.


“ Semoga saja proposal yang kuajukan ini bisa membuat mood bos berubah sedikit baik….”, gumannya penuh harap.


Ruang meeting berubah menjadi tempat angker dan menakutkan ketika Ardan masuk dan duduk dibangku kebesarannya.


Satu persatu materi meeting pagi ini dibacakan, Selly beberapa kali menahan nafas waktu Ardan bersuara.


Seperti dugaannya, rapat bulanan pagi ini dia menjadi pelampiasan amarah Ardan yang entah kenapa moodnya sangat buruk pagi ini.


Penjualan yang tak mencapai target dalam bulan ini menjadi salah satu pemicunya disamping memang suasana hatinya sedang buruk sekarang membuat Ardan murka.


Dia menghempaskan dengan kasar laporan dari divisi pemasaran yang ada ditangannya hingga beterbangan diudara.


“ APA – APAAN INI !!!….”


“ KERJA GINI AJA NGGAK BECUS !!!....”


" MAU MAKAN GAJI BUTA KALIAN !!!...."


“ REVISI SEMUANYA DAN LAPORKAN PADAKU SIANG INI !!!....” , hardik Ardan sebelum meninggalkan ruang meeting.


Semua orang terutama Selly langsung mengambil nafas sebanyak – banyaknya begitu sosok Ardan sudah menghilang dibalik pintu.

__ADS_1


Meeting yang berlangsung selama dua puluh menit tersebut sudah seperti eksekusi mati yang akan mereka terima.


“ Huffff.....”


“ Bos sangat serem jika moodnya buruk seperti itu....”, ucap semua orang bergidik ngeri.


Karena waktu tinggal beberapa jam lagi maka semua orang segera keluar dari ruang meeting untuk merivi laporan mereka masing – masing.


Saat ini mereka sangat berharap sales yang ada diwilayah masing – masing memberikan kabar mengembirakan hari ini sehingga mereka bisa membawa revisi laporan dengan dagu sedikit terangkat.


Robby yang sudah tahu penyebab buruknya mood Ardan pagi ini hanya bisa menghela nafas dalam – dalam ketika laporannya untuk kesekian kalinya kembali ditolak.


“ Susah juga jika suasana hatinya terus buruk seperti ini….”


“ Bisa runyam semuanya….”, racau Robby dalam hati.


Sambil menekan pelipisnya kuat - kuat, Ardan kembali mengingat kertas putih yang semalam dia baca.


Surat yang menandakan jika dia dan Azkia sekarang sudah tak memiliki hubungan apapun selain sebagai mantan, kata yang membuat lehernya seakan tercekik.


Ardan sama sekali tak menginginkan perpisahan seperti ini meski dia sadar jika semua hal yang terjadi murni adalah kesalahannya tapi setidaknya dia masih bisa menjalin hubungan baik dengan Azkia.


Tidak seperti sekarang, bukan hanya hubungan mereka berakhir buruk akan tetapi keberadaan mantan istrinya itu juga tak bisa ada lacak hingga sekarang.


“ Ya, hanya lelaki brengsek itu yang menjadi kuncinya….”, desis Ardan geram.


Jika ayahnya tak bisa mendapatkan informasi apapun dari lelaki itu maka dia sendiri lah yang akan menemuinya.


Setelah meeting pagi yang mencekam selesai, Ardan yang hendak keluar kantor untuk menemui Jacob tiba – tiba saja kepalanya sangat sakit hingga dunia terasa berputar.


Untung saja Robby yang ada dibelakangnya sigap dan langsung menopang tubuh Ardan, membawanya kedalam ruang kerjanya agar lelaki itu bisa beristirahat sejenak.


“Tidurlah sebentar…”


“ Untuk pertemuan siang ini biar aku saja yang handle….”, ucap Robby sambil membantu Ardan berbaring diatas sofa.


Ardan hanya bisa pasrah ketika Robby menyuruhnya beristirahat dan mengisi perutnya dengan sepotong roti dan segelas teh manis hangat.


Meski tak nafsu makan tapi Ardan berusaha menelan potongan kecil roti yang masuk kedalam mulutnya sambil didorong setengah gelas teh manis hangat.


Setelah meminum obatnya Ardan pun berusaha untuk memejamkan kedua matanya sebelum tubuhnya benar – benar tumbang.


Robby yang melihat Ardan sudah tertidur segera bergegas keluar untuk menyiapkan berkas sebelum bertemu dengan klien mereka.

__ADS_1


“ Bos lagi istirahat didalam..."


" Ingat, jangan biarkan siapapun masuk kecuali ingin dipecat hari ini juga….”, ucap Robby berpesan.


Vina mengangguk paham, meski belum lama dia bekerja dibawah Ardan setelah sebelumnya menjadi asisten Faisal, dia sudah tahu bagaimana karakter tuan muda Bimantara itu.


Apalagi tadi dia mendengar jika divisi pemasaran baru saja dibantai habis dalam rapat bulanan pagi ini oleh Ardan sehingga diapun akan mematuhi pesan Robby karena tak ingin ada yang dipecat gara – gara salah langkah.


Dilain tempat, kondisi Meysa benar – benar mengkhawatirkan setelah disiksa oleh Ardan secara membabi buta kemarin.


Untung saja dia segera mendapatkan penangganan dari dokter secepatnya, jika tidak pasti nyawanya sudah melayang saat ini.


Dokter yang memeriksa dan merawat lukanya hanya bisa bergidik ngeri dalam hati ketika melihat banyak luka cambukan disekujur tubuhnya.


Belum lagi alat vitalnya yang bengkak dan bernanah, membuat kondisinya semakin mengkhawatirkan.


“ Apa tidak sebaiknya dia dibawa kerumah sakit karena beberapa luka ditubuhnya sudah mulai mengalami infeksi dan bernanah….”


“ Apalagi sejak semalam dia sudah menghabiskan kantong darah sebanyak tiga kantong....”, ucap sang dokter khawatir.


“ Tidak perlu….”


“ Cukup tiap hari anda kemari dan merawatnya….”


" Dan memantau kondisinya saja...."


“ Untuk biaya, jangan mempermasalahkan hal itu….”


“ Berapapun biayanya akan kami bayar lunas…..”, ucap anak buah Ardan tegas.


Sang dokter hanya bisa menghela nafas berat mendengar keputusan yang keluar dari mulut lelaki kekar yang ada dihadapannya itu.


Jika dia tak ingat dengan putri semata wayangnya yang sedang sakit keras dan membutuhkan biaya yang sangat besar untuk pengobatan dia tak mungkin melakukan hal serendah ini.


Melihat gerak – gerik sang dokter yang sedikit mencurigakan, anak buah Ardan pun langsung mendekati lelaki berjas putih tersebut didepan mobilnya.


“ Ingat….”


“ Tutup mulutmu jika tak ingin nyawamu beserta keluargamu melayang….”, ancam anak buah Ardan.


Sang dokter yang kembali diingatkan sebelum masuk kedalam mobilnya hanya bisa mengangguk patuh.


Melihat jika wanita  yang sedang dirawat tersebut kondisinya sangat mengenaskan dan menyedihkan seperti itu dia menduga jika seseorang dibalik layar yang menyiksanya pastilah sangat  kejam dan berkuasa.

__ADS_1


Maka dari itu diapun tak bisa mengambil resiko tinggi untuk menyinggungnya hingga membuat keluarganya celaka akibat salah mengambil keputusan, meski dia merasa kasihan pada wanita itu.


__ADS_2