AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 102


__ADS_3

Dua puluh lima tahun kemudian,


Disebuah pemakaman umum, ditengah hujan rintik – rintik terlihat sesosok pria tampan berbadan tegap menghampiri sebuah makam yang tertulis nama Ardan Bimantara.


Perlahan Asai mulai menaburkan bunga yang dibawanya dan bersimpuh sambil tertunduk lesu menatap nanar makam yang ada didepannya itu.


Diusapnya perlahan batu nisan yang terukir nama papa kandungnya tersebut dengan wajah sedih.


Lelaki yang hanya pernah dia temui saat dirinya masih kecil, itupun hanya bisa ingat setelah neneknya menunjukkan video kebersamaan mereka.


Meski pada awalnya dia sempat marah setelah tahu kenapa kedua orang tuanya bercerai hingga tak mau lagi datang ke negara dimana papanya tinggal setelah tanpa sengaja dia mendengar bagaimana buruknya Ardan memperlakukan mamanya dimasa lampau.


Hati anak mana yang tak sedih dan marah mendengar jika papanya telah melakukan KDRT hingga mamanya mengalami depresi sampai harus disembunyikan oleh keluarga daddynya hingga sembuh pada saat wanita itu tengah mengandung dirinya.


Tapi setelah mendengar jika papanya meninggal karena telah menyelamatkan mamanya dari aksi penusukan yang dilakukan oleh musuh daddynya, kemarahan Asai pun mulai mereda.


Meski begitu kekecewaan akan sosok lelaki yang selama ini begitu dibanggakannya belum hilang sehingga diapun selalu mencari alasan agar tak menginjakkan kakinya dinegara tempat jenasah papanya dikebumikan.


Hingga tiba – tiba wanita yang akan dia nikahi sebentar lagi mengajukan syarat jika dia mau menikah dengannya asal calon suaminya itu meminta ijin papa kandungnya dengan mendatangi makamnya.


Maka disinilah Asai sekarang. Dia tak lagi menghiraukan pakaiannya yang basah akibat hujan yang mengguyur kota tersebut sore ini.


Dihadapan makan sang papa, dibawah guyuran air hujan yang menyamarkan air matanya Asai menangis sesenggukan.


Asley, calon istri Asai yang hendak keluar dari mobil karena tak tega melihat tunangannya basah kuyup langsung dicegah oleh Azkia.


“ Biarkan dia meluapkan semua isi hatinya, jangan diganggu dulu.....”, ucap Azkia menahan satu tangan Asley yang sudah berada dipintu mobil.


Meski dia tak tega dengan kondisi calon suaminya saat ini, tapi benar saja apa yang dikatakan oleh calon mertuanya tersebut jika saat ini Asai membutuhkan waktu sendiri untuk meluapkan semuanya didepan makam papanya.


Asai merasa dadanya terasa plong setelah dia mengeluarkan semua hal yang menganjal dalam hatinya selama ini didepan makam sang papa.


Ternyata benar kata mamanya, hati kita akan terbebas jika kita bisa memaafkan dengan tulus orang – orang yang pernah menyakiti kita.

__ADS_1


Dan itu telah Asai alami sendiri saat ini sehingga diapun bangkit dari makam Ardan dengan langkah ringan.


Melihat Asai melangkah keluar makam sambil tersenyum bahagia, Asley merasa sangat lega setidaknya usahanya untuk membujuk calon suaminya itu kesini tak sia – sia.


Pada awalnya Asley sama sekali tak menyangka jika Asai akan menyetujui permintaannya untuk mendatangi makam papanya dan meminta ijin menikah dengannya karen sangat tahu betapa kecewa dan sakit hatinya calon suaminya itu terhadap almarhum papanya yang telah menyakiti mamanya begitu dalam dimasa lalu.


Meski keduanya sempat bertengkar hebat, namun melihat Asai seperti saat ini Asley merasa sedikit lega karena pada akhirnya calon suaminya itu mau melepaskan semua beban hatinya sekarang sebelum pernikahan mereka dilangsungkan.


Setelah Asai masuk, mobil yang membawa rombongan keluarga Azkia pun segera meninggalkan pemakaman dan kembali kekediaman keluarga Bimantara.


Setelah tiga hari berada ditanah air, Azkia beserta keluarga kecilnya pun pamit undur diri karena masih harus mempersiapkan pernikahan Asai dinegara Y.


Melati dan Vera turut serta bersama keluarga Azkia karena mereka pun juga ingin ikut menyiapkan pernikahan satu – satunya pewaris Bimantara tersebut.


Tujuan Melati ikut bukan hanya ingin membantu Azkia menyiapkan pernikahan cucu semata wayangnya itu tapi dia juga bertujuan untuk membujuk Asai agar mau pulang ketanah air dan menjalankan bisnis keluarga Bimantara mengingat Faisal sudah semakin tua dan sudah saatnya untuk pensiun.


Akhirnya, hari yang ditunggu – tunggu telah tiba. Pesta pernikahan Asai berjalan sangat lancar dan meriah.


Melati dan Vera memilih tinggal di mansion Watson karena ingin bercengkerama dengan Tracy untuk melepas kangen sekaligus meminta ijin untuk membawa Asai pulang ketanah air dan menggurus perusaah keluarga besar Bimantara disana.


Sehingga Azkia dan Louispun pulang kerumahnya bersama sikembar tanpa kedua kakaknya karena Imelda dan Asai kini sudah memiliki keluarga kecil sendiri sehingga tinggal terpisah dari mereka.


Louis yang melihat istrinya terdiam didepan balkon segera menghampiri dan memeluk tubuh rampingnya dari belakang.


“ Kenapa kamu terlihat bersedih....”


“ Apa kamu masih tak rela melepas Asai....”, bisik Louis pelan.


“ Satu persatu anak kita sudah memiliki keluarga kecil mereka sendiri....”


“ Sikembar juga sudah beranjak dewasa dan sebentar lagi mereka juga akan menikah dan membina keluarga mereka sendiri seperti kedua kakaknya....”


“ Rumah ini sebentar lagi akan kosong karena hanya berisi kita berdua....”, Azkia tampak berkeluh kesah sambil menghembuskan nafas dengan kasar.

__ADS_1


Louis yang menyadari kegalauan hati istrinya tersebut pun segera mengecup leher jenjang sang istri yang sangat menggodanya sejak tadi.


“ Bagaimana jika kita membuat adik untuk sikembar....”


“ Jika kamu takut rumah kita akan sepi setelah anak – anak menikah....”, ucap Louis dengan suara berat dan sexy.


Azkia hanya bisa memutar bola matanya dengan malas mendengar permintaan sang suami yang dianggapnya konyol itu.


“ Aku sudah tidak mudah lagi....”


“ Diusiaku sangat rentan untuk bisa hamil dan melahirkan....”


“ Lagipula apa kamu tidak malu jika anakmu lebih muda usianya daripada cucumu....”, ucap Azkia sambil melotot tajam kearah Louis.


Azkia hanya bisa bergidik ngeri waktu membayangkan jika cucunya akan memanggil tante atau om kepada anaknya yang usianya lebih muda sepuluh tahun dari anak Imelda membuat Louis terkekeh pelan.


“ Aku hanya memberi saran....”


“ Jika tidak mau juga tidak apa....”


“ Lagipula ilmu kedokteran saat ini sudah sangat canggih sehingga kamu masih bisa hamil dan melahirkan karena masih berada diusia produktif....”, ucapnya tersenyum nakal.


Melihat suaminya menaik turunkan alisnya memberi kode jika dia ingin dimanjakan malam ini membuat Azkia hanya bisa pasrah waktu Louis mengendongnya menuju ranjang.


Meski sudah memiliki empat anak yang sudah dewasa namun hal itu sama sekali tak mengurangi keromantisan kedua pasangan suami istri tersebut,


Justru semakin bertambah tua Louis semakin memanjakan Azkia dan selalu bersikap hangat dan romantis untuk terus memupuk rasa cinta yang ada dalam diri keduanya.


Tentu saja hal itu membuat Azkia merasa sangat bahagia. Impiannya untuk bersama dengan orang yang dicintainya dan menuaibersamanya sudah terwujud setelah dasyatnya badai cobaan dialaminya dimasa lalu.


Kini dia bisa menua dengan tenang karena semua anaknya telah tumbu dewasa dan menjadi pribadi yang baik sesuai dengan harapannya dimasa lampau.


.....................................................................................END............................................................................................

__ADS_1


__ADS_2