
Sejak bertemu Vera, Azkia jadi sering melamun. Suasana hatinya pun sering berubah drastis hingga membuat Asai rewel.
Tak ingin membuat orang lain khawatir kepadanya, Azkia berusaha untuk menekan perasaan yang hadir tapi dia masih saja kepikiran akan mantan suaminya itu.
Apalagi waktu Azkia kembali mengingat tubuh kurus dan wajah senduh Melati membuat hatinya merasa iba.
Louis yang malam ini menyempatkan diri untuk datang ke kediaman setelah mendengar kabar dari maminya langsung menuju kamar Azkia.
Melihat Louis datang, Azkia yang baru saja menidurkan Asai mengajaknya keluar kamar agar tak menganggu ketenangan bayi kecilnya yang baru saja tertidur.
Keduanya kini sedang duduk disofa single yang ada diruang pojok depan kamar Azkia yang sering digunakan Tracy dan dirinya bercengkerama jika sedang bosan berada didalam kamar.
“ Kamu kenapa....”
“ Apa ada yang menganggu pikiranmu....”, tanya Louis penuh perhatian.
Mendapat tatapan hangat dari Louis, Azkia pun segera menghambur dalam pelukan daddy Imelda sambil memejamkan kedua matanya,menghirup aroma tubuh Louis yang menenangkan.
“ Kamu bisa menceritakan apapun kepadaku agar beban dihatimu bisa sedikit berkurang....”, ucap Louis sambil membelai rambut panjang Azkia dengan penuh kasih sayang.
“ Ardan ada dinegara ini....”
“ Dia mengalami kecelakaan dan sedang koma sekarang....”, ucap Azkia pelan.
Wajah Louis sempat menegang sejenak, dia cukup terkejut ternyata Azkia tahu mengenai masalah yang dia tutup rapat – rapat itu.
“ Darimana kamu tahu....”, tanya Louis penasaran.
“ Tante Vera....”
“ Kemarin ditoko kue aku tak sengaja bertemu dengan tante Vera....”
“ Dia menceritakan semuanya dan memintaku untuk datang menjenguk Ardan di rumah sakit....”, ucap Azkia sangat pelan hampir seperti gumanan.
Meski sangat lirih namun karena suasana malam sangat sunyi dan memiliki pendengaran yang tajam, Louispun bisa dengan jelas mendengar setiap kata yang Azkia ucapkan.
“ Berani sekali mereka mengingkari perjanjian yang ada....”, batin Louis geram.
Louis sebisa mungkin berusaha menutupi api amarah yang mulai berkobar dalam hatinya agar Azkia tak takut terhadapnya.
“ Lalu, apakah kamu akan datang mengunjunginya....”, tanya Louis sambil menekan rasa cemburu yang mulai tumbuh dalam hatinya.
“ Entahlah....”
“ Aku sendiri masih binggung....”
“ Tapi setelah melihat foto kondisinya saat ini, aku sedikit ada rasa kasihan terhadapnya....”, cicit Azkia lirih.
“ Apa kamu masih mencintainya...”, tanya Louis penuh kecemburuan.
Melihat Azkia terdiam beberapa saat setelah dia melempar pertanyaan tersebut membuat api cemburu dalam hatinya semakin berkobar.
Azkia yang menyadari jika Louis sedang cemburu terhadap mantan suaminya, secara spontan langsung mengusap rahang kokoh Louis sambil menatap teduh lelaki itu agar amarah dalam hatinya bisa mereda.
__ADS_1
“ Rasa cinta dalam hatiku untuk Ardan sudah menghilang seiring dengan kepergian papa...”, ucap Azkia tegas.
“ Seandainya aku pergi kerumah sakit, itu semata – mata sebagai wujud balas budi akan perlakukan ibu mertuaku yang cukup baik kepadaku....”, ucap Azkia menambahkan.
Kelegaan dan kekhawatiran muncul bersamaan dalam hati Louis saat ini. Hubungan Azkia dan Melati yang sangat dekat membuatnya terganggu.
Dia merasa sangat marah pada wanita yang merupakan tantenya Ardan tersebut karena berhasil mengoyahkan hati Azkia hingga menjadi galau seperti ini.
“ Kurasa aku harus menemui wanita bernama Vera ini dan memberinya peringatan keras agar tak lagi ikut campur dalam hidup Azkia....”, batin Louis penuh amarah.
Untung saja Azkia tak bisa melihat ekspresi wajah Louis saat ini, jika tidak mungkin Azkia akan ketakutan karena wajah Louis saat ini sudah seperti monster haus darah dengan tatapan tajam membunuh terlihat jelas disorot matanya.
“ Lalu, kapan kamu akan kerumah sakit....”, tanya Louis sambil membelai wajah Azkia untuk menghilangkan amarah yang hampir meledak dalam hatinya.
“ Tunggu kapan kamu ada waktu karena aku ingin kamu menemaniku kerumah sakit.....”, ucap Azkia sambil mengecup tangan Louis yang membelai wajahnya.
“ Besok akan aku atur lagi jadawalku sehingga bisa menemanimu kesana....”, ucanya sambil tersenyum.
Berkat beberapa sentuhan lembut yang Azkia berikan, amarah yang ada dalam hati Louis perlahan mulai menghilang, meski belum sepenuhnya.
Cup...
Satu kecupan di pipi Louis berhasil membuat tubuh lelaki itu menegang dan dengan cepat Azkia pun segera berlari menuju kedalam kamar sebelum Louis menyerangnya.
“ Dasar nakal....”, guman Louis sambil mengusap pipi yang tadi Azkia cium dengan wajah bahagia.
Meski Louis sering mengecup kening Azkia dan mengecup pipinya ketika wanita itu sedang tertidur, tapi tak sekalipun Azkia pernah menciumnya.
Dan ini adalah ciuman pertama yang Azkia berikan kepadanya, tentunya membuat hati Louis berbungga – bungga.
“ Ayo ikut denganku.....”
“ Bahaya jika kamu terlalu lama disini....”, ucap Watson yang segera mengistruksikan kepada Louis agar mengikutinya.
“ Kaya papi tak pernah muda aja....”, gerutu Louis sambil tersenyum masam.
“ Justru karena papi pernah muda makanya papi memperingatkanmu....”, ucap Watson tajam.
Louis hanya bisa mendesah kasar akan sikap sang papi yang selalu saja membuatnya kesal, seolah lelaki itu tak rela jika Azkia berdekatan dengan Louis.
Meski tak menolak secara terang – terangan, tapi dapat Louis lihat jika papinya itu sedikit keberatan Azkia bersanding dengannya.
Setelah membahas beberapa hal dengan sang papi, Louis pun segera menyampaikan uneg – uneg dalam hatinya yang selama ini menganjal.
“ Kenapa sih papi nggak suka aku dekat dengan Azkia....”
“ Bukankah akan sangat bagus jika Azkia menjadi menantu papi....”
“ Dengan begitu dia tak akan pernah pergi dari keluarga ini....”, ucap Louis membuka percakapan.
“ Menurutmu....”, ucap Watson acuh.
Louis sedikit kesal akan jawaban yang papinya berikan tersebut. Sudah beberapa kali dia bertanya dan Watson selalu mengacuhkannya seperti ini.
__ADS_1
Seolah lelaki itu memang enggan menjawab dan memilih Louis memikirkan jawaban yang tak bisa dia dapatkan hingga sekarang.
“ Apa menurut papi aku tak pantas untuk Azkia....”, ucap Louis penuh selidik.
“ Nah itu tahu....”
“ Kenapa masih nanya....”, ucap Watson acuh.
Louis yang sedang ingin serius segera mengambil semua berkas yang ada ditangan papinya dan menatapnya tajam.
“ Kenapa...”
“ Apa yang membuat aku tak layak untuk Azkia....”, tanyanya menuntut jawaban.
Melihat kegigihan putra sulungnya, Watson yang merasa jika kali ini Louis tak akan membiarkannya tenang hingga dia menjawab hanya bisa menghela nafas dalam – dalam atas kekeras kepalaan anaknya itu.
“ Setelah semua yang dilaluinya, Azkia berhak bahagia....”, ucap Watson dengan ekspresi serius.
“ Lalu menurut papi, aku tak bisa membuat Azkia bahagia....”, ucap Louis ngegas.
Louis tak habis pikir dengan papinya, bagaimana bisa Watson menganggap jika dirinya tak sanggup membahagiakan Azkia.
“ Kenapa papi bisa berpikir seperti itu....”, tanya Louis berusaha untuk tetap tenang meski amarah sudah mulai memasuki hatinya.
“ Kamu itu sebelas dua belas dengan Ardan....”
“ Hanya saja tak semua orang bisa melihat hal itu, kecuali papi....”, ucap Watson menegaskan.
“ Pi....”
“ Aku ini sebenarnya anak kandung papi bukan sih....”, ucap Louis geram.
Louis tentu saja tak terima jika disamakan dengan mantan suami Azkia yang b******n itu karena dia lebih baik dari Ardan.
Watson yang melihat anak sulungnya merasa emosi hanya bisa terkekeh pelan sambil menggeleng – gelengkan kepalanya.
“ Lihat....”
“ Papi bilang begitu saja kamu sudah emosi....”
“ Bukankah itu sama dengan Ardan yang tak bisa mengontrol emosinya hingga sering bertindak gegabah sehingga merugikan dirinya sendiri....”, ucap Watson dengan senyum mengejek.
“ Tidak....”
“ Aku tidak sama dengan b*****n itu....”
“ Aku melakukan semua hal dengan terstruktur dan terencana....”
“ Aku juga bisa mengendalikan emosiku yang terkadang menggebu – gebu sesuai dengan situasi yang ada....”
“ Dan aku tak akan pernah menyakiti orang – orang yang aku sayangi, begitu juga dengan wanita yang kucintai....”
“ Aku akan menjaganya dengan segenap jiwa ragaku....”, ucap Louis berapi – api.
__ADS_1
“ Baguslah....”
“ Buktikan hal itu kepada Azkia karena dialah yang akan memberi keputusan akhir....”, ucap Watson menepuk bahu Louis beberapa kali sebelum meninggalkan ruang kerjanya.