AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 30


__ADS_3

Dimalam yang dingin seperti ini, disaat semua orang sedang bergelung dengan selimut Ardan hanya bisa menatap plafon kamarnya dengan tatapan kosong.


Beberapa kali dia mencoba membalikkan badannya untuk mencari posisi yang pas, namun sayangnya kedua mata Ardan  sama sekali tidak bisa dipejamkan.


Kepalanya terasa penuh oleh berbagai macam pemikiran yang terus mendesaknya tanpa ampun seakan semua hal yang dilakukannya adalah kesalahan.


Baik itu masalah dendamnya terhadap Azkia maupun keputusannya untuk kembali menjalin hubungan baik dengan Meysa yang berakhir pada masalah sebesar ini.


“ Apakah benar jika dendamku selama ini telah salah sasaran….”


“ Dan Meysa….”


“ Apakah benar justru dialah penyebab Ardi frustasi hingga meninggal dalam kecelakaan….”, batin Ardan bimbang.


Semakin dipikir membuat Ardan semakin bertambah binggung, alhasil karena terlalu banyak pikiran kepalanya mulai berdenyut kencang.


Ardan pun kemudian mengingat semua kata yang Robby ucapkan padanya tadi sebelum keduanya memutuskan untuk pulang karena malam semakin larut agar esok hari bisa kembali bekerja dengan penuh semangat.


FLASH BACK ON


Melalui ujung matanya dapat Ardan lihat jika sedari tadi Robby tampak gelisah sambil sesekali mencuri pandang kepadanya.


Seakan asisten pribadinya itu ingin mengatakan sesuatu kepadanya tapi kemudian hal tersebut diurungkan seiring dengan mulutnya yang terbuka namun langsung tertutup rapat ketika melihatnya.


“ Apa aku coba memberitahu Ardan yang sebenarnya agar dia bisa bersikap lebih bijak dalam menanggapi permasalahan ini…..”, batin Robby sedikit ragu.


Ardan yang sedang fokus mempelajari beberapa berkas yang ada dihadapannya sedikit terganggu dengan sikap Robby yang gelisah seperti ini.


“ Ada apa ?....”


“ Katakan saja….”, ucap Ardan sambil pandangannya fokus pada berkas yang ada ditangannya.


Jika sedang berduaan seperti ini Ardan dan Robby menghilangkan sikap formal mereka dan kembali menunjukkan sikap sebagai teman.


Setelah menimbang semua hal, Robby pun melingkari beberapa bukti transfer uang ke seseorang yang berada diluar negeri dan memberikan rekening koran tersebut kepada Ardan.


“ Jika tebakanku benar….”


“ Yang menerima dana tersebut adalah lelaki kebangsaan Portugal bernama Rudolf….”


“ Untuk lebih jelas mengenai siapa Rudolf dan apa hubungannya dengan Hilman dan Meysa, kamu bisa menyuruh orang untuk menyelidikinya mumpung lelaki itu sudah muncul….”, ucap Robby memberi saran.


“ Meysa ?…”


“ Apa hubungan Meysa dengan semua ini ?.....”, tanya Ardan binggung.


“ Kamu akan tahu setelah menyelidikinya….”


“ Dan kali ini aku pastikan kamu akan mendapatkan banyak fakta mengejutkan dalam penyelidikanmu….”, ucap Robby penuh penekanan.

__ADS_1


Bukannya ingin menan\mbah beban pikiran Ardan, hanya saja Robby yang sudah bersama dengan bosnya dan juga Ardi sangat lama sehingga dia mengetahui bagaimana sikap Ardan jika hal itu menyangkut tentang Meysa.


Lelaki itu akan menolak apapun fakta yang diberikan oleh orang lain, meskipunn itu orang tua atau saudaranya sendiri.


Jadi, kali ini Robby ingin Ardan mencari tahu sendiri mengenai semuanya agar tak ada lagi keraguan dalam hatinya.


“ Jika kamu tahu, kenapa tak katakan langsung padaku….”


“ Itu akan mempercepat urusan kita….”, ucap Ardan sedikit kesal karena Robby semakin menambah beban pikirannya saat ini.


“ Apapun yang akan aku katakan kamu tak akan mempercayainya…”


“ Aku tahu dengan jelas sifat kamu yang satu itu….”


“ Jadi, cepatlah bergerak sebelum Rudolf kembali bersembunyi sehingga kamu akan sulit untuk melacak dan menyelesaikan permasalahan ini…..”, ucap Robby dengan mimic wajah serius.


Mendengar jika satu – satunya orang yang menjadi kunci dari permasalahan Hilman akan menghilang, Ardan pun lekas menghubungi anak buahnya untuk segera mencari semua informasi mengenai Rudolf dan hubungannya dengan HM group secepatnya.


“ Jika kamu masih penasaran….”


“ Ardi pernah mengatakan jika dia memiliki tempat rahasia denganmu….”


“ Temukan tempat itu dan disanalah kamu akan mendapatkan semua hal yang hilang dalam ingatanmu….”


“ Termasuk balas dendammu yang salah sasaran itu….”, ucap Robby sambil membereskan tas kerjanya.


FLASH BACK OFF


“ Mungkin besok aku akan mampir kerumah ayah setelah pulang kerja untuk memastikan segalanya….”


“ Jika apa yang dikatakan oleh Robby benar, maka tempat itu pasti ada didalam kamar kami berdua….”, batin Ardan bermonolog.


Seperti menemukan benang merah dalam permasalahan yang sedang dihadapinya, kedua mata Ardan pun perlahan menutup dengan hati sedikit lega.


Pagi harinya, Azkia yang tak mau membuat mood paginya menjadi buruk segera mengakhiri sarapannya begitu dia melihat Ardan keluar dari kamar tamu.


“ Azkia berangkat dulu ya bun….”, ucap Azkia mengecup punggung tangan dan pipi Melati dengan lembut.


“ Bareng aku saja…”, ucap Ardan menawarkan diri.


“ Nggak perlu…”


“ Aku bawa mobil sendiri….”, ucap Azkia datar dan dingin.


Ardan hanya bisa menatap punggung sang istri yang berjalan menjauh darinya hingga hilang dibalik pintu dengan perasaan campur aduk.


“ Sabarlah….”


“ Beri dia waktu untuk menyembuhkan lukanya….”, ucap Melati sambil menepuk bahu Ardan pelan.

__ADS_1


“ Tentu saja bun….”


“ Aku tak akan menyerah untuk berusaha meraih hatinya kembali….”, ucap Ardan penuh tekad.


Melati yang melihat tekad kuat dikedua mata Ardan, tersenyum bahagia. Dia sangat berharap jika hubungan keduanya akan kembali membaik seiring berjalannya waktu.


“ Jika kamu memang benar – benar ingin memperbaiki hubunganmu dengan Azkia….”


“ Jauhi Meysa….”


“ Jika kamu tidak bisa maka bunda bisa pastikan Azkia cepat atau lambat akan meninggalkanmu….”, ucap Melati mengingatkan.


Ardan hanya bisa mengambil dafas dalam beberapa kali dan menghembuskannya secara perlahan mendengar ibundanya membahas Meysa pagi ini.


“ Kenapa sih bunda tak suka dengan Meysa….”


“ Bukan salah Meysa bun jika dia pergi meninggalkanku karena sakit….”, ucap Ardan merenggek.


“ Dan kamu percaya begitu saja dengan ucapan wanita itu….”


“ Apakah kamu tak curiga jika semua hal yang dia katakan kepadamu adalah sebuah kebohongan belaka untuk menarik simpatimu…”, ucap Melati berusaha membuka pikiran Ardan mengenai siapa Meysa sebenarnya.


“ Tidak….”


“ Meysa tak mungkin berbohong mengenai penyakitnya….”, ucap Ardan membantah.


Melihat anaknya masih kekeh membela Meysa, Melati pun hanya bisa menatap nanar putranya tersebut karena betapa kerasnya dia membeberkan fakta yang ada, jika hati dan pikiran Ardan menolak maka semua hal yang dia katakan akan sia – sia belaka.


“ Kali ini sebaiknya kamu menyelidiki masalah ini dengan baik agar tak kembali masuk kedalam lubang yang sama untuk kedua kalinya….”, ucap Melati mengingatkan.


Setelah kepergian ibundanya, Ardan terlihat sedikit tertegun dengan ucapan wanita yang telah melahirkannya tersebut.


“ Kenapa perkataan bunda dan Robby hampir sama….”


“ Apa sebenarnya yang hilang dalam ingatanku sehingga semua orang seakan menyuruhku untuk menyelidiki Meysa dan  keluarganya…..”, batin Ardan penasaran.


Untuk menuntaskan rasa penasaran dalam hatinya, Ardan pun berniat pulang kerumah ayahnya untuk mencari ruangan yang Robby katakan semalam.


Sesampainya dihalaman rumah ayahnya, Ardanpun segera masuk kedalam dan disambut hangat oleh kepala pelayan disana.


“ Selamat datang tuan muda….”


“ Ada yang bisa saya bantu….”, ucap Mona sopan.


“ Aku akan memanggilmu jika butuh bantuanmu….”, ucap Ardan sambil melambaikan satu tangannya agar Mona kembali bekerja.


Dengan rasa penasaran yang sangat tinggi Ardan pun mulai naik kedalam lift menuju lantai tiga dimana kamarnya dan mendiang Ardi berada.


“ Kuharap aku bisa menemukan petunjuk untuk memecahkan teka – teki ini….”, guman Ardan penuh harap.

__ADS_1


__ADS_2