
JDERRR…..
Bagai tersambar petir dimalam hari ketika Ardan mendengar permintaan yang keluar dengan lancar dari mulut istrinya tersebut.
Dia sama sekali tak menyangka jika Azkia ternyata sangat terluka akan perbuatannya dimasa lalu sehingga istrinya itu meminta nyawanya sebagai imbalan agar dia bisa memaafkannya.
“ Lalu apa gunanya kita bersama jika aku mati….”, ucap Ardan spontan.
“ Hahahaaa……”
“ Sudah kuduga jika kamu tak akan berani….”, ucap Azkia dengan senyum mengejek.
“ Apakah sebegitu bencinya kamu hingga ingin melenyapkanku…”, ucap Ardan sedih.
“ Menurutmu….”
“ Apa yang aku rasakan ketika dituduh melakukan semua hal yang tak pernah aku perbuat...."
" Bahkan tanpa hati kamu terus menyiksaku secara membabi buta setiap hari tanpa mencari tahu kebenaran yang ada terlebih dahulu….”
“ Bahkan kamu juga menjadi penyebab papaku meninggal dunia….”
“ Dengan semua fakta diatas….”
“ Apakah aku masih bisa menerimamu kembali….”
“ Disaat semua harapan hidupku kau hancurkan hingga tak bersisa….”, ucap Azkia penuh kekecewaan.
Ardan hanya bisa menunduk dalam mendengar semua kata yang istrinya ucapkan tersebut tanpa sedikitpun niat untuk membantah karena itu adalah faktanya.
“ Apa kamu benar – benar tak bisa memberiku satu kesempatan….”, ucap Ardan memohon.
“ Tidak….”, jawab Azkia tegas.
“ Tuhan saja masih memberikan umatnya kesempatan untuk bertobat, kenapa kamu tak bisa memberiku kesempatan untuk memperbaiki semua kesalahanku dan membahagiakanmu….”, ucap Ardan sendu.
“ Aku bukan Tuhan….”
“ Dan aku tak sebaik yang kamu kira….”
“ Kamu berniat membahagiakanku….”
“ Dengan cara apa kamu bisa membahagiakanku jika kebahagianku adalah berpisah dan pergi menjauh darimu….”, ucap Azkia sinis.
Ardan meraup wajahnya dengan kasar sambil menyugar asal rambutnya hingga berantakan karena frustasi.
Perlahan, dia mengambil sesuatu dalam kantong celananya. Sebenarnya Ardan tak ingin mempergunakan cara ini tapi dia tak memiliki pilihan lain saat ini.
__ADS_1
“ Maafkan aku Azkia….”
“ Aku melakukan ini semua karena kamulah yang mendesakku….”
“ Aku benar – benar tak bisa berpisah denganmu…..”, ucap Ardan dengan suara serak dan berat.
Azkia yang sedikit takut akan tatapan Ardanpun hendak melarikan diri tapi sayangnya kakinya tertangkap Ardan hingga diapun kembali jatuh diatas ranjang.
Dengan gerakan cepat, Ardan segera memasukkan sebuah pil kedalam mulut Azkia dan memaksa istrinya itu untuk menelannya.
“ Obat apa yang kamu masukkan kedalam mulutku b*****n !!!....”\, teriak Azkia marah.
“ Tenang saja….”
“ Obat itu tak akan membunuhmu….”
“ Tapi akan memberi kenikmatan untuk kita….”, ucap Ardan ambigu.
Untuk menenangkan istrinya, Ardan segera menelan pil yang sama dengan pil yang tadi ditelan Azkia sambil tersenyum lebar.
Tak berselang lama, obat yang Azkia dan Ardan minum telah bereaksi membuat tubuh keduanya menjadi panas.
“ BRENGSEK KAMU ARDAN !!!!.....”, teriak Azkia penuh emosi.
Azkia yang pernah mengalami hal seperti ini pada saat mahkotanya direngut sangat sadar jika apa yang ditelannya tadi adalah obat perangsang.
Tanpa aba – aba Ardan langsung menyerang Azkia hingga keduanya berguling – guling diatas ranjang.
Bayangan malam pertama waktu mahkotanya direngut kembali terlintas dalam benak Azkia karena apa yang terjadi saat ini hampir sama dengan waktu itu.
Ardan tak melakukan penyatuan dengan kasar melainkan sangat lembut hingga tubuhnya yang sudah terpengaruh obat tak bisa lagi menolak dan menerima semua perlakukan tersebut dengan senang hati.
Tak ada lagi cacian, makian, tamparan, serta suara lecutan dan tangisan dimalam panas ini karena yang ada hanya nyanyian merdu dua insan yang sedang menikmati surga duniawai.
Hati Azkia terus menangis dan merasa jijik ketika mulutnya mendesah dan tubuhnya menerima sepenuh hati sentuhan suaminya itu.
Meski penyatuan seperti ini wajar dilakukan oleh sepasang suami istri karena mereka masih terikat dalam pernikahan yang sah secara hukum dan agama, tapi mengingat kembali jika keduanya akan bercerai maka seharusnya hal seperti ini tak boleh terjadi.
Suara ******* dan lekuhan kepuasan setelah pelepasan yang terjadi mewarnai akhir dari malam panas ini.
Ardan tampak tersenyum bahagia karena dia pada akhirnya bisa melakukan penyatuan dengan sang istri secara normal.
Dia berharap, dengan penyatuan yang terjadi malam ini dapat merubah keputusan Azkia untuk bercerai darinya.
Pada saat Ardan terlelap karena kelelahan setelah mendapatkan pelepasan beberapa kali, Azkia dengan tubuh diseret berjalan memasuki kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Dibawah guyuran shower Azkia menangis sesenggukan karena kecewa dengan dirinya yang membiarkan Ardan menikmati tubuhnya untuk kesekian kalinya.
__ADS_1
“ Bajingan kau Ardan !!!.....”
" Aku bersumpah tak akan pernah memaafkanmu meski kamu menangis darah sekalipun......", desisnya penuh amarah.
Setelah merasa tenaganya sedikit pulih, Azkia keluar dari dalam kamar mandi dan berjalan menuju almari yang ada dalam kamar.
Kedua matanya terbelalak terkejut dengan banyaknya pakaian wanita dengan ukuran yang sama dengan tubuhnya membuatnya bergidik ngeri.
“ Jadi dia berencana untuk menggurungku ditempat ini…”
“ Jangan harap….”, batin Azkia geram.
Setelah berganti pakaian Azkia pun berjalan mengendap – endap keluar dari dalam kamar untuk mencari keberadaan Shanaz yang diculik bersama dengannya.
" Kuharap aku bisa segera menemukan Shanaz dan keluar dari tempat terkutuk ini....", batin Azkia penuh emosi.
Baru saja dia berhasil keluar, Azkia melihat sosok wanita muda berlari panik kearahnya dengan cepat.
“ Anda tak apa – apa nona….”, tanya Shanaz cemas.
Bukannya menjawab pertanyaan Shanaz, Azkia malah menarik tangan pengawalnya tersebut untuk masuk kedalam kamar.
“ Bantu aku mengikat tubuh Ardan….”, ucap Azkia lirih.
“ Kenapa tidak dibius dulu saja nona….”
“ Itu akan lebih memudahkan kita untuk bergerak….”, ucap Shanaz sambil mengeluarkan sebotol kecil cairan dari dalam kantongnya.
Setelah menuang cairan bius kesebuah kain, Azkia langsung membekap hidung dan mulut Ardan hingga suaminya itu tak sadarkan diri.
Melihat Ardan sudah tak bergerak, Azkiapun segera menampar wajah suaminya itu berulang kali hingga wajah tampan itu menjadi bengkak dan sudut bibirnya berdarah.
Tak berhenti sampai disitu saja, Azkia yang sudah tersulut emosi karena kembali digauli setelah diberi obat perangsang segera mengambil pisau buah yang ada diatas meja dan mulai mengukir lengan dan dada Ardan hingga mengeluarkan darah.
Bau anyir mulai menyeruak diudara, namun hal itu tak menghentikan pergerakan Azkia yang sudah ditutupi oleh kabut kemarahan untuk mengukir tubuh Ardan dengan pola abstrak yang dibuatnya.
Tangannya bergerak lincah memberikan berbagai macam tanda, meski Azkia tak merasa puas karena Ardan tak sadarkan diri sehingga tak berteriak kesakitan, tapi baginya ini sudah cukup baginya untuk pembalasan dendamnya.
Dan untuk yang terakhir kalinya, Azkia segera mengiris lengan Ardan dan menghapus jejak di pisau yang dia gunakan dan meletakkannya ditangan Ardan yang tak teriris seakan dia sendirilah yang melukai tubuhnnya.
“ Perfect….”, ucap Azkia menyeringai puas.
Shanaz hanya bisa menelan ludah beberapa kali karena dia tak menyangka jika Azkia bisa sekejam itu pada suaminya.
“ Apakah ini salah satu efek dari penyakit bipolar yang dideritanya….”
“ Jika benar maka aku akan berusaha untuk memberitahu tuan Jacob agar membujuk non Azkia untuk segera berobat….”, batin Shanaz cemas.
__ADS_1
Keduanya segera pergi untuk kabur dari vila dan meninggalkan Ardan yang tergeletak diatas ranjang dalam kondisi polos tanpa sehelai pun benang yang menutupi tubuhnya.