
Sudah dua hari sejak Melati mendengar jika pesawat yang putra semata wayangnya itu naiki mendarat darurat karena cuaca buruk, Ardan tak bisa dihubungi begitu juga dengan Robby membuat hati Melati cemas.
“ Bagaimana yah....”
“ Apa sudah ada kabar terbaru....”, tanya Melati penuh kekhawatiran.
“ Belum bun....”
“ Tapi dari informasi yang ayah dapat, semua awak pesawat dan penumpang selamat....”
“ Kita tak bisa menghubungi karena memang jaringan komunikasi yang ada disana lumpuh total akibat badai panjang yang terjadi dua hari lalu.....”, ucap Faisal lemah.
Jika saja Bimantara group bisa dia tinggal sejenak, mungkin di akan terbang ke benua tersebut untuk memastikan kondisi Ardan.
Tapi sayangnya, diperusahaan lagi ada permasalahan yang cukup serius sehingga diapun harus tetap standby didalam negeri.
Dilain tempat, Ardan dan Alfonso yang sedang dalam pelarian akibat kejaran anak buah Louis kali ini memilih untuk tinggal diperbatasan kota yang jauh dari pemukiman.
Untuk menghilangkan jejak, Ardan sengaja menonaktivkan kartunya dan mengganti nomornya dengan yang baru sehingga tak bisa terlacak.
Ardan sama sekali tak menyangka jika dia akan kesulitan seperti ini hanya untuk bisa bertemu dengan Azkia.
Jika saja dulu Ardan tak memiliki pikiran sempit dan picik pasti saat ini dirinya telah hidup bahagia bersama keluarga kecilnya.
Apalah daya, nasi sudah menjadi bubur. Semua hal yang telah terjadi juga tak bisa dikembalikan lagi seperti sedia kala sehingga diapun hanya bisa menyesal dan terus menyesal dalam hatinya.
Alfonso yang melihat Ardan kacau berusaha untuk menghibur dan membesarkan hatinya agar lelaki itu tak terlalu cemas akan kondisi yang ada.
“ Sabarlah.....”
“ Kita akan kembali keibukota begitu kondisi sedikit tenang....”, ucap Alfonso sambil menepuk pundak Ardan beberapa kali.
“ Aku tak menyangka jika mereka bergerak secepat itu....”
“ Mereka benar – benar menjaga Azkia dengan sangat baik....”, guman Ardan tajam.
Ardan tak menyukai kondisi seperti ini dimana dia tak mampu melakukan hal apapun dan tak memiliki kuasa untuk melakukan semua hal yang diinginkannya.
Tapi dia juga tak memiliki pilihan lain selain hanya bisa mengikuti alur yang ada dan bergerak begitu mendapat celah.
Sementara itu dikediaman utama keluarga Watson, sejak malam dimana Azkia minta dipeluk hubungannya dengan Louis semakin menghangat.
Bahkan sekarang, setiap malam Azkia baru akan tertidur lelap setelah Louis memeluknya tubuhnya dengan erat.
Karena berhasil tidur nyenyak tanpa memimpikan Ardan, kondisi kesehatan Azkia berangsur – angsur mulai membaik.
Semua orang tentu saja merasa senang akan hal tersebut, terutama Imelda yang sudah tak sabar menanti adiknya terlahir kedunia sehingga Azkia bisa segera melangsungkn pernikahan dengan daddynya dan resmi menjadi mommynya.
Suatu keingginan sederhana tapi masih belum bisa Azkia realisasikan dalam waktu dekat.
__ADS_1
Meski tak menolak, Azkia juga belum memberikan jawaban apa – apa mengenai keingginan Louis untuk menjadikannya istri dan mama bagi putrinya.
Louis yang memahami kondisi Azkia pun tak mendesak wanita itu untuk segera memberi jawaban kepadanya.
Perkembangan hubungan yang terjalin diantara keduanya yang menghangat seperti ini saja sudah membuatnya bahagia.
Sindy yang hari ini memutuskan untuk bekerja setengah hari, setelah melakukan inspeksi dipabrik barunya diapun segera meluncur pulang.
Tak mendapati Azkia didalam kamarnya, Sindypun segera meluncur menuju taman samping rumah dimana sahabatnya itu sering menghabiskan waktu jika sedang sendirian.
Melihat Sindy datang, Azkia segera menghentikan aktivitasnya untuk memberi makan ikan didalam kolam buatan yang sengaja dibangun Louis untuknya disana.
Diapun segera menghampiri sahabatnya yang sudah duduk manis didalam gazebo disamping kolam sambil menikmati kudapan yang ada diatas meja.
" Bagaimana kondisimu hari ini...."
“ Kurasa aku tak bisa mengabulkan keingginanmu untuk kembali keperusahaan sekarang....”
“ Aku takut kamu akan kembali drop jika masih saja memaksakan diri....”, ucap Sindy memulai percakapan
“ Aku bosan jika harus terus dirumah seperti ini....”, ucap Azkia mengeluh.
“ Bagaimana jika kamu mulai berbelanja dan menghias kamar untuk menyambut kehadiran bayimu agar kamu tidak bosan.....”
“ Tapi belanjanya lewat online saja agar kamu tak terlalu capek....”, ucap Sindy menambahkan.
“ Baiklah, aku akan list apa saja yang akan menjadi kebutuhan bayiku diawal..... ”, ucap Azkia bersemangat.
Sindy merasa senang melihat sahabatnya itu kembali bersemangat. Diapun mulai membantu Azkia untuk melihat – lihat catalog perlengkapan bayi diinternet.
Namanya juga wanita, jika sudah menyangkut urusan shopping mereka akan sangat bersemangat.
Begitu ada barang yang menarik hati mereka langsung mengkliknya tanpa pikir panjang hingga tak terasa sudah banyak barang yang ada dikeranjang belanjaan dan menunggu untuk dicheck out.
“ Besok atau lusa barang – barang itu akan sampai dan kamu bisa segera menatanya didalam kamar....”, ucap Sindy bersemangat.
Azkia tampak berbinar waktu membayangkan jika malaikat kecilnya sebentar lagi akan hadir didunia.
“ Sehat terus ya nak hingga waktu lahiran tiba....”, ucap Azkia sambil mengelus perut buncitnya dengan tatapan penuh cinta.
Hari ini, Sindy memang sengaja pulang siang untuk menemani Azkia karena Tracy menemani Watson pergi keluar kota untuk menghadiri acara pernikahan anak salah satu sahabat maminya tersebut.
Merasa jika Azkia mulai terlihat santai dan nyaman, Sindy pun memulai obrolan yang sedari tadi sudah ingin dia lakukan.
“ Bagaimana hubunganmu dengan kak Louis....”, tanya Sindymasuk ke inti topik pembicaraan.
“ Cukup baik.....”, ucap Azkia santai.
Azkia tahu jika jawaban yang diberikannya tak membuat sahabatnya itu merasa puas pada akhirnya hanya bisa menghela nafas dalam – dalam dan kembali bersuara.
__ADS_1
“ Jika kamu menanyakan bagaimana perasaanku....”
“ Saat ini akupun masih ragu....”
“ Yang jelas aku merasa nyaman dan aman saat bersama dengan kakakmu....”
“ Tapi untuk cinta.....”
“ Aku masih takut akan hal itu.... ”, ucap Azkia jujur.
Sebagai orang yang seringa diajak curhat, tentunya Sindy sangat mengetahui dengan jelas kenapa sahabatnya itu begitu takut untuk kembali merasakan cinta.
Cinta yang seharusnya membuat orang bahagia justru malah menjerumuskannya kedalam lubang hitam yang sangat dalam akibat diberikan kepada orang yang salah.
“ Pelan – pelan saja....”
“ Jangan terlalu dipaksakan...”
“ Apapun yang menjadi keputusanmu, aku akan selalu menjadi orang pertama yang mendukungmu.....”, ucap Sindy tulus.
Mendengar ucapan Sindy, kedua mata Azkia mulai berkaca – kaca. Dia sangat bersyukur Tuhan telah mengirimkan sosok sahabat yang begitu baik dan sangat menyayanginya.
Disaat dirinya butuh seseorang untuk bersandar, Sindy selalu menjadi orang pertama yang ada untuknya.
Entah bagaimana caranya Azkia bisa membalas kebaikan Sindy beserta keluarganya akan perlakuan baik dan ketulusan yang diberikan oleh mereka kepadanya sehingga dia bisa bangkit dari keterpurukan.
“ Terimakasih....”
“ Terimakasih karena kamu selalu ada untukku....”, ucap Azkia sambil memeluk Sindy dengan erat.
“ Itulah gunanya sahabat....”
" Susah dan senang kita bersama...."
“ Dan aku akan selalu ada disaat kamu membutuhkanku....”, ucap Sindy hangat.
Azkia tergugu mendengar ucapan sahabatnya itu. Sindy yang melihat Azkia menangis segera mengambilkan tisu untuk mengusap air matanya.
“ Aku tak tahu bagaimana aku bisa membalas semua kebaikan yang kamu dan keluargamu berikan untukku....”, ucap Azkia terisak.
“ Hiduplah dengan bahagia.....”
“ Itulah caramu untuk berterimakasih kepadaku dan keluargaku....”, ucap Sindy tersenyum hangat.
Tangis Azkia semakin kencang waktu Sindy mengatakan hal tersebut. Sebuah keingginan sederhana yang sulit untuk dia realisasikan.
Keingginan yang sama dengan mendiang papanya yang dulu tak bisa dia wujudkan.
Namun, kali ini Azkia bertekad jika dia akan berusaha untuk mewujudkan keingginan Sindy dan keluarganya yaitu dengan hidup bahagia dan lepas dari bayang – bayang masa lalu yang kelam.
__ADS_1