AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 66


__ADS_3

Rasa sedih atas kehilangan orang yang sangat dicintainya membuat separuh jiwa Ardan seakan pergi meninggalkan raganya seiring kepergian istrinya.


Saat ini dia hanya bisa memandangi bekas luka sayatan didada dan lengannya, serta goresan dipergelangan tangan kanannya yang nyaris membuatnya mati kehabisan darah.


Dielusnya setiap goresan dengan hati bahagia, karena semua luka itu dibuat oleh istri yang perlahan mulai dia cintai dengan segenap jiwa dan raga.


“ Hanya ini yang tertinggal darimu Azkia….”, ucap Ardan lirih.


Sejak obat yang dikonsumsinya dulu diganti oleh Meysa, Ardan menjadi kebal terhadap obat bius apalagi jika dosisnya tak terlalu tinggi seperti yang diberikan oleh Azkia kepadanya.


Meski tak bisa membuka kedua matanya, namun Ardan merasakan semua hal yang Azkia perbuat kepadanya dan mendengar setiap gumanan yang istrinya keluarkan ketika mengukir karya indahnya ditubuhnya.


Awalnya dia sangat syok mengetahui jika istrinya itu benar – benar ingin melenyapkannya dengan menyayat tubuh dan menusuk pergelangan tangannya hingga darah langsung mengucur deras dari tangannya.


Rasa sakit dan perih setiap kali ujung pisau menyentuh kulitnya sangat dinikmati oleh Ardan mengingat jiwa psikopat yang ada dalam dirinya kembali bangkit sehingga dia sama sekali tak keberatan Azkia melakukan semua hal buruk itu kepadanya.


Yang membuatnya sangat syok adalah gumanan pelan yang keluar dari mulut istrinya, mengungkapkan rasa kecewa hingga hilangnya rasa cinta yang selama ini ada dalam hatinya.


Kenyataan yang menyakitkan jika istri yang dulu sangat memuja dan mencintainya tiba - tiba melepaskannya begitu saja seiring dengan rasa sakit dan kecewa yang dirasakannya.


Fakta itulah yang membuat psikis Ardan langsung down malam itu hingga dia tak sadarkan diri selain kehabisan darah.


“ Aku tak menyangka jika dibalik sikap lembutmu juga terdapat jiwa iblis sama sepertiku….”


“ Seandainya kita bersama, kemungkinan kita  bahagia sangatlah besar….”, ucap Ardan penuh percaya diri.


Diapun terus meracau tak jelas didepan cermin, membayangkan kebahagiaan jika dia dan Azkia kembali bersatu lagi.


“ Ini semua pasti karena hasutan Jacob….”


“ Dulu, sekejam apapun aku menyiksanya….”


“ Azkia tak pernah punya niat untuk menceraikanku….”


“ Pasti b*****n itu yang telah mengotori pikiran istriku….”


“ Ya….”


“ Pasti itu dia…..”, ucap Ardan penuh amarah.


Bruakkkk….


Pranggg…..


Ardan meninju keras kaca yang ada dihadapannya hingga hancur berkeping – keping dan tangannya berdarah.


Melati yang baru saja tiba dikediaman Ardan langsung bergegas naik bersama bik Mina begitu mendengar suara kaca pecah dari kamar anaknya.


“ Ardan !!!…..”


“ Apa yang terjadi !!!…..”, teriak Melati panik.

__ADS_1


Melihat darah segar terus menetes dari tangan Ardan, Melatipun bergegas mengambil kotak P3K dari dalam almari sementara bik Mina membersihkan pecahan kaca yang berserakan dilantai.


“ Apa sebenarnya yang kamu pikirkan hingga melakukan hal ceroboh seperti ini….”, guman Melati penuh kekhawatiran.


Melihat Ardan tak menjawab, Melati hanya bisa menyimpulkan jika ini ada kaitannya dengan Azkia karena sejak keluar dari rumah sakit hanya istrinya itulah yang menganggu dan memenuhi pikiran Ardan saat ini.


Begitu punggung telapak tangannya selesai diobati, Ardanpun segera turun dan mengambil kunci mobilnya tanpa berkata sepatah katapun.


“Ardan…..”


“ Mau kemana kamu….”


“ Kembali Ardan….”


“ Lukamu masih basah…..”, teriak Melati panik.


Teriakan Melati yang melarangnya untuk pergi sama sekali tak dihiraukan, Ardanpun terus melangkah menuju garasi dan memacu mobilnya dengan kencang.


Melati hanya bisa mengelus dadanya beberapa kali sambil menghela nafas dalam – dalam, berusaha untuk sabar.


Tujuan Ardan adalah tempat Meysa disekap. Gara – gara hasutan wanita itulah dia menyiksa istrinya dan membuat wanita yang dicintainya itu pergi meninggalkannya.


Meysa yang baru saja selesai digagahi oleh dua anak buah Ardan kini terlihat sangat letih dengan **** ***** yang terasa sangat nyeri karena bengkak.


“ Tuhan….”


“ Ampunilah semua dosa – dosaku dan biarkan aku mati….”


" Mati ?...."


" Hanya ada dalam mimpimu...."


“ Aku tak akan membiarkanmu mati begitu saja karena kematian sangat mudah bagimu….”


“ Kamu harus menebus semua dosa yang pernah kamu perbuat dimasa lalu….”, ucap Ardan tajam.


Meysa terperajat melihat sosok malaikat berhati iblis yang sekarang ada dihadapannya.


Sekian lama tak ada kabar, kini Ardan tepat berada dihadapannya membuat tubuhnya langsung menggigil ketakutan.


“ Oh Tuhan….”


“ Tak cukupkah dirimu  membuatku menderita selama ini….”


“ Kenapa iblis ini datang lagi….”, batin Meysa ketakutan.


Melihat tubuh Meysa gemetaran, Ardan menyeringai puas. Ternyata tak salah dirinya datang kemari karena hatinya seakan mendapat hiburan disini.


Ardan tak memperdulikan wajah Meysa yang pucat pasi dan terlihat sangat kelelahan.


Diapun segera mengeluarkan cambuk kulit kesayangannya dari balik jaket yang dikenakannya dan langsung memulai aksinya.

__ADS_1


Suara jeritan dan tangisan menyayat hati yang keluar dari mulut Meysa sama sekali tak menggoyahkan hati Ardan yang semakin kasar menyiksa mantan kekasihnya itu.


Kali ini Ardan benar – benar menggila, dia sampai bercucuran keringat demi melampiaskan seluruh emosi yang ada


dalam hatinya.


Rasa sedih, marah, kecewa, putus asa semua bercampur menjadi satu membuat Meysa menjadi pelampiasannya malam ini.


Melihat Meysa sudah sekarat, Ardan segera memerintahkan anak buahnya untuk memanggil seorang dokter yang bisa dia bungkam mulutnya untuk mengobati wanita itu.


Yang jelas, Ardan tak akan membiarkan Meysa mati sebelum hatinya merasa puas menyiksa wanita itu.


Sementara itu, Azkia yang saat ini sedang fokus – fokusnya mengerjakan proyek bersama Sindy terlihat sangat bersemangat.


Kondisi emosi Azkia pun sudah semakin baik seiring rutinnya dia menjalani terapi dari seorang psikiater ternama dibenua ini berkat bantuan papi Sindy yang membawanya berobat.


Meski kadang emosi Azkia masih meledak – ledak, setidaknya hal itu tak separah dahulu karena jiwa lain dan jiwa aslinya perlahan mulai melebur menjadi satu.


Kini keduanya masih dalam taraf penyesuaian diri untuk bisa saling berbagi dengan kapasitas yang sama sesuai dengan apa yang diperlukan pemilik tubuh.


Kabar baik itu tentu saja membuat Sindy dan Jacob merasa sangat bahagia karena pada akhirnya Azkia mau berdamai dengan masa lalunya dan menerima semua kegagalan dalam hidupnya dengan lapang dada.


Kini, Azkia dengan jiwa yang baru menjadi sosok kuat dan mandiri tapi tak menghilangkan sisi lembut dan hangat yang dimilikinya untuk orang – orang terdekatnya.


Surat cerai yang diterimanya pun juga menjadi salah satu motivasi untuk membuatnya menjadi lebih baik lagi.


Sementara itu dilain tempat, Ardan yang tak ingin bundanya khawatir terhadapnya, sebelum pulang dia membersihkan diri di apartemen yang dulu sering dia tinggali untuk membersihkan bekas noda darah akibat menyiksa Meysa.


Selama ini tak ada yang tahu mengenai sisi gelap Ardan ini kecuali Robby dan anak buah pilihannya.


Faisal saja hanya mengetahui jika putra semata wayangnya itu kerap menghabisi musuh – musuhnya dengan sadis tapi dia sendiri tak pernah melihat betapa kejamnya Arda menyiksa para korbannya sebelum dibunuh.


Ardan tiba didalam rumahnya menjelang dini hari. Begitu kakinya masuk ke ruang tamu dia melihat sosok bundanya tertidur dengan posisi duduk.


“ Bunda pasti menungguku semalaman…..”, batin Ardan merasa bersalah.


Melihat posisi tidur bundanya yang tak nyaman, Ardanpun segera membopong wanita yang telah melahirkannya itu menuju kamarnya.


Setelah menyelimuti tubuh sang bunda agar tak kedinginan, Ardan yang hendak melangkah keluar tanpa sengaja melihat sebuah amplop coklat diatas meja yang ada didalam kamar.


Deg….


Jantung Ardan seakan berhenti berdetak waktu membaca tulisan dan logo yang tertera diatas amplop coklat tersebut.


Dengan tangan gemetar, Ardan mengeluarkan secara perlahan isi dalam amplop coklat tersebut dengan perasaan campur aduk.


“ Tidak….”


“ Aku tak bisa menerima semua ini….”, batinnya menolak keras.


Lutut Ardan langsung lemas setelah membaca setiap kata yang tercetak diatas lembar putih yang tadi dia ambil dari dalam amplop coklat tersebut hingga membuat tubuhnya merosot kelantai dengan tangan gemetar.

__ADS_1


__ADS_2