
Sejak pagi sang mentari tampak malu - malu untuk menampakkan diri membuat banyak orang enggan meninggalkan peraduannya, begitu juga dengan Azkia yang masih bergelung dengan selimut tebal membungkus tubuhnya.
Semalam dia bisa tidur nyenyak karena obat yang diberikan oleh dokter Adrian meski sempat ada drama penolakan dari gadis itu karena merasa dirinya baik - baik saja.
Namun berkat kesabaran bik Surti yang membujuknya dengan menggunakan nama sang papa maka Azkia pun luluh dan mau mengkonsumsinya sebelum tidur.
Tok tok tok…..
“ Nona….”
“ Sarapan sudah siap….”
“ Mau dibawakan kedalam kamar atau non Azkia akan turun….”, tanya bik Surti dari balik pintu.
“ Aku turun saja bik….”
“ Beri aku waktu lima menit lagi…..”, teriak Azkia masih dengan mata terpejam.
Baru saja Azkia kembali menarik selimutnya seketika dia inggat jika masih ada satu berkas yang memerlukan tanda tangannya pagi ini harus sudah ready sebelum persidangan perdana Hilman besok.
“ Astaga….”
“ Hampir saja aku lupa….”
“ Untung masih ingat….”, guman Azkia yang langsung membuka kedua matanya dan berlari menuju kamar mandi.
Karena sudah hampir kesiangan, Azkia mempercepat ritual mandinya dan langsung berganti pakaian kerja serta memoles wajahnya dengan make up tipis agar terlihat segar.
“ Perfect….”, ucapnya sambil mematut dirinya didepan cermin.
Melihat masih ada waktu tiga puluh menit sebelum berangkat Azkia pun langsung turun untuk sarapan bersama dua pengawalnya yang sudah berada di meja makan menyantap sarapan pagi ini.
“ Pagi….”, sapa Azkia ramah.
“ Pagi juga….”, jawab mereka kompak.
“ Pagi ini kita langsung saja ke Century karena pak Martin sudah menunggu kita….”, ucap Shanum mengingatkan.
“ Ok….”, jawab Azkia singkat.
Sambil menyantap bubur ayam favoritnya Azkia mendengarkan semua schedule yang akan dia jalani hari ini.
“ Nanti sore kosongkan waktuku soalnya bunda meminta bertemu direstoran G jam empat sore….”, ucap Azkia kembali mengingat pesan Melati semalam.
Shanum pun langsung mencatat pertemuan tersebut ke ipad yang dipegangnya dan kembali meneruskan laporannya.
Setelah selesai sarapan, ketiganya segera berangkat menuju Cetury untuk bertemu dengan Martin.
Selain membahas mengenai sidang yang akan dilaksanakan esok hari, Azkia juga ingin berkonsultasi mengenai masalah perusahaan milik mamanya yang sudah diambil alih oleh Hilman tersebut.
__ADS_1
Jika bisa, dia ingin memiliki kembali perusahaan peninggalan orang tua mamanya tersebut dan menggabungkannya menjadi satu dibawah bendera AH Group.
Jika Azkia sedang sibuk penyelesaikan semua pekerjaan dikantornya dan beberapa urusan mengenai persidangan esok hari, Ardan juga melakukan hal yang sama.
Bahkan dia lebih sibuk daripada Azkia karena dia masih harus menemui Meysa ditempat penyekapan untuk melampiaskan emosinya agar nanti saat bertemu dengan Azkia emosi Ardan sudah kembali stabil sehingga tak sampai menyakiti istrinya.
“ B*****n kamu Ardan !!!....”
“ Iblis !!!....”, teriak Meysa penuh caci maki.
Bukannya marah, Ardan malah tertawa terbahak – bahak mendengar semua sumpah serapah serta umpatan yang ditujukan kepadanya tersebut.
“ Apa kamu lupa siapa yang telah membuatku menjadi seperti ini….”, ucap Ardan sambil mencengkeram dagu Meysa dengan kuat agar mata wanita itu menatapnya.
“ Kamu j****g !!!....”
“ Kamulah yang mengubahku menjadi monster mengerikan seperti ini….”, desis Ardan tajam.
Meysa tak bisa menampik jika dirinya menjadi salah satu penyebab jiwa gelap Ardan ini bisa keluar dari dirinya.
Dia yang tanpa sengaja mengetahui sisi gelap kekasihnya itu berusaha untuk mendorongnya keluar dengan alasan jika tak bisa mendapatkan Ardi maka dia akan menggunakan Ardan sebagai pion miliknya yang tak terkalahkan yang akan dia gunakan sebagai senjata untuk merebut posisi utama pewaris Bimantara.
Tapi Meysa tak memprediksi jika sisi gelap Ardan tersebut seiring berjalannya waktu menjadi dominan dan tak terkendali sehingga diapun menjadi salah satu obyek pelampiasan seksual menyimpang yang selama ini berusaha disembunyikan oleh Ardan.
Seiring berjalannya waktu, Meysa yang tak bisa mendapatkan Ardi dan tak bisa mengendalikan Ardan pada akhirnya memilih pergi setelah mendapatkan lelaki kaya yang bisa memenuhi segala macam gaya hidup mewahnya.
Kehidupan yang dia rasa akan membawa kebahagiaan berujung petaka saat kekasihnya mengetahui jika anak yang dikandung olehnya adalah anak Rudolf, selingkuhan Meysa saat itu hingga membuatnya harus menjalani aborsi illegal atas perintah kekasihnya itu.
Setelah mengetahui jika Meysa tak bisa membuatnya memiliki keturunan serta pengkhiatan yang dilakukan oleh wanita tersebut terpaksa kekasihnya itu mencampakkannya begitu saja diluar negeri.
Untung ada Rudolf yang setia menemani hingga dia akhirnya menikah secara agama dengannya tanpa mendaftarkan pernikahan keduanya secara sah karena Meysa masih ingin mencari lelaki kaya yang lainnya agar bisa terus hidup nyaman.
Nasi sudah menjadi bubur, begitu tiba ditanah air Meysa yang merasa memiliki harapan menjadi bagian keluarga Bimantara pada akhirnya harus berakhir digudang tua dengan penyiksaan tiada henti dari lelaki yang dulu diperalat olehnya.
Setelah puas melampiaskan emosinya, Ardan pulang kerumah untuk membersihkan diri sebelum menuju restoran dimana dia akan bertemu dengan sang istri menggunakan nama bundanya.
Begitu jarum jam menunjukkan pukul 15.45 Azkia segera melajukan mobilnya bersama dua pengawal cantiknya menuju restoran G dimana dia akan bertemu dengan mertuanya.
Ini bukan pertama kalinya Azkia pergi kerestoran tersebut karena mertuanya sudah beberapa kali mengajaknya kesana jika keduanya sedang keluar bersama.
“ Masih kurang lima menit….”
“ Kalian pesan minuman dulu saja….”, ucap Azkia pada kedua pengawalnya yang duduk tepat didepannya.
Setelah pelayan selesai mencatat pesanan Azkia dan dua pengawalnya, tanpa sengaja kedua matanya menatap lurus keluar restoran.
“ Ardan…..”, batin Azkia terkejut.
Sesaat keduanya saling bertatapan dan semua obyek maupun orang yang berada disekeliling mereka seolah menjadi kabur pada saat mata mereka bertemu dalam satu garis lurus.
__ADS_1
Seolah disini hanya ada mereka berdua, saling memandang dan hanyut dalam kesenduhan mata masing – masing.
Shanaz yang kebetulan ada dihadapan Azkia saat ini langsung mengarahkan pandangannya kearah dimana Azkia menatap tajam sambil menautkan kedua alisnya sangat dalam.
“ Ada apa ?....”
" Apa yang kau lihat......", tanya Shanum khawatir.
“ Ardan….”, jawab Azkia singkat.
Mendengar nama lelaki itu disebut, Shanum dan Shanaz langsung meningkatkan kewaspadaan diri.
“ Akan aku cek….”, ucap Shanum bergegas bangkit dari duduknya dan keluar dari dalam restoran.
Sementara Shanaz tetap berada dihadapan Azkia, menemaninya hingga Melati tiba disana karena kemunculan Ardan disini bukanlah pertanda baik untuknya.
Tiba – tiba pelayan yang membawakan minuman untuk tamu diseberang meja tempat keduanya berada terpleset kakinya hingga gelas yang dibawanya dalam nampan tersebut meluncur dan membasahi kemeja serta celana Azkia.
“ Maafkan saya nyonya….”
“ Saya tidak sengaja….”, ucap pelayan tersebut dengan wajah pucat ketakutan.
“ Tidak apa – apa….”
“ Lain kali hati – hati kalau jalan….”, ucap Azkia sambil membersihkan tumpahan minuman tersebut dengan tisu.
Dikawal Shanaz, Azkiapun segera berjalan menuju toilet untuk membasuh kemeja dan celana panjangnya yang basah terkena tumpahan minuman karena terasa lengket.
Tanpa diduga dari arah belakang tekuk Shanaz dan Azkia dipukul oleh dua orang hingga membuat keduanya pingsan dan kedua lelaki kekar tersebut segera membawa keduanya pergi.
Shanum yang tak berhasil mendapatkan jejak Ardan segera menyusul Azkia dan Shanaz ke toilet setelah keduanya tak kunjung kembali.
Dia langsung panik waktu tak mendapati satu orang pun berada di toilet dan bergerak memutar untuk mencari keberadaan keduanya.
Setelah memutari seluruh bagian restoran namun tak menemukan keberdaan keduanya, Shanum pun bergegas menuju keruang cctv restoran dua lantai tersebut.
“ Sial….”
“ Kok bisa sih cctv mati disaat seperti ini….”, kesal Shanum pada petugas keamanan yang ada disana.
“ Semalam baru rusak mbak….”
“ Rencana sore ini baru akan diperbaiki….” , jelas petugas keamanan membela diri.
Sebenarnya petugas keamanan juga merasa sangat heran pasalanya selama bekerja hampir dua tahun, baru kali ini dia mendapati cctv didepan dan belakang restoran rusak.
Padahal sebelumnya kondisinya masih baik – baik saja. Shanum yang mendengar penjelasan petugas keamanan tersebut segera menghubungi Jacob dan menjelaskan semuanya.
“ Brengsek kau Ardan !!!....”
__ADS_1
“ Lihat saja, aku akan benar – benar membuatmu kehilangan Azkia begitu surat cerainya keluar !!!....”, desis Jacob penuh amarah.