AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 89


__ADS_3

Udara panas siang hari ini semakin bertambah panas saat Louis bertemu dengan kedua orang tua Ardan.


Keduanya tak jadi bertemu dicafe depan rumah sakit mengingat jika Azkia tak bisa ditinggalkan terlalu lama hingga membuat Louis menemui kedua orang tua Ardan di taman belakang ICU tempat Ardan dirawat.


Tak mau membuang banyak waktu lagi, Louispun meminta agar Faisal segera membawa Ardan kembali ketanah air begitu kondisinya memungkinkan untuk dipindahkan.


Dalam kesempatan ini Louispun meminta agar Faisal juga melarang keras Ardan untuk kembali kenegara ini jika tak ingin sesuatu yang lebih buruk dari ini terjadi.


“ Apa hakmu melarang Ardan kembali kenegara ini untuk menemui anaknya....”, ucap Melati sinis.


“ Tentu saja saya punya hak karena saya adalah calon suami Azkia....”


“ Sebagai seseorang yang akan mendampingin hidup Azkia dimasa depan saya tentunya akan melindungi wanita yang saya cintai beserta anaknya dari siapapun yang berusaha untuk menyakitinya.....”


" Dan saya akan bertindak tegas meskipun itu adalah papa kandungnya sendiri......", ucap Louis penuh penekanan.


Mendengar ucapan congkak Louis, Melati hanya bisa mencibir dalam hati. Bagaimanapun dia merasa Ardan berhak atas anak itu meski sekarang status mereka sudah buka suami istri lagi.


“ Anda terlalu berlebihan....”


“ Ardan tak mungkin menyakiti anak kandungnya sendiri....”, ucap Melati penuh pembelaan.


“ Benarkah.... ”


“ Saya sanksi dengan ucapan anda itu.....”, ucap Louis dengan senyum meremehkan.


Melati yang melihat Louis berani meremehkannya mulai tersulut emosinya dan kembali memgutarakan beberapa hal yang bernada provokatif terhadap Louis.


Tapi lagi – lagi putra sulung Watson tersebut membalikkan semua perkataan Melati dengan sikap tenang hingga membuat bunda Ardan tersebut semakin geram dibuatnya.


“ Jika seperti yang anda katakan bahwa Ardan sangat mencintai anak dan mantan istrinya tak mungkin kan dia melakukan hal yang bisa membahayakan kandungan Azkia....”


“ Sebagai perempuan tentunya anda tahu jika wanita hamil dilarang stress berlebihan....”


“ Dan apa yang diperbuat oleh Ardan membuat detak jantung janin yang dikandung oleh Azkia melemah sehingga dia harus dilahirkan  lebih awal dari waktu kelahiran....”


“ Jika saja kami Azkia tidak pingsan dirumah sakit mungkin bayi yang ada dalam kandungannya tidak akan bisa tertolong.....”


“ Jika begini, apakah Ardan masih bisa bilang jika dia sangat menyayangi dan menunggu kelahiran putranya.....”


“ Atau dia memang berniat ingin agar bayi itu tak bisa lahir kedunia dengan selamat....”, ucap Louis tajam.


Mendengar jika Ardanlah yang menjadi penyebab cucunya dilahirkan sebelum waktunya membuat Melati langsung terdiam dengan tubuh lemas.


Faisal akhirnya mengerti kenapa anak buah Louis langsung mengejar Ardan secara membabi buta seperti itu karena kondisi Azkia dan bayinya terancam.


Meski Ardan tak menyentuhnya, tapi kedatangan Ardan nyatanya mampu membuat trauma Azkia kembali muncul.

__ADS_1


“ Untuk itulah saya menyuruh anda untuk segera membawa Ardan pergi karena tak ingin trauma yang dialami oleh Azkia kembali muncul....”


" Anda berdua tentunya tak ingin kan jika Azkia sampai membenci bayinya karena rasa trauma yang dimilikinya terhadap mantan suaminya....."


“ Tentunya anda berdua sadar juga siapa yang telah membuat Azkia hingga mengalami trauma sedemikian dalam seperti itu....”, ucap Louis memojokkan.


Faisal dan Melatipun pada akhirnya hanya bisa mengalah untuk sementara waktu dan membiarkan satu – satunya pewaris Bimantara tersebut bersama mamanya.


Saat ini yang ada didalam pikiran Faisal hanyalah bagaimana caranya untuk segera bisa membawa Ardan kembali ketanah air.


Jika masih berada dinegara ini, bukan tidak mungkin Azkia akan menyadari keberadaan mereka disini.


Dan jika trauma Azkia kembali timbul karena keluarga Bimantara, Faisal sangat yakin Louis dan Watson tidak akan melepaskannnya begitu saja dengan mudah.


Ardan yang masih dalam bentuk jiwa transparan hanya bisa mengepalkan kedua tangannya ketika ayahnya menyetujui semua hal yang dikatakan oleh Louis.


Bagaimanapun bayi munggil itu adalah anaknya. Buah cintanya dengan Azkia yang tak akan mungkin bisa diberikan dengan mudah kepada orang lain.


“ Sial....”


“ Dalam kondisi seperti ini aku tak bisa melakukan apapun untuk melawan....”, decak Ardan geram.


Louis sama sekali tak menyangka jika Faisal akan bisa sekooperatif ini dengannya.


Meski ibunda Ardan terlihat keberatan, namun wanita itu juga tak bisa melakukan apapun mengingat jika keselamatan Ardan berada pada keputusan yang dibuatnya hari ini.


Meski tidak berada dalam tempat yang sama, tapi factor peluang untuk Azkia bertemu dengan mantan mertuanya sangat besar.


Apalagi Louis mengetahui jika hubungan Azkia dengan kedua mertuanya sangatlah baik, terutama hubungannya dengan ibunda Ardan.


Dia tak ingin peluangnya untuk menjadi suami Azkia dimasa depan akan hilang seiring pertemuan tak disengaja yang terjadi dirumah sakit.


Begitu selesai menandatangani perjanjian rangkap dua yang dibuat oleh Louis, Faisal yang melihat wajah istrinya terus murung setelah Louis pergi berusaha untuk menghiburnya.


“ Bunda sabar dulu....”


“ Saat ini, hanya kesepakatan ini yang bisa kita lakukan hingga kondisi Ardan benar – benar pulih kembali....”


“ Masalah cucu kita, nanti akan ayah pikirkan lagi jika kita sudah tiba ditanah air bersama Ardan....”, ucap Faisal lembut.


“ Tapi yah....”


“ Bayi itu adalah cucu kandung kita....”


" Satu - satunya pewaris Bimantara yang kita miliki....."


“ Bunda tak rela jika harus melepaskannya begitu saja kepada keluarga Watson....”, ucap Melati masih dengan wajah cemberut.

__ADS_1


“ Iya ayah tahu bun....”


“ Tapi percayalah, ini adalah keputusan yang terbaik yang bisa kita ambil saat ini....”, Faisal dengan sabar memberi pengertian kepada istrinya itu.


Saat ini yang bisa Melati lakukan hanyalah menatap cucu lelakinya dari balik kaca ruang baby tanpa bisa menyentuh ataupun mengendongnya.


Diam – diam dia mengabadikan beberapa foto cucunya tersebut yang akan dia tunjukkan kepada Ardan ketika dia sudah sadar nanti.


" Lihatlah nak....."


" Putramu sangat lucu dan wajahnya mirip seklai denganmu ketika masih bayi.....", guman Melati bahagia.


Melatipun segera mengunggah foto lucu cucuya tersebut kemedia sosialnya yang langsung banyak mendapatkan respon dari keluarga, sahabat dan koleganya.


Mendapat banyak ucapan selamat dari semua orang dan doa baik untuk cucunya membuat  Melati melupakan sejenak kesedihan hatinya akan kondisi Ardan.


Ardan selalu setia mendampingi sang bundanya selama wanita itu menungguinya dirumah sakit dan memastikan jika wanita yang melahirkannya itu aman tersenyum bahagia melihat senyum bisa kembali hadir dalam wajah sayu ibundanya.


Seakan tahu sedang dikunjungi neneknya, bayi munggil tersebut selalu terbangun dan memasang wajah imut mengemaskan miliknya ketika Melati datang mengunjunginya.


Hal itu membuat hati Melati sedikit tenang dikala cemas dan sedih memikirkan nasib Ardan yang tak kunjung sadar dari komanya.


Tampaknya kebahagiaan Melati akan segera sirna karena sore ini keluarga Watson akan membawa pulang Azkia.


Tentunya bayi munggilnya tersebut juga akan ikut dibawa oleh mamanya kerumah yang telah disiapkan untuk menyambut kedatangan keduanya.


“ Azkia, kamu duduk manis saja diatas sofa...”


“ Biarkan mommy dan Sindy yang membereskan semuanya....”, ucap Tracy untuk kesekian kalinya.


Azkia kembali menghempaskan pantatnya diatas kursi dengan wajah kesal. Dia merasa jika tubuhnya baik – baik saja dan butuh banyak bergerak agar tidak kaku.


Tapi semua orang melarangnya karena takut dia kecapekan dan bisa membuat jahitan diperutnya terbuka.


Imelda yang hari ini ikut menjemput mommy dan adiknya pulang sadar jika Azkia merasa bosan dan mulai mengajakanya bercerita mengenai berbagai macam hal.


Dan tampaknya usaha Imelda tersebut berhasil dengan terbitnya senyum lebar diwajah cantik Azkia yang tadi sudah ditekuk sangat dalam.


Begitu bayi munggil yang menjadi kesayangan semua orang dibawa oleh perawat kedalam kamar, Azkia segera mengambilnya dan merekapun bersiap untuk pulang.


Ardan yang menyaksikkan bayinya akan dibawa pulang merasa sangat sedih karena ibundanya tak akan bisa lagi melihat cucu semata wayangnya itu.


Plashhh...Brukkkk....


Beberapa kali Ardan mencoba untuk melewati batas yang dimilkinya agar bisa menyusul Azkia dan anaknya namun tubuhnya kembali terpental kuat kebelakang.


Merasa usahanya sia - sia Ardan hanya bisa menatap nanar waktu Azkia dan anaknya menghilang dibalik pintu loby rumah sakit.

__ADS_1


__ADS_2