AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 79


__ADS_3

Tracy yang baru saja tiba di kantor langsung segera menyuruh sang sopir untuk pergi kerumah sakit begitu security yang berjaga didepan mengatakan jika Louis membawa Azkia pergi kerumah sakit.


Jenny yang tak bisa menghubungi Sindy menitipkan pesan kesecurity agar bosnya itu segera menyusul kerumah sakit begitu tiba dikantor.


Begitu sampai di rumah sakit, Azkia langsung mendapatkan tindakan karena ada darah mengalir diantara kedua kakinya.


Louis tak menghiraukan pakaiannya yang terkena noda darah dan menunggu didepan ruang penangganan dengan panik.


“ Louis....”


“ Bagaimana keadaan Azkia....”


“ Dia baik – baik saja bukan.....”, tanya Tracy panik.


Louis yang melihat maminya datangpun berusaha untuk menenangkan wanita yang telah melahirkannya tersebut.


Meski Tracy bukanlah ibu kandung Azkia, tapi semua orang sangat tahu jika maminya itu sangat menyayangi Azkia dengan tulus.


“ Kita doakan semoga Azkia baik - baik saja....”


“ Dokter sedang menanggani Azkia didalam sekarang....”, ucap Louis tenang.


Dihadapan sang mami, Louis berusaha untuk tetap tenang agar maminya tak semakin khawatir dengan kondisi Azkia meski hatinya sendiri saat ini sedang kacau tak karuan.


Sementara itu dibandara, Ardan yang hendak memasuki pesawat tiba – tiba merasa resah dan gelisah.


Deg....


“ Apa terjadi sesuatu dengan Azkia dan calon anakku....”, batinnya cemas.


Ardan yang merasakan feeling buruk mengenai Azkia terlihat memutar otaknya dengan keras agar bisa melarikan diri sekarang.


Begitu Robby sudah duduk dikursinya, Ardanpun pura – pura pergi ke toilet sehingga membuat assistennya itu tak curiga.


“ Maaf pak, sebaiknya anda duduk kembali karena sebentar lagi pintu pesawat akan kami tutup....”, ucap pramugari ramah.


“ Saya tidak jadi pergi....”


“ Istri dan anak saya dalam kondisi kritis sekarang....”, ucap Ardan segera berlari keluar, mengabaikan teriakan pramugari dan petugas yang berjaga disana.


Saat ini yang ada dalam pikiran Ardan adalah pergi untuk menemui Azkia dan melihat secara langsung kondisi mantan istrinya tersebut agar hatinya merasa tenang.


Untung saja dia membawa tas kecil yang berisi dompet, ponsel dan segera keperluan pribadinya sehingga dia tak perlu risau lagi.


“ Biarlah nanti aku akan memberi penjelasan kepada ayah begitu Robby sudah sampai....”, guman Ardan yang lekas menaiki taxi didepan loby bandara.


Robby yang melihat Ardan belum balik dari kamar mandi segera pergi menyusul bosnya itu karena merasa khawatir.

__ADS_1


“ Maaf pak....”


“ Silahkan anda duduk kembali karena pesawat akan segera tinggal landas....”, perintah sang pramugari sopan.


“ Saya ingin melihat teman saya yang sedang ke toilet dari tadi tapi belum juga kembali....”, ucap Robby menjelaskan.


“ Saat ini semua toilet dalam keadaan kosong karena semua penumpang sudah berada ditempat duduknya masing – masing mengingat pesawat sebentar lagi akan take off.....”


“ Silahkan anda duduk kembali.....”, ucap pramugari tegas.


Melihat banyak penumpang mulai menatapnya, Robby yang tak ingin membuat keributam pun pada akhirnya duduk dengan perasaan cemas.


“ Dimana kau Ardan....”


“ Awas saja jika kamu sampai melarikan diri dariku....”, batin Robby geram.


Sebenarnya Robby sudah curiga sejak semalam jika Ardan akan tetap tinggal dan tak mau pulang kembali ketanah air dengannya.


Tapi melihat Ardan tak banyak tingkah tadi pagi dan hingga mereka masuk untuk check in bosnya itu tak menunjukkan gejala ingin kabur Robbypun membuang pemikiran tersebut dan merasa sedikit tenang.


Namun dia sama sekali tak menyangka jika Ardan akan kabur ketika keduanya sudah berada dalam pesawat.


Suatu moment yang pas untuk kabur sehingga Robby dan bisa menghalangi atau menyeretnya untuk kembali.


“ Tak kusangka jika kamu selicik ini Ardan.....”, Robby masih saja terus menggerutu dalam hati.


Diapun sedang mempersiapkan diri untuk mendapat amarah besar dari Faisal karena membiarkan Ardan kabur.


Dalam satu hari apapun bisa terjadi dan Robby harap Ardan tak berbuat nekat yang bisa membuatnya kehilangan nyawa.


Alfonso yang dihubungi Ardan terlihat sangat terkejut pasalnya Robby baru saja mengabari jika mereka sudah berada didalam pesawat untuk pulang dan menyuruhnya untuk mencoba mencari lagi celah agar Ardan bisa bertemu Azkia meski cuma sebentar ketika mereka datang lagi nanti.


Teringat akan pesan Robby jika bosnya itu sedikit gegabah jika menyangkut masalah mantan istrinya maka Alfonsopun menyuruh Ardan untuk datang ketempatnya.


Setidaknya jika dia berada dikediamanannya maka Alfonso bisa menjaga dan mengawasinya dari dekat serta memberi lelaki itu saran agar bertindak secara terstruktur mengingat pertahanan milik keluarga Watson susah untuk ditembus.


Ardan yang berada didalam taxi terus berdoa dalam hati semoga anak dan istrinya baik – baik saja.


Mungkin inilah yang dinamakan ikatan batin antara ayah dan anak. Meski jarak memisahkan keduanya namun perasaan mereka terikat secara alamiah.


Azkia yang berada dirumah sakit terlihat sangat lemas dengan selang infuse tertancap ditangannya.


“ Karena belum waktunya lahir maka kami memberikannya obat penguat kandungan....”


“ Saya harap nyonya Azkia tak terlalu stress sehingga berdampak pada kandungannya....”, pesan sang dokter sebelum meninggalkan ruangan.


Louis memegang tangan Azkia dengan kedua mata berkaca – kaca. Dia merasa sangat ketakutan tadi ketika melihat darah segar mengalir keluar diantara dua kakinya.

__ADS_1


Banyangan buruk sebelum mendiang istrinya melahirkan dirumah sakit hingga merenggang nyawa kembali berputar dikepalanya.


“ Kamu menangis....”


“ Jangan sedih....”


“ Aku tidak apa – apa....”, ucap Azkia lemah.


Louis hanya terdiam mematung waktu satu tangan Azkia yang bebas mengusap air mata yang menggenang dipelupuk matanya.


“ Kamu benar – benar membuatku takut tadi....”, ucap Louis sambil mengecup telapak Azkia beberapa kali.


“ Kata dokter aku hanya perlu istirahat sebentar maka kondisiku akan pulih kembali....”, ucap Azkia berusaha tersenyum lebar.


Louis yang ingin mengucapkan sesuatu tiba – tiba dipotong oleh kehadiran Tracy yang langsung memeluk Azkia sambil berderai air mata.


“ Kamu kenapa....”


“ Apa pekerjaan dikantor membebanimu....”


“ Jika benar maka kamu harus cuti mulai sekarang....”, ucap Tracy penuh kekhawatiran.


Belum juga Azkia menjawab, dia dikejutkan oleh suara pintu dibuka secara kasar dari luar dan terlihatlah sosok Sindy serta Becca datang bersamaan dan langsung mengerubunginya dengan wajah cemas.


Hati Azkia menghangat melihat keluarga barunya begitu penuh perhatian terhadapnya membuat rasa sakit yang masih dirasakannya lenyap seketika.


“ Kenapa kamu malah tertawa....”


“ Senang membuat semua orang khawatir.....”, ucap Sindy sambil berderai air mata.


Azkiapun segera memeluk sahabatanya itu untuk menenangkannya. Sindy yang ponselnya terjatuh dan mati tak tahu jika sedari tadi Jenny mencoba menghubunginya bahkan mengirim banyak pesan kepadanya.


Begitu tiba dikantor, dia mendengar jika Azkia dibawah kerumah sakit oleh Louis langsung panik apalagi ada karyawan yang mengatakan jika kakak sulungnya itu mengendong Azkia keluar sambil berlari.


Sepanjang jalan Sindy tak bisa berkonsentarsi hingga dia menabrak mobil yang ada di depannya yang ternyata mobil kakak iparnya.


Becca yang melihat Sindy sangat kacau langsung mengajaknya pergi bersama kerumah sakit setelah tahu jika Azkia dilarikan kesana.


“ Terimakasih kalian sudah mengkhawatirkanku....”


“ Aku tidak apa – apa hanya kecapekan saja...”, ucap Azkia tersenyum lembut.


“ Apa pekerjaan kantor membebanimu....”


“ Jika iya, cutilah mulai hari ini......”, ucap Sindy penuh perhatian.


“ Benar kata Sindy....”

__ADS_1


“ Ambilah cuti dan persiapkan dirimu untuk proses melahirkan nanti....”, ucap Becca menimpali.


Tracy juga mengatakan hal yang sama membuat Azkiapun mulai berpikir untuk mengajukan cuti secepatnya, setidaknya setelah dia keluar dari rumah sakit nanti.


__ADS_2