AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 87


__ADS_3

Semalaman jiwa Ardan terbang gentayangan mengelilingi ruang yang ada di rumah sakit yang bisa dijangkau olehnya.


Tanpa dia duga banyak jiwa tersesat seperti dirinya disini. Jika jiwa orang yang telah meninggal dunia maka dia bisa keluar kemana saja sesuai keingginannya.


Namun lain halnya dengan nasib dirinya dan beberapa orang yang raganya masih diberi alat untuk menunjang kehidupan, Ardan tak bisa melangkah lebih dari radius lima ratus meter dari tempat dimana tubuhnya berada.


Seoalh ada pembatas tak kasat mata yang membuatnya terpental jatuh setiap kali dirinya hendak menerobos keluar.


Menyadari hal itu, Ardan pun hanya bisa berkeliling sambil sesekali memantau kondisi tubuhnya dengan harapan ada perkembangan yang berarti sehingga dia bisa terbangun.


Ardan yang sedang berkeliling pagi ini tak sengaja melihat Louis sedang berjalan sambil memegangi tangan wanita yang dibawa menuju ruang operasi.


“ Azkia....”


“ Mau dibawa kemana dia....”, guman Ardan panik.


Diapun segera mendampingi Azkia dengan berdiri disamping brankar, berseberangan dengan posisi Louis saat ini.


Ardan merasa cukup beruntung karena dia bisa ikut masuk kedalam ruang operasi untuk menemani wanita yang dicintainya itu.


“ Apa dia akan segera melahirkan.....”, batin Ardan panik.


Setelah mendapatkan bius lokal dibagian bawah tubuhnya, sekilas Azkia seperti melihat sosok Ardan mendampinginya.


“ Apakah aku sedang berhalusinasi....”


“ Kenapa Ardan ada disini....”, batin Azkia binggung.


Ardan yang tak menyadari jika saat ini Azkia bisa melihatnya, diapun menoleh memberi semangat sambil tersenyum hangat kepada mantan istrinya tersebut.


“ Bertahanlah, dokter sedang berupaya untuk mengeluarkan anak kita sekarang.....”, ucap Ardan sambil menatap Azkia dengan lembut.


Azkia yang mendengar ucapan Ardan hanya bisa terbelalak sebelum suara tangis bayi memecah lamunannya.


Oekkk....oekkkkk....oekkkk.....


“ Selamat nyonya....”


“ Anak anda berjenis kelamin laki – laki dan dalam kondisi sehat tanpa kekurangan apapun.....”, ucap sang perawat sambil memperlihatkan bayi tampan tersebut kepada Azkia.


Begitu diletakkan didadanya, bayi kecil itu seperti sedang mencari sumber makanannya.


Namun sayangnya, asi Azkia masih belum keluar sehingga bayi tersebut terpaksa diangkat untuk dibersihkan.


“ Terimakasih sayang....”


“ Terimakasih....”


“ Kamu telah melahirkan buah hati kita dengan selamat....”, ucap Ardan sambil mengecup kening Azkia dengan lembut.


Meski Azkia tak bisa merasakan kecupan Ardan, tapi dia bisa mendengar dengan jelas suara mantan suaminya itu dan raut kebahagiaan yang terpancar diwajahnya.

__ADS_1


Azkia hanya bisa diam mematung saat dia menyadari jika tak ada seorang pun yang bisa melihat Ardan.


Hal itu terbukti dengan semua orang yang mengabaikan mantan suaminya itu karena memang tak bisa melihat sosoknya.


Jika tidak, mungkin sedari awal lelaki itu telah mereka usir karena selama operasi orang luar yang tak berkepentingan dilarang masuk kedalam.


“ Apakah Ardan sudah mati dan tadi arwahnya yang datang kemari.....”


“ Jika iya, kenapa Jacob tak memberitahuku....”, batin Azkia kebinggungan.


Meski tak suka dengan mantan suaminya itu namun jika memang benar Ardan telah meninggal, Jacob tak mungkin tak mengabarinya seperti lelaki itu mengabari mengenai kematian Hilman dan Windy.


Saat Azkia sibuk dengan pikirannya, Ardan telah pergi menuju tempat dimana anaknya dibawah perawat untuk dibersihkan.


Tak terasa air mata Ardan menetes dipipi waktu dia melihat bayi munggil tersebut dimandikan dan sekarang sedang diukur serta ditimbang badannya.


Bayi kecil yang sangat munggil dan tampan. Ardan seperti melihat dirinya dalam versi mini karena anaknya tersebut sangat mirip dengannya.


“ Kamu benar – benar mirip denganku....”


“ Mamamu pasti sangat kecewa karena wajahmu sama persis denganku seolah kamu ingin menegaskan padaku jika kamu adalah anakku.....”, guman Ardan senang.


Meski sedih tak bisa mendampingi Azkia melahirkan secara langsung, setidaknya jiwanya yang sedang berkelana ini telah menemaninya diruang operasi meski tak bisa terlihat oleh mata.


Diluar ruangan, semua orang langsung menyambut hangat malaikat kecil mereka dengan penuh kebahagiaan.


Ardan tak bisa berbuat apa – apa waktu melihat Louis menjadi orang pertama yang mengendong bayinya, bukan dia yang merupakan papa kandungnya.


Moment tersebut tentunya dapat ditangkap dengan baik oleh Ardan yang langsung membelai lembut rambut serta pipi gembul bayinya dengan tangis bahagia.


“ Sehat selalu ya nak....”


“ Tolong jaga mama, karena papa tak bisa lagi berada disamping mama.....”, ucap Ardan sambil mengecup kening bayinya dengan lembut.


Seolah mengerti, bayi tersebut sedikit mengangguk sambil tersenyum lebar hingga membuat semua orang yang berada disana merasa gemas.


Setelah sang bayi dipindahkan keruang perawatan khusus untuk baby kini semua orang menunggu Azkia keluar ruang operasi menuju ruang perawatan.


Sementara itu dilain tempat, tepatnya dibandara Melati dan Faisal yang baru saja turun dari pesawat merasakan perasaan tak enak dalam hati mereka hingga membuat dada keduanya berdebar sangat kencang.


“ Semoga tak terjadi sesuatu yang buruk .....”, batin Faisal sambil memegangi dadanya yang berdebar kencang sejak beberapa menit yang lalu.


Dia hanya bisa berdoa dalam hati semoga semua kekhawatiran yang ada dalam hatinya tak terjadi.


Saat ini hanya doa yang bisa keduanya panjatkan dalam hati untuk anak mereka yang masih terbaring tak sadarkan diri dirumah sakit.


Keduanya tampak terdiam dan sibuk dengan pikiran mereka sendiri – sendiri hingga membuat perjalanan menjadi sunyi.


Melati pun kali ini hanya bisa terdiam sambil menatap kosong keluar jendela mobil karena air matanya sudah habis dia tumpahkan selama perjalanan tadi.


Sekarang yang bisa dia lakukan hanya  pasrah dan terus berdoa dalam hati agar Ardan bisa segera sadar dan kondisinya cepat membaik.

__ADS_1


Robby yang tak bisa kemana – mana karena kedua kakinya patah hanya bisa menghubungi Faisal melalui telepon.


Dia cukup senang mendengar jika Faisal dan Melati sudah berada dalam mobil menuju rumah sakit.


Setidaknya kedua orang tua Ardan tersebut bisa membuat keputusan mengenai kondisi sang putra yang saat sedang terbaring koma diruang ICU.


Robby hanya sekali kesana menggunakan kursi roda dengan bantuan perawat untuk melihat kondisi bos sekaligus sahabatnya itu.


Meski tak bisa masuk dan hanya bisa melihat dari luar, tapi Robby masih bersyukur jika operasi yang dijalankan Ardan telah berjalan dengan lancar.


Sekarang tinggal menunggu lelaki itu sadar sehingga sehingga mereka bisa membawanya terbang pulang dan melakukan perawatan di negara mereka sendiri yang tentunya lebih leluasa untuk bergerak jika dibandingkan disini dibawah pengawasan Louis.


Sementara itu diruang rawat Azkia, wanita itu sedang sibuk melayani para keluarga yang datang untuk memberinya ucapan selamat atas kelahiran sang putra.


Louis yang hari ini tak masuk kerja dengan setia berada disisi Azkia untuk membantu wanita itu jika memerlukan dirinya.


Semua anggota keluarga yang sudah mengetahui mengenai hubungan keduanya merasa bahagia karena sebentar lagi Azkia akan resmi menjadi bagian dari mereka.


“ Mom...”


“ Kenapa asiku masih belum keluar ya....”, tanya Azkia dengan wajah senduh.


“ Mungkin ini efek bius....”


“ Coba sore nanti kamu pompa, siapa tahu sudah bisa keluar....”, ucap Tracy membesarkan hati Azkia.


Meski tak bisa melahirkan secara normal, setidaknya Azkia masih ingin memberikan asi eksklusif untuk buah hatinya.


“ Rileks....”


“ Itu akan membuatmu asimu bisa cepat keluar selain kamu juga harus makan yang banyak....”, ucap Rebecca menimpali.


Louis yang melihat jika Azkia sedikit tegang perlahan mulai memijit pundak dan bagian atas punggungnya agar tubuhnya sedikit rileks.


“ Dari yang aku baca, pijatan seperti ini juga bisa merangsang asi agar cepat keluar....”, bisik Louis pelan.


“ Benarkah.....”, tanya Azkia antusias.


“ Benar....”


“ Akan lebih cepat keluar lagi jika aku memijat juga bagian depannya....”, bisiknya sambil mengerling nakal.


Melihat Louis sudah mulai berpikiran mesum, Azkiapun segera mencubit perutnya hingga lelaki itu meringgis menahan sakit.


“ Buang pikiran kotormu itu jika tak ingin aku usir dari sini....”, ucap Azkia sambil melotot tajam.


Melihat Azkia melotot kepadanya, Louispun langsung mengacak – acak rambut wanita yang dicintainya itu sambil berbisik tepat ditelinganya


“ Tenang saja, aku tak akan melakukan hal seperti itu sebelum kamu resmi menjadi istriku jadi sekarang berusahalah untuk rileks.....”, ucap Louis berjanji


Azkia yang memang merasa sedikit tegang berusaha untuk membuat badan dan pikirannya menjadi santai sambil menikmati pijitan yang diberikan Louis kepadanya.

__ADS_1


__ADS_2