AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 56


__ADS_3

Setelah insiden penyerangan yang terjadi semalam, Jacob semakin memperketat pengawasan terhadap Azkia dan kediamanannya.


Dalam peringatan empat puluh hari kematian Ronan, selain mengundang anak panti asuhan dan warga sekitar kompleks Azkia juga mengundang para santri dari sebuah pesantren yang berjumlah seratus orang.


Tentunya banyaknya tamu yang hadir tak menutup kemungkinan ada penyusup yang ingin melukai Azkia ikut hadir didalam acara.


Bukan hanya Jacob yang melakukan pengamanan berlapis, Ardan juga melakukan hal yang sama.


Ardan tak mau lagi kecolongan hingga Meysa bisa melukai istrinya.


Hari ini Azkia hanya masuk kantor setengah hari karena acara akan dilaksanakan setelah sholat Ashar agar bisa selesai tak terlalu malam.


Shanum dan Shanaz sama sekali tak melepaskan Azkia sendirian. Keduanya terus berada disisi Azkia kemanapun gadis itu pergi.


“ Bagaimana persiapannya bunda….”


“ Apa masih ada yang kurang….”


“ Kebetulan aku lagi dalam perjalanan pulang….”


“ Siapa tahu ada yang  mau dibeli biar sekalian aku belikan….”, ucap Azkia menawarkan.


“ Kalau bisa beli beberapa kotak cake karena takutnya tamu yang datang lebih dari perkiraan…”


“ Soalnya sejak pagi sudah banyak orang yang datang melayat jadi kita perlu tambahan kue untuk dibawa pulang dan disuguhkan ditempat….”, ucap Melati menjelaskan.


Setelah mendengar Melati, Azkia segera pergi ke toko kue langganannya untuk memborong kue dan cake yang ada disana.


Sarah sangat senang semua kue dan cake yang ada ditokonya diborong habis oleh Azkia padahal gadis itu sudah memesan kue dalam box lima ratus picis yang sudah diantarnya tadi pagi.


“ Terimakasih lho kak sudah dikasih diskon sebanyak ini….”, ucap Azkia gembira.


“ Justru aku yang harus berterimakasih karena kamu telah memborong kue yang ada ditokoku hingga aku hari ini bisa pulang lebih cepat dan bisa bermain dengan anakku lebih lama….”, ucap Sarah dengan senyum lebar diwajahnya.


Setelah semua kue dimasukkan kedalam mobil box yang akan diantarnya kerumah, Azkiapun berlalu dari sana menuju supermarket yang berada didekat perumahan yang dia tempati untuk membeli air mineral dalam kardus karena takut kurang.


“ Apa ada lagi yang akan dibeli non….”, tanya Shanum setelah memastikan barang belanjaan mereka diantar ketempat tujuan.


“ Kurasa sudah cukup….”

__ADS_1


“ Ayo pulang….”, ucap Azkia sambil menyeka keringat dari dahinya.


Begitu masuk mobil, Azkia baru bisa bernafas lega karena udara AC mulai menerpa tubuhnya yang beberapa terakhir ini gampang berkeringat jika sedang beraktivitas diluar ruangan.


Sesampainya dirumah, Azkia langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya yang lengket oleh keringat.


Sementara Shanum dan Shanaz bergantian berjaga didalam kamar Azkia saat yang satu sedang mandi dan berganti pakaian.


Semua itu mereka lakukan agar tak lagi kecolongan seperti yang terjadi semalam.


Hal ini juga untuk menghindari Ardan tiba – tiba masuk kedalam kamar istrinya dan membuat suasana Azkia menjadi buruk.


Ardan yang baru saja keluar dari dalam mobilnya sedikit memicingkan kedua matanya waktu melihat bik Surti sedang berbicara dengan seorang lelaki mudah di taman samping rumah sambil kedua matanya menatap awas kondisi sekitarnya.


Penasaran dengan sosok lelaki muda yang bersama dengan bik Surti, Ardan segera mengambil gambar pemuda tersebut dan mengirimnya kepada anak buahnya.


“ Cari tahu siapa pemuda itu….”, perintah Ardan tegas.


Karena semua orang sanat sibuk mempersiapkan acara yang akan berlangsung sore ini jadi tak ada yang memperhatikan gerak – gerik bik Surti dan pemuda tersebut yang seakan membicarakan hal pribadi karena dilakukan secara sembunyi – sembunyi.


Adrian yang menyadari kedatangan Ardan segera memberi kode ke bik Surti sehingga wanita tua itu bergegas pergi kearah dapur sementara dia sendiri berjalan kearah yang berlawanan dengan Ardan.


“ Mereka menyadari kedatanganku rupanya….”, gerutu Ardan kesal.


Selama prosesi acara, meski lelaki yang dicurigai Ardan tersebut tak mendekati istrinya tapi dia tak suka cara lelaki itu menatap istrinya.


Tatapan intens yang dilayangkan oleh lelaki itu tak ayal membuat api cemburu dalam dada Ardan berkobar semakin besar.


Tapi dia berusaha untuk menahan diri agar tak menimbulkan kekacauan yang ada. Sementara lelaki yang membuat Ardan geram saat ini sedang fokus mengamati gerak – gerik pasiennya.


“ Benar kata bik Surti….”


“ Azkia yang sekarang lebih agresif daripada dulu….”


“ Mungkin karena tekanan psikis yang dialaminya sekarang lebih dalam dan menyakitkan dibandingkan pada saat dia kehilangan mamanya….”, batin Adrian bermonolog.


Adrian yang sudah selesai menilai perilaku Azkia nanti akan mencoba untuk berbincang sejenak dengan gadis itu untuk bisa memberikan pengobatan yang tepat.


Karena dalam kondisi Azkia yang sekarang tampaknya agak sulit untuk membujuknya agar mau berobat kepadanya yang pastinya jiwa lain dalam diri gadis itu pasti akan menolak dan memberontak.

__ADS_1


Hal itu tentunya akan berakibat fatal pada Azkia yang saat ini fluktuatif emosinya benar – benar tidak stabil.


Setelah puas menilai, Adrian yang tanpa sengaja bertemu mata dengan Ardan merasa merinding waktu lelaki itu menatapnya tajam.


Melihat raut kemarahan dalam wajah Ardan serta tatapan penuh peringatan kepadanya, Adrian hanya menampilkan senyum sinis hingga membuat kedua tangan Ardan terkepal sangat erat.


“ Brengsek !!!....”


“ Berani sekali lelaki itu menantangku !!!.....”, batin Ardan penuh amarah.


Adrian yang merasa jika Ardan tampaknya cemburu terhadapnya diam –diam tersenyum geli dan menganggap suami Azkia itu bodoh karena baru menyadari perasaannya setelah istrinya benar – benar telah membencinya.


“ Implusif dan meletup – letup….”, kata itulah yang Adrian gambarkan pada sosok Ardan.


Tak terasa semua rangkaian acara yang begitu padat akhirnya bisa selesai dengan lancar tanpa gangguan apapun.


Meysa yang masih berusaha memasukkan anak buahnya untuk melukai Azkia kembali mengalami kegagalan membuatnya bertambah marah.


Dia menghancurkan semua barang didalam hotel yang dia tempati saat ini.


Vano, kekasih Meysa membiarkan wanitanya itu meluapkan amarah dalam hatinya sambil memainkan ponsel ditangannya.


Setelah emosi Meysa sudah reda, barulah Vino mendekat dan memberikannya suntikan ditangan agar wanita cantik tersebut tenang.


Meysa memejamkan mata ketika obat yang dimasukkan kekasihnya tersebut mulai bereaksi didalam tubuhnya.


Meysa memang pemakai sejak menjalin hubungan dari Rudolf tapi tak separah sekarang.


Saat bersama Vano, Meysa benar – benar dibuat kecanduan akan obat penenang yang disuntik atau dikonsumsinya secara langsung sehingga menyebabkan emosinya semakin sulit terkontrol apalagi ketika sakau.


“ Tenangkan dirimu….”


“ Fokus pada transaksi besar kita dan pembebasan papimu….”


“ Wanita j****g itu biarkan papimu yang mengurusnya setelah dia bebas nanti….”, ucap Vino membujuk.


Meysa yang sudah dalam pengaruh obat – obatan hanya bisa mengangguk patuh terhadap ucapan kekasihnya itu.


Vano sangat membutuhkan kemolekan tubuh Meysa agar semua bisnis hitamnya berjalan dengan lancar.

__ADS_1


Meysa tak sadar jika dirinya hanya dijadikan sebagai alat transaksi dan wanita pemuas bagi klien – klien Vano untuk memperlancar bsinis haramnya tersebut.


__ADS_2