AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 37


__ADS_3

Ardan yang berjalan lurus sambil mengepalkan kedua tangannya begitu kakinya melangkah masuk kedalam restoran tak sadar jika sedari tadi semua gerak - geriknya diawasi oleh sang istri yang juga berada dalam restoran yang sama dengannya..


“ Kali ini Ardan….”


“ Tadi aku juga melihat Meysa datang sebelumnya….”


“ Oh, jadi mereka diam – diam bertemu diluar…..”


“ Baguslah, itu akan semakin mempercepat gugatan cerai yang kulayangkan kepadanya….”, batin Azkia bermonolong.


Lain dimulut lain juga dihati. Meski jiwa Asli Azkia telah diblok namun hati kecilnya yang terdalam masih menyimpan sedikit rasa untuk suaminya itu.


Ada perasaan getir melanda ketika Azkia tahu jika suaminya kembali bertemu dengan selingkuhannya diluar setelah kata maaf dan janji yang laki – laki itu ucapkan kepadanya beberapa hari yang lalu.


“ Dasar munafik….”


“ Cukup sudah aku memberinya kesempatan….”


“ Kali ini aku benar – benar tak akan luluh dengan sikap dan perkataan palsu yang keluar dari mulutnya….”, batin Azkia penuh tekad.


Begitu kliennya datang dari kamar mandi, Azkiapun kembali melanjutkan perbincangan bisnis yang sempat tertunda tadi.


Sementara itu, Ardan yang tadi diantar masuk kedalam oleh satu pelayan saat ini sudah berada didepan pintu ruangan VVIP yang dipesan Meysa dengan wajah tegang.


Setelah pelayan yang mengantarnya pergi, Ardan langsung membuka pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara yang mengejutkan.


Suara benturan pintu dengan dinding membuat Meysa yang sedang duduk sambil melamun terkejut dan langsung membenarkan posisi duduknya sambil mengatur mimic wajahnya agar kelihatan lemah dan sedikit kesakitan.


“ Ardan…”, ucap Meysa lemah.


Meysa memulai actingnya dengan menyapa lelaki yang berdiri dekat pintu ,asuk ruangan dengan wajah merah penuh amarah.


Meski sedikit terkejut dengan ekpresi yang ditampilkan Ardan saat ini, tapi Meysa tak ambil pusing dan diapun kembali melanjutkan sandiwara yang baru saja dia mulai.


“ Aku sudah menunggumu dari tadi….”


“ Aku seneng banget lho pada akhirnya kamu mau menemuiku….”


“ Duduklah….”, ucap Meysa sambil 'menepuk kursi yang dia sediakan disampingnya dengan wajah dibuat selemah mungkin sambil terbatuk ringan beberapa kali.


Meysa yang berusaha tersenyum tiba – tiba tubuhnya menegang ketika dia melihat sorot mata Ardan yang sangat dingin terpancar diwajah tampannya.


Bukan hanya menatapnya dengan tajam  dan dingin, kedua mata elang  Ardan menyiratkan kemarahan yang snagat dalam yang ditujukan kepadanya.


“ Ada apa ?....”


“ Kenapa Ardan terlihat begitu marah kepadaku ?...”, batin Meysa cemas.


Begitu Ardan berjalan mendekat, tubuh Meysa semakin bertambah tegang dan keringat dingin mulai mengucur deras ditubuhnya padahal suhu udara disekitarnya cukup rendah saat ini akibat pengaruh AC yang menyala.


“ Aku ingin tanya sesuatu padamu…”


“ Jawab dengan jujur….”, ucap Ardan tajam.


Glekkk….


“ Ta – tanya apa ?....”, cicit Meysa mulai ketakutan.


“ Apa kamu benar – benar mencintaiku ?....”, Ardan mulai mengajukan pertanyaan pembuka.


Meski masih sedikit takut, tapi Meysa merasa lega karena Ardan menanyakan hal yang cukup umum baginya.


“ Tentu saja aku sangat mencintaimu….”


“ Kenapa hal yang sudah pasti begitu kamu tanyakan lagi….”, ucap Meysa gugup.

__ADS_1


“ Apa kamu juga yakin jika kamu sama sekali tak pernah mengkhianatiku ?....”, tanya Ardan dengan tatapan membunuh.


Kedua bola mata Meysa langsung membulat sempurna seketika, jantungnya pun berdetak dengan cepat takut jika ingatan Ardan telah kembali dan lelaki itu bisa mengingat segalanya.


“ Apakah ingatanmu sudah kembali ?....”, tanya Meysa was – was.


Ardan yang melihat Meysa malah balik bertanya alih – alih menjawab pertanyaannya tersenyum sinis saat yakin jika wanita yang ada dihadapannya itu sedang berusaha mengalihkan topic pembicaraan.


“ Jawab saja dengan jujur….”, ucap Ardan sinis.


“ Tentu saja tidak….”


“ Aku sangat mencintaimu jadi tidak mungkin aku mengkhianatimu….”, ucap Meysa sambil berusaha tersenyum lebar dengan harapan Ardan akan mempercayai ucapannya.


“ Lalu….”


“ Ini apa ?....”, ucap Ardan sambil melempar berkas rumah sakit yang tadi sempat dicetaknya dijalan.


Meysa terhenyak melihat semua berkas operasi pengangkatan rahim yang dilakukannya diluar negeri akibat melakukan aborsi illegal sehingga melukai rahimnya berhasil didapatkan Ardan.


Meski ketakutan namun Meysa berusaha setenang mungkin agar Ardan tak curiga terhadapnya.


“ Itu berkas operasi pengangkatan rahim yang kulakukan diluar negeri….”, cicit Meysa lirih.


" Benarkah......", ucap Ardan dengan  senyum sinis.


Melihat jika Meysa masih saja berbohong, Ardan pun berupaya untuk menganti topik pembicaraan dengan masalah yang lainnya dan kali ini dia sangat berharap wanita yang ada dihadapannya itu mau jujur kepadanya.


“ Dan sekarang aku tanya lagi...."


" Kuharap kali ini kamu bisa jujur padaku...."


" Apakah kamu benar - benar sakit kangker ?....”, Ardan kembali memberi pertanyaan menohok untuk Meysa.


Meysa meremas jarinya, berusaha untuk menutupi kegugupan yang mulai melanda hatinya mendengar setiap pertanyaan yang Ardan lontarkan kepadanya.


Tapi sekarang, kenapa Ardan tiba – tiba bertanya seperti itu. Menanyakan semua hal yang merupakan kebohongan yang dirancang oleh wanita itu untuk kembali mengikat Ardan dalam pelukannya, membuat hati Meysa merasa tak tenang.


“ Te – tentu saja aku sakit kanker….”


“ Dan berkas operasi pengangkatan rahim ini juga akibat sakit yang kuderita tersebut….”, elak Meysa tegas.


Melihat Meysa masih kukuh dengan kebohongannya membuat Ardan mulai kehilangan kendali.


“ Sekali lagi aku tanya….”


“ Apa kamu benar – benar sakit kangker ?....”, tanya Ardan masih dengan pertanyaan yang sama , namun dengan tatapan semakin tajam dengan rahang mengeras menahan amarah yang mulai meluap dalam hatinya.


“ Aku benar - benar sakit Ar…”


“ Seperti yang sudah aku ceritakan…”


“ Aku sempat menjalani pengangkatan rahim karena penyakitku….”


“ Tapi itu tak membantu….”


“ Kangker serviks yang kuderita terus berkembang hingga berada distadium akhir seperti saat ini….”


“ Dan sekarang aku sedang menjalani kemoterapy untuk memperpanjang usiaku….”, ucap Meysa berusaha menyakinkan Ardan.


Melihat Ardan sama sekali tak terpengaruh dengan ucapannya, Meysa pun menggunakan jurus terakhirnya untuk meluluhkan hati Ardan dengan membuka wig dikepalanya sehingga terlihat kepalanya yang botak tanpa ada rambut sehelai pun disana.


“ Lihat ini….”


“ Kepalaku menjadi botak karena kemoterapy yang kujalani….”

__ADS_1


“ Dengan bukti yang ada, apakah kamu masih meragukan ucapanku….”


 Hahaha….


“ Aku botak begini lucukan…..”, ucap Meysa sambil tertawa garing.


Meysa tertawa sambil memukul lengan Ardan untuk mencairkan suasana yang ada, tapi Ardan sama sekali tak tertawa dan justru sorot matanya semakin tajam sambil mengeluarkan aura dingin dari dalam tubuhnya.


Mendapat tatapan seperti itu, perlahan namun pasti senyum yang ada diwajah Meysa pun menghilang digantikan sorot wajah ketakutan.


Bersama dengan Ardan sedari kecil tentunya Meysa sangat tahu bagaimana sifat dan sikap Ardan sebenarnya.


Meski Ardan terkenal santai dan lemah lembut, tapi jika lelaki itu sudah menampilkan sorot mata tajam diselimuti asap kegelapan seperti ini maka bisa dipastikan nyawanya sedang berada dalam bahaya sekarang.


Meysa yang merasa ketakutan sangat berharap ada pelayan yang masuk kedalam ruangan sehingga dia bisa kabur dan tak mendapat amukan dari lelaki yang telah dibohonginya itu.


“ Untuk terakhir kalinya aku bertanya…..”


“ Apa kamu benar – benar sakit kangker ?....”, Ardan masih berusaha untuk memberi kesempatan kepada Meysa untuk jujur.


Meysa meremas ujung dressnya dengan kuat guna menyalurkan rasa gugup sekaligus takut yang melanda hatinya saat ini.


Sejak tadi yang keluar dari mulut Ardan hanya pertanyaan mengenai penyakit yang dideritanya membuat Meysa sedikit bimbang untuk mengambil sikap.


“ Kenapa dari tadi dia hanya fokus bertanya mengenai penyakitku ?....”


“ Dia sedang mengujiku atau memang sudah mengetahui kebohonganku ?....”


“ Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang ?....”


“ Apakah aku harus jujur ?....”, batin Meysa menimbang – nimbang.


Melihat jika Ardan masih menunggu jawaban keluar dari mulutnya, Meysa yang memutuskan untuk tetap pada kebohongannya mulai bersuara.


“ Aku benar – benar sakit kangker serviks stadium akhir….”


“ Apakah bukti – Arghhhh…..”, Meysa berteriak kencang dan langsung menunduk ketakutan sambil melindungi wajahnya dengan satu tangannya waktu Ardan mengayunkan tangan ingin menampar wajahnya.


“ Ampun Ar….”, ucap Meysa sambil berderai air mata ketakutan.


Tak ingin Ardan memukul wajahnya maka Meysa yang sedang ketakutan membulatkan tekad untuk berbicara jujur dengan harapan Ardan akan memaafkan setelah dia mengatakan semuanya.


“ Baiklah, aku akan jujur….”


“ Aku tidak sakit kangker….”


“ Aku bohong…. ”


“ Aku salah….”


“ Aku membohongimu….”


“ Aku pura – pura sakit…”


“ Maaf kan aku….”


“ Jangan marah….”


“ Jangan pukul aku….”, ucap Meysa meracau.


Meysa terus menutup mata sambil memohon agar Ardan tidak sampai memukul dan melukai wajah yang merupakan kebanggannya itu.


Setelah hampir lima menit meracau tak karuan, Meysa yang tak merasakan apapun perlahan mulai berani membuka kedua matanya.


Dengan mengumpulkan semua keberanian yang ada dalam dirinya, Meysa mendongak agar bisa menatap Ardan yang masih berdiri dengan tatapan tajam dihadapannya.

__ADS_1


“ Kenapa Meysa !!!....”


“ Kenapa kamu mengkhianati kepercayaan yang telah kuberikan padamu berulang kali !!!....”, desis Ardan sambil mencengkeram wajah Meysa dengan penuh amarah.


__ADS_2