AIR MATA ISTRIKU KARMAKU

AIR MATA ISTRIKU KARMAKU
BAB 91


__ADS_3

Hari terus berjalan hingga tak terasa kini sudah hampir lima bulan lamanya Ardan menutup kedua matanya dengan kondisi badan mulai menyusut seiring hanya cairan infuse yang bisa masuk kedalam tubuhnya.


Kondisi Melatipun tak jauh beda dengan Ardan, wajahnya yang biasanya selalu segar terawat kini mulai terlihat  kusam.


Bahkan kerutan diwajah letihnya sangat terlihat jelas. Bukan hanya Ardan yang seperti mayat hidup, kondisi ibundanya juga sama.


Tentu saja hal tersebut membuat Vera merasa miris. Dia merasa cukup sudah dirinya bersabar tanpa bisa melakukan apapun, kali ini dia akan mencoba berusaha untuk menemui Azkia meski nanti hasilnya zonk.


Setidaknya dia bergerak dan tak hanya pasrah menyaksikkan kondisi keponakannya yang semakin hari semakin bertambah mengenaskan.


Sudah banyak dokter, bahkan professor didatangkan  tapi hal itu sama sekali tak membantu justru kondisi Ardan semakin menurun.


Ardanpun tak bisa dipindahkan kemanapun karena resiko kehilangan nyawa ditengah perjalanan cukup tinggi membuat Melati harus pasrah menunggu keajaiban.


“ Tidak bisa....”


“ Aku tak bisa berdiam diri seperti ini terus....”, ucap Vera sambil menggelengkan kepala beberapa kali.


Vera yang berhasil keluar setelah memastikan Melati tertidur diapartemen yang mereka sewa diam – diam mulai turun menuju parkiran yang ada dibaseman.


Tujuannya tak lain adalah kediaman Watson.  Vera sudah membulatkan tekad untuk menemui Azkia apapun yang akan terjadi kedepannya nanti.


Berbekal secarik kertas yang berhasil didapatkanya setelah dia menyewa jasa seseorang, Vera pun segera memacu mobilnya meninggalkan basemant apartemen yang ditinggalinya selama dinegara Y ini.


Vera yang sedang fokus memperhatikan jalan tiba – tiba melihat seorang wanita mirip mantan istri keponakannya sedang masuk kesebuah toko kue.


“ Azkia....”


“ Aku harus cepat menghampirinya......”, guman Vera bersemangat.


Untuk memastikan apa yang baru saja dilihatnya maka Vera pun memutar balik mobilnya menuju sebuah toko kue yang dia yakini tadi dimasuki oleh Azkia.


Begitu turun dari dalam mobil dan melangkah masuk, jantung Vera berdebar sangat kencang karena bahagia.


Vera seperti baru saja memenangkan jacpot dengan nilai fantastis waktu dia benar – benar melihat Azkia sedang mengantri untuk membawayar kue yang telah diambilnya dan diletakkan disebuah nampan.


“ Azkia....”


“ Apa itu benar kamu....”, sapa Vera dengan wajah berseri – seri.


Azkia langsung menenggok kesamping kiri begitu mendengar namanya dipanggil. Sambil menyipitkan matanya Azkia yang sedikit terkejut pun langsung berteriak spontan.


“ Tante Vera....”


“ Tante ada disini..... ”, ucapnya spontan.

__ADS_1


Beberapa orang yang tak mengerti apa yang keduanya ucapkan karena beda bahasa yang mereka gunakan hanya memandang sepintas dan merekapun kembali asyik dengan apa yang sedang mereka lakukan.


“ Wah, tante senang bisa bertemu kamu disini....”


“ Bagaimana kabarmu....”


“ Apa kita bisa ngobrol sebentar....”, ucap Vera yang langsung mengandeng tangan Azkia tanpa menunggu persetujuan dan langsung membawanya kesebuah meja disamping yang kosong.


Untungnya toko kue tersebut gabung dengan cafenya, sehingga setiap pengunjung yang ingin menikmati kue mereka secara langsung bisa melakukannya dicafe yang juga berada didalam toko.


Setelah berbasa – basi sejenak Vera pun mulai masuk kedalam inti pembicaraannya hingga membuat tubuh Azkia menegang sejenak.


“ Ardan kecelakaan dan sedang koma sekarang....”, tanya Azkia terkejut.


“ Iya sayang....”


“ Tante dengar dia mengalami kecelakaan setelah bertemu dengan kamu....”, ucap Vera dengan raut wajah sedih.


Melihat Azkia memberikan respon, Vera berpikir jika ini adalah pertanda baik.


Tinggal selangkah lagi maka dia bisa meminta Azkia untuk menjenguk Ardan bersama anaknya dirumah sakit.


“ Jadi yang aku lihat dirumah sakit waktu itu benar Ardan....”


Meski sangat lirih namun Vera bisa mendengar dengan jelas semua kata yang Azkia ucapkan tadi.


“ Azkia...”, Vera menjeda ucapannya sejenak.


Ada keragu – raguan dalam nada suara yang dikeluarkannya membuat Azkia yang tadinya menunduk kini menatap wanita paruh  baya tersebut dengan senduh.


“ Tante tahu jika Ardan telah melukaimu cukup dalam....”


“ Dan Ardan sudah mendapatkan karmanya sekarang....”, ucap Vera dengan wajah serius.


Verapun mulai menceritakan bagaimana mengenaskannya kondisi Ardan ketika tahu Azkia telah pergi dan keberadaannya tak dapat dilacak.


Apalagi waktu Ardan mengalami ngidam dan mual, berat badannya menurun secara drastis dalam sekejap.


Meski begitu dia menjalaninya dengan senang hati dan menganggap jika Tuhan masih baik terhadapnya sehingga dia bisa merasakan apa yang istrinya rasakan demi pertumbuhan janin yang ada dalam kandungannya.


Bahkan Ardan juga telah menyiapkan kamar bayi didalam rumahnya seandainya saja dia bisa menemukan istrinya.


Vera memberikan video kamar yang telah dibuat sendiri oleh Ardan kepada Azkia dengan harapan wanita tersebut luluh.


Hati Azkia tiba – tiba bergetar dengan hebat waktu dia melihat bagaimana seorang Ardan yang biasanya tak sabaran bisa merakit tempat tidur untuk anaknya dan menghias kamar yang dulunya merupakan kamarnya dengan kedua tangannya sendiri.

__ADS_1


Tapi ketika mengingat tentang kamarnya, rasa sakit yang sudah lama sembuh tiba – tiba mulai terbuka lagi.


Azkiapun segera memberikan ponsel Vera ketangannya dan langsung menampilkan wajah datar dan dingin.


“ Jauh – jauh hari saya sudah memaafkan semua kesalahan Ardan..... ”


“ Jika itu yang ingin tante dengar....”


“ Memaafkan bukan berarti melupakan....


" Perlakuan buruk Ardan kepada saya selamanya tak akan bisa saya lupakan....."”, ucap Azkia tajam.


Vera hanya bisa menarik nafas dalam – dalam karena dia juga sangat tahu bagaimana rasa sakit yang Azkia alami akibat perbuatan keponakannya tersebut hingga wanita itu sempat mengalami depresi.


Tapi dia juga tak bisa membiarkan Ardan seperti saat ini, berbaring seperti orang mati.


Anggap saja dia egois, tapi ini semua dia lakukan demi kebahagiaan semua orang, terutama kakaknya tercinta.


“ Tante tahu rasa sakit yang Ardan berikan kepadamu, meski sudah sembuh tapi bekasnya tak akan pernah bisa hilang....”


“ Hanya satu yang ingin tante minta kepadamu.....”


“ Tolong jenguk Ardan dirumah sakit sekali saja....”


“ Jika kamu tak bisa membawa anakmu, kehadiranmu sudah cukup bagi kami....”


“ Tante mohonn..”, ucap Vera sambil mengenggam kedua tanngan Azkia dengan berlinangan air mata.


Azkia yang pada dasarnya memiliki sifat lemah lembut sedikit luluh akan ucapan dan tindakan Vera.


Tapi dia juga tak bisa membohongi hati kecilnya jika dia merasa sangat sakit saat ini begitu luka dalam hatinya kembali terbuka.


Melihat Azkia sama sekali tak meresponnya, Verapun hanya bisa pasrah.


Setidaknya dia sudah berusaha dan telah memperoleh kata maaf dari Azkia untuk Ardan.


“ Tolong pikirkan sekali lagi permintaan tante....”


“ Kamu boleh menganggap tante egois....”


“ Tapi ini semua tante lakukan untuk ibu mertuamu....”


“ Anggap saja kamu menjenguk Ardan untuk membalas semua kebaikan yang pernah kedua mertuamu lakukan kepadamu dimasa lalu....”, ucap Vera penuh harap.


Setelah dirasa tak ada lagi yang akan dibicarakan oelh Vera, Azkiapun pergi kekasir untuk membayar kue yang telah dia bungkus sebelum meninggalkan Vera yang menatap kepergiannya dengan nanar.

__ADS_1


__ADS_2